NovelToon NovelToon
Penyesalan Ceo: Mantan Istriku Ternyata Konglomerat

Penyesalan Ceo: Mantan Istriku Ternyata Konglomerat

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Anak Genius / CEO
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Finus Ina

"Tandatangani ini dan pergilah dari rumahku! Anak haram di rahimmu itu bukan darah dagingku!"Devan Mahendra, CEO dingin penguasa bisnis kota, melempar surat cerai tepat di wajah Anya. Terhasut oleh fitnah kejam, Devan mengusir Anya yang sedang hamil tua di tengah badai malam. Anya pergi membawa luka sedalam lautan dan dianggap tewas dalam kecelakaan tragis

Lima tahun berlalu. Devan hidup dalam penyesalan setelah kebenaran terungkap. Namun, dalam sebuah perjamuan bisnis kelas atas, sosok wanita yang sangat mirip dengan mendiang istrinya muncul. Dia bukan lagi Anya yang miskin dan penurut, melainkan Anastasia Wijaya, putri tunggal pewaris takhta keluarga terkaya nomor satu, didampingi sepasang anak kembar yang berwajah sangat mirip dengan Devan

Saat Devan berlutut memohon ampun, Anya hanya tersenyum dingin, "Maaf, Tuan Mahendra. Anda salah orang."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Finus Ina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 13

happy reading guys

------------------------------

Bab 13: Sisa Harapan di Ruang Sunyi

Satu bulan telah berlalu sejak malam badai sabotase di pesisir utara Jakarta yang mengerikan itu.

Roda takdir berputar dengan begitu cepat sekaligus kejam.

Siska Amalia kini telah resmi mendekam di sel tahanan berkat tumpukan bukti kejahatan dan fitnah masa lalu yang dibongkar habis oleh tim pengacara Wijaya Corps.

Sementara itu, Mahendra Group berada di ujung tanduk kehancuran finansial, perlahan mulai diambil alih asetnya oleh Anastasia Wijaya sebagai bentuk pembalasan mutlak yang terstruktur.

Namun, di sudut lain kota, waktu seolah berhenti berputar di dalam ruang perawatan intensif Rumah Sakit Pusat Pusat Jakarta.

Anastasia Wijaya berdiri di dekat jendela besar ruang kerjanya yang mewah, menatap lanskap gedung-gedung pencakar langit dengan pandangan kosong.

Di atas meja marmernya, sebuah gawai pintar baru saja diletakkan setelah menerima panggilan telepon dari Rian, asisten pribadi Devan Mahendra, beberapa menit yang lalu.

Suara bariton Rian yang bergetar penuh keputusasaan masih terngiang jelas di indra pendengaran Anastasia.

"Nona Anastasia, saya memohon maaf karena lancang menghubungi Anda secara pribadi," ucap Rian di seberang telepon dengan nada parau.

"Satu bulan sudah berlalu sejak operasi besar malam itu, namun Tuan Devan masih belum menunjukkan tanda-tanda akan sadar dari komanya. Dokter spesifikasi saraf menyatakan bahwa masa kritisnya telah lewat, namun Tuan Devan seolah sengaja menutup diri dari dunia luar. Organ tubuhnya melemah karena ia kehilangan keinginan untuk bertahan hidup."

Rian sempat terdiam sejenak sebelum melepaskan sisa egonya demi sang atasan.

"Tim medis menyarankan agar ada stimulasi emosional dari orang-orang terdekatnya di masa lalu. Saya tahu Tuan Devan memiliki dosa yang teramat besar pada Anda, Nona. Namun, sebagai asistennya yang melihat bagaimana hancurnya hidup beliau selama lima tahun ini karena meratapi kematian Anda... saya memohon belas kasihan Anda. Setidaknya, izinkan putra-putra beliau datang sekali saja."

Anastasia menarik napas dalam-dalam, mencoba meredam gejolak aneh yang mendadak merayap di ulu hatinya.

Informasi tentang Devan yang terbaring bagaikan mayat hidup selama sebulan penuh tidak memicu rasa puas atau kemenangan di hatinya.

Yang tersisa hanyalah sebuah kekosongan yang hambar. Kebenciannya yang semula membara laksana api, kini perlahan meredup menjadi abu yang dingin.

"Mami..."

Sebuah tarikan lembut pada ujung blazer formalnya membuyarkan lamunan Anastasia.

Ia membalikkan badan, mendapati sepasang putra kembarnya sudah berdiri di sana.

Arka menatapnya dengan pandangan mata bulat yang polos, sementara Alta berdiri di sampingnya dengan tangan yang disembunyikan di dalam saku celana, menunjukkan ekspresi dewasa yang teramat familier.

Rupanya, kedua bocah genius itu tidak sengaja menguping percakapan telepon Anastasia dengan Rian sejak awal.

"Mami... apakah paman berwajah mirip denganku itu akan segera pergi ke langit?"

tanya Arka, suaranya yang cempreng kini terdengar bergetar menahan kesedihan khas anak kecil.

"Kata Bibi pengasuh, orang yang tidak mau bangun dari tidurnya di rumah sakit adalah orang yang sedang bersiap untuk pergi jauh. Paman itu... dia terluka karena melindungi Kak Alta dari orang jahat, kan?"

Anastasia tercekat, seluruh persendian tubuhnya mendadak kaku laksana membeku. Ia berlutut di atas karpet tebal, menyamakan tinggi badannya dengan kedua buah hatinya.

"Arka... Alta..."

Alta yang sejak tadi diam, perlahan melangkah maju.

Sepasang netra elangnya yang tajam menatap langsung ke dalam manik mata Anastasia dengan ketegasan yang luar biasa.

"Alta tahu siapa pria itu, Mami. Dia adalah pria yang ada di dalam kliping koran lama milik Kakek. Dia... adalah orang yang pernah membuat Mami menangis setiap malam selama lima tahun ini."

Mendengar penuturan putra sulungnya, air mata Anastasia nyaris luruh.

Namun, kalimat Alta berikutnya justru menghantam telak pertahanan mentalnya.

"Alta pernah sangat membencinya karena dia membuat Mami menderita," ucap Alta, suaranya terdengar begitu datar namun sarat akan kedewasaan batin yang matang.

"Tapi malam itu, di tangga darurat... Alta melihat sendiri bagaimana dia memelukku dari penculik. Dia tidak memedulikan pisau yang menusuk perutnya demi menahan pakaianku agar tidak dibawa pergi. Alta melihat darahnya... banyak sekali."

Alta menurunkan pandangannya, menatap jemari kecilnya sendiri yang meremas kain celananya.

"Kakek pernah mengajarkan Alta tentang keadilan. Pria itu sudah membayar kesalahannya dengan darahnya sendiri untuk melindungi Alta. Jadi... Alta tidak ingin dia mati sebelum Alta bisa berbicara dengannya secara adil."

"Arka juga tidak mau paman itu pergi, Mami... Arka tidak tega," sahut Arka yang akhirnya meneteskan air mata, ikut memeluk lengan kanan Anastasia dengan erat.

Melihat kelembutan hati putra-putranya yang bersedia memaafkan ayah kandung mereka sendiri demi sebuah rasa kemanusiaan dan keadilan, dinding batu di hati Anastasia akhirnya runtuh seutuhnya.

Ketulusan anak-anaknya meruntuhkan seluruh ego dendam yang ia pelihara selama lima tahun.

Jika Alta dan Arka yang menjadi korban penelantaran saja memiliki kelapangan hati untuk merasa tidak tega, lalu atas dasar apa ia harus terus mempertahankan kebenciannya?

Anastasia menyeka air mata di pipi Arka dengan lembut, lalu mengecup kening kedua putranya secara bergantian.

"Baiklah. Ganti pakaian kalian. Mami akan membawa kalian ke rumah sakit untuk menjenguk... ayah kalian."

------------------------------

Tiga puluh menit kemudian, sebuah limosin putih milik Wijaya Corps berhenti di pelataran parkir khusus VIP Rumah Sakit Pusat Jakarta.

Anastasia melangkah keluar dengan keanggunan seorang ratu bisnis yang tangguh, menggandeng erat tangan Alta di sisi kanan dan Arka di sisi kiri.

Langkah kaki mereka yang terdengar tegas di atas lantai selasar rumah sakit menarik perhatian beberapa staf medis,

namun pengawalan ketat dari Wijaya Corps memastikan privasi mereka tetap terjaga mutlak.

Saat tiba di depan pintu kaca tebal ruang ICU terisolasi, Rian yang sedang duduk dengan raut wajah frustrasi langsung bangkit berdiri.

Sepasang mata asisten pribadi itu melebar sempurna, rasa tidak percaya sekaligus haru yang amat sangat seketika menguasai dirinya saat melihat kedatangan Anastasia bersama sepasang anak kembar Devan.

"Nona Anastasia... Anda... Anda bersedia datang?" suara Rian bergetar hebat, ia membungkuk hormat sedalam-dalamnya hingga kepalanya nyaris menyentuh lutut.

"Terima kasih... Terima kasih banyak atas belas kasihan Anda."

Anastasia hanya mengangguk datar, menepis seluruh drama emosional tersebut dengan sikap profesionalnya.

"Bagaimana prosedurnya? Apakah anak-anak diizinkan masuk?"

"Dokter sudah memberikan izin khusus, Nona. Kamar ini sudah disterilisasi. Silakan masuk," jawab Rian dengan sigap sembari membukakan pintu akses elektronik.

Suasana di dalam ruang ICU itu begitu sunyi, hanya didominasi oleh bunyi ritmis yang teratur dari mesin patient monitor yang menampilkan grafik detak jantung yang lemah.

Di atas ranjang perawatan yang putih, Devan Mahendra terbaring kaku dengan tubuh yang dipenuhi selang medis dan alat bantu pernapasan.

Wajah tampannya yang dulu selalu memancarkan keangkuhan dan dominasi mutlak, kini tampak sangat tirus, pucat, dan tanpa warna—bagaikan sebuah cangkang kosong yang kehilangan jiwa di dalamnya.

Anastasia melangkah perlahan mendekati tepi ranjang, berdiri mematung sembari menatap mantan suaminya.

Melihat kondisi Devan yang begitu mengenaskan, tidak ada rasa puas di hatinya.

Yang ada hanyalah sebuah keheningan batin yang pekat.

Alta dan Arka melangkah maju secara bersamaan.

Arka yang bertubuh lebih pendek terpaksa menjinjitkan kakinya untuk bisa menggapai jemari tangan kanan Devan yang terbebas dari selang infus.

Jemari Devan terasa begitu dingin dan kaku.

"Paman... ini Arka," bisik Arka lembut, air mata polos anak itu menetes mengenai permukaan kulit tangan Devan.

"Arka dan Kak Alta sudah aman di sini bersama Mami. Paman jangan tidur terus, ayo bangun... Arka mau melihat paman tersenyum."

Alta berdiri di samping adiknya, sepasang netra elangnya menatap lurus ke arah wajah pucat Devan.

Bocah genius itu perlahan mengulurkan tangan mungilnya, menyentuh pergelangan tangan Devan yang dipenuhi bekas luka goresan malam badai.

"Tuan Devan Mahendra," suara Alta terdengar begitu tegas dan jelas di dalam ruangan sunyi itu.

"Aku... Alta Wijaya, anak yang Anda lindungi malam itu. Saya datang ke sini bersama Mami bukan untuk melihat Anda menyerah seperti ini. Jika Anda benar-benar menyesali kesalahan Anda di masa lalu, bangunlah... dan buktikan penyesalan itu kepada kami secara ksatria, bukan dengan bersembunyi di dalam mimpi."

Suasana di dalam ruang ICU terisolasi itu mendadak terasa kian hening setelah kalimat tegas yang keluar dari bibir mungil Alta selesai diucapkan.

Anastasia Wijaya mematung di sisi ranjang, menatap lurus ke arah wajah pucat mantan suaminya dengan detak jantung yang mendadak berdegup tidak beraturan.

Satu detik... dua detik... keheningan itu mendadak dipecahkan oleh perubahan bunyi ritmis dari mesin patient monitor.

Grafik detak jantung Devan yang semula berupa garis naik-turun yang lemah dan melambat, tiba-tiba melonjak naik dengan frekuensi yang kian cepat dan dinamis.

Pip... Pip... Pip... Pip!

Anastasia menahan napasnya seketika, seluruh persendian tubuhnya mendadak kaku.

Di balik kaca besar ruangan, Rian yang menyaksikan hal itu langsung menempelkan kedua tangannya ke kaca dengan sepasang mata yang melebar sempurna karena terkejut.

Keajaiban medis yang selama satu bulan ini dinantikan, seolah mendadak terjadi tepat di hadapan mereka.

Sepasang kelopak mata Devan yang tertutup rapat laksana batu selama sebulan penuh, kini mulai bergerak-gerak kecil secara intens di bawah alisnya yang bertaut.

Gurat ketegangan yang samar mendadak muncul di dahi tirus sang CEO, seolah jiwanya sedang berjuang hebat di dalam kegelapan alam bawah sadar untuk menembus dinding komanya.

"Mami... lihat! Tangan Paman bergerak!" pekik Arka dengan suara cemprengnya yang berbisik, menunjuk ke arah jemari tangan kanan Devan yang berada di dalam genggaman kecilnya.

Jemari tangan Devan yang semula terasa sedingin es dan kaku, perlahan memberikan sebuah gerakan refleks yang sangat nyata.

Pria itu meremas balik telapak tangan mungil Arka dengan sisa kekuatan ringkihnya, seolah ia sedang mencoba mencengkeram erat satu-satunya jangkar kehidupan yang baru saja ia temukan kembali di dunia nyata.

Bersamaan dengan remasan lemah itu, setitik air mata bening perlahan mengalir keluar dari sudut netra elang Devan yang masih terpejam, membasahi kulit pipinya yang pucat tanpa warna.

Napas Devan yang selama sebulan ini sepenuhnya diatur oleh mesin ventilator, mendadak memburu secara mandiri.

Dadanya naik-turun dengan tidak teratur, membuat indikator tabung oksigen darurat di samping ranjang mulai mengeluarkan bunyi alarm peringatan karena adanya lonjakan aktivitas saraf yang ekstrem secara mendadak.

Bzzz... Bzzz... Bzzz...

"Dokter! Sinyal kesadaran Tuan Devan melonjak drastis! Detak jantungnya tidak stabil!"

Rian berteriak panik dari luar ruangan, melambaikan tangannya dengan histeris memanggil tim dokter spesialis saraf yang berjaga di koridor luar.

Pintu kaca ICU mendadak didorong terbuka secara manual dengan sentakan keras.

Tiga orang dokter kepala bersama dua perawat senior merangsek masuk ke dalam ruangan dengan raut wajah yang dipenuhi ketegangan maksimal.

"Nona Anastasia, mohon maaf! Anda dan anak-anak harus segera meninggalkan ruangan ini sekarang juga!"

perintah dokter kepala dengan nada suara yang meninggi penuh penekanan sembari menyiapkan alat kejut jantung dan memeriksa pupil mata Devan menggunakan senter medis.

"Pasien mengalami guncangan kesadaran yang terlalu masif! Tekanan darahnya meningkat drastis ke ambang batas berbahaya! Ini bisa memicu pecahnya pembuluh darah jika tidak segera ditangani!"

"Mami...!"

Arka mulai ketakutan melihat kegaduhan para medis yang bergerak cepat mengelilingi ranjang Devan, refleks mundur dan memeluk erat pinggang Anastasia.

Sementara itu, Alta tetap berdiri mematung di tempatnya.

Sepasang netra elang bocah kecil itu menatap lurus menembus barikade tubuh para dokter yang sedang sibuk menyuntikkan obat penenang ke dalam selang infus Devan.

Alta melihat dengan jelas bagaimana tubuh tegap Devan sempat menegang dan bergetar hebat di atas ranjang, sebelum akhirnya bunyi alarm mesin monitor detak jantung berdengung panjang dalam satu nada yang mengerikan.

Tiiiiiiiiiiiiiiiiiiinnnnnn...

Darah Anastasia seolah berhenti mengalir seketika mendengar dengungan panjang tersebut.

Kepanikan yang luar biasa mendadak merayap di ulu hatinya, mengalahkan seluruh ego kebencian yang ia miliki.

Pria yang selama lima tahun ini ia kutuk, kini sedang berada tepat di garis tipis antara hidup dan mati di depan matanya sendiri.

"Hendra! Bawa anak-anak keluar sekarang!" perintah Anastasia dengan suara yang bergetar hebat menahan badai emosi yang membakar dadanya.

Hendra dengan sigap langsung merangkul Alta dan Arka, menggiring kedua bocah itu keluar dari ruangan yang kian mencekam.

Anastasia melangkah mundur perlahan mendekati pintu keluar, pandangan matanya sama sekali tidak bisa beralih dari sosok Devan yang sedang dipasangkan masker oksigen tambahan oleh tim medis yang terus berteriak panik memberikan instruksi darurat.

Malam itu, di dalam ruang sunyi yang mendadak berubah menjadi medan pertempuran medis, takdir Devan Mahendra benar-benar tergantung di ujung tanduk yang paling kritis.

Panggilan dari sepasang putra kembarnya berhasil mengusik tidurnya, namun guncangan emosional itu justru membawa tubuh ringkihnya menuju ambang batas kematian yang mematikan,

menyisakan misteri besar tentang apakah sang CEO akan berhasil membuka matanya kembali atau justru mengembuskan napas terakhirnya tepat di hadapan wanita yang paling dicintainya.

------------------------------

1
Ifana
padahal kk nya dipenjara, siapa orang dibalik menghilang nya Siska 🤔
Anonim
AWOKAWOK CERITA BALIKAN LAGI AWOKAWOK LAWAK
Finus Ina
👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!