Setelah kehilangan adik perempuannya dan hancur di dunia fana, Han Yu terbangun di tubuh sesosok makhluk dari Sekte Iblis yang terdampar di wilayah suci Lembah Lingshu, ras suci yang sedang berperang melawan umat manusia karena perbudakan asmara. Bukannya mati dieksekusi, Han Yu justru membangkitkan warisan langka yang tabu: Jalur Kaisar Pesona.
Berbekal ketampanan surgawi yang mutlak, stamina tiada tanding, dan teknik manipulasi sukma, Han Yu mengubah musuh-musuhnya menjadi pelayan yang patuh. Dari murid klan yang dingin, janda kultivator yang kesepian, hingga para tetua bijaksana dan Ratu Lembah, semuanya bertekuk lutut di bawah pesonanya. Di dunia kultivasi yang kejam ini, Han Yu tidak bertarung dengan pedang yang menghancurkan langit, melainkan menaklukkan dunia dari atas ranjang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon GEELANG, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29 - Percikan Pesona di Aula Perang
Tetua Feng Mian bangkit berdiri dari kursi gioknya dengan gerakan yang terkesan buru-buru, membuat jubah zirah perak tebal yang membungkus tubuh matangnya berdenting keras memecah keheningan aula. Kepalanya terasa sedikit pusing, dipenuhi oleh sisa-siga kehangatan yang mendadak menjalar ke sekujur tubuhnya setelah menatap langsung ke dalam sepasang mata hitam pekat milik Han Yu. Sebagai seorang wanita yang telah menghabiskan ratusan tahun di medan pertempuran darah, fenomena batin seperti ini adalah sesuatu yang teramat asing dan membingungkan baginya.
"Aku harus kembali ke barak utama untuk memeriksa laporan tim pencari. Ling Er, pastikan murid iblismu ini tidak berkeliaran di luar batas paviliun selama situasi kota belum kondusif," ucap Tetua Feng Mian dengan nada suara yang sengaja dikeraskan, mencoba menutupi debaran jantungnya yang masih berpacu kencang.
Tanpa menunggu jawaban lebih lanjut, wanita berwajah tegas itu melangkah lebar meninggalkan paviliun utama, menyisakan keharuman aroma logam spiritual dan esensi angin yang tajam di udara. Begitu sosok kepala Divisi Perang itu menghilang sepenuhnya di balik gerbang bambu perkebunan, Tetua Ling Er langsung mengembuskan napas panjang penuh kelegaan, menyandarkan tubuh anggunnya ke sandaran kursi giok dengan pundak yang merosot lemas.
"Han Yu... kamu benar-benar kelewat berani," ucap Tetua Ling Er seraya menatap murid pribadinya dengan binar mata hijau yang dipenuhi perpaduan antara rasa cemas, cinta, dan kepasrahan mutlak tingkat seratus persen. "Feng Mian adalah ahli perang veteran yang memiliki insting membunuh sangat tajam. Jika tadi kamu menunjukkan keraguan sekecil apa pun di dalam aliran meridianmu, dia pasti tidak akan ragu untuk menghancurkan dantianmu di tempat ini."
Han Yu hanya menyeringai tampan, melangkah tenang mendekati meja giok gurunya dengan keanggunan seorang penguasa sanubari. Karisma dari ranah Pengikat Sukma tingkat dua kembali diledakkan secara halus, membuat atmosfer di sekitar mereka berdua mendadak berubah menjadi sangat intim dan hangat dalam sekejap mata.
"Guru yang jelita, mengapa aku harus merasa takut jika di sampingku ada seorang Penatua Kebijaksanaan yang bersedia melindungiku dengan segenap sukmanya?" Han Yu berbisik dengan nada suara yang teramat dalam, lembut, dan merdu, membuat bulu kuduk Tetua Ling Er refleks berdiri menahan getaran sensasi yang memabukkan.
Han Yu mengulurkan tangan kekarnya melintasi meja, meraih jemari lentik Tetua Ling Er dengan genggaman yang hangat namun posesif, lalu mulai menyalurkan stimulasi energi dari teknik Sentuhan Lembut Surgawi secara perlahan. Sengatan gelombang kenikmatan batin instan langsung menyerang pusat kesadaran sang guru, menghapus seluruh sisa ketegangan akibat interogasi Tetua Feng Mian tadi. Kedua pipi wanita matang itu kembali merona merah padam, dan tubuhnya refleks condong maju ke depan meja demi bisa merasakan kehangatan fisik Han Yu yang lebih pekat.
"Kamu... selalu saja tahu bagaimana cara membuatku tidak berkutik," merajuk Tetua Ling Er dengan nada suara yang teramat manja, sepasang mata hijaunya menatap wajah rupawan Han Yu dengan tatapan lapar akan afeksi batin yang mendalam.
"Itu karena seluruh jiwa dan raga aku telah terikat sepenuhnya dengan sukma Anda, Guru," Han Yu tersenyum manis, membelai punggung tangan gurunya dengan kelembutan yang menghanyutkan sanubari sebelum kembali mengalihkan pembicaraan ke arah strategis. "Mengenai hilangnya Kapten Ling Feng... apakah Ratu Lin Xian juga ikut menunjukkan kecurigaan kepada faksi iblis kita?"
Tetua Ling Er menarik napas dalam-dalam, mencoba memulihkan sebagian kecil dari rasionalitasnya yang kian meleleh di bawah kungkungan pesona Han Yu. "Sejauh ini, Yang Mulia Ratu tampaknya tidak terlalu memedulikan hilangnya Ling Feng. Ratu Lin Xian jauh lebih mengkhawatirkan pergerakan pasukan faksi manusia dari Kekaisaran Shenzhou yang mulai membangun benteng-benteng pertahanan baru di sepanjang perbatasan wilayah luar Lembah Lingshu kita. Aula Tetua menduga bahwa perang berskala besar akan segera pecah dalam hitungan beberapa bulan ke depan."
Mendengar informasi penting mengenai potensi konflik makro tersebut, sepasang mata Han Yu berkilat tajam memancarkan spekulasi batin yang dingin. Situasi perang berskala besar antara ras suci Lembah Lingshu melawan umat manusia Kekaisaran Shenzhou adalah sebuah panggung yang teramat sempurna bagi progres peningkatan kekuatannya. Dalam kekacauan perang, dia bisa dengan mudah menyusup ke barisan musuh, menyerap esensi kematian dari para kultivator pria yang dikalahkannya di medan laga, sekaligus menjerat sukma para jenius wanita ortodoks menggunakan jalur kultivasi Kaisar Pesona miliknya.
Namun, sebelum dia melangkah terlalu jauh menuju panggung perang benua, Han Yu tahu dia harus terlebih dahulu memastikan seluruh otoritas kekuasaan di dalam lingkaran dalam Lembah Lingshu berada di bawah kendali mutlak sukmanya. Target berikutnya yang paling menantang dan menjanjikan tidak lain adalah sang kepala Divisi Perang itu sendiri, Tetua Feng Mian, serta sang penguasa tertinggi benua, Ratu Lin Xian.
"Guru, jika perang benar-benar pecah, Divisi Perang milik Tetua Feng Mian pasti akan menjadi garda terdepan yang memimpin pasukan klan, bukan?" tanya Han Yu seraya menyunggingkan sebilah seringai misterius di bibirnya.
"Benar, Feng Mian adalah panglima tertinggi yang mengendalikan seluruh pergerakan prajurit pelindung lembah," jawab Tetua Ling Er dengan anggukan kepala patuh, sama sekali tidak menyadari siasat asmara tersembunyi yang sedang dirancang oleh murid nakalnya di dalam kepalanya. "Dia memiliki watak yang sangat keras kepala, namun dia teramat setia pada keselamatan klan. Mengapa kamu menanyakan hal itu, Muridku?"
Han Yu tidak segera memberikan jawaban lisan atas pertanyaan gurunya. Dia justru bangkit berdiri dari posisinya, melangkah memutari meja giok hingga kini berada tepat di belakang punggung Tetua Ling Er. Dengan gerakan tangan yang sangat lihai dan dipenuhi perhitungan estetika gairah, Han Yu meletakkan kedua telapak tangan hangatnya di atas pundak anggun sang guru, lalu mulai memberikan pijatan lembut yang dialiri oleh esensi energi batin tingkat dua miliknya secara konstan.
"AAAHH..." Sebuah desah pasrah yang teramat manis dan halus seketika lolos dari sela bibir merah Tetua Ling Er saat kehangatan energi Han Yu mulai mengalir meruntuhkan seluruh pertahanan sistem meridian pundaknya, membuat tubuh seksinya lemas tak berdaya bersandar sepenuhnya di atas bidang dada kekar Han Yu yang berdiri di belakangnya.
"Aku menanyakannya karena aku ingin membantu Anda dan Yang Mulia Ratu untuk mengamankan kemenangan klan kita, Guru," Han Yu berbisik tepat di dekat telinga panjang Tetua Ling Er yang lancip, mengembuskan napas hangatnya di sana yang memicu gejolak hasrat membara di dalam rahim spiritual wanita itu. "Namun, sebelum aku turun ke medan perang, sudilah kiranya Guru kembali membantuku untuk menyempurnakan aliran meridian ungu di dalam tubuh aku sore ini..."
Tetua Ling Er mendongakkan wajah cantiknya yang telah basah oleh keringat spiritual tipis, menatap wajah tampan surgawi Han Yu yang sedang menatapnya dengan pandangan mata penuh dominasi kejam namun lembut. Segala bentuk aturan klan, batasan moral guru dan murid, serta kekhawatiran mengenai invasi manusia lenyap tak berbekas dari otaknya dalam sekejap mata, digantikan oleh rasa lapar yang luar biasa besar akan sentuhan fisik sang murid yang perkasa.
"L-lakukan sesukamu... Han Yu... aku adalah milikmu..." ucap Tetua Ling Er dengan nada suara yang teramat patuh, manja, dan dipenuhi penyerahan sukma tingkat seratus persen mutlak.
Han Yu menyeringai tampan penuh kemenangan. Tanpa membuang waktu lebih lama lagi, dia langsung membungkukkan tubuh tegapnya, menyusupkan kedua lengan kekarnya di bawah tubuh molek Tetua Ling Er untuk mengangkat tubuh matang yang seksi itu ke dalam gendongannya, lalu melangkah lebar menuju ke arah dipan sutra ungu di sudut ruang kitab, bersiap untuk kembali memulai ritual penyelarasan sukma gairah yang panas membara di sepanjang sisa sore itu demi memperkuat fondasi kekuatannya sebelum badai perang benua resmi meletus.