NovelToon NovelToon
KATAKAN CINTA

KATAKAN CINTA

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cintapertama
Popularitas:266
Nilai: 5
Nama Author: Raden Saleh

Orang bilang, cinta masa SMA itu, adalah cinta monyet? Aku rasa iya. Tapi ini berbeda, sejak mengenal gadis cantik bernama Cinta Alisya, disitulah aku sadar, kalau ini lebih dari sekedar cinta monyet. Aku Rangga 18th. Aku akan berjuang demi Cinta, untuk sebuah ungkapan... KATAKAN CINTA.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raden Saleh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MISI KATAKAN CINTA

Malam Minggu yang dinantikan akhirnya tiba. Bagi sebagian besar remaja Jakarta, malam ini mungkin hanya tentang nongkrong atau jalan-jalan santai. Namun bagi anak-anak SMA Bina Karya, malam ini adalah sebuah misi hidup dan mati demi harga diri salah satu sahabat mereka.

Di dalam bengkel Mang Ojak yang remang, Rangga berdiri di depan kaca spion sebuah truk yang sedang diperbaiki. Dia sedang mematut diri, membetulkan letak kerah kemeja putihnya dengan tangan yang sedikit kaku. Di tubuh tegapnya kini telah terbalut sebuah setelan jas hitam (*tuxedo*) yang tampak sangat pas.

Jas itu bukan hasil sewaan dari butik mahal, melainkan hasil patungan uang jajan dari seluruh anak tongkrongan Bina Karya selama seminggu penuh. Mereka bahkan harus menawar habis-habisan di sebuah tempat penyewaan baju pengantin demi mendapatkan jas yang paling keren untuk Rangga.

"Gila, Ngga. Lu kalau dandan begini mirip banget sama aktor-aktor di film aksi," puji Aldi sambil menepuk pundak Rangga, matanya berbinar bangga melihat penampilan sahabatnya yang berubah 180 derajat.

"Inget, Ngga. Lu datang ke sana bawa harga diri anak-anak Bina Karya. Tunjukin ke si tua bangka Kresna itu kalau cowok biasa kayak kita juga bisa punya wibawa," timpal Mang Ojak yang ikut keluar dari kolong mobil sambil menyeka tangannya yang penuh oli.

Rangga menarik napas dalam-dalam, menatap bayangannya di cermin. Jaket jins Bina Karya yang biasa menemaninya kini sengaja diletakkan di atas jok Vega. Malam ini, dia harus melebur ke dalam dunia kaum elite. "Makasih, semuanya. Gue gak akan sia-siain perjuangan kalian."

Tasya yang sejak tadi duduk diam di sudut bengkel perlahan bangkit berdiri. Dia berjalan mendekati Rangga dengan langkah pelan. Tatapan matanya malam ini tampak begitu sendu, menyembunyikan rasa perih yang teramat sangat di dalam dadanya. Tasya mengulurkan tangannya, merapikan dasi kupu-kupu hitam di leher Rangga dengan gerakan yang sangat lembut.

"Kartu akses silver yang gue kasih kemarin jangan sampai hilang, Ngga," bisik Tasya, matanya menatap langsung ke dalam manik mata Rangga dengan debaran emosi yang mati-matian dia tahan. "Teman gue yang di EO udah stand by di pintu masuk karyawan Grand Hyatt. Begitu lu masuk, lu harus bergerak senyap. Jangan bikin keributan fisik sebelum lu berhasil nemuin Cinta."

"Gue ngerti, Sya. Sekali lagi, makasih banyak buat semuanya. Gue berutang budi besar sama lu," jawab Rangga tulus.

Tasya hanya bisa tersenyum tipis, sebuah senyuman yang terasa getir di bibirnya sendiri.

"Lu gak pernah berutang apa pun sama gue, Ngga. Gue cuma pengen lu tahu kalau rasa sayang gue ke lu itu nyata, meskipun gue cuma bisa jadi penonton yang nganterin lu ke pelukan cewek lain," batin Tasya dalam hati sambil perlahan menarik kembali tangannya.

Setengah jam kemudian, deru mesin Vega milik Rangga membelah jalanan protokol menuju pusat kota. Aldi membonceng di belakang, bertindak sebagai operator lapangan. Demi menghindari kecurigaan sekuriti hotel yang biasa menyaring kendaraan roda dua, mereka sengaja memarkirkan si Vega di area parkir basemen mal Plaza Indonesia yang menyatu langsung dengan Hotel Grand Hyatt Jakarta.

Di dalam basemen yang luas, Rangga keluar dari balik pilar beton setelah memastikan tidak ada noda oli yang menempel pada jas sewaannya. Dia berjalan berdampingan dengan Aldi menuju pintu akses koridor karyawan yang terletak di sudut belakang basemen.

Atmosfer kemewahan langsung menyengat indra penciuman mereka begitu mendekati area dalam. Musik klasik yang dimainkan secara langsung oleh kelompok orkestra terdengar lamat-lamat dari arah lantai atas. Melalui pintu masuk karyawan, seorang pemuda mengenakan ID card panitia—teman Tasya—sudah menunggu dengan cemas. Dengan satu gerakan cepat, dia menempelkan kartu akses silver ke mesin pemindai dan membukakan pintu besi tegap itu untuk Rangga.

"Gue tunggu di basemen dekat Vega, Ngga. Kalau situasi darurat, langsung kasih kode lewat miskol," bisik Aldi memberikan pelukan penyemangat ala cowok sebelum pintu besi itu kembali tertutup.

Rangga melangkah masuk ke dalam lorong backstage yang sibuk.

Para pelayan hotel berseragam rapi tampak berlarian membawa nampan berisi gelas-gelas kristal dan makanan mewah. Dengan langkah yang tenang dan penuh percaya diri, Rangga menyelinap di antara kesibukan tersebut, berjalan menyusuri koridor hingga akhirnya dia berhasil mencapai balik tirai beludru raksasa yang membatasi area dapur dengan Grand Ballroom.

Rangga perlahan menyibak sedikit celah tirai hitam tersebut dan mengintip ke arah dalam ballroom.

Pemandangan di depannya bener-bener megah bak istana di negeri dongeng. Lampu kristal raksasa menggantung di langit-langit, memancarkan cahaya keemasan yang berkilauan. Ratusan tamu undangan yang terdiri dari para pengusaha kaya, pejabat, dan sosialita papan atas tampak saling mengobrol dan bersulang gelas champagne.

Di tengah-tengah kerumunan itu, di atas sebuah panggung kecil yang dihiasi bunga-bunga segar, berdirilah Nicholas. Cowok itu tampak sangat tampan dengan setelan jas putih, tersenyum lebar menyalami para tamu undangan yang merayakan ulang tahunnya yang ke-17.

Namun, perhatian Rangga langsung terkunci sepenuhnya pada sosok gadis yang berdiri di samping Nicholas. Jantung Rangga berdegup kencang. Cinta Alisya malam itu tampak begitu luar biasa cantik. Dia mengenakan gaun malam berwarna biru dongker yang elegan, rambutnya disanggul rapi dengan beberapa helai yang jatuh di samping pipinya. Namun, kecantikan itu terasa hambar. Wajah Cinta tampak sangat murung, matanya yang sembah menatap kosong ke arah lantai, sama sekali tidak memancarkan kebahagiaan.

Di dekat mereka, Tuan Kresna sedang berdiri dengan gagah, tertawa bersama bapaknya Nicholas sambil sesekali menepuk pundak kedua remaja tersebut, seolah-olah sedang memamerkan sebuah transaksi bisnis yang sukses besar di hadapan para kolega mereka.

Melihat lingkaran penjagaan yang begitu ketat, Rangga tahu dia tidak bisa langsung menerobos ke tengah panggung. Itu sama saja dengan bunuh diri dan akan merusak segalanya. Dia harus menunggu momen yang tepat.

Kesempatan itu akhirnya datang sekitar pukul sembilan malam. Saat Nicholas dan Tuan Kresna sedang sibuk melangkah ke arah sudut ballroom untuk menyapa seorang pejabat penting yang baru datang, Cinta tampak menghela napas panjang. Menggunakan kesempatan itu, Cinta perlahan berjalan mundur, memisahkan diri dari keramaian dan melangkah keluar menuju pintu kaca besar yang terhubung langsung dengan balkon luar ballroom.

Balkon luar itu sangat sepi, hanya diterangi oleh lampu dinding temaram dan pemandangan gemerlap lampu gedung pencakar langit Jakarta di malam hari. Angin malam yang berembus kencang menerpa helai rambut Cinta saat gadis itu berdiri bersandar pada pagar pembatas balkon. Dia menunduk, membiarkan setetes air mata yang sejak tadi ditahannya jatuh membasahi pipinya. Dia merasa sangat kesepian di tengah kemewahan pesta ini.

Sret...

Suara langkah kaki halus di atas lantai granit balkon membuat Cinta sedikit tersentak. Sebelum dia sempat berbalik untuk melihat siapa yang datang, sebuah kehangatan yang sangat akrab tiba-tiba menyelimuti pundaknya. Seseorang baru saja menyampirkan sebuah jas hitam tegap ke atas bahunya yang terbuka untuk menghalau dinginnya angin malam.

Cinta tersentak, dia berbalik dengan cepat, dan detik itu juga dia langsung membekap mulutnya sendiri dengan kedua tangan. Matanya membelalak lebar, memancarkan rasa syok yang luar biasa bercampur tidak percaya.

"Rangga...?" bisik Cinta, suaranya tercekat di tenggorokan.

Di depannya, standing seorang cowok yang paling dia rindukan di dunia ini. Rangga berdiri tegak dengan kemeja putihnya yang kini tampak sedikit berantakan setelah melepaskan jasnya untuk Cinta. Senyuman tipis yang sangat lembut terukir di wajah tampan anak Bina Karya itu.

"Gue tepati janji gue, Cin. Gue datang buat nemuin lu," ucap Rangga dengan suara yang rendah namun sarat akan emosi.

Cinta tidak bisa lagi membendung air matanya. Dia maju selangkah dan langsung menghambur ke dalam pelukan Rangga. Dia memeluk tubuh tegap cowok itu dengan sangat erat, menumpahkan segala rasa sakit, kerinduan, dan ketakutan yang dia pendam selama seminggu ini dalam kurungan rumahnya. Rangga membalas pelukan itu tidak kalah erat, membenamkan wajahnya di rambut harum Cinta, seolah ingin merekam momen ini selamanya di dalam ingatan.

"Kamu gila, Rangga... Kamu nekat banget datang ke sini. Kalau Papa atau Nicholas lihat kamu, mereka bisa hancurin kamu," tangis Cinta sesenggukan di dada Rangga.

Rangga perlahan mengurai pelukan mereka, memegang kedua pundak Cinta dan menatap langsung ke dalam manik mata gadis itu yang basah oleh air mata. Tatapan mata Rangga malam ini begitu dalam, mengikis seluruh tembok kasta sosial yang selama ini memisahkan mereka.

"Gue gak peduli lagi sama ancaman bokap lu atau Nicholas, Cin. Gue juga gak peduli seberapa jauh jarak London dan Jakarta yang bakal misahin kita minggu depan," ucap Rangga, suaranya mendadak berubah menjadi sangat bergetar karena menahan gejolak rasa yang luar biasa besar di dalam dadanya.

Rangga menarik napas dalam-dalam, menggenggam kedua tangan Cinta dengan erat di dada kirinya, membiarkan gadis itu merasakan detak jantungnya yang berdegup kencang. Di bawah saksi gemerlap lampu kota Jakarta dan kesunyian malam di balkon hotel mewah, Rangga akhirnya melepaskan seluruh kata hati yang selama bertahun-tahun ini terkunci rapat di dalam jiwanya.

"Dengerin gue baik-baik, Cinta Alisya... Selama ini gue selalu merasa minder karena perbedaan kasta kita. Gue selalu merasa gak pantas buat lu, makanya gue selalu memendam perasaan ini di dalam hati. Tapi malam ini, di tempat ini, gue gak mau bohong lagi sama diri gue sendiri... " Aku cinta sama kamu, Cinta. Aku bener-bener cinta sama kamu, lebih dari apa pun di dunia ini. Dan perasaan ini gak akan pernah berubah, gak peduli seberapa jauh lu pergi meninggalkan gue."

Mendengar kata-kata yang keluar dari bibir Rangga, tangisan Cinta justru semakin pecah, namun kali ini air mata itu dipenuhi oleh rasa haru yang luar biasa. Kalimat yang selama ini dia tunggu-tunggu, kalimat yang menjadi kekuatannya untuk bertahan di tengah siksaan sangkar emasnya, akhirnya terucap juga dari mulut cowok yang teramat sangat dia puja.

Cinta mendongak, menatap mata Rangga dengan tatapan yang dipenuhi ketulusan cinta yang paling murni. "Aku juga, Rangga... "Aku juga cinta banget sama kamu!" Selama ini aku gak pernah punya perasaan ini buat cowok lain selain kamu. Aku gak peduli kamu anak jalanan atau apa, bagi aku kamu adalah segalanya. Aku bakal simpan kata cinta kamu ini di dalam hati aku selama aku di London nanti. Aku janji aku bakal kembali cuma buat kamu, Rangga!"

Di bawah temaram lampu balkon, di antara rasa sedih perpisahan yang sudah di depan mata, mereka berdua saling menyatukan perasaan dalam sebuah pernyataan cinta yang paling jujur dan sakral. Momen romantis yang teramat indah itu seolah membuat waktu berhenti berputar bagi sepasang kekasih yang sedang mempertahankan takdir mereka.

Namun, kebahagiaan yang sempurna itu mendadak tersengat oleh sebuah kenyataan pahit yang mengintai dari balik pintu kaca balkon.

Tuk... Tuk... Tuk...

Suara langkah kaki sepatu pantofel yang tegas dan berirama lambat perlahan terdengar mendekat dari arah dalam ballroom menuju ke arah pintu kaca balkon yang sedikit terbuka. Bayangan siluet tubuh seorang pria paruh baya yang sangat tegap mulai terlihat jelas di balik tirai pintu kaca. Itu adalah langkah kaki Tuan Kresna yang sedang berjalan ke arah balkon untuk mencari keberadaan anak gadisnya!

Napas Cinta seketika tercekat, dia menatap Rangga dengan pandangan mata yang dipenuhi kepanikan yang luar biasa. Detik-detik penghakiman dan konfrontasi terbesar di menara gading kini sudah berada tepat di depan pintu!

1
Kam1la
keren aksinya Cinta👍😍
Kam1la
👍👍
Kam1la
aksi penyelamatan yang keren...
Kam1la
nah, kan ada pernyataan maaf
Kam1la
keren...💪 tetap semangat Rangga, meski diremehkan
Kam1la
Aldi, ada selera humor juga
Kam1la: siap...👍
total 2 replies
Kam1la
seru....! Pernikahan 2 Rahasia, hadir kak....
Lalat Mu
Ceritanya seru kak, semangat nulisnya ya! /Good/
Raden Saleh: Terimakasih atas partisipasinya, semoga terhibur, dan aku semangat lagi menulis, insya Allah lebih seru lagi 😍
total 1 replies
Kim Borahae
ceritanya bagus. semangat ya 💪

btw saya pun baru mula menulis novel kalau ada masa boleh tinggalkan komen.. Tinggal tekan profile saja, terima kasih /Hey//Smile/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!