"Sekali saja kita melangkah melewati batas ini, Arden... semuanya tidak akan pernah sama lagi."
Alyssa tidak pernah menyangka pernikahannya akan menyeretnya ke dalam pusaran dosa yang terlarang. Sebagai istri yang berbakti, ia selalu menekan keinginan pribadinya demi menjaga kehormatan keluarga besar suaminya.
Namun, benteng pertahanan itu runtuh saat Arden—adik iparnya—kembali dari luar negeri.
Arden bukan lagi remaja tanggung yang dulu ia kenal. Pria itu telah menjelma menjadi sosok dewasa yang penuh pesona, perhatian, dan diam-diam menawarkan kehangatan yang tak pernah Alyssa dapatkan dari suaminya sendiri.
Di sisi lain, Arden tersiksa. Semakin ia mencoba menjauh, semakin ia mendambakan Alyssa—wanita yang seharusnya haram untuk ia sentuh.
Kini, keduanya terjebak dalam tarik ulur perasaan yang menyiksa. Antara kesetiaan pada keluarga, atau menyerah pada godaan gairah yang candu.
Saat batas suci itu akhirnya dilanggar, siapkah mereka membayar harga yang teramat mahal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nopani Dwi Ari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.21 -Pernikahan kedua Adrian
Kisah manis di Pulau Dewata Bali terukir indah, berbanding terbalik dengan acara yang disiapkan oleh Adrian secara mendadak. Acara pernikahannya dengan Hanum, walau hanya secara siri terlebih dahulu.
Hanum tersenyum senang menatap dirinya yang sedang didandani untuk akad. Walau tak ada resepsi megah, ia merasa menang karena berhasil mendesak Adrian. Bagi Hanum, yang terpenting statusnya kini sebentar lagi akan diakui, walau orang tuanya sendiri bahkan belum tahu soal pernikahan ini.
"Wah, Mbak. Cantik sekali, Tuan Adrian pasti terpesona," puji Rani, yang baru saja datang mengantarkan satu set perhiasan emas yang baru dipesan oleh Adrian.
"Jelas. Kalau aku gak cantik dan pinter bikin dia nyaman, Adrian gak mungkin secepat ini lupa sama Alyssa," gumam Hanum penuh rasa percaya diri. Ia mengusap ronce melati yang menjuntai di bahunya, menghirup aroma wangi dan segar yang kian membakar ambisinya.
Tak lama, MUA menyelesaikan sentuhan akhir. Pemuka agama serta beberapa saksi dari tetangga sekitar apartemen sudah dipersiapkan oleh Adrian. Malam ini, di dalam apartemen yang mewah itu, Adrian dan Hanum mengikat janji suci secara siri.
Saat ijab kabul terucap lancar dari bibir Adrian, Hanum tersenyum lebar. Rasa puas memenuhi dadanya. 'Akhirnya, posisi Alyssa resmi tergeser,' batinnya bersorak.
Adrian mencium dahi Hanum, memberikan cincin manis di jemari wanita itu. Namun, jauh di lubuk hati Adrian, ada secuil rasa hampa dan rasa bersalah yang tiba-tiba menyusup. Bayangan wajah Alyssa yang biasanya selalu ada menyambutnya di rumah mendadak melintas.
Sementara itu, ribuan kilometer dari Jakarta, pendar cahaya bulan membias indah di atas permukaan laut Nusa Dua, Bali.
Aroma hidangan laut yang menggugah selera akhirnya tersaji rapi di meja kafe pantai tempat Arden dan Alyssa duduk. Suasana hangat begitu terasa, menghapus sisa-sisa dingin angin malam yang sempat merengkuh tubuh Alyssa.
"Cobain ini, Sa. Cumi bakarnya lembut banget," ujar Arden seraya memotongkan bagian terbaik dari piringnya, lalu memindahkannya ke piring Alyssa dengan sangat telaten.
Alyssa terpaku sejenak menatap perlakuan Arden. Sudah berapa lama ia tidak pernah diratukan seperti ini? Bersama Adrian, jangankan dipotongkan makanan, memperhatikan apakah Alyssa sudah makan atau belum saja Adrian sering lupa.
"Terima kasih, Den," bisik Alyssa pelan, menyuap makanan itu dengan perasaan campur aduk.
"Jangan melamun terus," Arden menatap Alyssa teduh, memajukan tubuhnya sedikit di atas meja. "Aku mau selama kita di Bali, pikiran kamu cuma ada di sini. Di pantai ini, dan... di depan kamu sekarang."
Pipi Alyssa memanas mendengar ucapan blak-blakan Arden. Namun, belum sempat Alyssa membalas, layar ponselnya yang tergeletak di meja mendadak menyala terang.
Sebuah notifikasi foto dan pesan masuk dari nomor Hanum.
Alyssa refleks menunduk dan membuka pesan tersebut. Di sana, terlampir sebuah foto jemari Hanum yang kini telah melingkar manis sebuah cincin pernikahan, bersanding erat dengan tangan Adrian. Di bawahnya, tertera kalimat tajam yang ditulis Hanum tanpa rasa bersalah sedikit pun:
"Lihat, hari ini aku resmi menjadi istrinya. Besok, aku yang akan menjadi ibu dari anak-anaknya. Alyssa, menyerah lah. Biarkan Adrian bersamaku sepenuhnya."
Alyssa menggeleng pelan membaca pesan tersebut. Sepasang matanya berkaca-kaca, menolak percaya bahwa Adrian benar-benar tega menikahi Hanum di belakangnya.
"Gak mungkin..." gumam Alyssa lirih, suaranya bergetar hebat.
Dada Alyssa mendadak sesak luar biasa, seolah pasokan udara di sekitar pantai melenyap seketika. Rasa sakit itu menghantamnya begitu telak hingga garpu di genggamannya bergetar. Adrian benar-benar melakukannya. Pria itu benar-benar menikahi wanita lain di saat dirinya dikesampingkan.
Disaat Alyssa diam-diam masih menyimpan sedikit harapan—berharap Adrian akan menyusulnya ke Bali dan memperbaiki hubungan mereka—tapi apa yang ia dapatkan? Hanya sebuah kesia-siaan dan pengkhianatan yang nyata.
Arden yang menyadari perubahan raut wajah Alyssa langsung mengikuti arah pandang wanita itu. Manik mata Arden menangkap isi pesan di layar ponsel Alyssa. Seketika, raut wajah Arden berubah tajam dan dingin. Tangan tegapnya terulur, merebut ponsel Alyssa dan membalikkan posisinya di atas meja.
"Cukup, Sa," tegas Arden dengan suara berat yang protektif.
Arden meraih kedua tangan Alyssa yang mulai dingin dan bergetar, menggenggamnya erat-erat di atas meja. Tatapan mata Arden menembus langsung ke manik mata Alyssa yang mulai berkaca-kaca.
"Pria yang sudah buang kamu demi wanita lain gak layak dapat setetes pun air mata kamu malam ini," ujar Arden tajam namun penuh ketulusan.
"Mulai detik ini, lepasin dia, Sa. Biarkan dia sama pilihannya, dan kamu... izinkan aku jaga kamu sepenuhnya."
Alyssa menatap Arden dengan air mata yang akhirnya menetes perlahan. Namun kali ini, bukan lagi karena meratapi Adrian, melainkan karena ia sadar... ada pria luar biasa di hadapannya yang siap membentenginya dari segala rasa sakit hatinya.
Setelah selesai makan malam, Arden dan Alyssa memutuskan untuk kembali ke kamar hotel. Begitu sampai di kamar, Alyssa langsung merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Matanya menatap menerobos kegelapan ke arah luar, di mana suara deburan ombak terdengar samar-samar menyapu pantai. Namun, pandangannya terasa kosong; pikirannya melayang entah ke mana, tenggelam dalam rasa kecewa yang mendalam.
Arden yang melihat kondisi itu mengerti perasaan Alyssa. Ia memilih untuk membiarkan Alyssa menenangkan diri terlebih dahulu.
Arden melangkah mendekati balkon, menatap tajam ponsel di genggamannya. Dada pria itu bergemuruh hebat, rasanya ingin sekali saat ini juga ia memaki dan menghajar sang kakak habis-habisan.
*
*
Sementara itu di Jakarta, suasana malam pertama Adrian dan Hanum berlangsung sederhana. Mereka tidak pergi menginap di hotel bintang lima. Mereka hanya memanfaatkan bantuan Rani untuk menghias kamar utama apartemen Hanum agar bernuansa layaknya kamar pengantin.
Hanum tersenyum puas, sudah mengenakan baju dinas pilihannya—sebuah lingerie sutra berwarna hitam. Ia tahu betul, dengan gaun malam transparan itu, pesona tubuhnya akan melipat ganda di mata pria.
Klek!
Pintu kamar terbuka. Hanum sudah duduk dengan pose menggoda di tengah tempat tidur. Penampilan itu seketika membuat Adrian berdiri terpaku di ambang pintu, menatapnya tanpa kedip.
"Ha-Hanum... kamu ngapain?" tanya Adrian terbata, tampak masih sedikit canggung.
"Mas, sekarang malam pertama kita," sahut Hanum manja. Kini ia sengaja beralih memanggil Adrian dengan sebutan 'Mas', setelah sekian lama biasa memanggil nama saja saat masih berpacaran.
Adrian menelan ludah, raut ragu mendadak melintas di wajahnya. "Hanum, tapi... Alyssa..."
"Ya udah! Pergi sana! Temui istri pertamamu itu, pergi! Pergi!" potong Hanum kesal. Tanpa ragu, ia langsung merosotkan tubuhnya ke kasur dan menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya, berpura-pura merajuk.
Melihat reaksi Hanum, Adrian seketika panik. Ia bergegas mendekat, duduk di tepi kasur dan mencoba membujuk Hanum dengan kata-kata manis. Tak butuh waktu lama hingga Hanum akhirnya mengalah dan pura-pura luluh.
"Baiklah, kita lakukan malam ini. Tapi, jangan sampai hamil dulu ya! Aku belum siap beritahu keluargaku soal pernikahan siri ini," ujar Adrian memberi batasan.
"Iya, Mas..." jawab Hanum malas dengan nada tersenyum di balik selimut. 'Lihat saja nanti, Mas. Aku bakal lakukan segala cara biar cepat hamil!' batin Hanum bersorak licik.
Malam itu, Adrian akhirnya hanyut dalam pelukan Hanum. Terlebih lagi, sudah cukup lama ia tidak menyentuh Alyssa, membuat pertahanannya runtuh begitu saja di hadapan wanita itu.
Pliss jangan di-skip bacanya ya teman-teman!! 😭🙏🏻
Yuk, dukung terus karya ini dengan klik "Bab Selanjutnya", berikan Like, Komentar, dan Hadiah/Koin terbanyak kalian biar Author makin membara lanjutin part balas dendam Alyssa! Support kalian berarti banget! ❤️✨
udah'lh Al., lepasin aja., laki² seperti itu tidak pantas d'tunggu
Aku muak sama Kamuuuu...!!!
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣