NovelToon NovelToon
Suami Yang Kau Dan Keluarga Mu Hina Adalah Pewaris Kaya

Suami Yang Kau Dan Keluarga Mu Hina Adalah Pewaris Kaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Markario Putra

Demi menguji ketulusan, Aldi Pratama menyamar sebagai pria biasa selama dua tahun pernikahan. Namun, Kirana beserta keluarganya yang gila gengsi terus menghina dan merendahkannya. Batas sabar Aldi habis; ia mengungkap identitas aslinya sebagai pewaris tunggal konglomerat raksasa Pratama Group, menceraikan Kirana, dan memiskinkan keluarganya.
Kejatuhan itu seketika menghancurkan hidup Kirana—ibunya meninggal karena syok, adiknya dipenjara, dan ia harus bertahan hidup sebagai pedagang sembako miskin. Di titik nadir inilah Kirana bertobat total dan belajar bersyukur. Takdir kemudian mempertemukan mereka kembali lewat program sosial. Meski dipisahkan jurang kasta yang permanen, Aldi diam-diam memberi perlindungan rahasia karena belum bisa melupakan Kirana sebagai cinta pertamanya, sementara Kirana menjalani takdirnya dengan keikhlasan dan penyesalan abadi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Markario Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 26: Jebakan di Malam Kelam

Malam semakin larut ketika Riko tiba di sebuah kelab malam mewah di kawasan Jakarta Barat. Dentuman musik disko yang keras dan sorotan lampu neon berwarna-warni membuat kepalanya pening. Di dalam kantong jaketnya, sebuah bungkusan plastik hitam kecil seukuran telapak tangan tersimpan dengan rapat. Itu adalah paket narkoba jenis sabu yang dia ambil dari loker stasiun sore tadi.

"Lu Riko, kan? Utusan dari Doni?"

Seorang pria bertato dengan pakaian kasual mendekati Riko di dekat area toilet VIP kelab malam tersebut.

"I-iya, Mas. Ini barangnya," jawab Riko dengan suara gemetar, tangannya gemetar hebat saat mengeluarkan bungkusan plastik tersebut dari kantong jaketnya.

Pria bertato itu memeriksa isi bungkusan sejenak, lalu tersenyum puas. Dia mengeluarkan segepok uang pecahan seratus ribu rupiah dari dompetnya. "Kerja bagus. Ini lima juta rupiah buat lu. Jangan banyak omong di luar kalau lu masih mau selamat."

Begitu uang itu berpindah tangan ke dalam genggaman Riko, suasana mendadak berubah menjadi horor. Tiga orang pria berbadan tegap dengan pakaian preman tiba-tiba muncul dari arah koridor gelap dan langsung menerjang tubuh Riko hingga tersungkur ke lantai marmer toilet.

"Jangan bergerak! Polisi! Tiarap di lantai!" bentak salah satu petugas polisi berkaos hitam sambil mengunci kedua tangan Riko ke belakang punggungnya.

Bunyi klik besi borgol yang mengunci pergelangan tangannya membuat seluruh darah di tubuh Riko mendadak membeku.

Segepok uang lima juta yang baru saja dia pegang terlempar ke lantai, bersama dengan sisa bungkusan barang bukti.

"Pak! Tolong, Pak! Saya cuma kurir! Saya gak tahu apa-apa! Ibu saya sakit di rumah, Pak!" jerit Riko histeris, menangis sejadi-jadinya di atas lantai toilet yang dingin. Wajahnya ditekan ke lantai, menghilangkan seluruh harga dirinya sebagai seorang mahasiswa.

"Gak usah banyak alasan! Ikut kami ke markas sekarang!" bentak petugas kepolisian itu dengan kasar, menarik tubuh Riko berdiri dan menyeretnya keluar melewati kerumunan pengunjung kelab yang menatapnya dengan pandangan menjijikkan.

Malam itu, di bawah siraman lampu kelab yang menyilaukan, Riko menyadari bahwa jalan pintas yang dia ambil bukanlah jalan keluar, melainkan sebuah gerbang penjara yang akan mengubur seluruh sisa masa mudanya akibat kebodohan dan keserakahannya sendiri.

Kabar penangkapan Riko menghantam Kirana seperti hantaman ombak besar di tengah malam buta. Setelah menerima telepon dari pihak kepolisian, Kirana langsung berlari membelah gerimis malam menuju kantor Polres Jakarta Barat dengan sisa uang ongkos yang pas-pasan.

Di ruang tunggu yang dingin, Kirana menangis histeris saat melihat adiknya duduk di balik jeruji besi dengan mengenakan baju tahanan berwarna oranye. Riko hanya bisa menangis memohon ampun di balik jeruji, sementara ancaman hukuman minimal lima tahun penjara sudah menantinya di depan mata.

"Ibu Kirana, karena status adik Anda adalah kurir aktif dengan barang bukti yang cukup besar, tidak ada opsi penangguhan penahanan kecuali Anda memiliki pengacara atau jaminan finansial yang sangat kuat untuk proses persidangan nanti," jelas petugas penyidik dengan nada formal di ruang pemeriksaan.

Kirana keluar dari kantor polisi dengan tubuh yang lemas tak bertenaga. Pikirannya kosong. Ke mana dia harus mencari uang ratusan juta untuk menyewa pengacara demi menyelamatkan adiknya? Teman-temannya sudah menjauh, ibunya sakit sakitan di kosan, dan dia sendiri hanyalah staf toko sembako berpendapatan rendah.

Hanya ada satu nama yang terlintas di kepala Kirana.

Satu-satunya pria yang memiliki kekuasaan mutlak untuk membalikkan takdir keluarganya dengan satu petikan jari. Aldi Pratama.

Keesokan paginya, Kirana kembali mendatangi gedung Pratama Tower. Kali ini, dia tidak mencoba menerobos lobi utama. Dia berdiri di pinggir jalan keluar area parkir VIP gedung tersebut, menunggu di bawah guyuran hujan deras dengan tubuh yang menggigil, berharap bisa mencegat mobil mewah Aldi saat keluar jam makan siang.

Setelah menunggu selama tiga jam, mobil Rolls-Royce hitam milik Aldi akhirnya perlahan bergerak keluar dari gerbang parkir bawah tanah, dikawal oleh dua mobil SUV hitam milik tim keamanannya.

Kirana langsung berlari ke tengah jalan, merentangkan kedua tangannya dengan nekat di depan mobil Rolls-Royce tersebut.

Mobil mewah itu mengerem mendadak dengan bunyi decitan ban yang nyaring, berhenti tepat beberapa sentimeter di depan lutut Kirana yang gemetar.

Dua orang pengawal berjas hitam langsung keluar dari mobil pengawal, memegang bahu Kirana dengan kasar untuk menjauhkannya dari jalan.

"Mas Aldi! Tolong aku, Mas! Riko ditangkap polisi, Mas! Aku mohon bantuanmu kali ini saja!" teriak Kirana histeris, air matanya bercampur dengan air hujan yang membasahi seluruh wajah dan pakaian kerjanya yang kusam.

Kaca jendela belakang mobil Rolls-Royce perlahan diturunkan. Aldi Pratama melihat ke arah Kirana dari dalam kabin mobil yang hangat dan mewah. Pria itu mengenakan setelan jas abu-abu eksklusif, wajahnya tampak begitu tenang, bersih, dan berwibawa—sangat kontras dengan kondisi Kirana yang basah kuyup dan mengenaskan di atas aspal jalanan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!