"Saya tidak melihat."
"Ya liat yang bener dong!"
"Kamu terlalu kecil."
"Hah?!"
"Jadi kamu minta saya untuk tanggung jawab?"
"Iya."
"Baik. Buka baju kamu."
"Hah! Jangan ngomong sembarang ya!"
Gara-gara terciprat air lumpur, Azel nekat menghadang mobil seorang pria asing.
Siapa sangka pria itu adalah dosen yang paling ditakuti di kampusnya. Belum selesai rasa kesalnya, ternyata dosen kaku itu adalah ayah dari Arjun, anak kecil yang begitu dekat dengannya.
Di balik sikap dosennya, Ibrahim Rabbani Mahendra, ia menyimpan luka di masa lalu.
Pertemuan demi pertemuan membuat hidup mereka perlahan berubah. Saat seorang anak kecil menjadi penghubung, takdir membawa Azel pada pilihan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Mampukah Azel menerima takdirnya?
Sementara Ibra mulai menyadari bahwa gadis bernama Arzelia Nayesha Mahina Ghazi bukanlah orang asing dalam hidupnya. Sebuah nama keluarga membawa kembali kenangan masa kecil yang telah lama ia tinggali.
Spin Off novel 'Dari Ribut Jadi Jodoh'
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fega Meilyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dosen Kaku
Ibrahim Rabbani Mahendra kini menjadi salah satu dosen yang paling sibuk di Fakultas Ekonomi. Selain mengampu mata kuliah Perpajakan, pihak kampus juga mempercayakan mata kuliah Statistika kepadanya.
Awalnya, Ibra hanya mengajar mahasiswa semester empat ke atas. Namun karena salah satu dosen masih menjalani cuti, pihak kampus memintanya mengambil beberapa kelas semester dua untuk sementara waktu.
Meski jadwalnya semakin padat, Ibra menerimanya tanpa banyak protes. Baginya, mengajar adalah tanggung jawab.
Pagi itu, setelah menyelesaikan kelas Perpajakan, Ibra berjalan menuju gedung lain sambil membawa laptop dan beberapa berkas.
Ia berhenti di depan sebuah ruang kelas. Kelas Statistika. Tanpa membuang waktu, ia membuka pintu dan langsung masuk.
"Selamat pagi semuanya."
"Pagi, Pak."
Seluruh mahasiswa serempak menjawab lalu berdiri memberi salam. "Silakan duduk."
"Iya, Pak."
Ibra meletakkan laptopnya di atas meja dosen. Tatapannya menyapu seluruh isi ruangan. Dan di barisan tengah, ia melihat sosok yang langsung dikenalnya.
Azel.
Gadis itu tampak sama terkejutnya. Mata mereka sempat bertemu beberapa detik.
"Pak Dosen Kaku lagi?" batin Azel.
"Ya Allah... kenapa beliau lagi?"
Azel langsung memejamkan mata sejenak, seolah berharap semua itu hanya mimpi.
Di sisi lain, Ibra juga sedikit terdiam. "Dia lagi. Dia ngambil mata kuliah ini juga."
Tanpa menunjukkan perubahan ekspresi, Ibrahim segera mengalihkan pandangannya.
"Perkenalkan. Saya Ibrahim Rabbani Mahendra. Mulai hari ini, saya yang akan mengajar mata kuliah Statistika di kelas ini."
Terdengar beberapa bisikan pelan dari para mahasiswa. "Loh, bukannya beliau dosen pajak?"
"Iya. Kok ngajar Statistika juga?"
Ibra yang masih bisa mendengar bisikan itu hanya berkata datar, "Kalau sudah selesai berdiskusi, kita mulai perkuliahannya."
Seketika kelas kembali hening.
Azel hanya bisa mengembuskan napas pelan. "Satu dosen aja di satu mata kuliah udah bikin pusing. Sekarang malah ketemu beliau di dua mata kuliah. Ya Allah... semoga semester ini aku masih diberi umur."
Sekar yang duduk di sebelahnya menahan tawa. "Penderitaanmu bertambah, Zel."
Azel melirik sahabatnya dengan wajah pasrah. "Jangan diingetin. Napas aja rasanya udah kena nilai minus sama beliau."
Setelah hampir satu jam menjelaskan materi, Ibra menutup slide presentasinya. Ia memandang seluruh mahasiswa yang sejak tadi sibuk mencatat.
"Baik. Sampai di sini, ada yang ingin bertanya?"
Suasana kelas mendadak sunyi. Tak ada satu tangan pun yang terangkat.
Ibra mengangguk pelan. "Kalau tidak ada yang bertanya berarti saya yang akan bertanya."
Seketika wajah para mahasiswa berubah tegang. Beberapa bahkan langsung menundukkan kepala, berharap tidak ditunjuk.
Ibra menyapu pandangan ke seluruh ruangan sebelum berhenti pada seorang mahasiswa.
"Rifki."
Laki-laki itu refleks berdiri. "Iya, Pak."
Ibra kemudian memberikan sebuah studi kasus statistika yang berkaitan dengan analisis data sederhana.
"Silakan jelaskan langkah penyelesaiannya."
Rifki terdiam. Ia mencoba mengingat materi yang baru saja dijelaskan, tetapi pikirannya benar-benar kosong.
"Maaf, Pak. Saya belum bisa menjawab."
Ibra mengangguk tanpa menunjukkan ekspresi apa pun. "Baik. Karena kamu tidak bisa menjawab pertanyaan yang sebenarnya baru saja saya jelaskan maka saat ujian nanti nilai kamu akan saya kurangi tiga poin."
Ruang kelas langsung riuh oleh keluhan pelan.
"Tiga poin?"
"Waduh..." Rifki hanya bisa mengembuskan napas pasrah.
Ibra kemudian kembali melihat daftar presensi. Senyum tipis nyaris tak terlihat muncul di sudut bibirnya.
"Selanjutnya... Arzelia."
Azel yang sedang berusaha mengecilkan tubuhnya langsung membeku. "Ya Allah... kenapa aku lagi?" batinnya.
Dengan berat hati ia berdiri. "Iya, Pak."
Ibra memberikan studi kasus yang lebih kompleks dibanding pertanyaan sebelumnya.
"Silakan analisis data ini. Jelaskan metode yang menurut kamu paling tepat beserta alasannya."
Azel membaca soal itu beberapa saat. Lalu mulai menjawab dengan tenang. "Menurut saya, metode yang paling sesuai adalah...."
Ia menjelaskan langkah demi langkah dengan runtut. Beberapa mahasiswa bahkan mulai mengangguk karena penjelasannya mudah dipahami.
Namun setelah Azel selesai, Ibra langsung menyilangkan kedua tangannya.
"Jawaban kamu benar."
Belum sempat Azel lega, Ibrahim melanjutkan. "Tapi... Kalau data pada kasus ini memiliki nilai pencilan yang cukup ekstrem, apakah metode itu masih menjadi pilihan terbaik?"
Azel terdiam sesaat. Lalu menjawab lagi.
"Tergantung seberapa besar pengaruh nilai pencilannya, Pak. Kalau masih dalam batas yang dapat ditoleransi, metodenya tetap bisa digunakan."
Ibra menggeleng pelan. "Kurang tepat."
"Kenapa kurang tepat, Pak?"
"Karena kamu belum mempertimbangkan karakteristik distribusi datanya."
Azel tidak langsung menyerah. "Tapi sebelum menentukan distribusi data, bukankah analisis awal tetap diperlukan? Jadi menurut saya, langkah yang saya jelaskan tadi tetap menjadi bagian dari proses."
Beberapa mahasiswa mulai saling pandang. "Waduh... dimulai lagi."
Ibra kembali memberi sanggahan. "Lalu bagaimana kalau hasil analisis awal justru menunjukkan asumsi metode itu tidak terpenuhi?"
Azel mengangkat dagunya sedikit. "Berarti metodenya diganti, Pak. Tapi keputusan mengganti metode justru didapat setelah melakukan analisis awal. Jadi saya rasa urutan jawaban saya tetap benar."
Ruangan kembali hening. Perdebatan keduanya berlangsung beberapa menit.
Saling memberi alasan. Saling menyanggah dengan dasar teori. Tak satu pun mau asal mengalah. Mahasiswa lain hanya menjadi penonton. Bahkan beberapa terlihat menahan senyum karena pemandangan itu sudah mulai terasa familiar.
Akhirnya Ibra menutup buku yang ada di tangannya.
"Cukup."
Azel langsung menatapnya.
Ibra mengangguk pelan. "Jawaban kamu bisa dipertanggungjawabkan. Tetapi di dunia akademik, jangan pernah merasa puas dengan satu sudut pandang. Selalu cari kemungkinan lain sebelum menyimpulkan."
Azel menghela napas pelan. "Baik, Pak."
Ibra kemudian menatap seluruh kelas. "Itulah gunanya saya berdebat dengan kalian. Bukan untuk mencari siapa yang menang. Tapi untuk melatih cara berpikir kritis. Kalau pendapat kalian memang memiliki dasar yang kuat, pertahankan..Namun kalau terbukti keliru, berani mengakui dan memperbaikinya juga merupakan bagian dari proses belajar."
Seluruh kelas kembali hening. Sementara Azel hanya bisa menggeleng pelan dalam hati.
"Kenapa ya... setiap ketemu Pak Ibra pasti ujung-ujungnya debat sama aku?"
Suasana kelas kembali tenang. Ibra kembali menghadap papan tulis.
"Baik..Kita lanjutkan materinya."
Mahasiswa serempak mengembuskan napas lega. "Huft... Lolos juga."
Bisik-bisik kecil kembali terdengar.
Rifki berbisik sedikit. "Zel."
"Hm?"
"Gue salut sih sama lo. Kalau gue udah disanggah Pak Ibra sekali aja, udah blank."
Azel mendengus pelan. "Salut apanya? Capek tau debat sama beliau."
Sekar yang duduk di sebelah Azel menahan tawa. "Tapi tadi jawaban lo emang bagus."
"Nah! beliau aja yang hobinya nyari celah."
Sementara itu, Ibra masih menjelaskan materi sambil sesekali menulis rumus di papan tulis. Tanpa sengaja, telinganya menangkap bisikan Azel.
"Beliau aja yang hobinya nyari celah."
Sudut bibirnya nyaris terangkat. Namun ia segera kembali memasang wajah datarnya. Tak lama kemudian, Ibra menoleh ke arah para mahasiswa.
"Karena kalian terlihat masih cukup semangat kita lanjut latihan."
Seketika terdengar suara protes dari berbagai arah. "Yah, Pak... Baru juga lega."
Ibra mengabaikan keluhan itu. "Saya akan membagi kalian menjadi beberapa kelompok. Setiap kelompok menyelesaikan satu studi kasus. Lalu salah satu anggota akan mempresentasikan hasilnya. Yang saya tunjuk."
Mendengar kalimat terakhir, seluruh kelas kembali panik.
"Pak jangan ditunjuk dadakan dong nanti grogi."
Ibra menjawab singkat. "Biasakan. Di dunia kerja, tidak semua presentasi bisa dipersiapkan berhari-hari. Kadang kalian harus siap menjelaskan saat itu juga."
Mahasiswa hanya bisa pasrah. Mereka mulai membentuk kelompok masing-masing.
Azel satu kelompok dengan Sekar, Rifki, dan dua mahasiswa lainnya.
"Zel, lo aja yang jelasin nanti ya."
"Iya, Zel. Lo paling ngerti."
Azel langsung menggeleng keras. "Ogah. Kenapa gue terus? Kalau gue yang maju, nanti Pak Ibra debat lagi sama gue."
Rifki tertawa. "Justru itu serunya."
"Gue yang deg-degan nonton."
"Ih, enak aja."
Belum selesai mereka berdiskusi, suara Ibra kembali terdengar.
"Azel."
Refleks Azel menegakkan badan. "Iya, Pak?"
"Fokus ke soal. Bukan ke obrolannya."
Seketika seisi kelas menoleh ke arahnya. Beberapa detik kemudian, tawa kecil mulai terdengar.
Wajah Azel langsung memerah. "Iya, Pak..."
Sekar menahan tawanya hingga bahunya bergetar. "Tuh kan... Beliau kayak punya radar khusus buat lo."
Azel menutup wajahnya dengan telapak tangan. "Ya Allah... Kenapa sih beliau selalu tahu kalau gue lagi ngobrol?"
Sekar tertawa pelan.n"Mungkin karena lo paling berisik."
"Heh! Gue ngomongnya pelan, ya."
"Pelan menurut lo." Rifki ikut menimpali. "Pak Ibra itu pendengarannya kayak satelit. Bisikan aja kedengeran."
Azel mengembuskan napas panjang. "Nasib banget."
Mereka pun kembali fokus mengerjakan studi kasus yang diberikan.
Sesekali Azel menjelaskan langkah-langkah penyelesaian kepada teman-teman satu kelompoknya.
Sekitar lima belas menit kemudian... Ibra melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan kirinya.
"Waktunya habis. Silakan berhenti berdiskusi."
Seluruh mahasiswa serempak meletakkan pena. "Baik."
"Sekarang saya akan memilih kelompok yang akan lebih dulu menjawab."
Beberapa mahasiswa langsung menundukkan kepala. "Semoga bukan gue..."
Ibra memperhatikan daftar kelompok. "Kelompok tiga."
Azel langsung menoleh ke arah Sekar. "Ini kita?"
"Kita, Zel. Beneran kelompok kita."
Azel menepuk dahinya pelan. "Ya ampun..."
Ibra kembali bersuara. "Siapa yang akan mempresentasikan?"
Kelima anggota kelompok saling pandang. Perlahan... Semua jari mereka mengarah kepada Azel.
Azel melotot. "Woi! Pengkhianat!"
Rifki terkekeh.n"Lo yang paling paham."
"Iya, Zel. Daripada kita makin bingung."
Ibra yang melihat pemandangan itu hanya berkata singkat. "Baik. Berarti Azel."
Azel memejamkan mata sesaat. "Kenapa hidupku begini..." batinnya.
Dengan membawa lembar jawabannya, ia berjalan ke depan kelas.
"Silakan."
Azel mulai menjelaskan hasil diskusi kelompoknya. Awalnya suaranya terdengar pelan. Namun semakin lama, penjelasannya semakin runtut dan percaya diri.
Mahasiswa lain bahkan tampak mengangguk-angguk memahami penjelasannya.
Begitu Azel selesai, Ibra kembali mengajukan pertanyaan.
"Kalau variabel X berubah dua kali lipat, apa dampaknya terhadap hasil analisis?"
Azel menjawab tanpa melihat catatan. "Kemungkinan besar nilai akhirnya ikut berubah, Pak. Tetapi tetap harus dilihat hubungan antarvariabelnya terlebih dahulu. Tidak bisa langsung disimpulkan hanya dari satu perubahan."
Ibra kembali bertanya. "Kalau ternyata hubungan antarvariabelnya tidak signifikan?"
"Berarti variabel itu tidak cukup kuat memengaruhi hasil analisis. Jadi harus diuji lagi dengan pendekatan lain."
Hening.
Ibrahim mengangguk pelan. "Bagus."
Untuk pertama kalinya sejak kelas dimulai, ia tidak menyanggah jawaban Azel.
"Penjelasan kamu sudah lengkap. Silakan duduk."
Azel sempat terdiam beberapa detik. "Hah...?"
Ibrahim mengangkat sebelah alis. "Kenapa?"
"Nggak... nggak apa-apa, Pak."
Azel segera kembali ke tempat duduknya.
Rifki langsung berbisik. "Buset. Pak Ibra muji lo."
Sekar ikut menatap Azel. "Ini pertama kalinya, ya?"
Azel masih tampak tidak percaya. "Iya... Tumben banget."
Di meja dosen, Ibrahim membuka kembali laptopnya. Tanpa disadari siapa pun, sudut bibirnya terangkat tipis.
"Cara berpikirnya cepat..." batinnya.
"Hanya saja... emosinya masih mudah terpancing saat diajak berdebat."
Ia menatap sekilas ke arah Azel yang kini sibuk menggerutu pelan bersama teman-temannya.
"Persis seperti dulu..." gumamnya dalam hati, meski ia sendiri masih belum yakin dari mana rasa familiar itu berasal.
Perkuliahan akhirnya selesai.
Mahasiswa mulai keluar dari ruang kelas sambil bercanda dan membahas tugas yang baru saja diberikan.
Azel berjalan menuju parkiran kampus sambil menghela napas panjang. "Alhamdulillah... selesai juga."
Namun, baru beberapa langkah...
"Zel."
Azel menoleh. Ternyata Ibra baru saja keluar dari gedung fakultas.
"Eh, Pak."
"Kamu mau pulang?"
"Iya, Pak."
Ibra mengangguk pelan. "Lalu... Apa kamu lupa sesuatu?"
Azel mengernyitkan dahi. "Lupa?"
"Lupa apa ya, Pak?"
Ibra menatapnya datar. "Janji kamu dengan Arjun."
Seketika mata Azel membulat.
"Ya Allah... Oh iya! Saya lupa." Ia menepuk dahinya sendiri.
"Maaf, Pak. Tapi hari ini saya nggak bisa."
Ibra mengangkat sebelah alis. "Kenapa?"
"Ada urusan."
"Apa urusannya lebih penting daripada menepati janji kepada anak kecil?"
Azel langsung mengembuskan napas. "Bukan begitu, Pak. Saya benar-benar ada keperluan."
"Kamu yang membuat janji dengan Arjun, Azel."
"Iya, saya tau. Makanya saya minta maaf."
"Maaf tidak selalu menyelesaikan masalah."
Azel mulai kesal. "Loh, Pak. Memangnya saya sengaja? Saya lupa. Semua orang juga pernah lupa."
"Tapi tidak semua orang mengingkari janjinya."
"Pak!" Nada suara Azel mulai meninggi. "Saya nggak mengingkari. Saya cuma mau datang lain hari."
"Menurut kamu, anak lima tahun mengerti alasan seperti itu?"
Azel terdiam sesaat.
Ibra melanjutkan. "Yang dia tau, Kak Azel berjanji akan datang. Itu saja."
Azel menggigit bibir bawahnya. Kesal. Tapi ia juga tau ucapan dosennya ada benarnya.
"Pak saya capek. Saya habis kuliah dari pagi. Saya juga punya kehidupan di luar kampus. Saya juga ada tugas."
"Saya tidak memaksa kamu datang setiap hari. Saya hanya meminta kamu menepati janji yang kamu ucapkan sendiri."
Azel mendecak pelan. "Ya Allah... Kenapa sih Bapak ini keras banget?"
"Saya hanya mengingatkan. Bukan memaksa."
"Beda tipis."
"Beda."
Azel menggeleng pelan sambil mengusap wajahnya. Beberapa detik ia memilih diam. Lalu ia mengangkat kedua tangannya menyerah.
"Oke. Saya akan ke daycare."
Ibra tetap diam.
Azel kembali menatapnya dengan wajah kesal. "Puas, Dosen Kaku?"
Tanpa ia sadari, sudut bibir Ibrahim bergerak tipis, nyaris membentuk senyum.
"Dosen kaku?"
"Iya. Itu julukan baru buat Bapak."
"Berani sekali kamu."
"Soalnya emang benar kalau bapak kaku. Kerjanya ngajak debat. Kalau nggak nyanggah mahasiswa, kayaknya hidup Bapak kurang bahagia."
Ibra justru menatapnya tenang. "Kalau begitu... Berangkatlah. Kasihan Arjun."
Azel mendengus pelan. "Iya, iya. Saya berangkat."
Sebelum naik ke motornya, Azel masih sempat bergumam pelan. "Dasar dosen kaku."
Ibra mendengarnya dengan jelas. Namun kali ini alih-alih menegur, ia hanya menggeleng kecil sambil menahan senyum yang hampir lolos.
biarkan apa yg oma arsyila ucapkan mnjadi kenyataan amiin
jjr slalu ada /Sob/kadang luka yg berujung trauma blm tentu bisa stiap org hadapi apalagi smpai berujung ke hal yg merugikan dan negatif
amiiiin
bnyak hikmah dlm stiap critamu
sejak kemunculan arjun bawaan stiap bc pasti sedih,menangis
ya allah