NovelToon NovelToon
Halal Tapi Asing

Halal Tapi Asing

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami
Popularitas:15.4k
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

Bagi semua orang, Ning Humaira adalah definisi kesempurnaan. Namun, perjodohan memaksanya berbagi ranjang dengan Gus Arsalan pria tampan berhati sedingin es yang menyisakan seluruh hatinya untuk wanita lain di London.
Tepat di malam pertama, sebuah kalimat kejam meluncur dari bibir sang Gus:
"Jangan pernah berharap saya akan mencintai kamu. Saya akan menafkahi lahirmu, tapi tidak dengan batinmu."
Satu minggu mereka terjebak dalam sandiwara; menjadi pasangan paling romantis di depan keluarga, namun menjadi dua orang asing di balik pintu kamar.
Lelah diabaikan dan hancur karena cinta suaminya yang tertinggal di luar negeri, Humaira akhirnya nekat mengambil langkah gila. Malam itu, selembar gaun tidur satin merah marun menjadi senjatanya untuk meruntuhkan keangkuhan sang suami.
Ketika harga diri seorang Ning bertabrakan dengan kewajiban, akankah taktik berani ini berhasil meruntuhkan tembok es Arsalan, atau justru membuatnya semakin menjauh?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Penantian di Ujung Ketetapan

Waktu laksana air sungai yang mengalir deras, tak sudi berhenti sekejap pun hanya untuk meratapi sepasang hati yang telah hancur lebur. Hari berganti minggu, dan minggu perlahan merambat menjadi bulan di Pesantren Al-Anwar Kediri. Kehidupan di pondok besar itu luar tampak berjalan seperti biasa, namun bagi siapa saja yang jeli menatap netra Gus Arsalan, mereka akan tahu bahwa ada separuh belahan jiwa sang putra mahkota yang telah lenyap terbawa angin lalu.

Pagi itu, selembar kertas berkop resmi dari Pengadilan Agama Jombang terletak di atas meja kerja kayu jati milik Arsalan. Bunyi ketukan palu hakim beberapa hari lalu secara hukum negara telah meresmikan apa yang sudah terputus secara hukum syariat. Mereka bukan lagi suami istri. Hubungan yang diawali dengan kesombongan itu kini benar-benar telah mencapai titik akhir di atas selembar kertas putih yang terasa teramat dingin.

Arsalan menatap nama "Humaira binti Syamsuddin" yang tertera di sana. Jemari tangannya yang kokoh bergetar halus saat menyentuh lembaran tersebut. Karena ia dan Humaira belum pernah melakukan hubungan suami istri selama bulan-bulan pernikahan mereka yang kaku, secara hukum fikih Humaira tidak memiliki masa iddah (*iddah qablal dukhul*). Wanita itu langsung berstatus suci dan halal untuk dipinang oleh laki-laki lain seketika setelah talak diucapkan.

Kenyataan itu menjadi cambuk yang teramat perih bagi ego Arsalan. Namun, alih-alih mengamuk atau meratapi nasibnya dengan tidak keruan, Arsalan memilih untuk menenggelamkan dirinya dalam laku tirakat dan khidmah total kepada pesantren.

Pintu hatinya telah ia gembok rapat-rapat. Bagi Arsalan, ruang di dalam dadanya sudah terkunci mati, dan nama Humaira akan tetap bersemayam di sana sebagai satu-satunya ratu yang pernah dan akan selalu ia cintai di sepanjang sisa umurnya. Ia menyibukkan diri tanpa batas; memimpin halakah kitab kuning subuh, mengontrol pembangunan laboratorium santri, hingga turun langsung mengajar para santri cilik mengeja huruf hijaiyah di TPQ malam. Ia menghukum dirinya sendiri dengan keletihan fisik, berharap rasa lelah itu bisa sedikit membungkam suara rindu yang selalu berdendang di dadanya setiap kali sepertiga malam tiba.

Sementara itu, di Jombang kota, atmosfer Pesantren Sepuh terasa jauh lebih tenang. Satu bulan telah berlalu sejak malam kelam di mana kata talak diucapkan. Ning Humaira kini lebih banyak menghabiskan waktunya di perpustakaan putri atau membantu Ummi Fatimah mengurus administrasi madrasah.

Secara lahiriah, Humaira tampak begitu tegar. Ia tetap tersenyum ramah saat menyapa para santriwati, suaranya tetap lembut saat membacakan bait-bait Imrithi di depan kelas. Namun, di dalam kesunyian kamar tidurnya yang bernuansa hijau muda, batin Humaira sesungguhnya belum sepenuhnya sembuh.

Satu bulan ternyata tidak cukup kuat untuk menghapus memori tentang Gus Arsalan. Setiap sudut ndalem seolah masih menyimpan bayang-bayang pria itu; teras samping tempat Arsalan berdiri kaku, hingga meja dapur kecil tempat mereka berdua mengupas kentang bersama di bawah temaram fajar. Humaira tidak bisa berbohong pada hatinya sendiri ia masih mengingat setiap debaran, setiap rasa perih, dan setiap tatapan mata penyesalan Arsalan malam itu. Luka itu sudah mengering, namun bekasnya masih terasa linu setiap kali angin malam berembus.

Sore itu, rintik hujan gerimis kembali membasahi pelataran *ndalem*. Humaira sedang merapikan beberapa berkas santri baru di ruang tamu tengah ketika terdengar langkah kaki takzim mendekat.

"Assalamualaikum, Ning Humaira," sapa sebuah suara bariton yang ramah.

Humaira mendongak, mendapati sosok Gus Reyhan yang berdiri di ambang pintu dengan pakaian rapi, bersarung sutra dan mengenakan kemeja takwa putih. "Waalaikumsalam, Gus Reyhan. Monggo, pinarak (silakan duduk). Abah sepertinya taksih wonten masjid, sebentar lagi keluar."

Reyhan tersenyum sopan, lalu mengambil posisi duduk di kursi kayu tunggal, menjaga jarak adab yang semestinya. "Enggeh, Ning, mboten menopo. Kebetulan kulo pancen mampir kagem mengantarkan sisa laporan kitab suci kemarin."

Suasana di antara keduanya sempat hening sejenak, hanya ditemani oleh suara detak jam dinding kuno. Reyhan menatap wajah Humaira yang tampak sedikit lebih tirus dari sebulan lalu. Sorot mata laki-laki itu memancarkan rasa prihatin dan empati yang teramat dalam. Berita tentang ketukan palu pengadilan agama terkait perceraian Humaira dan Gus Arsalan sudah menyebar di kalangan keluarga kiai sepuh, dan Reyhan adalah salah satu orang yang paling terkejut sekaligus terguncang mendengarnya.

"Ning..." panggil Reyhan lirih, memecah kesunyian. "Kulo... kulo secara pribadi turut prihatin atas sedoyo musibah dan ujian yang Njenengan hadapi kemarin. Mboten wonten maksud kulo kagem ikut campur urusan *ndalem*, tapi kulo namung ingin menyampaikan bahwa doa kulo selalu menyertai ketabahan Njenengan dan keluarga di mriki."

Humaira mengulas senyum tipis, sangat menghargai kebaikan adab sahabat masa kecilnya itu. "Maturnuwun sanget, Gus Reyhan atas doanya. Alhamdulillah, sedoyo sampun berlalu dan kulo kaliyan keluarga sampun ikhlas menerima ketetapan Allah."

Reyhan menarik napas panjang. Jantungnya mendadak berdegup berkali-kali lipat lebih kencang daripada biasanya. Lembaran kertas laporan di tangannya mendadak terasa amat berat. Laki-laki itu meremas jemarinya sendiri, membetulkan letak kopiah hitamnya untuk mengusir rasa gugup yang luar biasa masif.

Sudah bertahun-tahun, sejak mereka masih sering mengaji bersama di bawah bimbingan Kiai Syamsuddin, Reyhan telah menaruh hati yang teramat dalam kepada Ning Humaira. Namun, sifatnya yang pemalu dan rasa hormatnya yang terlalu besar kepada Kiai Syamsuddin membuatnya mboten pernah berani melangkah lebih maju, hingga akhirnya takdir mendahuluinya lewat pernikahan besar Al-Anwar. Kini, saat mengetahui Humaira telah kembali sendiri dan tidak terikat masa iddah, secercah harapan yang dulu sempat mati di dalam dada Reyhan mendadak berkobar kembali dengan begitu hebat.

Reyhan memajukan posisi duduknya sedikit, menatap lurus ke arah jemari Humaira yang terlipat di atas meja. Sorot matanya berubah menjadi teramat serius, sarat akan ketulusan seorang laki-laki dewasa yang siap mengemban tanggung jawab.

"Ning Humaira..." panggil Reyhan, nadanya mendadak berubah menjadi begitu lembut dan berbobot. "Nyuwun pangapunten jika kalimat kulo niki terkesan lancang atau mboten sopan di situasi yang taksih basah niki. Tapi... kulo mboten kersa memendam hal niki lebih lama lagi hingga takdir kembali merebutnya dari kulo."

Humaira menghentikan gerakan jemarinya, menatap Reyhan dengan dahi sedikit berkerut heran. "Wonten menopo, Gus?"

"Ning... jika seandainya ada seorang pria yang ingin melangkah dekat, yang ingin masuk ke dalam hidup Njenengan kagem menjalin ibadah panjang bersama... apakah Njenengan badhe memberikan celah dan kesempatan itu, Ning?"

Pertanyaan retoris itu membuat jantung Humaira berdesir aneh. Sebelum ia sempat mencerna arah pembicaraan tersebut, Reyhan sudah melanjutkan kalimatnya dengan pengakuan yang teramat berani.

"Jujur, Ning... kulo sampun lama sanget menaruh hati dhateng Njenengan. Jauh sebelum perjodohan Njenengan kaliyan Gus Arsalan terjadi, nama Njenengan sampun selalu kulo sebut di dalam sujud-sujud tahajud kulo. Dulu kulo terlambat karena kulo mboten berani bersuara. Dan malam niki, di hadapan Njenengan langsung... kulo ingin menunjukkan niat suci kulo kagem memuliakan Njenengan jika Njenengan mengizinkan."

*Deg.*

Pengakuan cinta dari Gus Reyhan laksana hantaman ombak yang mengejutkan batin Humaira. Wanita itu tertegun seribu bahasa, matanya membelalak kecil dengan tatapan yang seketika berubah menjadi begitu sendu.

Hati Humaira berdenyut ngilu. Di satu sisi, ia tahu betul bahwa Gus Reyhan adalah laki-laki yang sangat baik, beradab mulia, alim, dan sangat dihormati oleh abah dan umminya. Menikah dengan Reyhan mungkin akan menjamin kehidupan yang tenang tanpa badai seperti di Kediri dulu. Namun, di sisi lain, sekeping hati Humaira yang terdalam menolak dengan teramat keras. Perceraian ini baru berjalan satu bulan. Luka fisiknya mungkin sudah membaik, namun memori batinnya tentang setiap sentuhan dingin, bentakan, hingga kecupan perpisahan yang teramat lama dari Gus Arsalan di teras rumah ini masih tertanam terlalu kuat. Ia belum bisa, dan mungkin mboten tahu kapan bisa melupakan sosok mantan suaminya itu.

Humaira menundukkan kepalanya dalam-dalam, menatap jemarinya sendiri dengan air mata yang mulai mengambang di pelupuk mata. Ia menarik napas panjang, menata suaranya agar mboten terdengar bergetar hebat saat menolak niat baik seorang laki-laki salih.

"Gus Reyhan..." ucap Humaira dengan kelembutan yang teramat tulus namun sarat akan ketegasan yang mutlak. "Maturnuwun sanget atas kemuliaan hati Njenengan dan niat suci yang sampun Njenengan sampaikan kagem kulo. Kulo teramat menghargai perasaan Njenengan..."

Humaira mendongak, menatap mata Reyhan dengan pandangan meminta maaf yang teramat dalam. "Tapi... nyuwun pangapunten yang teramat sangat, Gus. Untuk saat niki... kulo belum bisa menerima niat baik tersebut. Hati kulo taksih terlampau penuh, dan kulo mboten kersa mendzalimi Njenengan dengan menerima khitbah di saat batin kulo belum sepenuhnya selesai menata masa lalu. Maafkan kulo, Gus Reyhan..."

Mendengar penolakan yang begitu halus namun tegas dari bibir Humaira, ada rasa kecewa yang sempat melintas di sepasang mata Gus Reyhan. Namun, sebagai seorang putra kiai yang berjiwa ksatria dan paham akan adab, ia mboten menunjukkan kemarahan sedikit pun. Sebaliknya, senyuman hangat dan teduh kembali terukir di wajah tampannya. Laki-laki itu mengangguk paham, sangat memaklumi bahwa satu bulan terlalu singkat untuk menyembuhkan luka besar dari sebuah perceraian.

"Mboten menopo, Ning. Kulo sangat mengerti dan paham dengan kondisi batin Njenengan saat niki," tutur Reyhan dengan suara yang teramat menenangkan, mboten ada sedikit pun nada memaksa di dalamnya.

Reyhan membetulkan letak duduknya, lalu menatap Humaira dengan binar mata yang memancarkan keteguhan penantian yang luar biasa. "Kulo mboten badhe memaksa Njenengan kagem melunakkan hati malam niki juga. Tapi tolong izinkan kulo kagem menyampaikan satu hal, Ning... Kulo badhe selalu menunggu Njenengan di mriki. Kapan pun... sebulan, setahun, atau kapan pun batin Njenengan sampun siap dan rida kagem kembali membuka lembaran baru... katakan saja kepada kulo. Saat hari itu tiba, kulo badhe langsung datang bersama orang tua kulo kagem mengkhitbah Njenengan secara resmi di hadapan Abah Kiai Syamsuddin."

Kalimat penantian yang begitu tulus dari Gus Reyhan membuat air mata Humaira akhirnya meluncur juga membasahi pipinya. Ia terharu sekaligus merasa bersalah, namun ia hanya bisa mengangguk tipis sebagai tanda penghormatan atas kesabaran laki-laki itu. "Maturnuwun atas pengertian Njenengan, Gus."

Tepat saat obrolan itu usai, langkah kaki Kiai Syamsuddin terdengar berjalan masuk dari arah koridor dalam, memecah ketegangan sunyi di antara dua insan tersebut. Gus Reyhan segera kembali memposisikan dirinya sebagai seorang santri yang takzim, menyambut kedatangan sang kiai sepuh dengan senyuman hangat.

Malam pun kian merambat di Jombang kota, meninggalkan Ning Humaira dalam lingkaran takdir yang kian rumit; di antara pintu hati Gus Arsalan yang telah terkunci rapat bersama rasa bersalah di Kediri, dan sebuah pintu penantian baru yang sengaja dibuka lebar oleh Gus Reyhan di bawah langit Pesantren Sepuh.

1
Ilfa Yarni
tp aku tetap sedih arsalan sendirian
Ilfa Yarni
Thor knp alhamdulillahnya beda bukan Alhamdulillahirrabbil 'alamiiin'
Akasia Rembulan
begitu jalan takdir Gus Arsalan.. harus melalui cobaanutk sampai dititik ini..
Ilfa Yarni
setiap Ku baCa kisah arsalan skr aku nangis krn dia tidak mau memikirkan dunia lg dan tidak mau menikah yg ada difikirannya cuma tentang akhirat huhuhu sedih deh
Ilfa Yarni
aaaa sedih banget aku su km gus arsalan hiks hiks nangis aku bacanya
Akasia Rembulan
Gus Arsalan 😍
Ilfa Yarni
walaupun humaira udah dpat suami yg jauh lbh baik dr arsalan entah knp aku sedih krn arsalan udah bertaubat a dan benar2 berubah knp ga ada kesempatan kedua buat dia
Akasia Rembulan
gus gus ngerti agama kok zholim
Akasia Rembulan
iya ning.. masih banyak lelaki lain
Akasia Rembulan
kuat ning💪
Akasia Rembulan
ayo ning.. kobarkan semangatmu
Akasia Rembulan
gus... gus.. knapa ngga menikahi orang yg dicintai.. malah mengorbankan orang lain
Ilfa Yarni
haira udah bahagia bagaimana dgn arsalan
Ilfa Yarni
kok aku yg sedih humaira mau nikah dgn gus Reyhan sedih aku lihat arsalan dia udah berubah total tawadu' 'siapa jodohnya nanti ya
Ilfa Yarni
setelah b pertobatan arsalan aku malah jadi sedih krn mereka ga bisa bersatu lagi
falea sezi
🤣🤣 kapok lu makanya jd suami jangan dzalim kelamaan tinggal di luar jd kayak budaya luar sifat lu. menjijikkan
falea sezi
uda nikah aja ma reyhan biar si bangsatt gigit jari🤣
falea sezi
🤣🤣 katanya anak kiyai masak arti talak 3 aj lu kagak paham. bro😒😒 bloon sukurin lu abis ne liat humaira di nikahin reyhan🤣
falea sezi
🤣🤣 goblok malah ngucap. talak 3🤣🤣 ya g bs balik. lah goblok😒
Ilfa Yarni
entah knp aku pengen humaira balik dgn arsalan yoh arsalan udah berubah tp sayangnya mrk idak talak tiga itu ga mgkn lg humaira hrs menikah dulu dgn laki2 lain dan bercerai lg bar arsalan bisa balik lg hadeeh sedih aku
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!