NovelToon NovelToon
PUTRA KE EMPATKU

PUTRA KE EMPATKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: ElQue ElQue

Sedih dan sakit hati di rasakan oleh Arista, hanya karena belum bisa memberikan anak perempuan pada suaminya. Pada kehamilan ke empat, Arista sengaja tidak mau USG untuk mengetahui jenis kelamin janin dalam kandungannya. Dia sudah pasrah, apa pun takdir dari Sang pencipta, dia akan menerimanya dengan ikhlas.

Hingga hari yang di tunggu pun tiba. Sore itu dengan di temani adik perempuannya, Anisa. Mereka ke klinik bersalin terdekat dari desa mereka.

Suaminya ke mana??

"Alhamdulillah, selamat ya, Bu Arista atas kelahiran putra ke empatnya"

Arista tersenyum gamang. Di depan pintu sorot mata penuh kekecewaan, seolah sedang menghakiminya.

" Mas...maaf " lirih suara Arista.

Sorot mata itu perlahan menjauh dan menghilang di telan kekecewaannya sendiri.

Arista tergugu, tak ada air mata...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ElQue ElQue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

09.

Anisa merebahkan tubuh di sebelah suaminya, Restu. Dia masih ngambang, dengan bantahan suaminya, tentang siapa yang membalas pesannya saat meminta ijin.

Sedangkan dia sendiri tahu kalau ke dua mertuanya sudah agak sepuh, jangankan di suruh membalas pesan, jawab telepon saja masih bingung.

(Siapa yang berani pegang hp mas Restu dan begitu bebas sepertinya dia memainkannya. Sampai- sampai dia berani balas pesan istrinya) Anisa membatin.

Perlahan dia menatap suaminya yang sudah tertidur. Anisa menautkan ke dua alisnya, seperti sedang berpikir.

(Kenapa wajah mas Restu kelihatan lelah sekali. Apa dia secapek itu mengurus ke dua orang tuanya. Bukankah di sana ada Lina, istri dari Budiman adiknya mas Restu. Selama ini Lina dan Budiman sepertinya enjoy aja mengurus bapak dan ibu. Mereka tak pernah mengeluh, tapi sepulang dari sana wajahnya terlihat lelah sekali) batin Anisa.

Anisa merasa ke dua matanya sudah berat, tak lama dia pun ikut terlelap.

\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*

" Ibu mau pergi arisan sore ini, nanti kamu beli lauk di luar aja, buat Pertiwi dan Farah adikmu. Sekalian buat kamu juga, Pram. Ibu nggak masak dan pulang malam." bu Rahmi yang pagi itu sudah sibuk menyiapkan baju.

" Arisannya nanti sore, tapi ibu udah sibuk memilih baju sepagi ini. Kan, cuma arisan kenapa harus heboh sih, Bu." celetuk Pramono menatap heran ke arah ibunya.

" Biar nggak lupa. Apa salahnya di siapkan dari sekarang."

" Tapi nanti aku pulang malam lho, Bu. Takutnya Pertiwi dan Farah keburu lapar."

" Kamu tinggal pesan online apa susahnya." jawab Bu Rahmi.

" Ibu ini mau arisan apa ke undangan nikahan, pakaiannya blink blink kayak lampu disco." tanya Farah sambil menyentuh baju yang di pegang ibunya.

Bu Rahmi menepis tangan Farah sambil mendelik.

"Aww...sakit tau, Bu." kata Farah sambil mengusap-usap punggung tangannya.

" Makanya jangan iseng, bukan urusan kamu juga. Kenapa kalian belum pada berangkat juga." tanya Bu Rahmi sambil menatap tajam ke arah anak-anaknya yang masih belum beranjak dari meja makan.

Dengan muka cemberut Farah bangun dan mencium tangan Bu Rahmi,di ikuti ke dua kakaknya.

Dengan langkah lebar Farah berjalan ke depan rumah. Sepertinya dia kesal dengan sikap ibunya yang sudah menepis tangannya.

Ke dua kakaknya menyusul dengan setengah berlari. Pramono langsung menuju ke garasi dan mengeluarkan mobil, di depan pagar Pertiwi dan Farah menunggu.

Sebelum ke kantor, Pramono mengantar ke dua adiknya kuliah. Kebetulan mereka satu kampus. Pertiwi sudah semester empat sedangkan Farah baru masuk kuliah. Mereka sengaja memilih universitas yang sama biar nggak merepotkan kakaknya yang setiap hari terlebih dahulu mengantar mereka dan baru melanjutkan perjalanannya ke kantor.

Pramono terlihat menepikan mobilnya ke trotoar. Sepertinya dia hendak menelpon seseorang. Terlihat dari ke dua tangannya yang memegang ponsel.

" Kamu masih mempertahankan anak itu di rumah? Seperti di awal, aku akan pulang kalau anak itu sudah tidak ada di sana."

Yahh...Pramono sedang menghubungi Arista istrinya. Dia ingin memastikan dan mendengar keputusan Arista . Dia yakin Arista akan menerima keputusannya. Karena dia tahu Arista pasti akan menurutinya dan tak akan bisa melepasnya.

Panggilan berakhir, Pramono menyan ponselnya di dalam saku celana. Di sudut bibirnya terbit lengkungan tipis. Tipis dan merasa menjadi pemenang.

\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*

Di ujung sana, seseorang mengepalkan tangannya sampai terlihat urat tangannya menonjol. Sesak sungguh dia rasakan seakan menghimpit ruang yang tak tersentuh.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!