Zara, gadis sederhana dan polos, dipersatukan dengan Adrian Romanov — pria dingin berkuasa yang membuat hidupnya benar-benar menderita. Dituduh, disakiti, dikucilkan, ia terbelenggu takdir kematian yang mengikatnya erat, selalu membayangi setiap langkahnya.
Namun sebutir nyawa kecil yang tumbuh di dalam dirinya yang memberi alasan untuk bertahan. Namun di balik semuanya tersembunyi rahasia besar. Nanti saat kebenaran terkuak, akankah ia lepas dari belenggu itu… atau justru terjerat makin dalam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PUTRI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
secara sah menjadi istrinya
“Bismillahirrahmanirrahim. Dengan memohon rahmat serta ridho Allah Yang Maha Kuasa, saya nikahkan dan kawinkan Saudara Adrian… dengan Nona Zara binti Almarhum Bapak Ivan, selaku Wali Hakim, dengan mas kawin yang telah disepakati bersama, dibayar tunai.”
Suasana di dalam ruangan itu seketika menjadi hening sejenak. Adrian mempertegas posisi duduknya, menarik napas dalam sekejap, lalu mengucapkan kalimat itu dengan penuh kepastian tanpa ada keraguan sedikit pun:
“Saya terima nikah dan kawinnya Zara binti Almarhum Bapak Ivan dengan mas kawin tersebut dibayar tunai.”
Seketika dua orang saksi yang hadir serentak mengangkat suara: “Sah!”
Napas saya terasa tercekat di tenggorokan. Jantungku berdegup begitu keras hingga rasanya suara itu terdengar jelas di telingaku sendiri. Tanganku yang tersembunyi di balik kain gaun itu mengepal erat menahan segala perasaan yang bercampur aduk. Ini sungguh nyata. Mulai detik ini, aku secara sah menjadi istrinya. Semua ini demi Aslan.
Kedua saksi kembali berseru dengan suara yang mantap: “Sah!”
Penghulu mengangguk perlahan dengan wajah yang tampak puas dan damai. “Alhamdulillah, pernikahan kalian berdua telah sah menurut hukum agama maupun negara. Mari kita menundukkan kepala sejenak untuk berdoa bersama memohon keberkahan.”
Setelah doa selesai dibacakan, kami berdua maju ke depan untuk menandatangani buku nikah serta berkas-berkas lain yang diperlukan di atas meja yang telah disiapkan. Tangan kananku yang masih terasa nyeri dan sedikit gemetar itu perlahan memegang pena, lalu menggoreskan namaku dengan hati-hati namun penuh keteguhan hati.
“Silakan saling bersalaman sebagai tanda bahwa kalian kini secara resmi telah menjadi pasangan suami istri,” ucap penghulu dengan nada yang lembut dan penuh kehangatan, bukan sebagai sebuah perintah yang kaku.
Adrian pun mengulurkan tangannya kepadaku. Aku menyambut uluran tangannya dengan perasaan yang masih ragu dan canggung, namun genggamannya terasa kokoh dan hangat, tanpa sedikit pun menyakiti bagian yang terluka. Tanpa aku duga, ia kemudian mendekatkan dirinya perlahan, meletakkan telapak tangannya dengan lembut di atas ubun-ubunku, lalu mengecup keningku sekilas dengan penuh rasa hormat dan perlindungan yang tulus. Hati kecilku seketika berdesir dengan perasaan yang tak sanggup kujelaskan. Aku tahu ini bukanlah ungkapan cinta layaknya pasangan biasa, melainkan sebuah tanda penghormatan dan permulaan dari janji saling membantu yang kini telah terikat rapi di hadapan Tuhan dan manusia.
Segera setelah upacara akad selesai, Adrian menyampaikan ucapan terima kasih dan bersalaman dengan penghulu serta kedua orang saksi dengan sikap yang sangat sopan namun tetap memancarkan ketegasan dan wibawanya. Tak lama kemudian kami pun berjalan beriringan keluar menuju mobil mewah yang sudah menunggu di halaman. Yamal melangkah lebih dulu mendahului kami, membukakan pintu untuk Adrian, baru kemudian berbalik arah dan membukakan pintu bagian belakang untukku. Aku menundukkan kepalaku sedikit sebagai tanda terima kasih, lalu melangkah masuk perlahan sambil tetap berhati-hati agar tidak menginjak atau merusak ujung gaun putih yang panjang ini.
Sesampainya di dalam mobil, aku hanya melirik sekilas ke arah Adrian yang sudah duduk di sebelahku, lalu segera memalingkan pandangan ke depan. Mataku menatap lurus ke arah jalanan yang mulai terlihat samar, terasa kosong dan lelah sepenuhnya. Segala rasa sedih, takut, dan ragu yang sempat kurasakan tadi seolah kini terkunci rapat di dalam sanubariku, menyisakan hanya satu perasaan yang paling mendalam: rasa pasrah yang tulus atas segala jalan yang telah Tuhan tentukan bagiku.
Dengan suara yang pelan dan masih terdengar penuh keraguan, akhirnya aku memberanikan diri bertanya: “Mohon maaf, bolehkah kita singgah sebentar di rumah sakit sebelum melanjutkan perjalanan?”
Adrian menoleh sekilas ke arahku, nada bicaranya tetap tenang namun terasa dingin seperti biasanya. “Tentu saja boleh.”
Mendengar jawaban itu, aku kembali memberanikan diri untuk menyampaikan permohonanku yang lain, mataku perlahan mulai berkaca-kaca menatapnya. “Lalu… bolehkah aku masuk sebentar untuk menjenguk adikku? Dia adalah satu-satunya keluarga yang masih tersisa bagiku di dunia ini.”
“Silakan saja kau lakukan hal itu,” jawabnya dengan nada yang tetap datar dan tenang. “Selama hal itu tidak melanggar apa pun yang tertulis di dalam perjanjian yang telah kita buat, aku tidak akan melarangmu.”
Mobil pun kembali melaju perlahan menuju rumah sakit. Sesampainya di depan gerbang utama, kendaraan berwarna hitam itu berhenti dengan rapi. Yamal segera turun dan membukakan pintu untukku. Aku melangkah turun perlahan, lalu berjalan masuk sendirian menuju gedung rumah sakit itu. Adrian tetap diam di dalam mobil tanpa berniat untuk ikut turun, sementara Yamal berdiri tegak di tepi jalan sambil menungguku kembali dengan sabar.
Aku berhenti sejenak tepat di depan pintu ruang perawatan intensif. Aku tahu aku masih belum diperbolehkan masuk ke dalam ruangan itu, namun setidaknya aku bisa melihat samar-samar sosok Aslan yang terbaring tenang di sana lewat kaca jendela kecil di pintu itu. Setelah itu aku segera berjalan menuju ruangan tempat aku dirias tadi pagi, membuka pintu dengan cepat namun hati-hati, lalu mencari ke bagian bawah tempat tidur yang tadi kugunakan. Di sana masih tergeletak bungkusan kain lusuh milikku yang tidak sempat kubawa saat itu, dan di dalamnya tersimpan rapi segala barang peninggalan Ayah serta botol pemberian Ibu yang sangat berharga bagiku. Aku menghela napas panjang yang terasa melegakan hati, bergumam pelan sendirian: “Syukurlah… untungnya barang-barang ini tidak hilang kemana-mana.”
Segera setelah memastikan bungkusan itu aman di genggamanku, aku kembali berhenti sejenak di depan pintu ruang ICU itu. “Tunggulah Kakak datang kembali besok ya, Aslan. Kakak berjanji tidak akan pernah meninggalkanmu sendirian,” bisikku pelan kepada pintu yang tertutup rapat itu, seolah adikku bisa mendengar suaraku dari dalam sana.
Di halaman depan rumah sakit, Yamal masih terlihat berdiri dengan tenang menunggu kedatanganku kembali. Aku segera masuk ke dalam mobil, duduk kembali di sebelah Adrian sambil memeluk erat bungkusan kain itu di pangkuanku. Mataku kembali menatap ke luar jendela dengan pandangan yang kosong dan melamun, pikiranku entah melayang ke mana saja menjauh dari kenyataan yang sedang kuhadapi.
Perjalanan menuju kediaman Adrian memakan waktu sekitar dua puluh lima menit. Sepanjang jalan Adrian sempat menoleh sekilas ke arahku, melihat wajahku yang terlihat datar tanpa ekspresi apa pun. Namun baginya, kesepakatan yang telah dibuat kini telah tercapai sepenuhnya, dan itulah satu-satunya hal yang paling penting baginya saat ini. Ia pun segera memalingkan wajahnya kembali menatap pemandangan di luar jendela dengan sikap yang tetap tenang, dingin, dan seolah tidak peduli pada apa pun yang ada di pikiranku.
Sekitar dua puluh menit kemudian, mobil itu perlahan melaju berhenti tepat di depan sebuah gerbang besi hitam yang sangat tinggi dengan ukiran motif yang terlihat rumit namun sangat indah. Gerbang itu terbuka perlahan dengan sendirinya saat melihat kedatangan kami. Di sisi kiri dan kanan gerbang berdiri dua orang penjaga yang mengenakan setelan jas hitam yang sangat rapi, bertubuh tegap dan tinggi besar, dengan alat komunikasi yang terpasang rapi di telinga mereka, serta pandangan mata yang selalu waspada memantau segala hal di sekelilingnya.
Saat gerbang terbuka sepenuhnya, terlihatlah hamparan halaman yang sangat luas di hadapanku. Jalan masuk utama terbuat dari susunan batu marmer berwarna kecokelatan dengan pola anyaman yang rapi dan terlihat berkilau indah saat terkena pantulan cahaya matahari. Di sepanjang sisi jalan itu berjejer rapi pohon cemara yang menjulang tinggi ke angkasa dengan dedaunan yang rimbun dan gelap. Di sela-sela pepohonan itu, terlihat sosok-sosok penjaga lain yang berdiri diam dengan kokoh, menyatu dengan bayangan pepohonan seolah tak pernah bergerak dari tempatnya. Selain itu terselip juga deretan pohon palem serta semak-semak hijau yang terawat dengan sangat baik, tak ada satu pun daun yang terlihat layu atau kering. Ada pula jalan setapak lain yang terpisah dengan deretan tanaman yang serupa, di pinggirannya tumbuh bunga-bunga kecil berwarna ungu lembut yang kelopaknya tampak berkilau basah terkena sisa embun atau percikan air dari kolam dekatnya. Udara di sana terasa sangat sejuk hingga menusuk pelan ke dalam kulitku, membuatku semakin menyadari betapa asingnya tempat ini bagiku.
Mobil itu terus melaju perlahan masuk ke dalam lingkungan kediaman itu. Setiap orang yang berpapasan atau sedang bertugas di sepanjang jalan itu akan segera menundukkan kepalanya sedikit sebagai tanda penghormatan kepada kami. Mataku tak henti-hentinya bergerak ke kiri dan ke kanan memandangi segala sesuatu yang ada di sekelilingku, mataku terbelalak tak percaya melihat kemegahan tempat ini. Rasanya tempat ini bukan sekadar sebuah rumah biasa, melainkan sesuatu yang jauh lebih indah dan megah dari apa yang pernah sanggup kubayangkan bahkan di dalam mimpiku sekalipun. Jantungku kembali berdegup pelan namun terasa berat, aku semakin mempererat pelukanku pada bungkusan peninggalan Ibu yang ada di pangkuanku. Dunia ini sungguh terlalu luas, terlalu mewah, dan terlalu asing bagi seorang gadis yang dulunya hanya hidup sederhana dan mengenakan pakaian lusuh sepertiku.
Tak lama kemudian mobil itu berhenti dengan halus dan tenang tepat di bagian depan bangunan utama yang berdiri kokoh di tengah halaman yang luas itu.
Bangunan itu terbuat dari susunan batu pualam berwarna terang yang tampak sangat kokoh dan gagah berdiri menjulang ke langit. Dinding kaca berukuran sangat besar setinggi dua lantai tampak memantulkan keindahan langit senja yang mulai berubah warna. Atapnya berbentuk datar dengan garis-garis yang tegas dan rapi, sedangkan di bagian lantai atas terdapat sebuah teras yang dilindungi oleh pembatas bening yang terlihat anggun. Pohon palem yang tinggi menjulang berdiri tegak di kedua sisi bangunan itu, daunnya yang lebar bergoyang pelan tertiup angin sore.
Tepat di tengah halaman depan terdapat sebuah air mancur yang airnya mengalir dengan tenang membasahi susunan batu hitam yang halus, diselingi dengan hamparan kerikil putih bersih serta tanaman hijau yang dipangkas dengan bentuk yang sangat rapi dan indah. Beberapa orang penjaga keamanan terlihat berdiri diam dengan sikap siaga di setiap sudut halaman, sementara di bagian depan pintu utama, berjejer rapi sekelompok wanita yang tampak sebagai pelayan rumah tangga, semuanya menundukkan kepala dengan hormat menyambut kedatangan kami.
Adrian turun terlebih dahulu dari kendaraan, namun hal yang tak kusangka justru dialami sesaat setelah itu — dialah yang melangkah mendekat dan membukakan pintu mobil untukku sendiri. Aku sempat tertekan diam sejenak karena merasa sangat heran melihat sikapnya itu, namun pandanganku segera tertuju kembali pada bangunan besar di hadapanku yang tampak seperti sebuah istana yang tak pernah sanggup kubayangkan sebelumnya. Belum sempat aku mengucapkan sepatah kata pun sebagai tanda terima kasih, semua pelayan yang berbaris di sana serentak menundukkan kepala mereka dengan hormat, dan suara mereka terdengar menyatu dengan nada yang lembut namun tetap tegas dan sopan: “Selamat datang kembali, Tuan. Selamat datang, Nyonya.”
Tanganku kini semakin erat memeluk bungkusan kain yang berisi barang-barang peninggalan keluargaku itu. Rasanya aku semakin merasa asing dan kecil berdiri di tengah tempat yang begitu megah, rapi, dan penuh kemewahan yang tak pernah kulihat sebelumnya.
Meskipun hatiku masih terasa penuh dengan kebingungan dan keraguan, aku tetap berusaha menguatkan hati lalu melangkah mengikuti Adrian masuk ke dalam bangunan itu. Para pelayan yang tadi menyambut kami perlahan bubar kembali menuju tempat tugas masing-masing dengan langkah yang tenang dan teratur. Mataku tak lepas dari lantai marmer yang berkilau halus di bawah setiap langkah kakiku, terasa dingin, rata, dan sangat halus — sangat berbeda dengan tanah keras maupun jalan berbatu yang biasa kujalani sehari-hari. Pandanganku kemudian beralih menuju pintu kayu besar yang terukir sangat indah serta dinding batu yang tampak kokoh dan memancarkan kesan keabadian. Aku menarik napas panjang dan pelan untuk menenangkan diri, lalu melangkah melewati pintu besar itu masuk ke dalam dunia yang sama sekali baru bagiku.