Bagaimana jadinya jika istri sah menjadi seorang pelakor, hanya karena ingin balas dendam pada sang suami?
Kaira wanita malang yang dibunuh dan dikubur hidup hidup oleh suaminya, kini menaruh dendam yang tak bisa di kendalikan.
Setelah pembunuhan itu terjadi, kaira masih bisa bertahan hidup karena Gina, sang sahabat yang menolongnya di waktu yang tepat.
Jika Gina tak datang mungkin Kaira sudah mati dengan perut yang ditusuk pisau dan suluruh tubuh yang tertibun tanah.
Setelah kejadian pembunuhan, Kaira kini merubah diri, ia sengaja melakukan operasi wajah dan seluruh badan agar terlihat seperti gadis pada umumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitri Arip, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
"Kamu tak usah marah marah begini," ucap Angga memarahi sang istri.
"Enak banget ya kamu kalau ngomong, aku marah marah seperti ini, karena kamu Angga. Aku datang ke kantor sendirian, naik taksi dengan perut yang mengandung anakmu ini. kamu ini nggak kasihan apa sama istri sendiri," balas Shireen menggerutu kesal dihadapan suaminya.
Aku yang masih membelakangi mereka, berusaha menahan tawa, menutup mulut.
"Ya aku tahu, tapi tak harus marah marah seperti ini juga, bikin malu saja tahu tidak."
Aku tak mau jika Shireen mengetahui keberadaanku, membuat aku mencoba melangkahkan kaki pergi dari hadapan mereka semua.
Namun langkah kakiku tiba-tiba terhenti, saat Shireen bertanya kepada suami. " ngapain kamu datang kesini? Jangan-jangan kamu membawa seorang wanita ke sini ya?"
Pertanyaan Shireen kini digubris oleh suaminya, " Wanita, siapa? Jangan ngaco kamu kalau ngomong. "
Tiba-tiba saja Shireen memanggilku. " Heh, kamu yang membelakangiku, sini kamu."
Namun Angga berusaha menahan istrinya untuk tidak memanggilku.
"Shireen, sudah ngapain kamu memanggil pelayan hotel itu, sebaiknya kita pulang."
Shireen kini menolak ajakan suaminya, ya tetap memanggil namaku.
Namun aku masih pada posisi tubuh yang membelakangi mereka, " kamu ini budek apa gimana sih?"
Aku mendengar langkah sepatu berhak tinggi yang dipakai Shireen mendekat ke arahku, membuat aku berusaha tetap tenang.
"Benar benar ini pelayan, tidak tahu diri banget."
Saat langkah kaki itu semakin dekat kepadaku, dengan sengaja aku menghitung mundur langkah kaki Shireen. " tiga, dua, satu. "
Brakkk ….. " Ahk, mas tolong aku sakit. "
Pada akhirnya wanita itu terjatuh karena, minyak yang sengaja kutumpahkan di atas lantai.
Aku bersorak hore di dalam hati, betapa sakitnya perut Shireen saat ini. Rasa sakit yang pernah aku rasakan dulu, saat Angga mendorong tubuhku dengan sengaja.
Aku mengira rencanaku akan gagal, Namun ternyata rencanaku berhasil.
Dari awal Angga mengajakku untuk bekerja di hotel, aku sudah mengirim sebuah lokasi pada Shireen.
Mengaku ngaku sebagai wanita simpanan Angga, " Ahk, sakit. "
"Shireen bertahan lah, aku yakin kamu pasti kuat. "
"Sakit, Angga. Cepat telepon ambulan. "
Aku tak tahu jika bayi itu bisa diselamatkan atau tidak, bagiku sekarang aku sudah membalaskan dendamku satu persatu.
Shireen mulai dibawa oleh Angga masuk ke dalam mobil, dimana mobil ambulans belum juga datang.
Kepergian mereka yang sudah lumayan jauh dari hadapanku, membuat aku membalikkan badan dan berkata. " ternyata menyenangkan juga, bisa membalaskan dendam pada orang-orang yang tidak mempunyai hati nurani seperti Angga dan juga Shireen. "
Lelaki yang menjadi pemilik Hotel itu, kini mendekat ke arahku dan berkata, " tolong bekerja dengan baik. "
Aku merasa tak suka dengan perlakuan pemilik Hotel itu, iya berani memegang kedua buah dada, membuat kakiku dengan refleks, menendang batangnya yang sangat berharga miliknya.
"Ahk."
"Maaf Pak, saya tak sengaja. "
Aku menutup mulut menahan tawa melihat bos besar di hotel meringis kesakitan.
Pak Bagus, mencoba melangkahkan kaki menjauh dari hadapanku, dengan punggung yang membungkuk. Merasakan sakit pada batangnya itu.
Aku melipatkan kedua tangan dan berkata dalam hati, " syukurin. "
Aku mulai bekerja di hotel mega yang aku tempati, dimana rasa bosan menyelimuti hati.
"Ahk, harusnya aku bekerja di perusahaan almarhum papah, ckk. Bukan disini."
Seharian ini aku belum mendapatkan kabar sama sekali, dari Angga akan keadaan istrinya yang aku rasa menyedihkan sekali.
Sepertinya Shireen, akan merasakan bagaimana rasanya kehilangan anaknya dalam perut. Aku ingin melihat reaksinya dan momen sedihnya di rumah sakit. Ahk, sayangnya aku malah di hotel bekerja.
Tring ….
Satu pesan datang, kedua mataku terbelalak melihat pesan dari Angga.
(Sore saya akan menjemputmu.)
Aku tersenyum sinis, senang jika Angga sudah mempedulikanku. Karena memang itu tujuanku sekarang.
(Tak usah Pak Angga, kasihan Bu Shireen, dia kan masuk ke rumah sakit. Bapak harus menjaganya dengan baik.)
Aku sengaja berpura pura baik, untuk bisa membuat Angga simpati padaku.
(Kamu sudah cantik baik lagi, tak apa, Shireen dari tadi kerjaannya melamun terus. Saya beri makan dia tak mau, sudah saya bujuk cemberut terus.)
Aku menyandarkan kepalaku pada tembok dan tertawa lepas. " Pastinya dia seperti itu, karena terpuruk. "
(Loh kok bisa?)
(Bayi dalam kandungan istri saya tak selamat, dan sekarang dia tak bisa lagi memberikan saya seorang keturunan.)
Wah, aku semakin bahagia sekali. Bisa mendengar kabar yang dialami Shireen.
(Ya ampun kasihan baget Bu Shireen, pasti dia terpuruk sekali.)
Aku benar benar puas dengan hasil yang aku kerjakan, dimana Shireen mampu dilumpuhkan.
(Kalau begitu, sekarang Saya datang ke tempat kerja, tunggu aku ya. )
Aku tertawa sambil memukul mukul atas lantai, melihat Angga yang tadinya ingin menjemputku sore, tapi sekarang dia akan datang.
Memangnya Angga itu laki laki ber*ngs*k, dimana ia mampu terpincut dengan wanita manapun.
********
"Sinta."
"Ahk, iya pak kenapa?"
Aku mulai bangkit dari tempat dudukku, dimana Bagus tiba tiba datang, " Sinta, sekarang jam kerja. Kenapa kamu malah duduk bersantai santai. "
Menganggkat kedua alis, lelaki tua itu kembali genit terhadapku. Tangannya begitu nakal, aku dengan sigap menghindar, sampai Bagus menarik tangan membuat aku ada dalam dekapannya.
"Sialan."
Aku melihat Lasmi, meminta bantuan padanya.
Memberikan kode mulut, untuk memukul kepala Bagus.
Ia setuju, menganggukkan kepala, perlahan berjalan dan.
Brakkk ....
"Ahk."
Bagus berteriak kesakitan, ia memegang kepalanya terjatuh ke atas lantai dan jatuh pingsan.
Mengelus dada berkata pada Lasmi, " makasih ya, kamu sudah menolongku. "
Lasmi tersenyum manis dan menjawab," tak apa apa, Bos Bagus memang selalu begitu pada pelayan di hotel, kadang kami selalu risih dan ingin pergi dari pekerjaan ini, tapi karena butuh uang kami .... "
Aku memegang bahu Lasmi mengerti apa yang dirasakan gadis beralis tebal itu.
"Kamu yang sabar ya. "
kedua mataku kini menatap tajam ke arah Bagus yang benar-benar keterlaluan, mel*c*hkan para pelayan sebuah kejahatan yang tak bisa diampuni.
Menarik tanganku untuk pergi dari ruangan istirahat para pegawai hotel," Ayo Mbak Sinta, sebaiknya kita pergi dari sini. Lasmi takut Bos Besar marah kepada kita dan malah memperlakukan kita tidak baik."
Aku menghempaskan tanganku, menghentikan langkah kaki yang terburu-buru pergi dari ruangan istirahat. " Lasmi kamu jangan takut seperti itu. Harusnya semua pelayan wanita disini melawan dengan pel*ch*n yang dilakukan Pak Bagus, agar Pak Bagus itu tak semena-mena lagi kepada kita. "
Lasmi menundukkan pandangan, ada raut wajah tak berani, untuk melakukan semua yang aku katakan. Sepertinya aku harus melaporkan kejadian ini agar tidak ada korban lagi.