Layaknya residu yang menggumpal dan sudah mendangkal, sulit sekali untuk dibersihkan. Ingatan yang sangat membekas itu juga sulit sekali disingkirkan-tentang dia yang ternyata tereliminasi oleh waktu.
Arinta masih tak menyangka kejadian ini benar-benar menimpanya. Kejadian yang melemparnya kembali ke dua puluh tahun silam. Tahun dimana bibit-bibit kehancuran dari rasa damai dikeluarganya dimulai.
Kejadian yang entah bisa dibilang membawa berkah atau justru membawa bencana?
Mulai: 6 Juni 2026
Selesai:
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yopoyoi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14. Pulang Telat
"Makasih traktiran dan tumpangannya, anak baik," Arinta tersenyum sambil melambai ke arah Andre.
Sementara itu, Miza hanya mengernyit di depan pintu rumah.
"Besok gantian lu yang traktir!" sahut Andre.
Arinta tertawa renyah.
"Gaji lu seminggu langsung abis, kah? Maaf ya. Gomenasai."
Andre membunyikan klakson motornya dan mengangguk ke arah Miza sebelum benar-benar pergi meninggalkan pekarangan rumah.
"Bagus ya, jam berapa sekarang? Anak gadis pergi nggak inget waktu, sama cowok. Ngapain aja kamu?" sambut Miza.
Arinta melirik sekilas jam dinding di dalam, karena Miza belum juga minggir dari depan pintu.
"Jam setengah sepuluh," jawab Arinta polos.
"Oh, masih tahu waktu, tapi nggak tahu aturan. Gitu ya kamu sekarang? Temenan sama cowok modelan tadi jadi berani pergi sampe malem begini?"
Nada bicara Miza tidak terdengar seperti mengomel, tapi juga tidak terdengar seperti bercanda.
"T-tadi Arinta kesasar. Tadinya mau keliling aja sambil cari warung, eh, terus ketemu Andre."
"Tapi Andre nggak salah. Kalau nggak ada dia, mungkin Arinta nggak bisa pulang. Tolong jangan salahin dia," Arinta bersedekap memohon.
"Masuk!" titah Miza yang sudah minggir.
"Duduk dulu di sini!" titah Miza lagi, menunjuk ruang tamu.
"Kan tadi Arinta udah—"
"Siapa yang suruh kamu ngomong?" tanya Miza dingin.
Arinta menelan ludah kasar. Ia tidak mengantisipasi interogasi lanjutan ini.
"Ngapain aja kamu? Udah akrab gitu ya sama cowok? Cowok yang kemaren pacar kamu itu mana? Udah ganti sekarang jadi yang dekil tadi?" ketus Miza.
Arinta tercengang dengan ucapan Miza, pedas sekali.
"Abang jangan ngomong gitu! Dia itu temen Arinta! Dia yang nganterin Arinta pulang, harusnya Abang berterima kasih, bukan malah ngehina."
"Kamu dikasih apa sih sama dia? Sampai kamu seberani ini sekarang? Dari dulu sampai sebesar ini, baru hari ini loh kamu keluar malam sama cowok."
Arinta tidak bisa berkata-kata. Sepertinya semua orang di tahun ini terlampau keras kepala dan protektif.
"Mulai besok, nggak ada keluar rumah selain sekolah. Abang yang anter jemput kamu. Kalau bisa, Abang bakal nungguin kamu pulang sebelum bel bunyi."
"Tapi—"
"Keputusan final, nggak bisa diganggu gugat!" Miza langsung bangkit meninggalkan sang adik yang masih diam di tempat.
Tubuh Arinta yang semula tegang, lemah seketika. Ini di luar rencana. Harusnya tidak seperti ini.
Arinta melompat ke arah sofa untuk menumpahkan rasa lelah dan tangisnya di sana.
"Ayah... Arinta mau pulang."
***
Sejak obrolan semalam, Arinta dan Andre jadi lebih terang-terangan saling sapa dan bahkan mengobrol. Seperti saat ini contohnya.
"Wih. Udah ganteng banget nih, Cok. Kayak gini kan jadinya rapi," puji Arinta.
Andre berputar, menampilkan wajah baru dari seorang "anak baik."
"Tapi kayak anak alim sekali ya, Pak Ustadz. Btw, kapan potong rambutnya, Pak Ustadz?" Arinta tertawa memandangi Andre yang mengenakan peci haji, seragam dimasukkan, menggunakan ikat pinggang, dan rambut dipotong 2 mm.
"Et, sial!"
"Emang yang begini ustadz doang?"
"Tapi ganteng, sumpah, ganteng. Mirip guru agama kita," Arinta kembali tertawa meledek.
"Yeuh. Muji sih muji, jangan disamain sama guru agama juga dong. Begini-begini juga gantengan gua lah."
"Malu ih, malu, diliatin orang." Arinta menarik Andre untuk masuk, karena posisi mereka tadi masih di dekat gerbang.
"Kelas kita beda, ngapain narik-narik terus nih?" Andre mulai berontak.
"Gua mau ngasih sesuatu."
Setelah sampai di depan kelas, entah kelas siapa, Arinta mengeluarkan sesuatu dari kantongnya.
"Inget gua terus ya? Gua nggak bakal selamanya ada di sini," ucap Arinta, sarat akan rasa takut meninggalkan.
Arinta memberikan gelang dengan tali berwarna hitam dan dua buah manik yang menggantung.

"Kok maniknya dua biji doang? Nggak ada lagi ya?" tanya Andre.
Arinta berdecak.
"Biar gampang nyiriinnya. Soalnya cuma gelang lu yang maniknya irit kayak gini."
Andre melihat pergelangan tangannya yang sudah dipasangi gelang oleh Arinta. Bulan sabit dan bintang berwarna broken white.
Andre mengangguk setelah memperhatikannya.
"Makasih."
"Sama-sama."
"Lu beda, Ta."
Hah. Arinta sudah gumoh mendengar kalimat itu.
"Lu bukan orang pertama yang ngomong gitu."
"Ya karena lu emang beda. Kayak beda orang," ucap Andre, berusaha mencari celah yang berbeda dari wajah Arinta.
"Kan setiap orang bisa berubah. Ya gua juga bisa berubah dong."
"Gua ke kelas dulu. Dah," entah kenapa Andre terlihat buru-buru sekali.
Saat Arinta berbalik badan, ternyata ada Deri di sana.
Deri tersenyum kepadanya.
"Kenapa nih senyum-senyum?" tanya Arinta curiga.
"Nggak boleh ya?" tanya Deri.
"Kalo buat lu, nggak!"
Arinta bersiap melangkahkan kaki untuk pergi dari sana. Namun, kalimat yang keluar dari mulut Deri berhasil menahannya.
"Gua boleh kenal tentang Arinta?"
Arinta menoleh, menatap Deri dengan tatapan tak percaya.
"Gua... cuma mau kenal sama sosok lu yang asli, bukan sebagai Arinta Syafira."
Arinta membekap mulut cowok itu, karena di sini terlalu banyak orang, dan pasti akan ada yang menguping.
"Kalo mau bahas ini jangan di tempat rame dong!"
Deri membuat simbol "oke" dengan tangannya.
"Bel masuk bentar lagi. Nanti aja pas istirahat."
"Serius nih?" tanya Deri.
"Sesuai keyakinan aja."
Tidak ada pelajaran yang begitu berarti di kelas. Lebih tepatnya, tidak begitu paham, karena Arinta itu tadinya anak IPA, sekarang malah harus terpaksa mengikuti pelajaran IPS.
"Ta... kamu tuh sebenernya suka siapa sih? Diliat-liat kamu tetep akrab sama Deri, tapi kamu juga makin lengket sama Andre. Tadi aja kayaknya asik banget ngobrol di depan gerbang," ucap Diah yang duduk di sebelah Arinta.
"Aku? Suka siapa? Aku kan udah putus sama Deri."
"Terus? Kamu suka Andre?" tanya Diah seperti tidak terima.
"Nggak. Aku lagi nggak suka siapa-siapa. Bentar lagi ujian sekolah, harus fokus belajar, bukan pacaran."
Diah terlihat lebih tenang dari sebelumnya.
"Oh iya, kerja kelompok jadi kan?" tanyanya.
"Ngapain?" tanya Arinta dengan wajah lugu.
"Ish. Itu loh, wawancara wirausaha atau penjual gitu, pake bahasa Inggris."
"Oh, iya ya?"
"Iya. Kita bertiga, sama Wiwin."
Wiwin yang namanya disebut langsung menoleh.
"Apa nih sebut-sebut?"
"Ngedenger aja lagi," gumam Diah.
"Kerja kelompok," sahut Arinta.
"Oh, iya. Pulang sekolah nanti ya? Langsung aja, nggak usah pulang," ucap Wiwin.
"Oke!" sahut Arinta.
"Nanti ke kantin bareng aja, sekalian ngebahas tugas ini," ucap Diah.
"Jangan sendirian mulu ya, Arinta." Diah memicingkan mata.
"Apalagi berduaan sama si itu," tambah Wiwin.
Diah mengangkat alis bertanya ke Wiwin.
"Itu loh, yang tadi cosplay jadi Pak Ustadz," goda Wiwin.
"Aish... Temen loh itu," ucap Arinta sambil curi-curi pandang ke Diah.
"Oke? Temen," ucap Wiwin penuh penekanan.
Diah berdecak. Namun, setelahnya ia mengulanginya lagi, seperti sedang berkomunikasi dengan cicak.
"Biasa, kurang obat," bisik Wiwin pada Arinta.
Arinta hanya tertawa canggung. Teman sebangkunya ini terlihat sekali kalau sedang cemburu.
***