TOXIC AND CONTROL
Karya: Parkha
Bagi Kinara Jose, hidup sebagai siswi penerima beasiswa berpenampilan polos dengan kacamata tebal adalah cara terbaik untuk bertahan hidup dengan tenang di SMA Elite. Namun, seluruh dunianya runtuh saat ia tidak sengaja menarik perhatian Rian Pradifta.Rian—sang Tiran berwajah malaikat namun berhati iblis, cowok terkaya, terdingin, dan paling ditakuti satu sekolah. Sekali Rian mengunci pandangannya pada Kinara, tidak ada jalan keluar. Cowok itu terobsesi mengontrol setiap jengkal hidup Kinara, memutuskan dengan siapa ia bicara, ke mana ia pergi, hingga apa yang harus ia pakai.Kehidupan Kinara yang tenang kini berubah menjadi labirin yang mencekik. Rian adalah racun, namun juga satu-satunya oksigen yang tersisa untuknya. Di tengah kepungan obsesi gila itu, sebuah rahasia besar perlahan terkuak: di balik kacamata tebal dan sikap penurutnya, Kinara menyimpan pesona tersembunyi yang siap menjungkirbalikkan kuasa Rian sang Tiran
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Park ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TOXIC AND CONTROL* *BAB 11: DI LUAR KENDALI
*TOXIC AND CONTROL*
*BAB 11: DI LUAR KENDALI*
Langkah kaki Rian yang lebar dan tegas menggema di sepanjang koridor rumah sakit, memaksa Kinara untuk setengah berlari agar bisa mengimbangi tarikan kuat pada pergelangan tangannya.
Topi hitam Rian yang sengaja ditarik turun masih bertengger di kepalanya, menutupi separuh pandangannya hingga dia beberapa kali hampir tersandung.
Begitu mereka sampai di area lorong sepi dekat pintu darurat yang menuju ke parkiran, Kinara mengumpulkan seluruh kekuatannya. Dia menyentak tangannya ke belakang dengan kasar.
"Lepasin, Kak! Sakit!"
Sentakan itu berhasil. Cengkeraman tangan kekar Rian terlepas. Kinara langsung mundur dua langkah, memegangi pergelangan tangannya yang kini memerah.
Dengan napas yang memburu karena lelah dan emosi, dia mendongak. Tangannya bergerak cepat melepas topi hitam itu dari kepalanya, lalu melemparnya tepat ke dada bidang Rian.
"Kak Rian benar-benar gila, ya?!" semprot Kinara, suaranya bergetar menahan amarah yang sejak tadi dia bendung di dalam kamar rawat.
"Kak datang tiba-tiba, membuat keributan, bertingkah aneh, lalu menyeret aku keluar begitu saja! Kak Randy sedang terluka di dalam, dan aku harus menjaganya!"
Rian menangkap topi hitamnya yang dilempar Kinara dengan satu tangan yang santai. Namun, ekspresi wajahnya sama sekali tidak santai.
Begitu mendengar nama 'Randy' kembali lolos dari bibir ranum Kinara, sepasang mata elang Rian seketika menggelap pekat. Langkahnya maju, mengintimidasi, hingga tubuh kecil Kinara kembali terpojok di dekat dinding lorong yang dingin.
"Jaga dia? Untuk apa?" tanya Rian, suaranya terdengar sangat rendah dan dingin, merayap masuk ke indra pendengaran Kinara seperti teror psikologis.
"Dia terluka karena kebodohannya sendiri yang sok menjadi pahlawan di depan preman. Dan kamu... dengan sukarela duduk di sampingnya sambil memperlihatkan wajah polosmu itu pada pria lain?"
Rian mencondongkan tubuhnya ke depan, memotong jarak di antara mereka hingga aroma parfum maskulinnya yang mahal mengunci penciuman Kinara. Tatapan matanya yang tajam perlahan turun, beralih pada lutut Kinara yang kini terbalut perban putih bersih.
Melihat balutan perban itu, ada denyut penyesalan dan amarah yang bergejolak hebat di dalam dada Rian. Amarah kepada anak buahnya yang sangat teledor hingga berani menyentuh dan melukai gadis ini.
Namun, di depan Kinara, ego sang tuan muda yang gila kontrol itu menolak untuk memperlihatkan rasa bersalah. Dia menyembunyikan kerapuhannya di balik topeng arogansi yang mutlak.
"Lututmu terluka," ujar Rian datar, nadanya beralih menuntut.
"Dan kacamata bodohmu itu hancur. Bagaimana bisa murid beasiswa yang pintar seperti kamu bisa seceroboh ini, Kinara?"
Kinara mengernyitkan dahi di balik bayangan rambutnya yang terurai. Kepalanya mendadak dipenuhi rasa bingung yang luar biasa.
Bagaimana bisa Rian tahu kalau kacamatanya hancur?
Seingat Kinara, saat Rian mendobrak pintu kamar rawat tadi, kacamata hitam milik Rian-lah yang sedang dia urusi. Sisa-sisa kacamatanya yang hancur berada di dalam amplop kecil di atas meja nakas, tertutup oleh tubuh Randy.
Rasa curiga yang besar mendadak merayap di benak Kinara. Rentetan kejadian sore ini mulai terasa aneh di otaknya. Preman-preman brutal di gudang belakang... guru-guru yang mendadak hilang... dan sekarang, Rian yang tahu detail tentang lututnya.
Kinara menarik napas tajam. Sepasang matanya yang jernih membelalak sempurna saat sebuah kesimpulan mengerikan melintas di kepalanya.
"Kak Rian..." bisik Kinara, suaranya mendadak tercekat di tenggorokan.
"Preman-preman di gudang sekolah tadi sore... mereka itu orang-orang suruhan Kakak, kan?"
Rian tidak mengalihkan pandangannya sedikit pun. Alih-alih mengelak, berbohong, atau memasang wajah panik, cowok gila kontrol itu justru menegakkan tubuhnya perlahan.
Sebuah senyuman miring yang teramat tenang dan penuh keangkuhan kembali terukir di wajah tampannya.
"Ya. Mereka orang-orangku," jawab Rian jujur tanpa ada beban atau rasa bersalah sedikit pun di suaranya.
Mendengar pengakuan yang begitu enteng dari mulut Rian, Kinara benar-benar tidak habis pikir. Dunianya seolah berputar.
"Kenapa...?" suara Kinara melemah, bergetar menahan gejolak emosi yang nyaris pecah.
"Kenapa Kak Rian tega melakukan hal sekejam itu?! Apa salah mereka?! Apa salah Kak Randy?!"
Rian melangkah maju satu kali lagi, memangkas jarak hingga Kinara kembali bisa merasakan intimidasi mutlak dari tubuh tingginya.
Dia menunduk, menatap langsung ke sepasang mata jernih Kinara dengan binar obsesi yang menggelap gulita.
"Salah mereka?" Rian terkekeh rendah, suara kekehannya terdengar sangat dingin hingga membuat bulu kuduk meremang.
"Salah mereka adalah karena mereka berani bernapas di sekitarmu, Kinara. Salah mereka karena mereka berani memasang mata busuk mereka untuk melihat apa yang sudah menjadi milikku."
Kinara menggelengkan kepalanya perlahan, menatap Rian seolah cowok itu adalah monster paling mengerikan yang pernah dia temui.
Pertahanan mental Kinara yang selama ini kokoh seketika runtuh. Rasa ketakutan yang teramat sangat merayap di dadanya hingga membuat air matanya menetes melewati pipinya yang memucat.
Tubuh mungilnya gemetar hebat. Ternyata... semua kekacauan berdarah sore ini terjadi karena dirinya. Murni karena kebohongan yang dia ucapkan di perpustakaan kemarin.
Saat tangan kekar Rian bergerak maju untuk menyentuh pipinya demi menghapus air mata itu, Kinara secara refleks membuang muka.
Dia menyentak kepalanya menjauh, menolak dengan tegas setiap sentuhan fisik yang ingin diberikan oleh cowok gila di depannya.
Gerakan refleks Kinara yang menepisnya seketika membuat tangan Rian menggantung kaku di udara.
Rian membeku sepenuhnya di tempatnya berdiri. Sepasang mata elangnya menatap lekat ke arah manik mata jernih Kinara yang kini berkaca-kaca dipenuhi oleh air mata.
Di dalam sana, Rian menyadari ada sesuatu yang berubah. Itu adalah tatapan ketakutan yang teramat murni. Kinara menatapnya dengan penuh rasa takut dan penolakan yang begitu pekat.
Bukan ini.
Dada Rian mendadak berdenyut nyeri, sebuah rasa tidak nyaman yang asing dan tidak pernah dia rasakan sebelumnya menggelayuti hatinya.
Dia ingin mengontrol Kinara, dia ingin menundukkan ego gadis itu, dia ingin mengunci perhatian Kinara hanya untuk dirinya.
Tetapi, dia sama sekali tidak pernah menginginkan tatapan ketakutan yang sarat akan rasa benci seperti yang sedang gadis itu tunjukkan padanya saat ini.
---
semoga Kinara terselamatkan dr jebakan Randy
kalian yang awal bab maki2 Rian ..tetap maki2 ya soalnya Rian tobatnya masih lama wkkwkwk