Lima tahun dipenjara. Enam puluh bulan tanpa satu pun kunjungan.
Keira Pratama keluar dengan kaki pincang, ginjal yang hilang, dan hati yang sudah membeku. Dia putri kandung keluarga konglomerat Pratama, tetapi sejak kecil dibuang ke panti asuhan, sementara Vanessa, anak orang lain, dimanjakan sebagai putri kesayangan.
Dulu, Vanessa mendorong seseorang dari tangga, tetapi Keira yang dipenjara. Mama-nya menghapus CCTV. Papa-nya menyuruhnya diam. Lucas, pria yang pernah dia cintai, justru menjadi orang yang mengirimnya ke balik jeruji.
Namun Keira yang kembali bukan lagi gadis penurut.
Saat rahasia mulai terbongkar, keluarga yang dulu membuangnya satu per satu hancur oleh penyesalan. Dan di saat semua orang meninggalkannya, Rayhan Hartono, pewaris Hartono Group, diam-diam berdiri di sisinya.
Kini mereka semua berlutut di bawah hujan.
Tapi bagi Keira, satu hal tetap belum terjawab: **apakah penyesalan mereka datang terlambat?**
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vira Dusk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 31
Bab 31
Jubah Yunjin
Pergelangan perempuan itu masih berada dalam tangan Rayhan.
"Lepaskan aku!" teriaknya.
Keira melihat mulutnya terbuka, tetapi tidak mendengar suara.
Rayhan memutar tangan penyerang menjauh dari Keira. Ada gerakan pendek, lalu perempuan itu jatuh berlutut sambil memegangi pergelangan yang berubah bentuk. Dokter yang kemudian memeriksanya menyatakan tulangnya retak.
Rayhan tidak melihatnya lagi.
Ia membungkus Keira dengan jas hitam, mengangkat tubuhnya dari lantai, dan membawa ke ruang istirahat. Amanda berjalan di depan membuka jalan. Brandon menutup pintu setelah Bi Sari, Andy, dan dokter keluarga masuk.
"Kei, lihat aku."
Keira menatap bibir Rayhan. Ia mengenali namanya dari bentuk mulut, bukan dari suara.
"Bisa mendengar?"
Keira menggeleng.
Dokter menyalakan lampu kecil, memeriksa pupil, belakang kepala, dan kedua telinga. Ada kemerahan pada saluran telinga serta memar di tulang temporal. Tidak ada darah yang mengalir keluar, tetapi ketidakmampuan mendengar setelah trauma kepala adalah keadaan darurat.
Ia menggosokkan jari di sisi kanan tanpa menyentuh kulit. Keira tidak bereaksi. Garpu tala diletakkan pada tulang di belakang telinga, kemudian di tengah dahi. Keira hanya merasakan getarannya, tidak ada nada. Dokter mengulang instruksi melalui tulisan agar hasilnya tidak keliru karena panik.
Pemeriksaan itu belum bisa membedakan gendang telinga, saraf, atau jalur pendengaran di otak yang rusak. CT diperlukan karena Keira baru menjalani operasi kepala. Waktu juga penting jika ada pembengkakan yang masih bisa ditangani.
Rayhan membaca catatan dokter sampai selesai. Tangannya tetap diam, tetapi layar ponsel yang dipegangnya retak tipis karena tekanan di satu sudut. Ia menurunkan genggaman begitu menyadarinya.
"Kita perlu pemeriksaan audiometri, CT, dan dokter THT," katanya sambil menulis di papan kecil agar Keira dapat membaca. "Ambulans sedang disiapkan. Jangan berdiri tanpa bantuan."
Keira menyentuh telinga kanan. Tidak ada apa pun. Ia mengetukkan kuku ke meja dan hanya merasakan getaran melalui jari.
Andy duduk di kursi lain dengan kompres di pelipis dan bahu yang diperban. Kacamatanya retak. Ia menunjuk potongan Peony Agung yang sudah masuk dua kotak konservasi.
"Semua benang disimpan," katanya perlahan sambil menghadap Keira. "Tidak ada yang dibuang."
Keira memahami setengah kalimat dari bibirnya. Ia mengangguk.
Lapisan gaun di bahu dan pinggang tidak bisa dipakai kembali. Bi Sari menutup tirai portabel, sementara Amanda membantu melepaskan tulle yang robek tanpa menyentuh memar. Rayhan berdiri di luar tirai.
"Brandon," katanya, "ambil jubah dari ruang pusaka."
Lima menit kemudian, Brandon kembali membawa kotak kayu panjang. Di dalamnya terlipat jubah yunjin milik keluarga Hartono, tenunan sutra tradisional dengan pola awan emas di atas warna merah gelap. Benangnya padat tetapi kainnya ringan. Nilai asuransinya Rp 800 juta.
Jubah tersebut bukan kostum baru yang dibeli untuk menutupi skandal malam itu. Oma menyimpannya puluhan tahun bersama dokumen asal-usul, catatan perbaikan, dan foto perempuan keluarga yang pernah memakainya. Lapisan dalam sudah diganti agar kain tua tidak bergesekan langsung dengan kulit.
Bi Sari menunjukkan setiap pengait kepada Keira lebih dulu. Tidak ada jarum terbuka, bagian berat, atau hiasan yang akan menekan memar. Nilai Rp 800 juta tertulis dalam daftar asuransi, tetapi keputusan memakainya tetap menunggu satu anggukan Keira.
Oma masuk dan meletakkan telapak di atas kotak.
"Jubah ini dulu dipakai perempuan Hartono saat mewakili keluarga di acara besar," katanya. Bi Sari menuliskan kalimatnya di ponsel lalu menunjukkan layar kepada Keira. "Hari ini, kamu yang memakainya."
Keira membaca, kemudian mengetik jawaban.
`Aku bukan anggota keluarga hanya karena memakai pakaian mahal.`
Oma membaca dan mengangguk keras. "Benar. Pakaian ini mengikuti orangnya, bukan memberi nilai pada orangnya. Kalau tidak mau, kita cari baju lain."
Keira menatap jas Rayhan yang menutupi tubuhnya, lalu jubah merah di dalam kotak.
`Aku mau memakainya. Bukan untuk bersembunyi.`
Bi Sari dan Amanda membantu memasukkan kedua lengannya. Rayhan hanya mendekat setelah tirai dibuka. Ia mengaitkan pengunci luar di bahu tanpa menyentuh kulit yang memar, lalu mundur.
Yunjin menutup tubuh Keira sampai betis. Awan emas bergerak di bawah cahaya seperti lapisan api yang tenang. Jubah itu tidak mengembalikan gaun yang robek atau pendengarannya. Namun ia memberinya penutup yang dipilih, bukan kain yang dilempar karena malu.
Rayhan mengetik di ponsel.
`Ambulans siap. Kita pergi sekarang.`
Keira membalas.
`Satu menit di aula. Mereka menyerangku di depan semua orang. Aku tidak mau keluar lewat pintu belakang.`
Rayhan memperlihatkan tulisan itu kepada dokter. Dokter menjawab bahwa satu menit tidak boleh berubah menjadi pidato panjang dan Keira harus duduk jika pusing bertambah.
Mereka kembali ke ballroom.
Percakapan sudah berhenti. Potongan Peony Agung telah dipindahkan, tetapi benang-benang kecil masih tampak di antara garis marmer. Empat perempuan berdiri dekat Jessica. Salah satunya memegangi pergelangan yang ditopang kain. Vanessa mencoba menjauh ke pintu samping, namun Arief sudah menutup jalurnya.
Sebelum Keira masuk, Brandon mengambil mikrofon. Ia meminta seluruh tamu mengirim rekaman asli serangan kepada satu alamat penyimpanan bukti, lalu menghapus salinan yang memperlihatkan pakaian Keira robek dari unggahan publik. Rekaman tidak dimusnahkan. Tim hukum membuat dua arsip: satu untuk penyidik dalam bentuk utuh, satu lagi disamarkan untuk komunikasi publik.
"Siapa pun yang menyebarkan gambar korban dalam keadaan terbuka akan menerima tuntutan privasi dari Hartono dan dari Keira atas namanya sendiri," katanya.
Beberapa tamu menurunkan ponsel. Kurator memastikan kamera pameran disegel bersama catatan kerusakan karya.
Keira masuk dengan tangan di lengan Rayhan.
Jubah merah gelap membuat tulle merah muda yang robek di lantai terlihat seperti kulit lama yang ditinggalkan. Para tamu menatapnya bukan karena ia tampak tidak terluka. Memar terlihat di pipi, bibirnya pecah, dan langkahnya lebih pincang. Mereka menatap karena perempuan yang baru saja dijatuhkan memilih kembali melalui pintu utama.
Rayhan menunggu sampai Keira duduk di kursi Oma. Ia lalu berdiri menghadap seluruh ruangan.
"Ini tunanganku, Keira. Siapa pun yang menyentuhnya berarti menyentuh keluarga Hartono."
Pengumuman itu bukan bisikan atau rumor. Kamera tamu, media acara, dan seluruh keluarga konglomerat mendengarnya. Rayhan telah menerima izin Keira untuk identitas sosial malam itu, tetapi tatapannya tetap turun kepadanya setelah kalimat selesai. Keira mengangguk satu kali.
Ia tidak mendengar tepuk tangan atau tarikan napas para tamu. Dunia tampak seperti tayangan tanpa suara. Untuk memahami, ia harus menunggu setiap orang menghadap penuh dan berbicara pelan. Kalimat panjang pecah menjadi bentuk bibir yang tidak dikenalnya.
Rayhan mengetik pertanyaan di ponsel dan meletakkannya di pangkuan Keira.
`Apakah pengumuman tadi tetap sesuai izinmu?`
Keira menulis `ya untuk malam ini`, lalu menyimpan tangkapan layar percakapan. Bahkan di tengah kemarahan, Rayhan tidak mengubah persetujuan satu malam menjadi hak permanen.
Jessica maju. "Rayhan! Aku ibu tirimu. Kamu mempermalukanku demi perempuan yang mendekati Papamu."
Rayhan memotong, "Anda hanya istri ayah saya. Di rumah ini, Oma yang berkuasa."
"Ferdinand akan mendengar ini."
"Kirim kepadanya rekaman lengkap. Sertakan foto asli mobil yang kamu potong."
Brandon menampilkan data kendaraan pada layar ballroom. Mobil di foto terdaftar untuk kantor Rayhan. Catatan pengemudi menunjukkan Brandon menjemput Keira dari rumah Menteng atas perintah Rayhan. Ferdinand tidak berada di Indonesia pada tanggal tersebut.
Jessica melihat Vanessa.
"Kamu bilang mobil itu milik Om Ferdinand."
Vanessa mundur. "Aku menerima fotonya dari orang lain. Aku juga tertipu, Tante."
"Kamu mengirimnya seolah kamu melihat sendiri."
Jessica mulai memahami bahwa ia telah dipakai, tetapi rasa malu di depan ratusan tamu membuatnya mencari sasaran yang lebih lemah.
"Sekalipun foto itu salah, perempuan ini membawa kekacauan ke keluarga Hartono. Lihat pesta Oma!"
Tongkat kecil Oma menghantam lantai.
"Yang membawa kekacauan adalah kamu. Kamu masuk tanpa undangan, memakai kartu akses Ferdinand, mengeluarkan tersangka dari rutan, lalu membiarkan tamumu memukul calon cucu menantu Oma."
Jessica mencoba mendekat. "Oma, dengarkan penjelasanku."
"Oma sudah mendengar terlalu banyak."
Oma memanggil kepala bagian keuangan keluarga. "Mulai sekarang, semua kartu kredit atas nama Hartono yang dipegang Jessica dibatalkan. Akses rumah Menteng dicabut. Biaya yang tidak berkaitan dengan kebutuhan medis Ferdinand dihentikan."
Kepala keuangan membacakan nomor keputusan dan waktu berlakunya. Kepemilikan pribadi Jessica tidak disentuh. Rekening bersama milik Jessica dan Ferdinand juga tidak bisa dibekukan tanpa proses hukum. Yang dihentikan hanya fasilitas milik Oma, Hartono Group, dan rumah Menteng yang selama ini diberikan sebagai hak pakai.
Dengan begitu, Jessica tidak bisa mengubah hukuman itu menjadi klaim bahwa mertuanya mencuri harta pribadi. Yang hilang adalah kemewahan keluarga yang selalu ia anggap miliknya.
Ponsel Jessica bergetar. Satu kartu, lalu kartu lain, dinonaktifkan dalam waktu yang sama. Kepala keamanan meminta kartu akses lama Ferdinand dari tangannya dan mencatat penyalahgunaannya.
"Kalian tidak bisa melakukan ini kepadaku," katanya. "Aku istri sah Ferdinand."
"Status istri tidak memberi kamu hak atas rekening Oma atau perusahaan Rayhan," jawab Oma. "Pulang dengan uangmu sendiri."
Wajah Jessica berubah merah. Empat perempuan yang tadi berdiri di belakangnya mulai saling menjauh, seolah jarak bisa menghapus rekaman serangan mereka.
Rayhan mengangkat satu tangan. "Belum ada yang pulang."
Keempat perempuan berhenti.
Ambulans menunggu di koridor depan. Dokter berdiri di belakang kursi Keira dan menunjukkan jam. Rayhan melihatnya, lalu menurunkan suara.
"Kalian tadi, masing-masing menampar tunanganku berapa kali?"
Perempuan dengan pergelangan retak langsung pucat. Yang lain gemetar dan mencoba mengatakan mereka hanya melerai. Rekaman ponsel tamu serta kamera ballroom sudah disalin oleh tim keamanan.
Di sudut ruangan, Amanda kembali dari mobil. Ia telah mengambil pisau kupu-kupu dari kotak terkunci di bagasi. Bilahnya terbuka satu kali di telapak, memantulkan cahaya lampu gantung.
Ia tersenyum kepada Brandon.
"Giliran kita?"