Entah siapa yang menjebak Bima dengan obat sampai harus memanfaatkan gadis yang tidak berdaya bernama Olivia, di malam pertunangan gadis itu
“Saya khawatir kalau nanti Olivia ….” Bima menjeda ucapannya lalu menghela nafas,“Hamil.”
“Kamu pikir aku mau mengandung anak kamu! Kalaupun aku hamil, pasti akan aku gugurkan,” pekik Olivia
Benarkah Bima dan Olivia dijebak? Mungkinkah Bima dan Olivia akhirnya menjadi pasangan dan melupakan masa lalunya?
====
Spin Off : Jerat Cinta Dibalik Dendam
IG : dtyas_dtyas
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtyas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 9 ~ Bertemu Lagi
Olivia tidak kuliah beberapa hari ini. Dia datang ke kampus hanya untuk mengurus persyaratan magang yang akan dimulai dua hari lagi. Berharap setelah dua atau tiga bulan, lalu ujian semester dan di semester berikutnya dia tidak banyak bertemu dengan teman kelasnya yang sekarang.
“Oliv, kamu tidak ingin pindah tempat magang. Di perusahaan Papi sajalah, jadi Mami lebih tenang,” usul Naya. Wanita itu duduk di tepi ranjang, sedangkan Olivia asyik di meja belajarnya menatap layar laptop.
“Nggak Mih, kalau di kantor Papi yang ada aku bukan magang. Tidak akan ada yang mau jadi pembimbing aku karena sungkan. Lebih baik di tempat yang orang tidak kenal aku.”
“Tapi berangkat dan pulang tetap dengan Pak Budi, Mami nggak mau dengar kayak kemarin. Kamu pulang tanpa hubungi Pak Budi,” titah Naya.
“Iya.”
***
“Bima.”
Bima yang berbaring di bale depan rumahnya, menoleh. Ibu Salamah sudah duduk di kursi kayu tidak jauh dari bale tempatnya berbaring.
“Kenapa Bu?”
Wanita itu terlihat murung, dia sudah tahu permasalahan Bima di hotel tempatnya bekerja. Bahkan sampai merasakan jeruji besi walaupun hanya hitungan jam dan sekarang sudah dipecat dari pekerjaannya. Yang paling menjadi pikiran adalah gadis yang sudah dinodai oleh Bima.
“Bagaimana kabar wanita itu?”
Bima menghela nafasnya pelan lalu beranjak duduk dan bersila. Terakhir dia bertemu, itupun tidak sengaja. Olivia terlihat kacau dengan wajah sembab. Menghubungi kontaknya pun sudah tidak bisa.
“Aku nggak tahu Bu, dia tidak ingin aku menghubunginya.”
“Ibu ingin kamu tanggung jawab!”
“Aku pun begitu Bu, tapi Oliv tidak ingin bertemu denganku dan aku tidak yakin keluarganya akan menerima kita. Kita dengan mereka bagai bumi dan langit,” tutur Bima.
Bima dan Ibu Salamah terdiam dengan pikirannya masing-masing. Dari dalam rumah, terdengar perdebatan kedua anak Yudis dan ditengahi oleh Lela.
“Kalau bisa, temukan Ibu dengan wanita itu,” pinta Ibu Salamah lalu berdiri dan kembali ke dalam rumah. Terdengar suaranya yang bijak memberi pengertian kepada kedua cucunya.
“Hahh, aku juga maunya gitu Bu. Tanggung jawab dengan menikahi Oliv, tapi dianya pasti ogah.”
Bima beranjak ke kamarnya, menyiapkan pakaian yang akan dia kenakan esok. Pria itu diterima kerja di hotel lain sebagai maintenance staff dan besok adalah hari pertama dia training kerja.
Esok hari.
Bima bangun dan menyadari dia sudah terlambat. Bergegas dia mandi kilat lalu memakai setelan putih hitam, memakai jaket dan meraih kunci motor di atas meja.
“Bu, Bima berangkat,” teriak Bima yang sedang menenteng helm dan menaiki motor.
Bima memiliki dua motor, satu matic dan satu lagi motor besar berwarna merah. Motor matic biasa digunakan untuk ojek online, sedangkan untuk bekerja tentu saja motor yang satunya.
“Om, minggu jadi berenang ya,” teriak Amir putra Yudis.
“Nggak janji, kecuali Om masuk malam,” sahut Bima.
“Yah, Om nggak asyik.”
“Minta Bapakmu buat kolam renang di sini,” tunjuk Bima pada area kosong di depan rumahnya.
“Yang ada kolam ikan, bukan kolam renang.”
Pria itu memakai helm lalu menghidupkan mesin motor dan berlalu. Motor yang dikendarai Bima meliuk di tengah kemacetan Jakarta dan sampai lokasi sepuluh menit lebih awal dari waktu yang seharusnya. Salah satu petugas hotel mengarahkan ruangan yang harus Bima tuju. Ternyata ruang pertemuan untuk para pekerja dan sudah berkumpul beberapa orang yang mengenakan seragam putih hitam sama seperti Bima.
Kursi agak belakang dipilih untuk duduk dan menunggu pengarahan terkait tugasnya. Bahkan Bima sempat membuka ponsel dari pada melamun, apalagi ada mbak-mbak yang duduk tidak jauh di depannya sering mencuri pandang ke arahnya.
“Selamat Pagi,” ujar seorang pria paruh baya yang sudah berdiri di depan.
“Pagi," jawab Bima dan yang lain serempak.
“Oke, saya Malik dan selama kalian training akan berurusan dengan saya. Silahkan dilihat jadwal shift dan pembagian tugas,” seru pria bernama Malik, ada pria lain yang membantunya membagikan berkas berisi jadwal.
“Kok nggak ada nama gue,” gumam Bima. “Maaf Pak!” seru Bima menginterupsi.
“Ya.”
“Nama saya Bima dan tidak ada di semua bagian. Kalau tidak salah sebelumnya saya diinfokan akan mengisi maintenance staff.”
Malik membaca ulang jadwal yang dibagikan.
“Ah iya, kamu diminta bantu resepsionis menggantikan staf yang melahirkan. Setelah ini ikut saya untuk dapat arahan.”
Bima manggut-manggut, sebagai karyawan dia hanya bisa ikut perintah atasan.
“Nggak apa-apa di depan juga, mbak-mbak resepsionis pasti cantik-cantik,” ucap Bima dalam hati lalu senyam senyum membayangkan dia bisa cuci mata. “Astagfirullah,” ucap Bima sambil mengusap dada. “Ingat Bim, urusan dengan Oliv aja belum kelar dan lo mau main mata.”
Pertemuan dengan Malik pun berakhir, sedikit banyak Bima tentu saja sudah paham dengan tupoksinya. Setelah keluar dari ruang pengarahan, pria itu mengkor langkah Malik menuju resepsionis dan mendengarkan penjelasan singkat apa yang dia harus kerjakan.
“Ini pin nama kamu,” ujar Malik sambil menyerahkan pin nama milik Bima. “Seragam ambil di bagian inventory.” Malik mengambil kertas berisi jadwal shift tim resepsionis pada Bima dan menjelaskannya. “Kamu dipilih karena diantara para pelamar, ya cuma kamu yang bisa bahasa Inggris dan kalau dilihat muka kamu nggak jelek-jelek amat,” seru Malik.
“Nggak jelek atau memang ganteng Pak?"
“Terserah kamu, tapi kalau saya bilang kamu ganteng kedengarannya aneh. Ah iya, ada juga peserta magang. Saya tempatkan sebagai pengawas staf, jadi dia di bawah saya langsung. Mana yang magang,” tanya Malik pada salah satu staf.
“Ke inventory Pak, ambil seragam. Sudah dari tadi sih.”
Bima bertanya hal yang belum dipahami dan menoleh karena Malik memanggil seseorang.
“Dia anggota tim yang harus kamu urus juga,” seru Malik menunjuk Bima.
“Oliv,” gumam Bima menyadari kalau peserta magang yang dimaksud Malik adalah Olivia.
Sama halnya dengan Bima yang terkejut, Olivia bahkan harus menelan saliva dan menunduk sesaat untuk menetralkan perasaannya dan kembali fokus dan bersikap profesional.
“Kalian ikut saya dulu,” ujar Malik.
Masih dalam keterkejutan, Bima dan Olivia berjalan mengekor langkah Malik menuju ruangan yang ada tidak jauh dari meja resepsionis.
“Saya ajarkan kalian sistem hotel ini. Seharian ini tugas kalian memahami sistem, besok harus sudah siap terjun di meja depan.”
Ruangan itu terdiri dari beberapa meja dan tiap meja ada komputer dengan stand by system. Malik menempati meja di depan dan layarnya terhubung ke proyektor. Di sela penjelasan Malik, Bima sempat melirik Olivia.
“Kalian simulasi saja, masuk ke prototype sistem,” titah Malik dan memberikan buku panduan lalu meninggalkan ruangan.
“Oliv ….”
“Jangan bersikap seolah kamu kenal denganku. Komunikasi kita hanya sebatas urusan kerja, selain itu jangan memulai obrolan apapun,” sergah Olivia.
“Ya ampun ….”. Bima tidak menduga kalau Olivia bisa setegas itu, padahal terlihat kalau Olivia adalah wanita yang berhati lembut seperti Salamah -- ibunya.
Keduanya kembali fokus pada layar di hadapan masing-masing, sampai Bima berinisiatif untuk kembali bicara.
“Oliv, bisa kita ….”
“Tidak!”
Sepertinya Bima harus ekstra sabar menghadapi Olivia, walaupun terulas senyum menyadari ke depannya dia akan sering bertemu dengan wanita itu. Namun, siapa yang tahu masa depan. Bisa saja hati Olivia akan melunak dan bisa luluh oleh Bima.
walaupun gak sepenuhnya salah tp keadaan yg bikin Bima bersalah..
lawannya keluarga kalangan atas pula...
kuat² yaaa Bima🤭
wkwkckk..good job,teruslah berkarya, bravo anak2 bangsa yg hebat , aku bangga padamu 🥰💪🙏