Bagaimana jadinya, hidup kembali sebagai wanita ahli pedang di zaman kuno?
Sudah pastinya begitu tidak menyenangkan, Anya seorang dokter Bedah yang meninggal karena di khianati oleh seorang sahabat nya.
Ia bereinkarnasi menjadi wanita ahli pedang di zaman Kerajaan China kuno. Bagaimana kisah nya?
Baca kisahnya... Di
— Cinta Wanita Pedang —
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bidadari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1 Pengkhianatan
" Gue sama Dimas saling mencintai bahkan, sebelum lo sama Dimas kenalan! "
Ungkapan yang keluar dari bibir Janeeta membuat sosok wanita bersurai sebahu, membatu di tempat nya ia menatap tidak percaya kepada wanita itu.
Kakinya bergetar hebat, hatinya seperti teriris pisau gaib — bibir Anya bergetar menahan gejolak hatinya. " Mak-sud kam-u? " Tanya Anya tergugu-gugu menahan rasa sesak di dadanya,
Janeeta melangkah mendekati Anya, gadis berlumur darah di bagian dada nya — ia mengusapnya pelan. Lalu tertawa penuh ejekan " Gue bakal jelaskan Anya, apa yang mengganjal di otak lo? " Tanya Janeeta penuh ejekan
" Sejak— kapan kamu sama Dimas? " Tanya Anya menahan nyeri dadanya, darah kental mengalir di balik kemeja putih yang ia kenakan Janeeta tertawa penuh kemenangan.
" Gue udah bilang, gue sama Dimas udah lama kenal sebelum gue kenalkan dia. Sama Elo Anya! " Sahut Janeeta
Anya meringis, luka di dadanya tidak seberapa dengan luka hatinya saat ini bibirnya bergetar tatapannya tajam. Menatap wanita tersebut
" Kenapa kamu melakukan itu?, kita itu teman Janeeta! " Kata Anya serak suaranya ia begitu tidak paham kepada sahabatnya, bisa-bisanya melakukan hal yang begitu menyesakan di dadanya
Janeeta tertawa keras, " Karena gue benci lo!, Anya enyalah dari dunia ini! " Tekan Janeeta tangannya mendorong tubuh Anya hingga tubuh tersebut jatuh, dari tebing yang sangat curam Anya menutup kedua pasang matanya rasa sakit fisik yang ia dapati dari sahabat nya tidak seberapa dengan rasa sakit hati nya.
" 𝘒𝘢𝘮𝘶 𝘵𝘦𝘨𝘢 𝘑𝘢𝘯𝘦𝘦𝘵𝘢, 𝘢𝘬𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘭𝘢𝘴 𝘥𝘦𝘯𝘥𝘢𝘮! " Batin Anya
Sementara itu dua orang lelaki tampan dengan surai melewati punggung, sadari tadi berjalan tidak kenal waktu tetiba salah satu dari mereka terhenti saat melihat siluet seorang wanita yang mereka kenali.
" Panglima bukankah itu, Puteri Agung? " Tanya Lelaki bernama Panglima Arta jemari telunjuk nya menunjuk ke arah semak - semak. Membuat seorang lelaki berbadan kekar bersurai melewati punggung mengikuti arah jemari telunjuk Panglima Arta,
" Kita ke sana " Kata Panglima tersebut sembari memacu langkah mendekati semak-semak tersebut, diikuti Panglima Arta lelaki berbadan kekar tersebut terhenti langkahnya kala maniknya ter tumbuk kepada sosok wanita bersurai melewati punggung dengan tiara terbuat dari bunga - bunga harum.
Memikat indra penciuman keduanya, Panglima Arta yang berdiri di belakang Panglima Barata.
" Sembah Yang Mulia Puteri Agung " Keduanya melakukan sembah tersebut Membuat sosok gadis bersurai panjang itu menatapnya, heran
" Puteri Agung sedang apa kau berada di sini?, bukankah Yang Mulia kaisar meminta kau untuk tetap tinggal di rumah Yang Mulia Ibu Agung? " Tanya Panglima Barata dengan suara bingung melihat gadis cantik tersebut yang sedang memegangi kepala nya, terlihat kesakitan
" Apakah kau baik-baik saja Yang Mulia Puteri Agung? " Tanya Panglima itu Sosok tersebut bangkit dari duduknya. Ia memegangi dadanya
" 𝘕𝘨𝘨𝘢 𝘴𝘢𝘬𝘪𝘵 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘩 𝘵𝘢𝘥𝘪, 𝘑𝘢𝘯𝘦𝘦𝘵𝘢 𝘵𝘶𝘴𝘶𝘬 𝘢𝘬𝘶?... 𝘓𝘢𝘭𝘶 𝘬𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘥𝘢 𝘫𝘦𝘫𝘢𝘬𝘯𝘺𝘢? " Batin wanita itu. Ia menelisik pakaian yang ia kenakan ia menggeleng kan kepalanya tidak ada cairan kental berbau amis, tidak ada pakaian terbuka nya karena tusukan dari Janeeta sahabat nya di Jakarta.
Tatapan nya tetiba ter tumbuk pada kedua lelaki tersebut. Baju yang begitu aneh seperti yang sering ia lihat - lihat di film kolosal China ia menjadi begitu heran sekali,
" Siapa anda? " Tanya Anya memberanikan diri kakinya bergetar hebat kala melihat, apa yang ada di balik baju kedua lelaki tersebut yaitu sebuah benda tajam nan panjang.
Manik Anya luruh seketika melihat kedua lelaki cukup tampan itu, menjatuhkan diri ke arahnya dengan sangat hormat sekali kakinya tertekuk rapi tangannya menempel di tanah.
" Sembah Yang Mulia Puteri Agung Sari Mayang, apakah anda baik-baik saja? " Tanya kedua lelaki tersebut bersamaan
" Tidak usah seperti itu!, aku bukan tuhan mu!.. Ngga patut di sembah! " Pekik Anya kebingungan membuat kedua lelaki itu saling pandang.
" Hamba mohon maaf Yang Mulia Puteri Agung kalau Hamba lancang bertanya, Siapakah Tuhan yang Anda maksud? " Tanya Panglima Barata membuat Anya tercengang
" Panglima Mungkin yang dikatakan oleh, Yang Mulia Puteri Agung adalah Leluhur kita mungkin itu " Jelas Panglima Arta
" Kalian berdua Aneh!, tidak usah ikuti saya! " Anya mencak-mencak ia begitu bingung dengan makhluk yang ada di hadapannya, begitu ajaib sekali.