NovelToon NovelToon
Dendam Dan Cinta

Dendam Dan Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Nafsienaff

Bagi Bara Mahendra, lima belas tahun lalu adalah malam jahanam yang merenggut segalanya. Di bawah guyuran hujan lebat, ia dipaksa menyaksikan kematian tragis kedua orang tuanya akibat sabotase keji.

Sebuah nama yang dibisikkan sang ibu sebelum mengembuskan napas terakhir melekat abadi di kepala Bara: Darma Amartya. Sejak detik itu, Bara bersumpah akan menukar masa mudanya demi satu tujuan tunggal—balas dendam.

Kini, Bara kembali sebagai pengusaha muda yang dingin, genius, dan penuh taktik. Baginya, kematian terlalu instan dan mudah untuk seorang Darma.

Pria tua itu harus merasakan penderitaan yang jauh lebih menyiksa, yaitu melihat permata paling berharga dalam hidupnya hancur berkeping-keping: Senja Amartya, putri tunggalnya.

Senja adalah perwujudan dari namanya sendiri, hangat, tulus, dan murni. Ia tidak tahu-menahu tentang dosa masa lalu sang ayah. Ketika perusahaan ayahnya berada di ambang kebangkrutan, Bara hadir layaknya seorang kesatria penyelamat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nafsienaff, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sentuhan di balut ke Angkuhan

Suasana di area lobi utama penthouse siang itu mendadak sibuk oleh aktivitas yang tidak biasa. Pintu lift eksekutif berulang kali berdenting terbuka, menampilkan beberapa petugas ekspedisi pribadi yang bergerak cepat mengangkut keluar koper-koper besar, kardus berisi pakaian desainer, hingga kotak-kotak kosmetik mahal milik Olivia Wijaya. Rian berdiri di dekat pintu pembatas, memegang sebuah papan klip digital untuk memastikan seluruh barang milik wanita itu bersih tanpa menyisakan satu potong pun di dalam apartemen.

Senja Amartya berdiri mematung di ambang koridor dapur. Langkah kakinya tertahan, dan sepasang manik matanya yang jernih mengerjap berulang kali dilingkupi rasa bingung sekaligus terkejut yang luar biasa.

Hanya dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam sejak Olivia menginjak punggung tangannya di sudut mati lorong belakang, takhta kepalsuan wanita angkuh itu runtuh secara mendadak.

Senja merasakan dadanya berdegup kencang. Setitik harapan tipis mulai menyelinap di balik kabut ketakutan yang semalaman mengunci lidahnya. Apakah Bara telah mengetahui sesuatu? Ataukah ini hanya bagian dari taktik bisnis suaminya yang lain?

Didorong oleh rasa penasaran yang teramat sangat, Senja melangkah pelan mendekati Rian setelah para petugas ekspedisi itu masuk kembali ke dalam lift.

"Rian," panggil Senja lembut, suaranya masih terdengar agak serak akibat sisa isak tangis semalam.

Rian menoleh, langsung menurunkan papan klipnya dan membungkuk sopan.

"Iya, Nona Senja? Ada yang bisa saya bantu?"

"Semua barang-barang ini... kenapa dikeluarkan secara terburu-buru?" tanya Senja sembari menunjuk ke arah tumpukan koper terakhir di dekat pintu.

"Apakah Olivia sedang pindah ke hotel, atau... Bara sedang merencanakan acara luar kota bersamanya?"

Rian menatap wajah pucat Senja, lalu pandangannya turun menatap balutan kasa putih tebal yang masih membungkus punggung tangan kanan gadis itu. Rasa iba dan amarah yang semalaman ia pendam kembali bergejolak. Rian sudah membuka mulutnya, bersiap untuk menceritakan bahwa ia telah membongkar rekaman spy cam rahasia itu kepada Bara pagi tadi, dan bagaimana bos besarnya telah mengamuk hebat hingga menghancurkan saham keluarga Wijaya di bursa efek demi membelanya.

"Sebenarnya, Nona, Pak Bara tadi pagi sudah—"

"Ehem."

Sebuah deheman berat, dalam, dan teramat dingin mendadak memotong kalimat Rian seketika. Gema suara itu terdengar begitu mengintimidasi dari arah lorong kamar utama, memutus atmosfer obrolan di lobi depan dalam sekejap.

Bara Mahendra melangkah keluar. Pria tegap itu sudah melepaskan jas kerjanya, menyisakan kemeja putih kaku yang lengannya telah digulung kasar hingga ke siku, memperlihatkan gurat urat nadinya yang menegang. Wajah tegapnya tampak begitu kaku, dengan mata elang yang menyipit tajam penuh emosi yang tertahan.

Mendengar deheman peringatan dari atasannya, Rian refleks menutup kembali mulutnya rapat-rapat. Ia mengerjap canggung, langsung menangkap sinyal tak kasat mata dari tatapan tajam bosnya yang seolah mengatakan: 'Jangan lancang mencampuri urusanku dengannya.' Rian mengangguk terpaksa, memilih untuk memundurkan langkahnya menuju pintu lift. Sebagai asisten yang cerdas, ia paham betul bahwa pria sedingin es di depannya ini sedang berjuang meruntuhkan sisa-sisa gengsinya, dan Bara ingin memberikan penjelasan itu secara langsung pada Senja dengan caranya sendiri.

"Saya permisi untuk mengurus sisa administrasi di bawah dulu, Pak Bara, Nona Senja," pamit Rian buru-buru, membiarkan pintu lift menutup dan menenggelamkannya keluar dari lantai penthouse.

Keheningan yang sangat pekat dan mencekam kembali menguasai ruang tengah apartemen. Senja berdiri mematung di tempatnya, memandangi Bara yang kini berjalan perlahan mendekatinya. Jantung Senja kian berpacu liar. Ia bersiap menanti kalimat ketus atau interogasi tajam dari suaminya tentang alasan mengapa Olivia terusir. Namun, Bara justru mengabaikan seluruh pertanyaan yang menggantung di udara.

Pria itu berhenti tepat dua langkah di depan Senja. Tatapan mata elangnya yang biasa menusuk, siang ini tampak begitu redup, dipenuhi oleh sebuah gejolak rasa bersalah dan kepemilikan yang keras ia sembunyikan di balik wajah kakunya.

"Ikut aku ke sofa," perintah Bara, suaranya terdengar datar tanpa intonasi, mencoba mengembalikan wibawa sang predator yang sesungguhnya sudah lapuk di dalam dadanya sendiri sejak ia melihat rekaman penganiayaan Senja tadi pagi.

Senja tidak membantah. Dengan langkah pelan, ia mengekor di belakang tubuh tegap suaminya menuju sofa kulit besar di ruang tengah. Begitu mereka duduk, Bara langsung merogoh sebuah kotak pertolongan pertama baru yang sudah ia siapkan di atas meja kopi, lalu membukanya dengan gerakan yang terkesan sangat kaku.

"Ulurkan tanganmu," ucap Bara ketus, matanya menolak menatap langsung ke dalam manik mata jernih Senja.

Senja mengerjap bingung, namun tetap patuh mengulurkan tangan kanannya yang dibalut kasa putih tebal.

Bara meraih pergelangan tangan mungil itu dengan telapak tangannya yang besar dan hangat. Meskipun sikap dan ekspresi wajahnya dipasang sekerasa mungkin, gerakan jemari Bara saat mulai menggunting dan membuka lilitan kain kasa itu terasa begitu lembut, sangat hati-hati seolah ia sedang menyentuh porselen paling rapuh di dunia yang takut ia pecahkan lagi.

Saat lapisan kasa terakhir dibuka, Bara menahan napasnya sesaat. Rahangnya mengeras kuat menahan amarah yang kembali mendidih di dalam dada. Di atas kulit punggung tangan Senja yang putih, terpampang nyata bekas luka robek memar linier yang mulai membiru keunguan jejak kejam dari ujung sepatu hak tinggi Olivia.

"Bara... kenapa kamu melakukan ini?" tanya Senja lirih, matanya meneliti setiap perubahan ekspresi di wajah tegap suaminya dari jarak dekat.

"Kenapa kamu mengusir Olivia? Apakah kamu sudah tahu apa yang sebenarnya terjadi di lorong belakang?"

Bara merasakan seluruh darah di tubuhnya mendadak bergejolak hebat akibat pertanyaan intens dari istrinya. Semburat merah yang pekat langsung muncul di balik daun telinganya, menjalar naik menodai kulit lehernya yang kaku karena rasa salah tingkah dan kegugupan yang luar biasa. Ego dan pertahanan dirinya yang tinggi menolak keras untuk terlihat lemah atau mengaku bahwa ia telah mengamuk hebat di kantor Wijaya karena tidak tega melihat Senja terluka.

Bara mengambil kapas berlapis cairan antiseptik baru, lalu menekannya sedikit kasar ke atas luka memar Senja, sebuah pertahanan instan untuk menutupi rasa canggungnya.

"Aww!" Senja meringis perih, refleks mencoba menarik tangannya kembali.

"Diam," cetus Bara ketus, mempererat cengkeramannya pada pergelangan tangan Senja agar gadis itu tidak bergerak. Ia kembali meniup luka itu dengan embusan napas hangatnya yang lembut untuk meredakan rasa perih itu.

"Jangan banyak bertanya, Senja. Aku mengganti perbanmu bukan karena aku peduli atau ingin mendengarkan keluh kesahmu. Aku melakukan ini hanya karena aku tidak ingin melihat pemandangan perban usang yang kotor di dalam rumahku. Itu merusak pemandangan."

Bara mulai melilitkan kembali kain kasa baru dengan gerakan yang teratur dan rapi, mengabaikan fakta bahwa jemarinya yang biasa memegang kendali bisnis miliaran rupiah kini sedang bergetar halus karena gugup berada terlalu dekat dengan aroma parfum melati Senja.

"Mengenai Olivia... dia dikeluarkan dari rumah ini karena dia sudah tidak lagi berguna untuk urusan bisnisku. Jangan pernah mengira aku melakukan semua ini demi membelamu. Kamu tetaplah sandera di rumah ini, Senja. Jangan pernah melupakan posisimu."

Mendengar rentetan kalimat ketus, tajam, dan sarat akan gengsi yang dilontarkan Bara, Senja tidak lagi merasa terluka seperti bulan-bulan lalu. Ia menatap wajah suaminya yang kaku namun dihiasi oleh daun telinga yang memerah sempurna karena salah tingkah yang teramat menggemaskan. Senja menarik napas dalam, lalu seulas senyuman manis nan menggoda kembali mekar di bibir tipisnya. Perisai ketenangannya telah kembali utuh sepenuhnya. Pria tegap di depannya ini hanyalah sesosok predator amatir yang sedang ketakutan setengah mati menghadapi getaran cintanya sendiri.

Senja membiarkan tangan kanannya selesai diperban, lalu dengan berani ia menggunakan tangan kirinya yang bebas untuk menepuk pelan pipi kaku Bara dengan gerakan yang santai.

"Baiklah, Tuan Bara Mahendra yang sedingin es," goda Senja dengan nada suara yang teramat lembut dan manja, menatap lurus ke dalam mata elang Bara yang kini mendadak membelalak panik akibat sentuhan tak terduga itu.

"Terima kasih karena sudah menjaga estetika apartemenmu dengan merawat tanganku yang terluka ini. Sifat ketus kamu malam ini... justru membuatku semakin yakin, bahwa suamiku yang agung ini ternyata adalah seorang pengecut manis yang terlalu takut mengakui bahwa dia sudah kalah telak oleh pesona pelayannya sendiri."

Uhuk! Uhuk!

Bara mendadak tersedak air liurnya sendiri untuk kesekian kalinya, dia langsung melepaskan tangan Senja dan berdiri dari sofa dengan sentakan yang gugup. Wajah tegapnya kini benar-benar memerah padam layaknya kepiting rebus karena salah tingkah yang luar biasa hebat akibat serangan kata-kata menggoda dari Senja. Ia buru-buru menyambar kotak pertolongan pertama itu dengan gerakan yang sangat canggung, berbalik, dan melangkah cepat menuju ruang kerjanya seolah sedang melarikan diri dari medan perang yang mematikan.

"M-masuk ke kamarmu, Senja! Jangan lancang!" bentak Bara terbata-bata sebelum membanting pintu ruang kerjanya dengan keras, menyisakan Senja yang terkekeh renyah di atas sofa tengah, sepenuhnya menikmati kemenangan psikologisnya atas runtuhnya benteng ego sang predator yang kian hari kian tak berdaya di bawah kendali belenggu takdir cinta mereka.

Bersambung

1
sri susanti
semoga olivia dpt balasan yg setimpal,,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!