Demi menyelamatkan ayahnya dari lilitan utang, Arunika Maheswari terpaksa menggantikan kakaknya menikah dengan Arsen Valentino, seorang CEO sekaligus Raja Mafia paling berkuasa. Pernikahan yang berawal dari keterpaksaan itu membawa Arunika masuk ke dunia penuh rahasia, pengkhianatan, dan perebutan kekuasaan yang mengancam nyawanya setiap saat.
Di tengah bahaya yang terus mengintai, hubungan mereka perlahan berubah menjadi cinta yang tak terduga. Namun, mampukah Arunika bertahan sebagai istri sang Raja Mafia, atau justru menjadi kelemahan terbesar yang akan menghancurkan Arsen?
Disclaimer : Novel ini dibuat semata-mata untuk hiburan. Seluruh isi cerita merupakan imajinasi penulis dan tidak untuk ditiru atau dipraktikkan dalam kehidupan nyata. Penulis tidak bertanggung jawab atas segala bentuk penyalahgunaan isi novel di luar tujuan sebagai bacaan hiburan.
Terima kasih dan selamat menikmati cerita. ❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahrul Mulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20: Takhta yang Tercabik
Kegelapan yang menelan aula pertemuan kastil Volkov bukan sekadar hilangnya cahaya, melainkan sebuah lonceng kematian yang berdentang nyaring. Di dalam gulita yang mencekam itu, suara jeritan panik para dewan tetua Rusia berbaur dengan deru langkah kaki yang kacau dan benturan kursi-kursi kayu jati yang roboh. Bau mesiu yang tajam seketika merebak, memotong hawa dingin Saint Petersburg yang menyusup dari celah jendela.
Arunika merasakan hembusan napas berat berbau alkohol dan darah tepat di belakang lehernya. Cengkeraman tangan raksasa berlapis bulu beruang itu begitu kuat, menekan bahu kirinya hingga dia bisa mendengar bunyi gemertak halus dari tulang selangkangnya. Rasa sakit itu menyengat, memicu kembali trauma malam panjang yang belum juga usai.
*“Sandiwara para Valentino selesai malam ini, Valeria kecil... Sang Raja Rusia yang asli tidak pernah membiarkan asetnya dicuri oleh sepasang anak haram...”*
"Alexei..." desis Arunika, suaranya tercekat di tenggorokan.
Bagaimana mungkin? Pria raksasa itu seharusnya sudah hancur menjadi serpihan daging bersama runtuhnya pusara suci di Indonesia. Namun kini, bayangan maut itu kembali nyata, menculik kesadarannya langsung dari bawah hidung Arsen Valentino. Alexei tidak sekadar selamat; dia bergerak seperti hantu kelaparan yang menuntut balas atas lengannya yang hancur.
*Duar! Bang!*
Kilatan cahaya dari moncong senjata api meletus bertubi-tubi di sudut ruangan, memotong kegelapan selama beberapa milidetik. Dalam kilatan instan itu, Arunika bisa melihat siluet Arsen bergerak dengan kecepatan mengerikan.
Pria itu mengayunkan senapan serbunya, menembak mati dua pengawal Rusia yang mencoba menghalangi jalurnya. Sepasang mata elang Arsen berkilat menembus malam, lurus mengarah ke posisi kursi Arunika.
"Lepaskan dia, Alexei!" geram Arsen, suaranya bergaung seperti guntur yang membelah aula, sarat akan dominasi yang mutlak.
Namun Alexei Volkov hanya tertawa rendah—sebuah suara parau yang dipenuhi racun kegilaan. Dengan satu sentakan kasar, dia menyeret tubuh Arunika mundur menuju ke arah pintu rahasia di balik panel dinding kayu yang terbuka. Tubuh ramping Arunika yang dibalut jubah beludru hitam terseret kaku di atas lantai marmer, sepatunya menyandung botol-botol wine tua hingga pecah berantakan.
"Jika kau melangkah satu tapak lagi, Arsen, aku akan meremukkan leher adik tiri kesayanganmu ini!" ancam Alexei gila.
Emosi di dalam ruangan itu berada di titik didih, naik turun dengan ekstrem layaknya ombak badai. Arunika, yang semula mengira dirinya telah mati rasa setelah mengetahui kebenaran bahwa dia adalah seorang Valentino, mendadak merasakan gelombang keputusasaan yang baru.
Dia terjebak di antara dua monster. Kakak tirinya yang menganggapnya sebagai jaminan bisnis, dan paman tirinya yang menggunakannya sebagai tameng hidup. Rasa benci, jijik, dan amarah defensif bergolak hebat di dalam dadanya, membuatnya ingin berteriak meluapkan seluruh rasa sakit dari kehidupannya yang palsu.
Tiba-tiba, dari arah kegelapan di sisi kanan meja bundar, sebuah suara tembakan yang berbeda meletus.
*Blam!*
Peluru itu melesat bukan ke arah Arsen, melainkan tepat menghantam bahu kanan Alexei Volkov. Pria raksasa itu meraung kesakitan, cengkeramannya pada bahu Arunika terlepas seketika. Arunika terpelanting jatuh ke lantai marmer yang dingin, terbatuk-batuk menghirup udara malam yang pekat.
Melalui sisa kilatan tembakan, sosok yang menarik pelatuk itu melangkah maju. Itu adalah Valeria Baskoro. Wanita bergaun putih salju itu berdiri dengan sepasang mata cerdik yang memancarkan kilatan amarah yang luar biasa dingin. Di tangan kanannya, sebuah pistol perak kecil masih mengeluarkan asap tipis.
"Kau tidak akan membawa Arunika pergi, Alexei," ucap Valeria, suaranya terdengar begitu merdu namun sarat akan intrik mematikan. "Janin di dalam rahimku ini membutuhkan kode genetik murni dari tubuhnya untuk menyempurnakan warisan Volkov. Kau hanyalah sisa masa lalu yang gagal. Minggir dari jalanku!"
Mendengar pengakuan biadab dari mulut Valeria, emosi pembaca dipastikan terkoyak. Hubungan persaudaraan yang selama dua puluh dua tahun ini Arunika agungkan, ternyata benar-benar tidak lebih dari sebuah kalkulasi laboratorium yang menjijikkan. Valeria tidak melihatnya sebagai adik, melainkan sebagai bank organ dan inang biologis yang harus dia peras hingga tetes darah terakhir.
"Jalang kecil!" kutuk Alexei, wajahnya yang penuh bekas luka bakar tampak kian mengerikan di bawah temaram lampu darurat merah yang mulai menyala berkedip-kedip. Pria raksasa itu menerjang Valeria dengan sisa kekuatannya, berniat meremukkan kepala wanita itu dengan tangan kirinya yang masih utuh.
Baku tembak massal akhirnya pecah total di dalam aula pertemuan kastil Volkov. Para tetua mafia Rusia yang ketakutan saling tembak dengan pasukan elit aliansi barat yang dipimpin oleh Marco. Suara serpihan kayu jati yang hancur, pecahan kaca jendela yang rontok akibat hantaman peluru, dan erangan kematian bergaung memenuhi udara malam Saint Petersburg.
Arsen Valentino memanfaatkan momentum kekacauan itu dengan sangat taktis. Pria itu melesat maju, mengabaikan hujan peluru yang memantul di sekelilingnya. Dia menyambar tubuh Arunika dari atas lantai, menariknya berlindung di balik pilar batu besar yang menopang langit-langit aula.
"Kau aman, Valeria," bisik Arsen di dekat rungu Arunika, suaranya sedingin es namun memiliki daya ikat mutlak yang menenangkan detak jantung gadis itu. Pria itu segera memeriksa kondisi bahu kiri Arunika, memastikan bahwa luka lamanya tidak kembali berdarah akibat pergulatan tadi.
Arunika mendongak, menatap lurus ke dalam sepasang mata elang Arsen yang berada beberapa sentimeter di depan wajahnya. "Kenapa kau tidak membiarkan Alexei membunuhku, Arsen? Bukankah darah Valentino di dalam tubuhku ini adalah kutukan yang menjijikkan untukmu?"
Arsen menyunggingkan sebuah seringai kejam yang dipenuhi oleh perhitungan politik dunia hitam. Pria itu mendekatkan wajahnya, embusan napasnya yang hangat terasa di pipi Arunika yang beku. "Kutukan atau bukan, kau adalah milikku, adik kecilku yang malang. Dan tidak ada satu pun orang di dunia ini—termasuk Boris Volkov—yang boleh menghancurkan properti milik Arsen Valentino sebelum aku menyetujuinya."
Kekosongan emosi di dalam dada Arunika perlahan berganti menjadi sejenis kegelapan baru yang kian mengkristal. Dia tidak lagi peduli pada dosa inses terencana yang dirancang oleh paman mereka. Jika dinasti Valentino ini adalah neraka, maka dia akan memastikan dirinya menjadi ratu yang akan membakar seluruh musuhnya di dalam api yang sama.
"Tuan Arsen! Boris Volkov mencoba melarikan diri lewat jalur dermaga danau yang membeku!" teriah Marco melalui alat komunikasi, suaranya terputus-putus akibat gangguan sinyal elektromagnetik yang kian parah.
Arsen menegakkan tubuhnya, tatapan matanya kembali terkunci pada jalur pintu rahasia di ujung aula. Boris Volkov, arsitek iblis yang telah memalsukan seluruh hidup mereka, sedang mencoba lolos sekali lagi. Pria tua itu tidak boleh dibiarkan keluar dari Saint Petersburg hidup-hidup.
"Ikut aku," perintah Arsen pada Arunika.
Mereka berlari menyusuri koridor rahasia kastil yang menurun tajam menuju ke arah ruang bawah tanah yang terhubung langsung dengan dermaga luar. Suara pertempuran di aula lantai dua perlahan memudar, digantikan oleh suara deru angin badai salju yang kencang dari arah pintu keluar dermaga.
Ketika mereka melangkah keluar menembus badai salju, pemandangan di depan mereka tampak begitu luas dan membeku. Danau Saint Petersburg telah sepenuhnya berubah menjadi hamparan es putih yang tebal. Di ujung dermaga kayu yang tertutup salju, sebuah kendaraan seluncur es militer berkekuatan tinggi tampak sudah menyala dengan lampu depan yang menembus kabut es.
Boris Volkov berdiri di sana, mantel jas hitamnya berkibar ditiup angin badai. Di sampingnya, Valeria Baskoro memegangi perutnya yang ramping dengan wajah yang dipenuhi oleh ketegangan politik yang memuncak.
"Boris!" teriak Arsen, suaranya membelah gemuruh badai salju, menghentikan gerakan pria paruh baya itu tepat sebelum dia naik ke atas kendaraan seluncur.
Boris Volkov membalikkan tubuhnya dengan lambat. Sepasang mata keruhnya yang penuh intrik menatap Arsen dan Arunika dengan sebuah senyuman kejam yang amat mengerikan. Tidak ada sedikit pun ketakutan di wajah pria tua yang telah menembak mati Katarina Vane di Paris itu.
"Kau sangat gigih, Arsen," ucap Boris, suaranya terdengar parau menembus angin malam yang dingin. "Kau membawa adik kandungmu sendiri ke sini untuk menyaksikan akhir dari dinastimu? Sungguh sebuah reuni keluarga yang sangat menyentuh hati."
Arunika melangkah maju dari balik punggung Arsen, sepatu bot taktisnya menginjak lapisan es dengan kokoh. Jemarinya mencengkeram erat belati beracun di tangannya, matanya menatap Boris dengan pandangan hampa yang mematikan. "Sandiwara dua puluh dua tahunmu selesai malam ini, 'Ayah'. Kau mengira kau bisa membangun imperium baru dari darah kami? Kau salah besar."
Boris Volkov justru tertawa rendah—sebuah tawa manipulatif yang terdengar begitu tenang di tengah badai. Pria tua itu merogoh saku mantelnya, mengeluarkan sebuah gawai pengontrol digital kecil berbentuk silinder perak.
"Kau mengira aku melarikan diri karena aku kalah, Arunika yang bodoh?" tanya Boris, sepasang matanya berkilat oleh kepuasan kemenangan mutlak yang mengerikan. "Aku memancing kalian berdua ke danau yang membeku ini karena ini adalah satu-satunya tempat yang berada di luar jangkauan radar *EMP* milik Arsen."
Boris menekan satu tombol merah di atas silinder perak tersebut.
Detik itu juga, sebuah suara dengung elektronik berfrekuensi tinggi yang sangat keras mendadak menggema dari arah bawah lapisan es danau tempat mereka semua berdiri. Di bawah permukaan es setebal satu meter itu, ratusan lampu indikator dari ranjau peledak bawah air milik militer Rusia mendadak menyala secara serentak, memancarkan pendar cahaya hijau maut menembus lapisan es yang putih.
Arsen Valentino tertegun, sepasang mata elangnya melebar melihat sistem ranjau masif yang mengunci seluruh area danau. Jangkauan ledakan dari ratusan ranjau di bawah es ini tidak hanya akan menghancurkan dermaga, melainkan akan meruntuhkan seluruh kastil Volkov dan menenggelamkan mereka semua ke dalam air es sedalam puluhan meter yang mematikan.
"Selamat tinggal, para Valentino yang malang," bisik Boris Volkov dingin.
Namun, tepat sebelum Boris sempat mengaktifkan detonator utama untuk memicu ledakan massal tersebut, Valeria Baskoro yang berdiri di sampingnya tiba-tiba bergerak dengan gerakan yang sangat tidak terduga. Wanita bergaun putih itu merenggut silinder pengontrol dari tangan pamannya sendiri, lalu mengarahkan sebuah belati kecil tepat ke arah leher Boris Volkov dari belakang.
Wajah cantik Valeria kini dipenuhi oleh air mata keputusasaan yang bercampur dengan kegilaan intrik politik yang kian menggila. Dia menatap Arunika dan Arsen dengan tatapan yang sarat akan teka-teki baru yang mengejutkan.
"Permainan paman ini terlalu lambat, Arsen..." ucap Valeria, suaranya bergetar hebat di tengah badai salju. "Dia ingin menghancurkan tempat ini, tapi aku... aku memiliki penawaran yang jauh lebih baik untukmu di balik rahimku ini."
Valeria menekan sebuah tombol baru pada silinder pengontrol, mengubah hitungan mundur ranjau bawah air menjadi sistem aktivasi otomatis yang terkunci pada detak jantungnya sendiri. Jika jantung Valeria berhenti berdetak, maka seluruh danau Saint Petersburg akan meledak hancur dalam sekejap.
Di tengah situasi gila yang berada di ujung tanduk tersebut, sebuah suara gemuruh helikopter militer hitam tanpa logo kenegaraan tiba-tiba muncul dari balik kabut badai salju di atas danau, menurunkan sebuah tali evakuasi taktis tepat di atas posisi Valeria dan Boris berdiri. Dan dari dalam pintu kabin helikopter yang terbuka, sesosok pria paruh baya mengenakan jubah putih khas laboratorium melongokkan kepalanya ke bawah—seorang pria yang wajahnya sangat identik dengan mendiang ayah Arsen, Haryo Valentino, yang seharusnya sudah wafat dua belas tahun lalu.
_____________________________
**Bersambung ke Bab 21...**
*Siapakah sebenarnya pria paruh baya di dalam helikopter militer yang memiliki wajah sama persis dengan mendiang ayah Arsen Valentino? Apakah Haryo Valentino sebenarnya masih hidup dan memalsukan kematiannya selama dua belas tahun ini untuk menjadi dalang sejati di balik seluruh rekayasa genetika faksi Eclipse? Dan bagaimanakah Arsen bersama Arunika akan merebut kembali kendali atas ranjau detak jantung Valeria sebelum badai salju menenggelamkan takhta mereka ke dasar danau yang membeku? Tunggu kelanjutan kisahnya yang semakin memanas dan penuh plot twist luar biasa di bab berikutnya!*