NovelToon NovelToon
Mochaccino

Mochaccino

Status: tamat
Genre:Tamat
Popularitas:80.6k
Nilai: 5
Nama Author: srizqya

Panggil saja aku Mocha. Saat ini aku sedang mencoba menulis novel per--tidak, sebenarnya bukan pertama, mungkin ke lima atau mungkin tujuh? Aku lupa. Sudahlah, baca saja kalau mau tau cerita novel ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon srizqya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 9

 

 

Sembari tidur-tiduran di kasur aku mengambil tisu kedua dari Elang yang berisikan alamat e-mailnya. Berulang kali aku memantapkan hati untuk mengiriminya sebuah e-mail. Tapi dengan cepat aku membuka e-mailku dan mengetik e-mail untuk dirinya. Buang-buang waktu jika harus berpikir lebih lama.

To: elangwijaya(at)gmail.com

From: Mochaccino(at)gmail.com

 Subject: ini e-mail, bukan tisu.

gimana disana?

***

"Lo bilang lo benci kopi? Tapi kenapa sekarang hampir tiap kesini mesennya kopi mulu?" hari ini tepat Elang berada seminggu di Indonesia. Tadi malam ia baru menghadiri acara keluarganya dan ia sempat terkejut ada Mocha (oke ini aneh, tapi, anggap saja ini bukan aku yang menulis) disana.

Elang tersenyum tipis mendengarnya. Sambil memutar cangkir kopi yang ia pegang ia menjawab.

"Kalo kopinya rasa Mocha, gue suka."

Mbak Naya antara ingin senyum juga tertawa, ada-ada saja anak zaman sekarang kelakuannya jika sedang jatuh cinta. Tapi Mbak Naya hanya mengagguk sambil melirik pelanggan yang masuk. Ternyata itu Mocha. Seperti biasa, ia tampak membawa tas berisikan laptop dan duduk di pojok cafe dekat kaca.

"Gak nyamperin?" tanya Mbak Naya. Tanpa perlu menjawa pertanyaan Mbak Naya Elang sudah memutar tubuhnya dan duduk di depan Mocha. Dari jauh Mbak Naya tersenyum melihat mereka berdua.

Mbak Naya menghampiri mereka berdua, ia melirik kearah Elang yang juga langsung meliriknya. Mereka berdua hanya menggelengkan kepala melihat ketidaksadaran Mocha akan kehadirannya.

"Eh Lang, mau mesen apa?" Mbak Naya sengaja mengeraskan suaranya. Benar saja, Mocha langsung mendongak menatap Mbak Naya.

"Mocha coffee kaya biasa," mendengar suara Elang Mocha langsung mengalihkan pandangannya kearah Elang.

"Elo?"

***

Di cafe aku jadi lebih sering mengobrol dengan Mbak Naya. Walau topiknya selalu berbeda tapi di penghujung topik aku tahu akan selalu membahas apa. Apalagi kalau bukan Elang. Aku tidak tahu kenapa Mbak Naya selalu menceritakan tentang dirinya.

Mengenai e-mail yang kukirim dari seminggu yang lalu, belum juga ada balasannya. Mungkin Elang sedang sibuk kuliah. Mungkin dia, ya sudah kalau memang tidak akan di balas. Bukan urusanku.

"Mocha," suara yang familiar memanggilku. Alfa kini sudah berada di depanku seraya membawa bola ditangannya. Kemungkinan ia habis bermain futsal dilapangan.

"Ya?"

"Pulang sekolah ada acara?"

"Ngg.. nggak, kenapa?"

"Temenin gue cari bola baru mau?"

"Ber.. dua?"

Alfa terkekeh mendengarnya, "Emang lo mau ngajak siapa? Anak satu sekolah?"

"Ya... nggak sih."

"Jadi mau?"

Ragu akhirnya aku mengangguk pelan, "Oke."

"Nanti gue tunggu di parkiran." Alfa tersenyum simpul dan langsung berbalik pergi. Mimpi apa semalam sampai akan pergi berdua dengan Alfa. Apalagi dia sendiri yang meminta. Aku langsung mengambil ponselku dan menelpon Pak Danar, mengabari untuk tidak perlu menjemputku nanti pulang sekolah.

Selama pelajaran terakhir aku tidak konsen. Sedari tadi aku hanya memainkan pulpenku atau mengetuk meja dengan jari-jariku.

"Mocha? Kalau bosan dengan pelajaran saya kamu boleh keluar," kata Bu Tia, guru sejarah yang juteknya super.

"Nggak kok Bu, saya gak bosen. Saya...Cuma lagi mikir," aku mencoba berkelit.

"Oke, sekali lagi kamu ketahuan seperti bosan, lebih baik keluar."

"Iya Bu."

Aku hanya mendengus pelan. Setidaknya aku beneran tidak jadi sampai keluar kelas. Semua ini gara-gara Alfa. Lagian kenapa sih dia pakai segala memintaku untuk menemaninya? Kenapa juga aku mau menerimanya?

Aku menepuk kepalaku sendiri.

***

"Menurut lo bagusan yang ini apa yang ini?" Aku hanya terbengong menanggapi ucapan Alfa yang sedang membawa dua bola sekaligus kepadaku. Aku tidak mengerti tentang bola. Jadi aku tidak tau mana yang bagus mana yang tidak. Menurutku sama saja, sama-sama bulat.

"Yang... itu kayanya bagus." aku sok-sok an asal menunjuk, yang penting jawab.

Alfa manggut-manggut, "Ya udah yang ini aja kali ya?"

Kemudian Alfa berjalan kearah kasir dan membayar bola yang kutunjuk tadi. Ternyata Alfa tipe orang yang cepat memilih juga sehingga aku tidak mati kebosanan di dalam sana.

"Laper nggak?" tanya Alfa.

Malu-malu aku mengangguk, "Iya, he he."

Alfa tersenyum, "Ke foodcourt yuk kalo gitu." bagaikan anak ayam yang sedang mengikuti induknya aku mengekor mengikuti Alfa.

Setelah memesan makanan, aku dan Alfa duduk dalam keheningan. Aku tidak tahu harus memulai pembicaraan darimana. Tiba-tiba aku teringat sesuatu.

"Eh.. kakak lo udah balik, kan?"

Alfa mengernyitkan kening sesaat, "Udah tiga minggu yang lalu. Kok lo tau?"

"Oh.. dari kakak gue, dia lumayan kenal Elang," aku tidak sepenuhnya berbohong kan? Lagian aku tahu Elang kuliah di Aussie saja dari Davo.

"Davo?"

"Iya, Davo."

Tidak ada pembicaraan lagi diantara kami. Hampir sepenuhnya berbeda jika dengan Elang, dia selalu berbicara hal-hal apa saja yang tidak penting. Makanan kami berdua datang, aku lebih memilih memakan makananku ketimbang harus mencari topik berbicara dengannya.

***

Entah ini musibah atau malah sebuah keberuntungan. Mobil Alfa tiba-tiba mandet ditengah jalan. Alfa langsung mengecek apanya yang salah. Ternyata, walaupun Alfa sudah menjelaskan apa yang salah aku tetap tidak mengerti. Yang kutahu dengan jelas, mobilnya mandet, tidak mau jalan.

"Sorry ya lo jadi harus nunggu," kata Alfa.

"Iya ga pa-pa kok."

"Ada warung tuh, duduk disana aja yuk sambil nunggu montir." aku mengangguk lantas mengikuti Alfa berjalan kearah warung.

"Teh angetnya dua ya, Bu." Alfa memesan minuman. Tak lama tehnya sudah jadi, Alfa memberikan teh satunya kepadaku.

"Thanks," kataku pelan dan menyesap tehnya. "Al, boleh nanya gak?"

"Nanya apa?"

"Carissa emang pergi kemana?"

"Kanada, dia pergi ke Kanada," aku membulatkan bibirku. Jauh juga, pikirku.

"Lo masih kontak-kontakkan sama dia?"

"Masih tapi jarang," jawabnya. "Carissa kalo udah sama musik, dia jadi lupa sama semuanya."

"Termasuk lo?"

"Mungkin."

"Terus.. perasaan lo gimana? Gak kangen atau semacamnya gitu?"

"Di bilang kangen sih iya tapi, gue juga gak ngerti sih sebenernya."

"Tapi akhir-akhir ini muka lo udah gak keliatan banget kok galaunya, he he."

Bibirnye berkedut keatas mendengar pernyataanku, "Iya?" katanya, aku hanya membalas dengan anggukan kepala. "Gue emang udah ngerasa lebih rileks sih."

Aku mengigit bibirku, tanya tidak ya sebaiknya? Tapi aku penasaran. Penasaran setengah hidup.

"Al, boleh nanya sesuatu gak? Tapi kalo gak mau jawab juga gapapa kok," kataku pada akhirnya.

"Nanya lagi?" aku mengangguk malu, tapi Alfa malah kelihatan santai.

"Kenapa lo... keliatan cinta banget sama...Carissa?"

Mocha bego! Alfa jadi diem kan, rutukku. Jangan-jangan dia marah lagi. Gimana kalau nanti Alfa meninggalkanku sendirian disini karena tidak mau mengantarku pulang? Aku harus pulang sama siapa?

"Kalo.. gak mau di jawab ga pa-pa kok. Kan... tadi gue udah bilang," aku langsung menambahkan, merasa tidak enak.

Alfa menoleh menatapku, dia.. eh, tersenyum?

"Menurut lo gue cinta banget sama Carissa?" tanya Alfa.

"I.. iya."

"Cinta gak perlu pake alesan, kan?"

Oke, jadi Alfa tidak mau memberi tahu alasannya.

***

Aku baru sampai rumah tepat pada pukul 9 malam. Setelah masuk kamar aku langsung mengganti mandi dengan air hangat dan memakai baju tidur. Sambil mengeringkan rambut dengan handuk, aku membuka laptopku. Aku membuka e-mailku, siapa tahu Elang sudah membalas.

Dan,

Elang sudah membalas!

Buru-buru aku membuka e-mail darinya.

From: elangwijaya(at)gmail.com

To: Mochaccino(at)gmail.com

Subject: ini e-mail, bukan tisu.

gue pikir lo lupa sama gue.

Jadi mau dirayain apa nih cewek yang sukanya duduk di depan laptop mau nyapa duluan?

By the way, gue baik, lo? Pasi nggakkan, kan nggak ada gue.

PS: subjectnya kenapa gitu banget.

Membaca balasan e-mail dari Elang membuatku mau tak mau tersenyum. Kenapa sih dia selalu sok tahu dan selalu blak-blakan? Tapi, bukan Elang namanya kalau tidak seperti itu. Aku mulai mengetik balasan untuknya.

From: Mochaccino(at)gmail.com

To: elangwijaya(at)gmail.com

Subject: sok tau

Gak ada lo malah enak, gak ada yang sok tau lagi. Lagian kepedean banget sih jadi orang.

Iya gue juga baik. baik banget.

PS: udah di ganti

Sent.

***

Belakangan ini aku memang selalu bareng dengan Alfa. Dalam arti misalnya Alfa mengajakku makan sepulang sekolah atau bahkan sekedar nonton. Awalnya aku sedikit risih jika harus selalu berdekatan dengan dia. Tapi lama-kelamaan sudah tidak terlalu. Seperti hal nya hari ini. Aku dan Alfa akan sama-sama menjalani Ujian Akhir Sekolah semester lima.

Ini semester terakhir dari jenjang SMA, karena semester selanjutnya akan full fokus pada UN dan SBMPTN. Aku dan Alfa duduk di Groovey cafe tempat biasa aku menulis. Baru-baru ini aku bilang padanya kalau aku suka kesini dan Alfa lumayan kaget juga mendengarnya karena mungkin Groovey cafe milik tantenya.

"Lo gak sering kesini, kan?" tanyaku.

Alfa menggeleng, "Gue males nongkrong di tempat ginian. Mending main futsal."

"Abis main futsal lah kesini, kan enak."

"Iya deh nanti," kata Alfa. "Eh... kita mau belajar apa dulu nih? Tapi gue sih bawanya mtk sama ekonomi doang."

"Mtk aja deh, ekonomi ribet."

Alfa mengeluarkan buku ekonominya dan menit-menit selanjutnya kami berdua larut dalam buku masing-masing. Saling bertanya soal yang tidak di mengerti. Kulihat seseorang masuk dari pintu masuk, ternyata Mbak Naya. Melihatku ia langsung melempar senyum. Mbak Naya pasti baru pualng kuliah.

"Lo Alfa, kan?" setelah mengganti bajunya dengan seragam cafe, ia menghampiri kami.

"Iya," jawab Alfa.

"Mirip sama Elang."

Mendengar Mbak Naya berkata seperti itu, aku langsung mengamati wajah Alfa. Kemudian mengernyitkan kening. Dimana letak miripnya? Mungkin hanya bentuk bibirnya yang sama juga rahangnya yang keras. Tapi, matanya? Matanya sama sekali tidak mirip.

Mata Alfa bukan seperti mata elang yang dimiliki oleh Elang.

***

From: elangwijaya(at)gmail.com

To: Mochaccino(at)gmail.com

Subject: gue gak tau mau nulis apa

Kemana sih bocahnya?

Aku menerima e-mail terakhir dari Elang. Memang e-mail minggu lalu belum sempat aku balas karena sibuknya mengerjakan tugas menjelang Ujian Akhir Sekolah. Aku baru akan membalas e-mail nya tapi ternyata dia sudah mengirimiku e-mail lagi. Yah, jujur saja, aku memang mulai sering ber e-mail ria dengan dia.

Maaf ya, aku lupa e-mailku isinya bagaimana. Tapi demi Tuhan deh, tidak penting kok. Jadi, jangan penasaran ya.

Tanganku mulai menari diatas tuts-tuts keyboard.

From: Mochaccino(at)gmail.com

To: elangwijaya(at)gmail.com

Subject: nulis-nulis aja kali

Apasih gue lagi sibuk mau ujian akhir sekolah. doain ya, bye.

Sent.

Baru aku akan me-log out e-mail ketika ada notif balasan dari Elang. Cepat juga dia membalas. Ngomong-ngomong disana jam berapa ya?

From: elangwijaya(at)gmail.com

To: Mochaccino(at)gmail.com

Subject: iya ini nulis

Oh sibuk ujian, kasian ya anak SMA masih bocah jadi pasif deh. Makanya buruan sini susul gue kuliah di Aussie. Ya udah, sukses ya ujiannya.

Maksudnya apa coba nyuruh-nyuruh nyusul kuliah disana?

From: Mochaccino(at)gmail.com

To: elangwijaya(at)gmail.com

Subject: ha?

Iya tau yang udah gede mah gede. Gak minat kuliah di luar, apalagi bareng lo.

btw makasih.

Tuh kan gue jadi gak belajar, udah ah gue beneran mau log out.

Sent.

Kututup laptopku dengan perasaan campur aduk. Terbayang kembali cerita Mbak Naya mengenai Elang. Dia beneran suka padaku? Tapi kenapa tidak langsung diutarakan saja ya? Eh, kok jadi kepedan gini sih? Bisa saja kan hanya sekedar suka. Suka sebagai teman. Suka sebagai... ya sebenarnya kalau suka ya suka. Ah gak tau deh.

Ponselku bergetar, ada line masuk.

Davo Geraldi: disuruh turun kebawah

Inilah kebiasaan kakak satu-satunya yang kupunya. Davo selalu malas memanggilku karena menurutnya memanggilku itu seperti memanggil roh jahat di alam ghaib (ini serem abis, tapi kata Davo emang kaya gitu). Jadi dia lebih memilih untuk mengirimkan pesan padaku atau paling mentok kalau sudah disuruh cepat sama Mama dan Papa Davo akan menelponku.

Padahal hanya berbeda lantai tapi dia menelpon.

***

"Liburan, Ma, Pa? Serius?" sontak aku merasa da kupu-kupu berterbangan disekitarku. Rasanya suda lama tidak liburan dan tiba-tiba diajak liburan itu seperti surga.

"Liburan kemana?" tanya Davo santai.

"Melbourne, sekalian Papa ketemu relasi Papa yang ada disana."

"Sempet-sempetnya mau liburan ketemu relasi," sahut Davo.

"Ini Cuma temu formal aja kok, Davo."

Tidak menanggapi perbincangan diantara mereka bertiga. Aku malah sibuk berpikir. Melbourne? Melbourne itu kan di Australia. Australia-Aussie-ya ampun! Disana kan ada Elang. Tapi, bisa saja dia bukan di Melbourne. Ya, bisa saja.

"Nanti kita berangkat nya abis Mocha ujian ya," kata Mama. "Oh iya, nanti kita juga bakalan liburan sama keluarga Pak Wijaya, kan anak pertamanya yang namanya Elang kuliah disana. Sekalian dia jadi tour guide kita gitu lah nantinya."

Refleks aku terbatuk mendengar nama Elang di sebut-sebut. Davo langsung menepuk-nepuk punggungku.

"Ada apa sih sama yang namanya Elang? Langsung shock gitu," ujar Davo.

Aku masih terbatuk.

"Apa sih! Ngg... Ma, Pa, Mocha mau nerusin belajar ya.." daripada harus berurusan dengan Davo mending aku kabur lebih dulu.

Baru satu anak tangga aku naiki Davo sudah nyeplos, "Bo'ong tuh, Mocha sekarang tiap malem kerjaannya mainan laptop mulu."

"BOHONG!"

Terdengar suara cekikikan Davo dan juga suara Mama dan Papa yang menenangkan agar kembali pada kegiatan makan malamnya.

***

Akhirnya setelah tujuh hari menjalani ujian, aku bisa juga bebas kembali. Alfa mengajakku untuk makan siang bersama. Dia mengajakku ke sebuah tempat makan lesehan yang berada agak jauh dari sekolah.

"Tadi gimana PPknnya?" tanya Alfa.

"Lumayan... tapi tadi sempet ada yang ragu."

"Ga pa-pa, yang penting udah berusaha."

Bersamaan dengan itu makanan kami berdua datang. Aku dan Alfa langsung menyantapnya dengan lahap. Ternyata stres selepas ujian membuat perut lebih ingin cepat diisi. Beginilah yang sedang dialami oleh kami berdua. Sampai tiba-tiba Alfa menghentikan kegiatan makannya.

"Eh.. keluarga lo jadi liburan ke Melbourne?"

"Jadi, kayanya."

"Kemaren nyokap bilang katanya keluarga lo juga ikut. Bokap lo sama bokap gue ternyata temen relasi yang deket juga ya."

Aku hanya meringis, "Gak tau gue, gak ngurusin begituan."

"Malem ini packing?"

"Nanti deh kalo disuruh."

"Kalo mau packing jangan lupa bawa mantel sama sweater yang banyak ya. Kata Elang disana lagi musim dingin."

"Oh.. iya. Ngg... itu, Kakak lo di Melbourne?"

"Dulu di Sydney, tapi taun lalu pindah ke Melbourne."

"Oh gitu."

Malamnya, sekalian packing sekalian aku membuka laptop dan membuka e-mailku. Ada notif e-mail dari Elang.

From: elangwijaya(at)gmail.com

To: Mochaccino(at)gmail.com

Subject: hi

Udah selesai ujiannya? gimana? lancar?

PS: subjectnya lumayan bener

Dengan cepat aku membalasnya.

From: Mochaccino(at)gmail.com

To: elangwijaya(at)gmail.com

 

 

Subject: hi

Udah, kayanya sih lancar. ya semoga nilainya bagus.

PS: lumayan doang..

Sent.

Sengaja aku tidak membahas soal liburanku ke Melbourne. Lagipula dia juga tidak bertanya. Mungkin kalau pun keluarga ku ikut bersama dengan keluarganya, dia pasti mengira aku tidak ikut. Dipikirannya kan aku termasuk perempuan yang sukanya menyendiri dan tidak mau diajak kemana-mana. Yah, tipikal Elang, sok tahu.

Tapi, kenapa sekarang malah aku yang merasa sok tahu ya? Belum tentu juga Elang tahu kalau keluargaku juga ikut. Lagipula, kenapa aku bisa mengira dia bakal mengiraku seperti itu?

Virus ke sok tahuannya sepertinya sudah menular pada diriku.

Lebih baik aku cepat-cepat menyelesaikan acara packing ku. Oh iya, apa kata Alfa tadi? Jangan lupa bawa mantel dan sweater yang banyak? Done.

 

 

 

 

1
Ayax Houd Van Jou
aisha
🌸Ar_Vi🌸
ok.. good.. perfect ending.. ga semua kisah cinta berakhir bahagia kan.. banyak yg putus.. ditunggu kisah cinta yg lainnya.. 😘😘
Nahda AQistha
semangat autor💃🏻
Sunmailing Sunmailing
cerita nya kok gantung cerita selanjutnya dong pliss masa ia cerita akhirnya sedih bet 🤧🥺lanjutt
SUNKIZZ
akhirnya lanjut cerita ini... sth vanila.
samangat thor.... 💪💪😘😘
Fhep Noorsafitri
Udah 3x bca ttep aja nangissss😭😭😭 d endingnya.. lanjut season 2 donk thor, penasaran takdir mocha siapa.? Alfa bkan sih.? 🤭🤭
Anandadian17: dulu ada sekuelnyaa kaa black sugar namanya, tentang elang sama mocha
total 1 replies
Ayu Tari
Nangisssss 😭😭😭
Ayu Tari
Gregetan sama mocha
Mumu
elang ku
Kata RS
Lanjut dong, Kak.
Byun Baek
seru si
Dewi Rachma
penasaran jd nya sama siapa hehe
Dewi Rachma
iya ka lanjut dong
Kanza Elfianur
alur nya mantab
pawangnya gojo: wkwk ketemu👁👄👁
total 1 replies
Navisa Mw
wow
Nadine Maharani
ending nyaaa😭bela belain baca smpe pagi🙂
Talitha Salsabilah
kok sedih yaa😭😭😭 sumpah demi apapun gue ngerasain gimana jadi mocha yang mengetahui kalau dia benar" cinta sama elang 😭😭😭 dan itu sudah terlambat 😭😭😭😭
gak enak tau di gantung:(
lanjut dongg:(
anyomous
next season 2 dong😓 sampe mocha nikah😓
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!