NovelToon NovelToon
Gen Z Emperor

Gen Z Emperor

Status: sedang berlangsung
Genre:Angst / Fantasi / Reinkarnasi
Popularitas:51
Nilai: 5
Nama Author: AEERA-ALEA

maizy melihat berita tentang sepasang tulang dengan cincin pernikahan yang saling menggenggam romantis, menandakan cinta mereka tidak akan pernah tergerus oleh peradaban. Di bawah reruntuhan istana yang baru saja di temukan arkeolog Jerman, membuatnya penasaran namun harus menutup rasa ingin tahu nya di sekolah

pada perjalanan dia tidak sengaja bertabrakan dengan seorang anak laki laki yang sangat ia kenali, seseorang yang selalu menghujami nya dengan perkataan dan perundungan. Di sana Paul berdiri dengan angkuh di saat maizy dengan tertatih memungut buku nya..

perdebatan mereka masih berlanjut, sampai kedua nya muak dan memutuskan untuk beradu mulut dan malah membawa petaka. Kedua nya terjatuh dari tangga lantai 3

saat maizy terbangun, apa lah daya nya. dia terbangun di tengah tengah hutan hujan Jerman kuno, di keliling kuil kerajaan yang tidak asing, namun baru pertama kali ia datangi.

ternyata maizy terlempar ke masa lalu dan harus menduduki tahta ratu

apa yang akan dia lakuka

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AEERA-ALEA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

11

Di dalam ruangan BK yang ber-AC dingin itu, situasi semakin menyudutkan Maizy. Albert Laxsman tidak memberikan ruang sedikit pun bagi Maizy untuk membela diri. Dengan angkuh, pria itu mengetuk-ngetuk meja Frau Fischer dengan jari berpola cincin mahalnya.

"Frau Fischer, saya rasa kita tidak perlu membuang waktu lebih lama lagi," ucap Albert dengan nada mutlak yang memotong kalimat Maizy. "Dari penampilannya saja, sudah kelihatan anak ini berasal dari latar belakang keluarga yang bermasalah. Siapa wali muridnya? Kudengar dia hanya tinggal bersama seorang paman yang bekerja sebagai buruh kereta?"

Mendengar profesi pamannya disebut dengan nada menghina, Maizy langsung mendongak tajam. "Paman Michael adalah seorang masinis kereta cepat yang jujur! Dia bukan buruh yang bisa Anda remehkan!"

Albert tertawa remeh, sebuah tawa pendek yang sangat mencederai harga diri. "Masinis? Buruh kemudi? Well, pantas saja keponakannya tidak punya sopan santun dan suka mengarang cerita. Orang yang menghabiskan waktunya di stasiun kotor tentu tidak punya waktu untuk mendidik anaknya cara berperilaku di sekolah internasional seperti Winterhall."

Frau Fischer, alih-alih membela Maizy, justru ikut mengangguk setuju demi mengamankan posisi dan donasi dari keluarga Laxsman. Guru BK itu menatap Maizy dengan pandangan dingin dan penuh celaan.

"Maizy, Herr Laxsman ada benarnya," timpal Frau Fischer tanpa perasaan. "Kamu harus tahu diri. Pamanmu itu pasti sangat sibuk bekerja kasar di luar sana sampai tidak tahu kalau kamu bertingkah seperti ini di sekolah. Menuduh anak dari keluarga terhormat seperti Paul tanpa bukti fisik yang jelas—selain luka lecet yang bisa saja kamu buat sendiri karena kecerobohanmu—itu bisa dikategorikan sebagai pencemaran nama baik. Jangan sampai pekerjaan pamanmu yang sudah sulit itu makin dipersulit karena ulahmu."

Paul yang duduk di sebelah ayahnya menyunggingkan senyum miring yang luar biasa puas. Sifatnya yang mutlak tidak mau kalah merasa telah menang telak. Dia menatap Maizy yang kini gemetaran, dadanya naik turun menahan amarah dan sakit hati yang luar biasa karena paman yang dihormatinya dicemooh dengan begitu rendah.

"Kalian... kalian benar-benar tidak punya hati," desis Maizy dengan air mata yang akhirnya menetes bebas di pipinya. Sifat "tidak enakan" yang biasanya menahan Maizy kini lenyap, digantikan oleh rasa sesak karena dikeroyok oleh ketidakadilan di ruangan itu.

"Jaga bicaramu, Maizy! Atau sekolah bisa menjatuhkan sanksi skors padamu hari ini juga!" bentak Frau Fischer, berdiri dari kursinya untuk mengintimidasi Maizy lebih dalam, sementara Albert Laxsman hanya menatap Maizy seperti sedang melihat serangga kecil yang mengganggu di ujung sepatunya.

Brakk!

Pintu ruang BK dihantam terbuka dengan satu dorongan yang kuat dan tegas. Dentuman itu begitu keras hingga membuat Frau Fischer terlonjak dari kursinya, sementara Albert Laxsman langsung menoleh dengan kening berkerut dalam, merasa otoritasnya diganggu.

Di ambang pintu, berdirilah Michael Siegfried Falkenhayn.

Postur tubuhnya yang tegap sempurna dibalut oleh seragam resmi masinis eksekutif yang sangat kaku, lengkap dengan jubah mantel hitam panjang khas perwira tinggi perkeretaapian Berlin. Wajahnya yang luar biasa tampan tampak sedingin es, persis seperti visualnya di file "1000110427.png". Namun, yang membuat atmosfer ruangan langsung drop hingga ke titik beku adalah tatapan matanya—manik mata hitam yang lelah itu kini memancarkan aura membunuh yang sangat pekat setelah mendengar cemoohan tentang dirinya dan keponakannya dari luar pintu.

Michael melangkah masuk. Setiap ketukan pantofelnya di lantai lantai ruang BK terdengar seperti hitungan mundur kematian.

"P-Paman Michael..." bisik Maizy lirih, air matanya masih mengalir namun ada rasa aman yang tiba-tiba menyergapnya.

Albert Laxsman yang tadinya duduk dengan posisi angkuh melipat kaki, mendadak menegakkan punggungnya begitu matanya menangkap lencana emas murni yang tersemat di dada kiri seragam Michael. Lencana Direktorat Jenderal Perkeretaapian Jerman (EBA)—posisi tertinggi yang memegang kendali penuh atas seluruh jalur, regulasi, dan kontrak vendor logistik kereta cepat di wilayah tersebut.

Wajah Albert yang tadinya merah padam karena sombong, seketika berubah menjadi pucat pasi. Sedetik. Dua detik. Tubuh pengusaha kaya itu mulai gemetaran hebat.

Keluarga Laxsman memang kaya, tapi seluruh bisnis logistik dan distribusi ekspor-impor milik perusahaan Albert seratus persen bergantung pada jalur kereta cepat yang dikuasai oleh divisi Michael. Dengan kata lain, pria dingin yang baru saja dia sebut "buruh kasar" ini adalah atasan tertinggi dari segala jembatan keuntungan bisnisnya. Satu jentikan jari Michael, dan perusahaan Albert bisa gulung tikar dalam semalam.

"H-Herr... Herr Falkenhayn?!" suara Albert mendadak bergetar, hilang sudah nada baritonnya yang angkuh. Dia langsung berdiri dari sofa dengan lutut yang lemas, bahkan hampir menyenggol lengan Paul.

Paul yang melihat perubahan drastis ayahnya langsung mengernyit bingung. Sifatnya yang mutlak tidak mau kalah mendadak goyah melihat sang ayah—pria paling berkuasa yang dia tahu—kini tampak ketakutan setengah mati.

Michael bahkan tidak sudi menjabat tangan Albert yang sudah terulur gemetaran. Dia hanya berdiri di tengah ruangan, bersedekap dada, dan menatap Albert dari atas ke bawah dengan pandangan meremehkan yang jauh lebih mematikan.

"Jadi," suara Michael bergema rendah, dingin, dan sangat mutlak. "Siapa tadi yang kau sebut buruh kereta yang tidak tahu cara mendidik anak, Herr Laxsman?"

Frau Fischer yang menyadari situasi telah berbalik seratus delapan puluh derajat langsung membeku di tempat, wajahnya mendadak pucat karena menyadari dia baru saja ikut mencemooh wali murid yang memiliki pengaruh sebesar ini di pemerintahan dan yayasan sekolah.

"M-Maafkan saya, Herr Falkenhayn! Ini... ini semua hanya kesalahpahaman!" Albert tergagap, keringat dingin mulai bercucuran dari pelipisnya. Pria yang tadi merendahkan Maizy habis-habisan itu kini membungkuk hormat berulang kali di depan Michael. "Saya tidak tahu kalau Maizy adalah keponakan Anda... demi Tuhan, anak saya Paul pasti tidak bermaksud—"

"Tutup mulutmu," potong Michael, dingin tanpa toleransi. Dia melirik Paul sekilas, membuat Ketua Paskibra yang sok kuasa itu refleks menundukkan kepala untuk pertama kalinya karena tekanan mental yang luar biasa.

Michael berjalan mendekati kursi Maizy, lalu meletakkan satu tangannya yang kokoh di bahu keponakannya—sebuah gestur perlindungan yang tegas. Michael menatap Frau Fischer dan Albert bergantian.

"Aku datang ke sini bukan untuk bernegosiasi. Aku datang untuk memastikan bocah ini," Michael menunjuk Paul dengan dagunya, "dan seluruh gengnya dikeluarkan dari sekolah ini sebelum matahari terbenam. Dan untuk bisnis logistikmu di stasiun barat, Herr Laxsman... anggap saja kontrak kita selesai hari ini."

Mendengar keputusan mutlak dari Michael yang bisa menghancurkan masa depan keluarga mereka dalam sekejap, ruangan BK itu mendadak diselimuti kepanikan yang luar biasa.

Albert Laxsman merasa dunianya runtuh. Bisnis, reputasi, dan kekayaan yang dia bangun bertahun-tahun terancam lenyap hanya karena ulah bebal anak laki-lakinya. Pria paruh baya itu menoleh ke arah Paul dengan napas memburu dan mata yang memerah karena panik sekaligus murka.

Sementara Paul, meskipun tubuhnya sempat menegang melihat ayahnya ketakutan, sifat aslinya yang tinggi hati dan mutlak tidak mau kalah kembali menguasai dirinya. Dia menolak untuk tunduk. Dengan sisa-sisa kesombongannya, Paul mendongak, menatap Michael dengan tatapan menantang dan rahang yang mengeras. Dia menolak untuk mengeluarkan sepatah kata maaf pun dari mulutnya.

Melihat kekerasan kepala anaknya di situasi kritis seperti ini, emosi Albert langsung meledak.

PLAAKK!!

Suara tamparan yang sangat keras menggema di dalam ruang BK.

Frau Fischer sampai membekap mulutnya sendiri karena terkejut. Paul terhuyung ke samping, kepalanya tertoreh drastis akibat hantaman tangan ayahnya sendiri. Sudut bibirnya berdarah, dan pipinya seketika memerah matang. Paul memegang pipinya dengan mata terbelalak lebar, benar-benar syok. Seumur hidupnya, sang ayah tidak pernah memukulnya, apalagi di depan orang lain.

"Anak tidak tahu diuntung!! Cepat berlutut dan minta maaf pada Herr Falkenhayn dan Nona Maizy!!" bentak Albert dengan suara menggelegar, napasnya tersengal-sengal karena amarah yang memuncak.

Tanpa memedulikan harga dirinya lagi, Albert sendiri langsung membungkuk sangat dalam di depan Michael dan Maizy, tubuhnya gemetaran hebat. "Herr Falkenhayn, saya mohon dengan sangat... beri kami keringanan. Saya mohon jangan putus kontrak logistik kami. Saya bersumpah akan mendidik anak bodoh ini dengan lebih keras! Tolong maafkan kelancangan kami!"

Michael, dengan postur tegap yang kaku sama sekali tidak berkedip melihat drama bapak dan anak di hadapannya. Tatapan matanya masih sedingin es, tidak tersentuh oleh kepanikan Albert maupun tatapan syok dari Paul. Bagi Michael, sekali seseorang mengusik keluarganya, tidak ada ruang untuk negosiasi.

Namun, di sebelah Michael, Maizy menatap pemandangan itu dengan hati yang berkecamuk.

Sifat ENFJ-nya yang menjunjung tinggi harmoni, ditambah dengan sifat aslinya yang selalu "tidak enakan" dan tidak tegaan pada orang lain, langsung bergejolak hebat. Melihat seorang ayah paruh baya sampai gemetaran dan membungkuk memohon seperti itu, ditambah Paul yang baru saja ditampar keras di depan matanya, membuat Maizy merasa tidak nyaman dengan konflik sebesar ini. Dia tidak ingin kehancuran total menimpa keluarga mereka, meskipun mereka telah berbuat jahat padanya.

Maizy perlahan menarik ujung lengan jubah mantel hitam Michael, membuat pamannya itu sedikit melirik ke bawah melalui sudut matanya yang tajam.

"P-Paman Michael..." bisik Maizy pelan, suaranya agak serak. "Sudah... tidak apa-apa. Tolong berikan mereka keringanan. Jangan putus kontrak kerja mereka..."

Michael mengernyitkan alisnya, menatap keponakannya dengan pandangan tidak setuju. "Mereka sudah menyakitimu secara fisik dan merendahkan keluarga kita, Maizy. Kenapa kau masih membela mereka?"

"Aku hanya tidak ingin masalah ini menghancurkan hidup orang lain, Paman," ucap Maizy lirih namun tulus, membalas tatapan Michael di balik kacamata cadangannya. "Asalkan Paul dan gengnya berjanji tidak akan pernah menggangguku atau murid lain lagi di Winterhall, itu sudah cukup bagi saya. Tolong, Paman..."

Mendengar permohonan tulus dari keponakannya, Michael terdiam selama beberapa saat. Ruangan itu mendadak hening, menunggu keputusan mutlak dari sang masinis eksekutif.

Michael mengembuskan napas panjang lewat hidung, melonggarkan sedikit ketegangan di bahunya. Aura membunuhnya perlahan menyusut, kembali ke mode dinginnya yang biasa

"Kau terlalu berhati lembut, Maizy. Sifatmu ini suatu saat akan menyusahkanmu sendiri," ucap Michael datar, namun ada nada pasrah karena dia tidak bisa menolak permintaan satu-satunya keluarga yang dia miliki.

Michael kembali menatap Albert yang masih membungkuk ketakutan. "Berterima kasihlah pada keponakanku. Karena kebaikannya, aku tidak akan mencabut kontrak bisnismu hari ini."

Albert langsung menegakkan tubuhnya, wajahnya dipenuhi rasa lega yang luar biasa seolah baru saja lolos dari tiang gantungan. "Terima kasih, Herr Falkenhayn! Terima kasih banyak, Nona Maizy! Anda sangat bermurah hati!"

"Tapi jangan senang dulu, Herr Laxsman," potong Michael, suaranya kembali menghunus dingin, membuat Albert kembali menahan napas. "Kontrakmu aman, tapi untuk anakmu dan gengnya... keringanan yang bisa kuberikan hanyalah skorsing panjang dan surat peringatan terakhir dari sekolah. Jika aku mendengar atau melihat ada satu saja helai rambut keponakanku yang terluka lagi karena mereka... aku tidak akan mendengarkan kata 'maaf' dari siapa pun lagi."

Michael menoleh ke arah Frau Fischer yang sedari tadi berdiri kaku seperti patung. "Urus surat skorsing mereka sekarang, Frau Fischer. Saya rasa Anda tahu apa yang harus dilakukan jika masih ingin bekerja di yayasan ini."

"B-Baik, Herr Falkenhayn! Segera saya proses!" jawab Frau Fischer terbata-bata dengan wajah pucat.

Michael tidak membuang waktu lagi. Dia berbalik, memegang pundak Maizy dengan lembut namun tegas untuk menuntunnya keluar dari ruangan terkutuk itu. Maizy sempat melirik sekilas ke arah Paul yang masih mematung memegangi pipinya yang lebam. Di balik lensa kacamatanya yang retak semalam, Maizy tahu, meski Paul hari ini kalah telak karena kekuasaan pamannya, kebencian dan harga diri tinggi cowok Kanada itu pasti sedang membakar dirinya dari dalam.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!