"Arya Pratama adalah mahasiswa miskin yang hidup pas-pasan. Satu-satunya kebanggaannya adalah Kirana, pacar tercantik di kampus.
Namun segalanya hancur saat Kirana datang dengan kabar: ""Aku hamil."" Keluarga Kirana yang kaya raya menghina dan mengusirnya.
Dunia Arya runtuh—hingga sebuah sistem misterius aktif di kepalanya: [Sistem Ayah Level Dewa]. Setiap langkah tanggung jawabnya sebagai ayah diganjar hadiah luar biasa: uang miliaran, saham, teknologi canggih.
Kini Arya berjuang melawan preman, fitnah, dan musuh politik, sambil membangun kerajaan bisnis. Bisakah ia membuktikan bahwa menjadi ayah muda bukanlah akhir—melainkan awal dari segalanya?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Surya Mandala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 27
Bab 027 - Dibersihkan
Herman Wijaya masih berteriak saat dibawa ke ruang legal.
"Kalian semua akan menyesal! Tanpa saya, perusahaan ini kosong!"
Tidak ada yang menjawab.
Itu yang paling melukai Herman.
Dulu satu kalimatnya bisa membuat kepala divisi finance gemetar. Hari ini, bahkan staf junior hanya menatapnya seperti melihat masalah lama yang akhirnya diberi nama.
Vina berjalan di belakangnya, wajah pucat.
"Pak Arya, saya cuma ikut perintah."
Arya tidak berhenti.
"Jelaskan ke legal."
"Saya tidak tahu soal invoice."
"Jelaskan ke legal."
"Saya bisa kembalikan uangnya."
Arya menoleh.
"Semua akan dihitung."
Di ruang legal, dua staf membuka daftar barang kantor. Laptop Herman. Ponsel perusahaan. Kartu akses. Hard disk eksternal. Token bank. Semua diletakkan di meja dan difoto satu per satu.
Herman mencoba tertawa.
"Kamu pikir ini selesai dengan ambil laptop?"
Pengacara Ahmad masuk bersama dua petugas Polres.
Tawa Herman mati.
Ahmad meletakkan map tebal di meja.
"Laporan resmi sudah diterima. Dugaan penggelapan, penipuan, pemalsuan dokumen, dan penyalahgunaan akses perusahaan."
Petugas Polres menunjukkan surat tugas.
"Pak Herman Wijaya, kami perlu membawa Bapak untuk pemeriksaan awal."
Herman mundur setengah langkah.
"Ini urusan internal perusahaan."
Ahmad menjawab, "Uang delapan miliar dan dokumen palsu sudah melewati batas internal."
Vina mulai menangis.
"Saya pulang saja ya? Saya tidak tahu apa-apa."
Mega membuka folder lain.
"Mbak Vina menerima gaji aktif dan reimbursement pribadi dari rekening perusahaan. Pemeriksaan HR juga memasukkan nama Mbak."
Petugas menatap Vina.
"Mbak ikut memberi keterangan."
Herman menunjuk Arya.
"Kamu akan hancur. Pak Hartono tidak akan diam."
Arya mendekat.
Ia tidak menaikkan suara.
"Herman, kamu mencuri dari perusahaan yang menggaji seratus dua puluh tujuh orang. Uang itu bisa dipakai untuk menaikkan gaji support, memperbaiki server, membayar bonus engineer, dan membuka lapangan kerja baru."
Ia menunduk sedikit, cukup dekat agar Herman mendengar jelas.
"Kamu bilang punya keluarga. Karyawan yang bonusnya kamu makan juga punya keluarga."
Wajah Herman mengeras, lalu runtuh.
"Pak Arya... saya khilaf."
Ruangan hening.
"Saya bisa cicil. Jangan polisi. Saya punya anak."
Pak Budi berdiri di pintu. Matanya merah, tapi suaranya stabil.
"Herman, selama tiga tahun kamu menekan anggaran tim yang bekerja sampai malam. Kamu tahu mereka juga punya anak."
Herman melihat Pak Budi.
"Budi, kita teman lama."
"Kita rekan kerja. Teman tidak menipu teman selama tiga tahun."
Petugas Polres mengambil alih.
Herman dan Vina dibawa keluar lewat lobby utama.
Arya sengaja tidak memakai lift servis.
Semua karyawan perlu melihat bahwa pembersihan ini nyata.
Di lobby, orang-orang berdiri di balik meja dan pintu kaca. Tidak ada sorakan. Tidak ada hinaan. Hanya mata yang mengikuti Herman saat ia keluar dari gedung yang pernah ia kuasai.
Di depan pintu, dua mobil Polres menunggu.
Herman menoleh sekali lagi.
"Arya! Ini belum selesai!"
Arya berdiri di tangga lobby.
"Saya tahu."
Pintu mobil tertutup.
Mobil bergerak pergi.
Baru setelah itu, suara napas panjang terdengar dari banyak arah.
Rani dari support menangis pelan. Andi menepuk bahu temannya. Seorang staf finance duduk di kursi lobby dengan wajah kosong, seperti baru sadar dirinya selamat.
Pak Budi mendekati Arya.
"Pak, karyawan menunggu arahan."
"Kumpulkan semua yang masih di kantor. Lima belas menit lagi di ruang rapat."
"Baik."
Ruang Rapat Utama kembali penuh. Kali ini suasananya berbeda.
Tidak ada Herman.
Tidak ada Vina.
Tidak ada senyum palsu dari finance.
Arya berdiri di depan tanpa slide.
"Hari ini berat."
Semua diam.
"Saya tahu ada yang marah. Ada yang lega. Ada yang takut perusahaan ikut rusak setelah ini."
Ia menatap bagian support.
"Mulai minggu ini, permintaan tambahan staf support dibuka kembali. Rani, siapkan data kebutuhan nyata."
Rani kaget. "Siap, Pak."
"Saya juga ingin daftar tiket yang tertunda karena kekurangan orang. Jangan dipoles. Kalau berantakan, tulis berantakan."
"Siap, Pak."
Ia menatap R&D.
"Andi, perangkat yang tidak pernah datang akan diganti. Saya ingin daftar prioritas besok pagi."
"Siap, Pak."
"Kalau ada proyek yang selama ini tertahan karena alat, masukkan juga."
Andi mengangguk cepat. "Ada tiga, Pak. Saya siapkan."
Ia menatap finance.
"Untuk tim finance yang bekerja jujur, kalian tetap aman. Audit akan keras dan adil. Yang bersih akan tetap bekerja."
Beberapa wajah di finance terlihat menahan tangis.
"Mulai hari ini, semua pembayaran vendor di atas Rp 50.000.000 butuh dua persetujuan dan jejak dokumen lengkap. Kanal laporan internal dibuka. Bonus tertahan akan dihitung ulang setelah audit."
Ruangan tetap hening, namun heningnya berubah.
Arya menaruh kedua tangan di meja.
"Saya tidak bisa menjanjikan perusahaan ini langsung nyaman. Saya bisa menjanjikan satu hal: setiap orang yang bekerja serius tidak akan dikorbankan untuk menggemukkan orang serakah."
Tepuk tangan pertama datang dari support.
Lalu R&D.
Lalu sales.
Finance menyusul pelan.
Dalam beberapa detik, ruangan penuh tepuk tangan.
Pak Budi menunduk, mengusap mata.
Mega berdiri tegak, tapi bibirnya bergetar sedikit.
Panel sistem muncul.
【Terdeteksi: host menyelesaikan pembersihan perusahaan tahap awal.】
【Hadiah: kepemimpinan Lv.5.】
【Hadiah: loyalitas perusahaan +80%.】
【Hadiah: manajemen perusahaan Lv.3.】
【Gelar diperbarui: CEO Baja.】
Arya membaca cepat, lalu menatap karyawan di depannya.
Ini hadiah yang besar.
Namun tepuk tangan itu lebih penting.
Setelah rapat selesai, Pak Budi mendekat.
"Pak Arya..."
"Ya?"
"Kami menunggu hari ini tiga tahun."
Mega datang membawa daftar tindak lanjut.
"Pak, HR menunggu instruksi untuk pengumuman internal. Legal minta persetujuan pembekuan rekening vendor yang masuk daftar merah. Support meminta jadwal tambahan orang."
Arya menerima daftar itu.
"Kita mulai dari gaji dan operasional. Orang yang bekerja harus merasakan perubahan lebih dulu."
Pak Budi mengangguk pelan.
"Itu akan menyentuh mereka, Pak."
"Saya tidak butuh mereka tersentuh. Saya butuh mereka tahu perusahaan ini akhirnya waras."
Ahmad ikut mendekat dari pintu.
"Pak Arya, Polres meminta satu staf legal ikut membawa salinan fisik."
"Pilih yang paling rapi."
Mega menjawab, "Saya ikut sampai berkas diterima, Pak."
Arya menatapnya.
"Anda yakin?"
"Saya yang menyusun indeks dokumen. Kalau mereka tanya halaman, saya tahu jawabannya."
Pak Budi tertawa pendek untuk pertama kalinya hari itu.
"Bu Mega memang seperti itu, Pak."
"Baik. Bawa backup kedua. Jangan pisah dari map."
"Siap."
Rani kembali sebentar dari lorong.
"Pak, tim support sudah mulai kumpulkan tiket tertunda."
"Kirim sebelum jam enam."
"Siap, Pak."
Ia pergi dengan langkah lebih cepat dari tadi, membawa harapan kecil yang baru.
Arya melihat ruang rapat yang mulai kosong.
"Kalau begitu jangan tunggu lagi. Besok kita mulai bangun ulang."