NovelToon NovelToon
DIHIANATI CALON SUAMI, DAPAT PRESDIR

DIHIANATI CALON SUAMI, DAPAT PRESDIR

Status: tamat
Genre:Pernikahan Kilat / One Night Stand / Selingkuh / Percintaan Konglomerat / Mafia / Romansa / Tamat
Popularitas:4.2M
Nilai: 4.9
Nama Author: uutami

Amalia tak pernah menyangka, penghianatan dari calon suami dan sahabatnya sendiri, justru membawanya pada takdir yang tak terduga.

"Kau sudah tidur denganku, kau tidak akan bisa lepas dariku!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon uutami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 19

"Rama."

Seorang wanita paruh baya menyapa begitu Rama melangkah masuk ke sebuah rumah besar. "Kamu pulang juga malam ini."

"Tadi... Nongki-nongki dulu sama teman," jawab Rama singkat, menatap mamanya dan Kimberly, dengan tatapan yang sulit ditebak. "Ada apa?"

Mama menepuk kursi kosong di sampingnya. "Duduk dulu. Ada hal penting yang harus kamu tahu."

Rama menarik napas, lalu menuruti. Duduk tanpa bersandar, seperti siap untuk beranjak kapan pun.

"Bara sudah kembali," kata Mama akhirnya.

"Aku tahu," jawab Rama pelan.

"Kamu tau?" tanya Mama, "Hari ini dia tiba. Tapi dia nggak pulang ke sini."

"Mama tau dari mana?" tanya Rama sambil melirik Kimy, dia tau Kimmy masih sangat menyimpan rasa pada Bara. Dan pasti kedatangannya di rumah untuk tujuan itu.

"Kim yang cerita. Dia tau dari temannya," jawab Mama sambil mengusap lengan gadis di sampingnya.

Kimberly menunduk. Suaranya lirih, penuh luka. "Dia bahkan nggak mau temui aku, Ram. Aku datangi hotel tempat dia nginap… dia malah ngusir aku. Seolah aku orang asing.”

Rama menoleh sedikit, tapi tak menjawab. Wajahnya tetap tenang, tapi ada sorot gelap di matanya.

"Mama tidak mengerti... Kenapa dia sangat keras kepala begitu? Dia tidak menganggap kita keluarga. Dia benar-benar memutus diri," lanjut Mama sambil mengusap lengan Kimberly dengan pelan. "Aku tidak mengerti jalan pikirannya. Apa dia pikir keluarga tidak penting? Sama sekali tidak memandang kita."

Kimberly menarik napas dalam. "Apa Tante benar-benar tak bisa membantu?"

Mama terdiam sejenak, lalu berkata dengan suara rendah, "Kamu tau sendiri kan, dia bagaimana? Mungkin kamu perlu pertimbangkan hal lain, Kim. Cobalah dekat dengan Rama, dari pada sama manusia dingin dan berhati kutub itu. Bukankah dulu kalian juga dekat?"

Rama menoleh cepat. "Ma…"

"Maaf, Tante," potong Kimmy dengan cepat. "Aku tahu Rama baik. Tapi hatiku cuma untuk Bara."

Suasana mendadak dingin, meski malam belum sepenuhnya larut.

Rama berdiri. Suaranya berat, tapi datar. "Aku ke kamar. Lelah."

Tanpa menunggu respon, ia melangkah pergi.

"Ram...."

Kim hanya menatap sosok yang kini berjalan menjauh. Lampu lorong memantulkan bayangan Rama yang panjang saat ia menuju kamar. Begitu pintu tertutup, dunia seakan ikut menutup.

Di dalam kamarnya yang gelap, hanya lampu meja menyala redup. Rama duduk di tepi ranjang, menatap kosong ke layar ponselnya. Tak ada pesan. Tak ada panggilan. Tidak dari Lia.

"Lia…"

Ia menggenggam ponsel erat. Gadis itu menghilang begitu saja di kafe tadi sore. Satu momen mereka tertawa sambil main bilyard, dan sesaat kemudian, hilang. Seolah Lia adalah bayangan yang tak bisa disentuh.

"Kenapa kamu pergi begitu saja?" bisiknya pada malam. "Apa yang terjadi?"

Di luar, angin malam mengetuk lembut jendela kamarnya. Seolah menjawab, atau sekadar menemaninya dalam sepi. Dan malam terus merambat perlahan, membawa nama-nama yang tak diucap, cinta yang tak sempat diberi, dan luka yang tak selesai dijahit.

****

"Dia tidak ada dimanapun... Dia ke mana? Kabur?"

Malam mulai turun saat ponsel Bara bergetar. Ia baru saja keluar dari vila, tubuh lelah dan kepala penuh dengan kekhawatiran. Layar ponsel menampilkan nama yang membuat jantungnya berdetak cepat, Bebby.

Cepat-cepat ia mengangkat.

"Halo, Beb?" suaranya tergesa.

"Bos…" suara Bebby terdengar serius, "Aku nemuin dia. Lia. Dia tinggal di rumah kontrakan kecil di daerah xx. Nomor 37. Aku udah cek tiga kali, itu bener dia."

Bara terdiam sejenak. Jantungnya seakan berhenti berdetak.

"Kita ke sana?" bisiknya. "Kamu di mana?" Bara langsung masuk ke mobil.

Bebby yang entah ada di mana, terdiam sejenak membatin, "Ah, dia baru ingat keberadaan ku sekarang. Baru juga nyari penghulu, penghulu dapat, pengantinnya malah kabur."

"Kirim lokasinya sekarang!" perintah Bara yang tak sabar karna Bebby tak kunjung menjawab.

"Baik."

"Kau ikut!"

Bebby menarik napas panjang,"Sudah kuduga," batinnya. Lalu ia menjawab, "Kita ketemu di ujung gang, aku tunggu di sana.”

*****

Tak butuh waktu lama, mobil Bara melaju kencang menembus jalanan. Di ujung gang kecil yang remang, Bebby sudah menunggu dengan kendaraan lain, ia berpindah ke mobil Bara. Ia menunjuk ke arah rumah pojok dengan jendela kuning pucat.

"Itu kamarnya. Lampunya baru nyala."

Bara memandangi rumah itu dari dalam mobil. Sunyi, sederhana… dan ada dia di dalamnya.

Dari kejauhan, terlihat siluet Lia muncul di balik jendela. Ia tampak menguap dan menarik tirai perlahan. Bara menahan napas.

"Aku harus ke sana," katanya sambil membuka pintu mobil.

Mata Bebby melebar, “Apa? Sekarang?"

"Aku tak bisa menunggu lagi."

"Sabar, sabar dulu," ujar Bebby menahan. "Ini malam, kita tak bisa menyelinap ke sana sekarang, bisa-bisa malah diteriakin maling."

"Lalu? Apa rencanamu?"

"Tunggu waktu yang tepat."

"Kapan?"

Bebby hanya memandang jendela kamar Lia. Tapi Bara tak bisa diam terlalu lama. Setelah hampir satu jam menunggu, ia mulai gelisah. Ia menghela napas berat dan menatap Bebby.

“Beb… Aku tak bisa bersabar lebih lama. Buka jalan ke kamar dia.”

Bebby memutar mata, lalu keluar dari mobil. "Ini gila," gerutunya sangat pelan.

Dengan cekatan, Bebby menyelinap ke sisi rumah, mengamati sekitar lalu menjebol jendela dengan hati-hati. "Astaga, aku ini sekertaris, kenapa sekarang jadi spesialis jebol jendela. Benar-benar berbakat jadi maling. Sialan!"

Saat semua siap, ia memberi isyarat.

Bara masuk perlahan ke kamar yang tenang dan hangat. Di atas ranjang yang hangat, Lia tertidur. Wajahnya damai, meski sedikit pucat.

Bara mendekat, menatapnya lama. Ia ingin membawanya pulang… tapi hatinya menolak. Ia tak mau membangunkan Lia.

"Kamu enggak akan bisa pergi dariku."

Bara merangkak menaiki ranjang, lalu ikut berbaring di sana. Memeluk tubuh Lia yang lebih dulu terlelap.

****

1
Siti Saodah
harus nya si bara kasih pelajaran sama keluarga nya Lia,,ini malah di biarin jadi gedek deh baca nya
Siti Saodah
kemana lagi si bara katanya pengusaha kaya tapi lelet amat selamatkan istri nya
Siti Saodah
si lia bodoh apa bego,,udah tau punya ayah dan sodara tiri jahat percaya aja,,
Siti Saodah
itu panggilan untuk asisten nya,,jangan beb Thor,,lia jadi salah paham,,dikira bara manggil pacar nya
Momcia
O ala..thor..gmn sih ceritamu ini..
Momcia
Knp othor buat karakter Lia bodoh ya..
knp kau datang Bara???
Momcia
Lagi hamil muda, di tarik2, di seret, di tampar berkali2, emang gak ngaruh sama kehamilannya Anehhhh
Momcia
Knp penulis rata2 menyebut kata SEKRETARIS jd SEKERTARIS?
Momcia
Nm cowok Bebby..
🌹Mariana 🌹
ya ampun kenapa nama hotel sama dengan nama ku ya 🤭
Janah Husna Ugy
trus bebey gimana
Partini Minok Nur Maesa
kemarin suka beby sekarang suka rama.dulu rana suka lia tp dulu jg suka sama nia kyknya ceritanya terlalu ngadi2
Partini Minok Nur Maesa
bukanya ppnya kaya
Partini Minok Nur Maesa
bukanya kemarin rama sukanya lia kok tb2 suka nia
Partini Minok Nur Maesa
jgn nia dijodohkan sama rama
Partini Minok Nur Maesa
akhirnya lia ingat nia
Partini Minok Nur Maesa
yg kabur lia tp bara yg disalahkan.raga raga
Partini Minok Nur Maesa
knp kemarin gx pulang aja ke villa klo kyk gini anaknya jd slh phm kan
Partini Minok Nur Maesa
kok nia dan fitri tdk diundang kasian mereka hidup serumah lho segitu gampangnya lia ngelupain teman berjuang
Partini Minok Nur Maesa
sayangnya lia sama tmn satu kost yg udah baik sama dia
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!