NovelToon NovelToon
Ketika Sang Penindas Jadi Bucin

Ketika Sang Penindas Jadi Bucin

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Vina Melani Sekar Asih

Bagi Hani, diterima wawancara di perusahaan besar adalah impian. Namun, impian itu berubah jadi ketegangan saat ia tahu sang pewawancara adalah Reza, cowok nakal yang sering membully-nya saat SMA, yang ternyata adalah anak pemilik perusahaan.

Reza awalnya pangling melihat Hani yang kini bertransformasi menjadi sangat cantik dan memikat. Namun, begitu membaca nama lengkap Hani di CV, Reza langsung ingat bahwa mereka dulu sekelas. Terpesona oleh kecantikan Hani sekarang sekaligus dihantui rasa bersalah masa lalu, Reza langsung meloloskan Hani dan bertekad menebus dosanya.

Reza melakukan segala cara untuk meminta maaf dan mengambil hati Hani. Sayangnya, Hani bukan perempuan lemah yang mudah luluh. Akankah sikap dingin Hani runtuh oleh perjuangan Reza, ataukah Reza harus menerima kenyataan bahwa beberapa luka masa lalu memang mustahil disembuhkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vina Melani Sekar Asih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9

Sinar matahari pagi menembus celah gorden jendela, membawa kehangatan yang kontras dengan suasana hati Hani yang masih diselimuti mendung. Setelah malam yang melelahkan dan penuh teror, ia memaksakan diri untuk mandi, mengenakan pakaian kerja terbaiknya, dan berangkat ke kantor Baskara Group.

Bagaimanapun juga, ia harus tetap profesional. Statusnya sebagai karyawan masih menggantung, dan ia tidak ingin dicap mangkir di tengah situasi pelik ini.

Namun, begitu Hani menginjakkan kaki di lantai divisi administrasi, suasana terasa berbeda. Meja kerja besar di dalam ruangan berkaca bening yang biasanya ditempati oleh sosok pria jangkung bertampang arogan namun perlahan melunak kini tampak kosong melompong.

Tidak ada tumpukan berkas yang biasanya berserakan, tidak ada aroma parfum maskulin yang khas, dan tidak ada suara berat yang kerap memanggil namanya dengan nada ketus yang menyebalkan.

"Pagi, Hani," sapa Sarah, rekan kerja sekaligus orang kepercayaannya di kantor, sambil membawa secangkir kopi.

"Pagi, Sar. Ruangan Pak Reza... sepi sekali," ujar Hani, mencoba terdengar biasa saja meski matanya tidak bisa beralih dari meja kosong itu.

Sarah menghela napas panjang, lalu mendekat dan berbisik misterius. "Kamu belum dengar kabarnya? Katanya Pak Reza mendadak izin tidak masuk karena ada urusan keluarga yang sangat mendesak. Bahkan Pak Narendra sendiri yang langsung menandatangani surat izinnya tadi pagi-pagi buta. Gosipnya sih, ada masalah internal. Tapi entahlah, wajah Pak Narendra tadi pagi kelihatan tegang sekali."

Hani hanya mengangguk pelan, berpura-pura terkejut. Di dalam hatinya, ia tahu persis apa "urusan mendesak" itu. Pria itu sedang terbaring di rumah sakit dengan belasan jahitan di punggungnya.

Sepanjang jam kerja, fokus Hani benar-benar teruji. Ia berkali-kali salah mengetik dokumen dan salah memasukkan data angka. Pikirannya melayang, bergantian antara mengkhawatirkan kondisi fisik Reza dan berspekulasi tentang siapa sosok kejam yang mengincar nyawa bosnya itu.

Setiap kali mendengar langkah kaki mendekati mejanya, jantung Hani berdegup kencang, berharap itu adalah kabar terbaru mengenai perkembangan kondisi Reza.

...****************...

Begitu jarum jam dinding menunjukkan pukul lima sore, tanda jam kantor telah usai, Hani menjadi orang pertama yang merapikan tasnya. Setelah berpamitan singkat dengan Sarah, ia segera melangkah keluar gedung dan menyetop taksi.

Di tengah jalan, Hani meminta sopir taksi untuk berhenti sejenak di depan sebuah toko buah premium. Ia melangkah masuk, memandangi deretan buah-buahan segar dengan bingung.

Keranjang buah berukuran besar dirasa terlalu formal dan berlebihan untuk hubungan mereka yang rumit. Setelah menimbang-nimbang, tatapan Hani jatuh pada deretan mangga harum manis yang beraroma harum dan matang sempurna.

"Mangga saja," gumam Hani pada diri sendiri. "Kata orang, buah manis bisa mengembalikan energi."

Setelah membeli dua kilogram mangga pilihan, Hani kembali melanjutkan perjalanan menuju Rumah Sakit Pusat Jakarta. Langkah kakinya menyusuri koridor ruang rawat inap VIP terasa jauh lebih tenang dibandingkan malam sebelumnya. Begitu tiba di depan kamar nomor 701, Hani menarik napas dalam-dalam, merapikan blus kerjanya, lalu mengetuk pintu kayu jati tersebut dengan perlahan.

Tok! Tok!

"Masuk," terdengar suara sahutan dari dalam. Bukan suara Narendra yang berat, melainkan suara Reza yang terdengar sedikit melemah.

Hani mendorong pintu perlahan. Ruangan VIP itu sangat luas dan nyaman, lebih mirip kamar hotel berbintang daripada kamar rumah sakit. Reza tampak bersandar pada tumpukan bantal dengan posisi agak miring untuk menghindari tekanan pada luka di punggungnya.

Pria itu mengenakan pakaian pasien berwarna biru muda, wajahnya masih sedikit pucat, namun matanya langsung berbinar cerah begitu melihat siapa yang datang.

"Hani? Kamu... datang?" ujar Reza, suaranya mendadak berubah menjadi sangat pelan dan serak, seolah-olah ia sedang menahan rasa sakit yang teramat sangat.

Hani melangkah mendekat, meletakkan kantong plastik berisi mangga di atas meja nakas samping tempat tidur. "Sore, Pak Reza. Bagaimana keadaan Anda? Saya sengaja mampir setelah pulang kantor untuk melihat kondisi Anda."

Reza mendadak memegangi dadanya, lalu mengembuskan napas pendek dengan dramatis. Wajahnya dibuat seringkih mungkin, matanya menatap Hani dengan pandangan sayu yang dibuat-buat.

"Ah... badanku rasanya lemas sekali, Hani. Bergerak sedikit saja, punggungku seperti mau patah. Jangankan untuk duduk tegak, untuk bernapas saja rasanya butuh perjuangan besar..."

Hani mengernyitkan dahi. Rasa cemas yang sempat membakar dadanya mendadak surut, digantikan oleh rasa curiga yang menggelitik logikanya.

Semalam dokter dengan jelas mengatakan bahwa luka Reza tidak mengenai organ vital dan kondisinya sudah sangat stabil. Mengapa sekarang pria ini mendadak terlihat seperti pasien yang sedang koma tiga bulan?

"Benarkah separah itu?" tanya Hani, melipat kedua tangannya di dada sambil menatap Reza dengan sebelah alis terangkat.

"Iya, serius! Aku tidak bohong," potong Reza cepat, lantas kembali memasang wajah memelas ketika menyadari suaranya barusan terlalu bertenaga.

Ia berdeham pelan, mencoba mengembalikan nada seraknya. "Ehem... maksudku, iya, Hani. Aku bahkan belum makan apa pun sejak siang karena tidak punya tenaga untuk menggerakkan sendok."

Mata Reza kemudian melirik ke arah kantong plastik di atas meja. "Kamu... bawa buah untukku? Wah, baunya harum sekali. Itu buah mangga, ya?"

"Iya, saya beli mangga di depan jalan tadi," jawab Hani datar.

Reza tersenyum lemah, sebuah senyuman penuh maksud yang terselubung. "Aduh, kebetulan sekali. Aku sedang mengidam buah manis sejak pagi. Tapi... ya ampun, tanganku rasanya ngilu sekali bahkan hanya untuk digerakkan seujung jari."

Reza menatap Hani dengan kerlingan mata yang penuh harap. "Hani... bolehkah aku minta tolong? Tolong kupaskan mangganya untukku... dan kalau kamu tidak keberatan, suapi aku juga. Tolonglah, kasihanilah pasien yang tidak berdaya ini."

Hani mendengus geli, hampir saja tertawa melihat tingkat kedewasaan bosnya yang mendadak merosot tajam menjadi seperti anak balita. "Pak Reza, tangan Anda tidak terluka sama sekali semalam. Yang dijahit itu punggung Anda, bukan jemari Anda."

"Tapi otot-ototnya kan berhubungan, Hani! Kalau jemariku bergerak mengupas kulit mangga itu, otot punggungku akan ketarik, lalu jahitannya bisa lepas, lalu aku bisa pendarahan lagi, lalu..."

"Cukup, Pak. Stop. Drama Anda terlalu berlebihan," potong Hani sambil geleng-geleng kepala, menahan senyum yang hampir lolos dari bibirnya.

Meskipun tahu pria itu hanya sedang mencari perhatian dan berpura-pura manja, Hani tetap melangkah mendekati meja makan kecil.

Ia mengambil sebilah pisau buah yang sudah disediakan pihak rumah sakit, lalu mulai mengupas kulit mangga harum manis itu dengan telaten. Reza yang melihat hal itu langsung bersorak girang di dalam hatinya. Rencana dramanya berhasil total.

Setelah memotong daging buah mangga menjadi ukuran sekali gigit, Hani membawa piring tersebut dan duduk di kursi samping tempat tidur Reza. Ia menusuk sepotong mangga dengan garpu kecil, lalu menyodorkannya ke depan mulut Reza.

"Ini. Buka mulut Anda," ujar Hani, mencoba memasang wajah ketat.

Reza dengan penuh kemenangan membuka mulutnya lebar-lebar. "Aaa..."

Nyam.

Reza mengunyah mangga itu dengan ekspresi wajah yang sangat berlebihan, seolah-olah ia sedang memakan makanan paling lezat di seluruh dunia. "Wah, manis sekali! Mangganya enak, atau mungkin karena disuapi kamu ya, jadi rasanya naik berkali-kali lipat?"

Hani merasakan pipinya mendadak menghangat. Ia buru-buru menusuk potongan mangga berikutnya dan langsung menjejalkannya ke dalam mulut Reza sebelum pria itu sempat melontarkan gombalan receh lainnya. "Makan saja yang banyak, Pak. Tidak usah bicara yang aneh-aneh."

"Hmmph!" Reza terbelalak karena mulutnya mendadak penuh dengan mangga, membuatnya harus bersusah payah mengunyah dengan pipi yang menggembung seperti tupai.

Hani tidak bisa menahan dirinya lagi. Tawa kecil akhirnya lolos dari bibir indahnya. Melihat Reza yang bisa bertingkah sekonyol dan sehidup ini membuat seluruh ketegangan, duka, dan ketakutan yang menghimpit Hani sejak kemarin sore perlahan-lahan menguap.

Untuk beberapa saat di dalam ruangan itu, mereka melupakan kasta bos dan bawahan, mengabaikan trauma masa lalu, dan melupakan fakta bahwa di luar sana, bahaya nyata masih mengintai.

"Nah, habiskan ini," ujar Hani sambil menyodorkan potongan terakhir, senyuman manis masih tercetak jelas di wajahnya.

Reza menatap senyuman tulus Hani dengan pandangan yang perlahan berubah menjadi lembut dan hangat. Candaan komedi yang ia buat tadi semata-mata hanya karena ia tidak ingin melihat Hani datang dengan wajah murung penuh beban duka lagi. Dan melihat tawa wanita itu kembali, Reza tahu, rasa sakit di punggungnya sama sekali tidak ada artinya.

Namun, di tengah suasana hangat dan penuh tawa di dalam kamar rawat itu, Hani tidak menyadari bahwa di balik kaca kecil pintu kamar nomor 701, sepasang mata misterius kembali mengawasi interaksi mereka berdua.

Sosok bertudung hitam yang semalam menyerang Reza kini berdiri di koridor rumah sakit, menyamar sebagai salah satu pengunjung. Ia menatap kebersamaan Reza dan Hani dengan rahang yang mengeras penuh dendam, seolah-olah tawa di dalam ruangan itu adalah sebuah penghinaan besar bagi misinya yang belum selesai.

1
Bu Dewi
up lagi kak😍😍😍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!