NovelToon NovelToon
Terjebak Cinta Di Antara Dua Kakakku.

Terjebak Cinta Di Antara Dua Kakakku.

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Diam-Diam Cinta / Mengubah Takdir
Popularitas:220
Nilai: 5
Nama Author: Andinirhein

Aku hanya ingin memiliki keluarga. Namun, takdir justru menyeretku ke dalam cinta yang mustahil. Terjebak di antara pria yang kucintai dan kakak angkat yang diam-diam menginginkanku, aku dipaksa menghadapi rahasia kelam yang selama bertahun-tahun disembunyikan. Saat kebenaran terungkap, bukan hanya hatiku yang hancur, tetapi seluruh hidupku ikut berubah. Akankah cinta menjadi penyelamat... atau justru awal dari kehancuranku?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andinirhein, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hadiah Untuk Seolhwa.

Apa itu Seolhwa?" tanya Taeseo Oppa.

Saat aku dan Minseo makan siang di sebuah kedai, kami sempat membahas berita tentang pembunuh berantai itu. Namun, di tengah percakapan kami, pria yang duduk di meja sebelah tiba-tiba mendesis pelan sambil tertawa.

Suara itu terdengar jelas di telingaku.

Aku pun menoleh untuk melihat siapa pria tersebut. Saat itulah aku langsung mengenalinya. Dia adalah pria yang sempat menabrakku ketika kami tak sengaja bertemu di apotek dua hari yang lalu.

Taeseo Oppa mengernyit.

"Apakah kamu masih ingat apa yang dikatakan Minseo saat itu?"

Aku mengangguk cepat.

"Iya, aku ingat. Minseo bilang dia berharap pria itu segera ditangkap dan mendapat hukuman yang setimpal."

Taeseo Oppa mengangguk pelan, seolah memahami sesuatu.

"Baiklah. Sekarang aku mengerti."

Aku menelan ludah sebelum mengajukan pertanyaan yang sejak tadi mengganggu pikiranku.

"Apa mungkin pelaku tidak terima dengan percakapanku dan Minseo? Karena itu dia melukai Minseo?"

"Belum bisa dipastikan," jawab Taeseo Oppa. "Tapi untuk sementara, kami memang menduga ke arah sana."

Ia terdiam sesaat, lalu kembali bertanya.

"Ah, ya. Tadi kamu bilang pernah tidak sengaja ditabrak oleh pelaku di apotek. Apa kamu masih ingat ciri-cirinya?"

"Iya, aku ingat."

Aku mencoba mengingat kembali sosok pria itu.

"Tingginya sekitar seratus tujuh puluh delapan sampai seratus tujuh puluh sembilan sentimeter. Dia memakai hoodie hitam dan menutupi kepalanya dengan tudung hoodie tersebut. Aku tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas."

Aku berhenti sejenak sebelum melanjutkan.

"Tapi ada satu hal yang masih kuingat. Dia memiliki lesung pipit di pipi kiri. Saat aku menoleh ke arahnya di kedai, dia sempat tersenyum tipis. Senyum yang terasa pahit dan entah mengapa membuatku merinding."

Taeseo Oppa mencatat setiap informasi yang kusampaikan. Tanpa terasa, waktu berlalu begitu cepat hingga sesi kesaksianku akhirnya selesai.

Aku berharap kesaksianku dapat membantu polisi menangkap pelaku itu.

Sepulang dari kantor polisi bersama Hwi Sol Oppa, aku memutuskan untuk langsung pulang ke rumah.

Sesampainya di kamar, aku merebahkan tubuh di atas ranjang dan menatap langit-langit. Dalam diam, aku memanjatkan doa untuk kesembuhan sahabatku.

Semoga Minseo segera pulih.

Namun, lamunanku buyar saat ponsel di samping bantal bergetar. Sebuah panggilan masuk dari Eun Dam.

Aku segera mengangkatnya.

"Halo, Eun Dam..." sapaku dengan suara lesu.

"Seolhwa, kenapa kamu tidak membaca pesanku? Aku khawatir," ujarnya.

Mendengar nada cemas dalam suaranya, aku pun menceritakan semua yang terjadi pada Minseo hari ini.

"Benarkah?" suara Eun Dam meninggi. "Tapi kamu tidak apa-apa, kan? Kamu tidak terluka sedikit pun?"

"Aku tidak terluka," jawabku pelan. "Tapi hatiku terluka melihat keadaan Minseo. Syukurlah dokter bilang dia tidak perlu menjalani operasi. Hanya saja... aku khawatir dengan kondisi mentalnya setelah kejadian ini."

Di seberang sana, Eun Dam terdiam sejenak.

"Kita doakan saja semuanya segera membaik," ujarnya lembut. "Dan Seolhwa, kamu sudah melakukan yang terbaik sebagai sahabat. Kamu selalu ada untuknya."

Perkataannya sedikit menghangatkan hatiku.

Malam berlalu begitu cepat. Setelah berbincang cukup lama, kami pun mengakhiri panggilan telepon.

Aku memutuskan untuk tidak datang ke bakery besok. Aku ingin menemani dan menjaga Minseo di rumah sakit sejak pagi.

Setelah itu, aku bangkit dari ranjang, mematikan lampu kamar, lalu bersiap untuk tidur.

Namun, di tempat lain...

Eun Dam masih duduk di ruang perawatan tempat ibunya dirawat.

Rahangnya mengeras.

Satu tangannya mengepal begitu kuat.

Brak!

Ia menghantam sofa di sampingnya dengan penuh amarah.

"Siapa bajingan itu?" gumamnya pelan dengan suara bergetar. "Kalau sesuatu terjadi pada Seolhwa, aku akan membunuhnya."

Dadanya naik turun menahan emosi.

"Besok aku akan menjaga Seolhwa. Bisa saja bajingan itu sedang mengawasinya sekarang. Bisa saja dia berniat melukai Seolhwa berikutnya."

Tatapan tajam yang dipenuhi amarah perlahan memudar ketika matanya beralih pada sosok yang terbaring tak bergerak di atas ranjang rumah sakit.

Ibunya.

Wanita itu masih berada dalam kondisi koma.

Eun Dam mengembuskan napas panjang sebelum berjalan mendekat.

Dengan hati-hati, ia menggenggam tangan sang ibu yang terasa dingin.

"Eomma..." lirihnya. "Tolong bangunlah. Aku merindukanmu."

Matanya mulai memanas.

Ia menunduk sejenak sebelum kembali berbicara.

"Eomma, besok adalah ulang tahun Seolhwa."

Senyum tipis muncul di wajahnya.

"Aku berencana melamarnya."

Namun senyum itu segera menghilang.

"Tapi... apakah ini waktu yang tepat? Saat sahabatnya sedang mengalami hal seperti ini?"

Ruangan kembali hening.

Beberapa saat kemudian, Eun Dam menggeleng pelan.

"Tidak."

Sorot matanya berubah tegas.

"Aku harus segera menikahi Seolhwa."

Ia menggenggam tangan ibunya lebih erat.

"Dengan begitu aku bisa selalu menjaganya. Aku tidak ingin kehilangan Seolhwa untuk kedua kalinya."

Suaranya mulai bergetar.

"Eomma, tolong restui hubungan kami. Aku tahu Eomma pasti akan setuju, bukan?"

Tanpa ia sadari, setetes air mata ibunya jatuh dari sudut matanya seolah ia mendengar dan ingin mengatakan sesuatu pada anak laki-lakinya itu.

Di tengah kesunyian malam dan suara mesin monitor yang berdetak pelan, Eun Dam terus bercerita tentang semua rencananya bersama Seolhwa, berharap suatu hari nanti sang ibu bisa mendengarnya secara langsung.

***

Keesokan paginya, setelah mandi dan bersiap untuk pergi ke rumah sakit, nyanyian "Happy Birthday" terdengar merdu saat aku membuka pintu kamar.

Terlihat Hwi Sol Oppa yang sudah memegang cheesecake kesukaanku, berdiri tegap di depanku.

"Happy birthday, Seolhwa..." ujarnya dengan senyum manisnya.

Aku bahkan lupa kalau hari ini adalah hari ulang tahunku, tetapi tidak dengan Oppa.

Hwi Sol Oppa mendekat ke arahku dan menyuruhku membuat permohonan sebelum meniup lilin.

Aku berdoa dengan sungguh-sungguh dan penuh keyakinan bahwa doaku akan dikabulkan oleh Tuhan.

Ya Tuhan, aku mohon sembuhkanlah sahabatku dan kuatkanlah mentalnya. Buatlah hidupku, hidup Oppa, dan hidup Eun Dam bahagia selamanya. Aku juga berharap tidak kehilangan atau melihat orang-orang yang kusayangi terluka lagi. Amin.

Setelah selesai berdoa, aku meniup lilin di atas kue itu.

"Terima kasih, Oppa. Aku makan kuenya nanti saja, ya," sahutku lembut.

Oppa mengangguk paham.

"Turunlah. Kadomu ada di bawah," balasnya sambil menggandeng tanganku perlahan menuruni tangga.

Kami pun turun ke bawah dan aku melihat sebuah kotak yang cukup besar, dihiasi pita merah muda yang cantik.

"Wah! Apakah ini kadoku?" tanyaku antusias.

"Tentu, Tuan Putri. Bukalah. Semoga kamu suka, ya," kata Oppa sambil mengelus puncak kepalaku.

Aku pun membuka kado itu yang ternyata masih dibungkus lagi dengan kertas kado secara rapi.

"Oppa..." ucapku dengan nada manja sambil menoleh ke arahnya.

Oppa hanya terkekeh pelan.

"Ini kan tas yang aku mau... Ini mahal sekali, Oppa! Terima kasih!"

Kesedihanku tentang Minseo seakan sedikit terobati oleh tas yang sudah kuidam-idamkan selama beberapa bulan terakhir. Namun, selama ini aku selalu menahan diri untuk membelinya karena harganya yang sangat mahal.

Aku memeluk erat tubuh Hwi Sol Oppa dan, tanpa kusadari, aku mencium pipi kanannya sambil melompat-lompat kecil karena terlalu senang.

Kejadian itu berlangsung begitu cepat.

Begitu menyadari apa yang baru saja kulakukan, aku langsung menarik tubuhku menjauh dengan gugup.

Namun, Oppa justru menarik tubuhku kembali ke dalam dekapannya.

Mata kami saling menatap satu sama lain.

Aku bisa melihat sorot matanya yang begitu dalam.

Tiba-tiba, sebuah kecupan hangat di keningku.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!