Zara, gadis sederhana dan polos, dipersatukan dengan Adrian Romanov — pria dingin berkuasa yang membuat hidupnya benar-benar menderita. Dituduh, disakiti, dikucilkan, ia terbelenggu takdir kematian yang mengikatnya erat, selalu membayangi setiap langkahnya.
Namun sebutir nyawa kecil yang tumbuh di dalam rahimnya yang memberi alasan untuk bertahan. Namun di balik semuanya tersembunyi rahasia besar. Nanti saat kebenaran terkuak, akankah ia lepas dari belenggu itu… atau justru terjerat makin dalam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PUTRI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
jarak yang terasa jauh sejak awal
Lantai marmer putih bersih itu berkilau sangat halus, hampir bisa memantulkan bayanganku dengan jelas — seolah kaca bening yang tak boleh ternoda. Di sebelah kiri, tangga lebar dan kokoh menjulang naik ke lantai atas; anak tangganya bersinar lembut dari lampu yang tertanam di pinggirannya, pagar kaca bening seolah menuntun pandangan ke atas menuju tempat yang tak kuketahui. Di sebelah kanan, jendela kaca raksasa membentang dari lantai hingga langit-langit, cahaya terang benderang masuk tanpa halangan hingga terlihat jelas rimbunnya daun palem yang bergoyang lembut di luar. Lampu gantung kristal yang indah bergoyang pelan di tengah ruangan, memancarkan cahaya lembut ke setiap sudut; patung batu hitam yang unik berdiri tenang di sudut ruang, tanaman tinggi menjuntai anggun di samping tangga seolah penjaga yang tak bersuara. Aku terpaku diam di tempat — tak pernah kubayangkan sebuah ruangan bisa begitu luas, begitu bersih, begitu rapi, hingga aku ragu untuk melangkah, takut jejak kakiku akan merusak keindahan yang sempurna ini.
Menelan ludah dengan susah payah. Tempat ini terasa terlalu dingin, terlalu megah, terlalu jauh dari segala yang kukenal seumur hidup — hingga merasa tak pantas menginjakkan kaki yang masih membawa debu jalanan di lantai semulus ini.
Di sisi lain, jendela yang begitu panjang membuat pohon palem di luar terasa begitu dekat, seolah berdiri tepat di dalam ruangan. Sofa empuk berwarna krem melengkung panjang di samping perapian yang apinya menyala lembut, memberikan kehangatan yang tak terasa menembus ke tulang. Lantai yang mengkilap membuatku makin berhati-hati — tak berani melangkah lebar atau cepat, takut bayanganku yang sederhana dan lusuh akan merusak pantulan bening dan indah yang terpantul di sana.
Pandanganku menyusuri lorong panjang, pintu-pintu tertutup rapi berjejer di kiri dan kanan seperti mata yang memandang. Aku berdiri diam tepat di belakang Adrian, tak berani melangkah selangkah pun ke depan. Saat ia akan menginjak tangga pertama, langkahnya tiba-tiba berhenti. Ia berbalik perlahan ke arah Yamal, nada bicaranya tenang dan datar tanpa emosi: “Yamal, tadi katanya Bapak Gunawan ingin menemui aku. Kapan jadwalnya?”
Yamal mengambil ponsel dari saku jasnya, melirik layar sekilas. “Benar, Tuan. Seharusnya beliau sudah tiba di sini lima menit lagi.”
Adrian mengangguk pelan seolah sudah menduga hal ini. Tanpa menoleh sedikit pun ke arahku, ia berjalan cepat menuju pintu keluar. Aku terpaku di tempat, memeluk erat bungkusan peninggalan Ibu di dadaku. Rasanya baru saja masuk sebentar, namun kini sudah ditinggal sendirian di ruangan yang begitu luas, begitu sunyi, dan begitu asing ini.
Hanya bisa berdiri diam melihat punggung Adrian menjauh hingga lenyap di balik pintu. Lalu Yamal mendekat dengan sikap sopan namun tegas: “Mohon maklum, Nyonya Zara. Tuan Adrian memiliki urusan yang sangat penting. Jika Nona membutuhkan sesuatu, sampaikan saja pada pelayan yang bertugas di sini. Saya pamit undur diri.” Ia menunduk hormat lalu pergi mengikuti tuannya, meninggalkanku sepenuhnya sendirian.
Berdiri diam sendirian di tengah ruangan yang luas, aku merasa bingung dan canggung — seperti serangga kecil yang tersesat di istana kaca. Tanganku masih menggenggam erat bungkusan berisi pakaian dan barang-barang sederhanaku, satu-satunya hal yang menghubungkanku dengan masa lalu. Beberapa pelayan lewat dengan sibuk: ada yang menata benda-benda dengan hati-hati seolah itu berlian, ada yang menyeka lantai hingga berkilau tanpa sehelai debu, ada yang berbisik-bisik sambil bergerak cepat dan teratur. Berkali-kali bibirku ingin memanggil, namun kata-kata itu terganjal di tenggorokan tak bisa keluar. Rasa ragu dan takut kembali menyelimuti hatiku — takut mengganggu mereka, takut terlihat bodoh, takut menjadi beban. Akhirnya aku mengembuskan napas panjang dan pelan, melangkah perlahan entah ke mana, kakiku terasa berat di atas lantai yang mulus dan berkilau itu.
Tak lama kemudian, seorang wanita paruh baya datang berjalan dengan tenang dan teratur — gerakannya presisi, seolah sudah melakukan ini ribuan kali. Usianya di atas enam puluh tahun, namun tubuh tetap ramping dan tegap. Wajahnya bersih dan tirus, ada garis-garis halus yang menjadi saksi perjalanan waktu; matanya menatapku dengan hormat lalu segera menunduk — kebiasaan lama yang tak berani menatap orang lama-lama. Rambut hitam yang mulai memutih di ujungnya dikuncir rapi di balik ikat kepala putih bersih. Seragamnya rapi tanpa satu pun kerutan, celemek renda yang rapi terpasang di bagian depan. Tangannya mengepal lembut di balik celemek — kebiasaan yang terbentuk selama puluhan tahun melayani orang lain.
“Selamat datang, Nyonya Zara. Izinkan saya mengantar Nona ke kamar yang telah disiapkan. Silakan ikuti saya,” ucapnya dengan tenang, sopan, dan tegas — suara yang matang dan tak bergetar apa pun keadaan yang dihadapi.
Aku hanya diam mengikutinya dari belakang, menaiki tangga yang tetap berkilau bersih di bawah kakinya. Melewati pintu pertama di lantai atas, berhenti tepat di depan pintu kedua, lalu ia menunduk hormat padaku. “Ini kamar pribadi Nyonya. Kamar pribadi Tuan Adrian berada satu lantai lagi di atas,” tunjuknya dengan tangan ke arah tangga yang menjulang makin tinggi.
“Terima kasih banyak,” jawabku pelan, masih ada nada cemas dan ragu di suaraku. Belum sempat bertanya atau meminta penjelasan apa pun, wanita itu sudah pergi perlahan, langkahnya tak menimbulkan suara sedikit pun. Menelan ludah lagi, meremas bungkusan itu makin erat ke dadaku — ingin memanggilnya kembali, tapi lidahku terasa kaku dan berat, tak berani mengangkat suara sedikit pun di ruangan yang sunyi ini.
Gagang pintu yang dingin dan halus terasa di bawah telapak tanganku yang masih perih dan berbekas luka. Kuputar perlahan hingga pintu terbuka lebar — dan mataku terbelalak tak percaya melihat apa yang ada di hadapanku.
Kasur yang begitu luas dengan seprai berwarna kelabu lembut yang jatuh berlipat rapi ke lantai; pantulan cahaya daun-daun dari luar menari lembut di langit-langit seolah lukisan hidup. Di depan jendela besar, dua kursi bulat yang empuk berdiri berhadapan, seolah menunggu dua orang yang tak akan pernah datang. Lewat kaca yang membentang tinggi itu, aku bisa melihat pucuk palem yang rimbun, siluet kota yang samar di kejauhan, dan langit biru yang bersih dan cerah — langit yang sama dengan yang kulihat dari gubuk kecilku dulu, namun terasa begitu berbeda di sini. Ruangan ini luas, bersih, dan mewah luar biasa — tak pernah kulihat bahkan dalam mimpi yang paling liar sekalipun. Rasanya aku tak pantas berada di sini; ingatanku melayang kembali pada masa lalu saat aku tidur di lantai tanah keras yang dingin dan berdebu. Berdiri diam di ambang pintu, memeluk bungkusan itu makin erat ke dadaku, takut melangkah masuk dan merusak keindahan yang begitu sempurna ini.
Dengan hati-hati dan perlahan mendekati kasur, lalu membiarkan tubuhku jatuh lembut ke atasnya. Sangat empuk hingga tubuhku terbenam dengan lembut — lima atau enam orang dewasa tidur di sini pun masih terasa luas dan lega. Mengambil satu bantal yang empuk dan harum, memeluknya lembut — semuanya terasa begitu tak nyata bagiku, seperti mimpi yang bisa lenyap sewaktu aku membuka mata. Ruangan ini memiliki segalanya — kemewahan, keindahan, kenyamanan — namun tak ada satu hal yang paling kubutuhkan: kehangatan.