NovelToon NovelToon
HARAPAN DALAM AIR MATA

HARAPAN DALAM AIR MATA

Status: sedang berlangsung
Genre:Poligami / Keluarga & Kasih Sayang / KDRT (Kekerasan dalam rumah tangga) / Selingkuh / Mengubah Takdir / Berbaikan
Popularitas:6.4k
Nilai: 5
Nama Author: Arya wijaya

lahir sebagai wanita bukanlah pilihan seseorang, menjadi kuat juga bukanlah pilihan seorang wanita, kebahagiaan adalah harapan bagi seorang anak perempuan yang di dipersunting lelaki pilihan hati.
kisah ini menceritakan kehidupan rumah tangga empat saudara perempuan, yang punya banyak impian menikah adalah kebahagiaan, namun kisah pernikahan jauh dari ekspektasi air mata selalu hadir dalam setiap permasalahan, jatuh bangun ke empat saudara ini mempertahankan rumah tangganya, ada begitu banyak harapan dalam setiap air mata yang menetes dalam doa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arya wijaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SAKIT DBD

Sementara Bu Nasya menunggu kedatangan Irna, namun tak juga kunjung tiba batang hidungnya.

"Kenapa Kamu belum datang-datang Irna"

Lalu Bu Nasya menelpon anak yang lainnya untuk segera kesini membawanya ke rumah sakit.

"Halo Asri"

"Iya ibu, ibu kenapa kok suaranya lesu?"

"Ibu rasa Ibu demam, Asri bisakah kesini bawa berobat ibu"

Asri saat ini sedang memasak, lalu Ia berkata jika akan kesana setelah menjemput Rina sekolah.

"Lama tidak?"

"Ya sekitar dua jam lagi Bu"

"Baik Ibu tunggu ya"

Asri bingung mengantar ibu berobat pasti akan mengeluarkan uang lalu Ia membuka dompetnya dan Ia hanya punya 2 lembar uang seratus ribu.

"Kalau di pake bawa ibu berobat, uang dapur ini pasti tidak akan cukup sampai seminggu"

Asti memutar otak, bagaimana caranya agar Ia bisa membawa ibunya berobat namun uang simpanannya bisa tetap memenuhi isi dapurnya.

Setelah selesai dengan memasak, Asri menyiapkan kopi panas untuk suaminya, dan setelah itu Ia bersiap keluar membawa Rian.

"Assalamualaikum"

"Waalaikumsalam eh Asri ada apa?"

"Bu, cuma mau nawarin, kalau ada cucian atau gosokan lalu ibu sibuk dan tidak bisa melakukannya, Saya insyaallah siap bisa cuci dan gosok pakaian"

"Wah yang benar Asri, kebetulan nih cucian Saya sudah numpuk"

Asri senang akhirnya ada sesuatu juga yang bisa Ia kerjakan dan menghasilkan uang.

"Ada ya Bu, ya sudah nanti sore saya ambil yah, saat ini Saya harus ke rumah ibu dulu"

"Iya nanti ke rumah saja ya"

Asri segara berjalan pergi ke rumah ibunya, tiba-tiba Rian menangis di jalan, Asri segera memberikan ASI-nya duduk sambil terdiam merenung.

"Mba Asri, kok disini?"

"Eh ibu Imah, iya nih mau ke rumah ibu, Rian malah nangis jadi Saya susui dulu"

Kemudian Asri teringat akan pekerjaan kuli cucinya Ia pun menawarkan pada Bu Imah jasanya.

"Oh kebetulan ada cucian di rmh Saya, emang Mbak Asri gak repot, kan Rian masih kecil"

"Gak kok Bu Imah, nanti Sore Saya ambil ya cuciannya, Saya harus ke rumah ibu dulu"

"Iya Mbak Asri nanti ke rumah saja ya"

Asri tersenyum, merasa senang karena sudah dua orang yang mau di cuci pakaiannya.

Setelah Rian tenang, Asri segera naik angkot dan pergi menjemput Rina lalu ke rumah ibunya.

Bu Nasya rasanya sudah tidak tahan akan sakit ngilu pada tulangnya.

"Asri lama sekali kesini nya, ya ampun ngilu sekali"

Ucap Bu Nasya yang sudah lemah tak berdaya, tiba-tiba saja Bu Nasya pingsan akibat sudah tak kuat menahan rasa sakit.

Setibanya Asri di rumah ibunya, Asri membuka pintu dan betapa Ia terkejut melihat keadaan Bu Nasya yang sudah tergeletak tak sadarkan diri.

"Ibu...."

Teriak Asri, merasa khawatir akan keadaan ibunya.

"Ya Allah bagaimna ini, bagaimana bisa Aku membopong ibu, lalu anak-anak ku bagaimana?"

Asri pun menangis di hadapan ibunya yang tak sadarkan diri itu, mau tak mau Asri memesan taksi online, agar ibunya segera di bawa ke rumah sakit.

"Mamah nenek kenapa?"

Tanya Rina yang ikut bersedih ketika melihat ibunya menangis.

"Mamah nangis yah?"

"Gak sayang, Mamah cuma kaget lihat nenek pingsan"

Asri mencoba menelpon Kaka dan adik-adiknya, namun tak ada satupun yang mengangkat telepon Asri.

Sedangkan Fery kini terbangun dari tidurnya, lalu Ia melihat-lihat di sekelilingnya tak terdengar suara anak-anaknya yang biasanya rewel dan penuh huru hara.

"Kemana Mereka?"

Ferry mencoba melihat di dapur namun tak juga di temui keberadaan istrinya, lalu Ia menelepon sang istri bertanya dimana keberadaannya.

"Aku sedang di rumah ibu"

"Apa....!!"

Terdengar suara marah Fery.

"Ayah jangan marah dulu, ibu sakit yah"

"Tapi Kamu kenapa gak izin dulu sama Aku"

"Maaf Ayah, bukan gak mau izin, tapi Ayah sedang tidur, kalau Aku bangunkan Ayah pasti marah"

Ferry jadi terdiam ketika Asri berkata seperti itu, lalu Ia berkata lagi.

"Sakit terus ibu Kamu, sakit apa sih?"

"Aku gak tahu Yah, tapi disini ibu pingsan, Aku sudah pesan taksi online untuk membawa ibu"

"Taksi online, lalu siapa yang membayar ongkos, pakai uang Kamu?"

"Iya lah pakai uang Aku"

"Memangnya Kamu punya uang?"

"Aku ada uang dari pemberian Kamu kemarin"

"Ya ampun Asri, itu kan Aku beri ke kamu untuk belanja lauk seminggu, kenapa Kamu pakai untuk ongkos bawa ibu Kamu ke Rumah sakit"

"Lalu bunda harus bagaimana Ayah, masa membiarkan ibu pingsan disini"

"Ya Kamu hubungi Kakak Kamu yang banyak duit itu atau adik mu"

Bukannya Ferry merasa iba atau ingin membantu, Ia malah berpendapat seperti itu, membuat Asri merasa benci terhadap sikap suaminya.

"Astagfirullah Ayah, kenapa sih ayah selalu bersikap seperti ini, ini ibu Bunda, bukanya Ayah bantu Bunda jemput kek"

"Aduh Aku masih banyak pekerjaan, sudah pesan taksi online saja, Kamu mau pakai uang pemberian Aku itu silahkan, asal di rumah tetap tersedia lauk untuk makan"

Asri sungguh sangat sedih mendengar suaminya berkata seperti itu, hingga airmata tak terasa menetes.

Ferry pun mengakhiri panggilannya, dan Ia sama sekali tak merasa khawatir dengan Ibu mertuanya.

Taksi online kini sampai, Asri memanggil pak supir untuk membantu membawakan ibunya masuk ke dalam taksi.

"Pak cepat bawa ke Rumah Sakit terdekat ya"

Pinta Asri dengan rasa begitu khawatir.

Rian kini menangis lagi, membuat suasana hati Asri semakin resah.

"Aduh sayang berhenti menangis dong Nak"

Pak supir hanya memandangi keadaan Asri yang ricuh riuh karena tangisan Rian.

Akhirnya Asri sampai juga di rumah sakit, lalu dengan segera Bu Nasya di periksa Dokter, dan Dokter memvonis jika Bu Nasya terkena penyakit DBD.

"Apa Dokter DBD, apa sudah parah sakitnya"

"Harusnya dari semalam Ibu Nasya di bawa kesini, supaya trombositnya bisa di stabilkan"

"Jadi bagaimana Dokter?"

Tanya Asri dengan wajah bersedih.

"Kita sedang mengusahakan menstabilkan trombosit ibu Nasya, semoga saja Bu Nasya tidak kekurangan sel darah putih"

Asri sungguh bersedih mendengar ucapan Dokter, lebih sedih lagi saudarinya belum ada yang datang melihat keadaan ibunya.

Dokter hanya menyarankan jika Bu Nasya harus banyak minum air putih dan memakan buah-buahan yang bisa menaikkan trombositnya.

"Baik Dokter Saya mengerti"

Setelah itu, Asri berusaha menelpon kakak pertamanya yang berada di Tangerang.

"Kak Mai kenapa tadi tak mengangkat telepon Aku"

"Maaf dek, Kakak sedang beli gas tadi, ada apa Dek, kalau mau meminjam uang, Kakak tidak bisa beri pinjaman"

"Astagfirullah Kak, apakah Aku menelpon Kakak hanya untuk meminjam uang?"

Dalam hati Mai sungguh tidak ada maksud ingin menyakiti hati adiknya, namun karena sikap dingin dirinya kepada suaminya menjadikan Mai tak dapat membantu adiknya jika tujuan menelponnya itu adalah meminjam uang.

"Tidak begitu dek maksud Kakak"

"Sudahlah, Aku menelepon Kakak, hanya ingin memberitahu jika ibu sekarang berada di Rumah Sakit Kak"

Mai begitu kaget mendengar kabar itu, lalu Mai menanyakan keadaan sang ibu.

"Trombosit ibu turun, kata dokter jika Ibu di bawa semalam ke Rumah Sakit, mungkin trombositnya masih stabil, tapi karena telat trombosit ibu jadi turun"

"Astagfirullah ya Allah, kenapa ibu sekarang sering sakit"

"Bagaimana gak sakit, ibu merindukan Kak Mai Dia ingin Kak Mai pulang kesini dan menemani ibu walau hanya beberapa hari, tapi Kak Mai tidak pernah bisa pulang, itu sebabnya ibu sering sakit karena Rindu Kak"

Ucap Asri berbicara sambil menangis kecil.

Tiba-tiba saja Rina merasa lapar ingin makan, akhirnya Asri mengakhiri panggilan itu, dan mengajaknya Putrinya untuk makan siang dahulu.

"Maaf ya sayang, Kita makan yuk beli sesuatu di depan"

Sambil berjalan Asri meneteskan air matanya, sedih karena dirinya sibuk sendiri tanpa ada suami di sampingnya.

"Padahal di saat seperti ini, Aku butuh Kamu Ayah"

Ucap kesedihan Asri meratapi kehidupannya.

Di lain sisi Mai sangat merasa bersalah apa yang di katakan adiknya sungguh membuat hatinya juga terluka karena Ia pun memendam rasa rindu pada ibunya.

Rasanya Mai ingin pergi sendiri pulang ke Merak namun Ia memikirkan anak-anak nya yang masih kecil-kecil, apakah Ia bisa pergi sendiri sambil membawa anak-anaknya yang masih balita.

Sudah hampir sore, Asri menunggu ibunya sendirian di rumah sakit, ia jadi teringat akan pekerjaan mencuci baju tetangganya.

"Kalau gak Aku ambil sangat sayang sekali, tapi bagaimana ibu"

Bu Nasya melihat kekhawatiran sang anak, Ia pun bertanya,

"Kenapa Asri? Apa yang sedang Kamu pikirkan?"

"Aku sebenarnya ingin pulang Bu, tapi Ibu siapa yang menjaga, karena Aku kan dari siang tadi kesini, ini sudah hampir sore, Aku harus menyiapkan makan untuk Mas Ferry"

"Ibu biar sendirian gak apa-apa Asri, pulanglah, ibu takut suami mu marah lalu Kalian bertengkar"

Asri sungguh tidak tahu apakah ucapan ibunya itu benar atau tidak, namun firasatnya mengatakan jika suaminya pasti akan marah padanya.

1
Lita Pujiastuti
tinggalkan Erwin, Nov...
Lita Pujiastuti
Kenapa laki² hanya menuruti nafsu saja. Semoga pd kena HIV...biar tahu rasa
Lita Pujiastuti
walau kepepet butuh biaya utk ibunya. Tapi caranya gk gitu jg, Citra
Lita Pujiastuti
Mbak, kok tidak update²?...saya tunggu lhooo...
Arya wijaya: makasih bnyk ya mbak sudah mampir di di cerita novel ku🥰
total 2 replies
Lita Pujiastuti
Erwin mmg harus segera ditinggalkan..biar tahu rasa
Lita Pujiastuti
Payah kamu, Win. Tunggu saja, suatu saat Novi akan meninggalkanmu jika kamu masih lanjut dg Citra
Lita Pujiastuti
ansknya gk ada masa gk lihat
Lita Pujiastuti
pil kuning yg dosisnya dikurangi...
Erwin, hrsnya terus terang dg Novi ttg Citra. dan janji gk akan mengulang. Agar video itu tdk dijadikan Citra sbg alat utk mengancam
Lita Pujiastuti
Istiqomah, Erwin....awas, bisa kehilangan Novi klo kamu kambuh
Lita Pujiastuti
Alhamdulillah, ada jln terang utk Mai
Lita Pujiastuti
Hasan paling menyebalkan diantara menantu yg lain...licik
Lita Pujiastuti
Jauhi Citra, Win. Dia biang kerok semua masalahmu...jgn mau dibodohi lg dg obat²an dan jamu itu..
Lita Pujiastuti
semoga semua kakak beradik itu kisahnya berakhir bahagia
Lita Pujiastuti
Erwin ra nggenah... istri buat jaminan utang...
Lita Pujiastuti
,si Feey...pelit tryt
Lita Pujiastuti
Ceritanya bagus, problematik kalangan menengah bawah...bukan CEO seperti kisah kebanyakan di noveltoon..
Lita Pujiastuti
Mau aja, Mai...
Lita Pujiastuti
Erwin harus ke dokter dan mulai rehabilitasi. sepertinya dia konsumsi. narkoba
Lita Pujiastuti
Kerja lagi aja, Asri ..
Lita Pujiastuti
Kenapa punya suami gk ada yg bener, sih....ini jln terbaik cerai. Walau dlm agama sebenarnya harus dihindari
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!