NovelToon NovelToon
Terjebak Di Kamar Presdir Kejam

Terjebak Di Kamar Presdir Kejam

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mafia / CEO
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Maya sabir

Milly, seorang pelayan hotel yang polos dan akan berubah menjadi mimpi buruk. Saat membersihkan Penthouse mewah milik Arkananta Mahendra presdir muda yang terkenal kejam, perfeksionis, dan tak tersentuh ia justru menemukan sang Presdir tergeletak tak berdaya akibat racun, tepat di bawah ranjangnya.
Sialnya, Milly memegang gelas beracun itu tepat saat pengawal masuk. Dituduh sebagai pembunuh bayaran, Milly disekap oleh Arkan yang selamat dari masa kritis. Namun, alih-alih menyerahkannya ke polisi, Arkan yang paranoid terhadap musuh bisnisnya justru memanfaatkan kecerobohan Milly.
"Kau punya dua pilihan, Gadis Ceroboh. Membusuk di penjara atas tuduhan pembunuhan, atau menjadi istri kontrakku untuk memancing musuhku keluar."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya sabir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 5

Semburat merah fajar belum sepenuhnya mengusir kegelapan malam ketika Arkan melepaskan kuncian tangannya pada pergelangan tangan Milly. Ketegangan romantis yang sempat membakar udara di atas ranjang king-size itu mendadak surut, digantikan kembali oleh aura dingin sang penguasa bisnis.

Arkan berdiri, merapikan kemeja hitamnya yang kini ternoda darah dan sedikit kusut. "Tetap di kamar ini. Jangan menyentuh apa pun, dan jangan berani melangkah keluar sebelum aku kembali," perintahnya datar, tanpa memberikan kesempatan bagi Milly yang masih membeku dengan wajah merah padam untuk menjawab.

Dengan langkah tegap, Arkan keluar dari kamar dan langsung menuju sayap kiri mansion, tempat sebuah lift privat membawanya turun ke ruang interogasi bawah tanah.

Krieeet...

Pintu besi berat terbuka. Aroma karat, darah, dan semen basah langsung menyengat indra penciuman. Di tengah ruangan, di bawah sorot lampu tunggal yang temaram, seorang pria bertopi hitam mata-mata yang mengacau di aula konferensi pers kini terikat lemas di kursi besi dengan wajah penuh lebam. Bara berdiri siaga di sampingnya, memegang sepasang sarung tangan kulit yang berlumuran bercak merah.

"Tuan," Bara membungkuk hormat begitu melihat Arkan masuk. "Dia masih bungkam. Tapi kami menemukan ponsel enkripsi khusus di sakunya."

Arkan berjalan mendekat. Langkah sepatunya memecah keheningan ruangan bawah tanah dengan ketukan yang mengintimidasi. Ia mencengkeram rambut pria bertopi itu, memaksa kepalanya mendongak.

"Siapa yang mengirimmu?" suara Arkan sangat rendah, hampir berupa bisikan, namun sarat akan ancaman kematian. "Keluarga Wijaya? Atau para pemegang saham pemberontak di Mahendra Group?"

Pria itu terbatuk, meludahkan darah ke lantai. "K-Kau pikir... kau bisa menang, Arkananta? Gadis pelayan itu... dia akan menjadi tiket kematianmu. Bosku tidak akan berhenti sampai dia hancur..."

Mata elang Arkan menyipit berbahaya. Cengkeramannya mengencang hingga pria itu meringis kesakitan. "Bara, gunakan cara kedua. Aku ingin nama bajingan itu mendarat di mejaku sebelum matahari terbit sempurna. Jika dia menolak bicara, patahkan satu per satu jari tangannya."

"Dimengerti, Tuan."

Arkan berbalik, melangkah keluar dari kegelapan bawah tanah dengan amarah yang tertahan. Musuhnya benar-benar mengira Milly adalah kelemahannya. Skenario tameng ini bekerja terlalu baik, namun entah mengapa, membayangkan tikus-tikus itu mengincar nyawa gadis ceroboh di kamarnya membuat dada Arkan bergemuruh oleh rasa posesif yang asing.

Pukul delapan pagi, sinar matahari mulai menembus jendela besar kamar utama. Milly mengerang pelan, mengerjapkan matanya yang terasa berat. Semalaman ia tidak bisa tidur nyenyak setelah insiden canggung di atas ranjang Arkan. Beruntung, pria itu tidak kembali ke kamar sepanjang malam.

Setelah membersihkan diri dan mengganti pakaiannya dengan gaun kasual rumahan yang sudah disiapkan di lemari, Milly berjalan turun ke ruang makan dengan langkah ragu-ragu. Perutnya sudah berbunyi minta diisi.

Di ujung meja makan panjang berbahan marmer putih, Arkan sudah duduk dengan anggun. Pria itu telah berganti pakaian menggunakan kemeja putih bersih dengan lengan yang digulung rapi. Ia sedang menyesap kopi hitamnya sambil membaca laporan bisnis di tablet. Sifat perfeksionisnya kembali terlihat dari bagaimana sendok dan garpu di depannya tertata sangat simetris.

"Duduk," ucap Arkan tanpa mengalihkan pandangannya dari tablet.

Milly menelan ludah, lalu duduk di kursi yang berada tepat di seberang Arkan mematuhi aturan jaga jarak aman. Di depannya sudah tersedia sepiring pancake madu yang tampak sangat lezat dan segelas susu hangat.

Suasana makan pagi itu luar biasa kaku. Hanya terdengar dentingan pelan garpu Milly yang memotong pancake. Milly sesekali melirik Arkan dari balik kacamata bulatnya, merasa bersalah sekaligus cemas.

"T-Tuan Arkan... luka di leher Tuan bagaimana? Sudah tidak berdarah lagi?" tanya Milly memecah keheningan dengan suara mencicit.

Arkan meletakkan tabletnya, lalu menatap Milly intens. "Sudah diurus. Fokus saja pada makananmu dan jangan buat kekacauan lagi hari ini."

Milly merengut pelan. Baru juga ditanya baik-baik, malah ketus lagi, batinnya kesal. Karena terlalu sibuk menggerutu dalam hati, fokus Milly teralih dari tangannya sendiri. Ia berniat meraih gelas susu hangat di sebelah kanannya.

Namun, bukan memegang gagang gelas, ujung siku gaunnya justru menyenggol pinggiran gelas kaca tersebut.

Ting! Gebrak!

Gelas itu terbalik, mengirimkan aliran susu putih hangat mengalir deras di atas meja marmer, meluncur cepat ke arah tablet mewah dan tumpukan dokumen fisik penting milik Arkan yang terletak di tengah meja.

"Aduh! Gelasnya tumpah sendiri!" pekik Milly panik.

Refleks, dengan otak cerobohnya yang bekerja tanpa berpikir panjang, Milly meraih serbet kain di dekatnya dan mencoba menahan aliran susu. Bukannya bersih, sapuan panik tangan Milly justru menyenggol cangkir kopi hitam milik Arkan hingga ikut terguling, mencemari dokumen putih di sana menjadi cokelat pekat.

Bara yang baru saja masuk ke ruang makan seketika mematung di ambang pintu, memegangi map barunya dengan tangan gemetar.

Arkan memejamkan matanya rapat-rapat. Urat di pelipisnya berdenyut kasar. Ia menarik napas dalam-dalam, menahan badai amarah yang siap meledak di mansion nya pagi itu. Ketika ia membuka mata, tatapan elangnya langsung mengunci Milly yang kini sudah berdiri dengan wajah super bersalah dan tangan yang berlumuran susu serta kopi.

"Millyanita," suara bariton Arkan terdengar sangat tenang, namun ketenangan itu justru seribu kali lebih menakutkan daripada bentakan.

"S-Saya tidak sengaja, Tuan! Meja ini terlalu licin, suer!" Milly mengangkat kedua tangannya membentuk tanda damai, membentuk kombinasi noda kopi di jemarinya yang polos.

Arkan bangkit dari kursinya, berjalan lambat memutari meja marmer hingga berhenti tepat di depan Milly. Ia menunduk, menatap gadis ceroboh yang baru saja menghancurkan dokumen rahasia hasil interogasi bawah tanahnya.

"Satu tahun untuk tablet, satu tahun untuk dokumen interogasi, dan satu tahun lagi karena kau merusak ketenanganku di pagi hari," ucap Arkan rendah, wajahnya begitu dekat hingga Milly bisa melihat kilat gemas di mata pria itu. "Total kontrakmu sekarang sembilan tahun, Gadis Ceroboh. Pikirkan baik-baik bagaimana caramu bertahan hidup denganku selama itu."

Milly melongo tak percaya. "Sembilan tahun?! Tuan, Anda benar-benar lintah darat berkedok Presdir!"

Bara di sudut ruangan hanya bisa menghela napas pelan, menyadari bahwa mansion yang biasanya sedingin kuburan ini, kini akan menjadi sangat bising untuk sembilan tahun ke depan.

Milly masih merengut, menatap jemarinya yang lengket akibat noda kopi dan susu, sementara Arkan sudah kembali ke kursinya dengan wajah tanpa ekspresi. Pria itu memberikan kode kepada pelayan mansion lainnya untuk membersihkan meja marmer dalam hitungan detik.

"Bara, ganti tabletku dan cetak ulang dokumen dari ruang bawah tanah. Pastikan enkripsi datanya diperketat," perintah Arkan sambil berdiri, merapikan kemeja putihnya yang untungnya selamat dari terjangan ombak susu buatan Milly.

"Baik, Tuan," jawab Bara patuh, meskipun dalam hati ia mencatat bahwa ia harus menyetok lebih banyak map kertas selama Milly berada di mansion ini.

Sebelum Arkan sempat melangkah keluar dari ruang makan, suara bel besar mansion berbunyi, diikuti oleh derap langkah tergesa-gesa dari kepala pelayan mansion yang tampak panik.

"Tuan Arkan... maaf mengganggu sarapan Anda. Di luar... ada Nyonya Besar Mahendra," lapor kepala pelayan itu dengan suara gemetar.

Milly yang sedang berusaha mengelap tangannya menggunakan tisu langsung membeku. Nyonya Besar Mahendra? Ibunya Presdir kejam ini?!

Arkan menyipitkan matanya berbahaya. "Ibu? Kenapa dia bisa tahu?" Ia melirik Bara dengan tatapan menuduh.

"Saya jamin tidak ada kebocoran dari pihak kita, Tuan. Kemungkinan besar Nyonya melihat konferensi pers mendadak Anda di televisi pagi ini," Bara menjelaskan dengan cepat, membetulkan letak kacamata hitamnya yang sebenarnya tidak miring.

Belum sempat Arkan membalas, suara ketukan sepatu hak tinggi yang nyaring dan tegas sudah menggema dari arah pintu masuk utama. Seorang wanita paruh baya dengan pakaian branded yang sangat elegan, kacamata hitam besar, dan aura glamor melangkah masuk ke ruang makan.

"Arkananta! Apa-apaan konferensi pers pagi ini?! Kau mengumumkan pernikahan dengan seorang pelayan hotel tanpa persetujuanku?!" Suara wanita itu melengking tinggi, memecah keheningan mansion.

Begitu Nyonya Mahendra melepas kacamata hitamnya, tatapan tajamnya langsung tertuju pada Milly yang berdiri kaku di sudut meja makan. Milly spontan membetulkan letak kacamata bulatnya, merasa seperti seekor kelinci yang sedang diincar oleh macan tutul gurun.

"Jadi... ini perempuan ceroboh yang kau sebut calon istri itu?" Nyonya Mahendra berjalan mendekati Milly, menatapnya dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan pandangan merendahkan. "Penampilannya sangat biasa saja, kacamata ini... tebal sekali. Arkan, apa kau sudah kehilangan akal sehatmu?!"

Milly menelan ludah. Nyalinya menciut drastis. Ia ingin sekali bersembunyi di bawah kolong meja marmer sekarang juga.

Namun, sebelum Nyonya Mahendra bisa melangkah lebih dekat untuk mengintimidasi Milly, sebuah tubuh tinggi tegap dengan sigap bergeser, berdiri kokoh tepat di depan Milly. Arkan menghalangi pandangan ibunya, mengurung Milly di belakang punggung bidangnya yang kokoh.

"Ibu, ini mansion pribadiku. Dan wanita di belakangku adalah wanita yang sudah kupilih untuk menjadi Nyonya Mahendra selanjutnya," ucap Arkan dengan nada bariton yang sangat dingin dan penuh penekanan. "Keputusanku mutlak. Tidak membutuhkan persetujuan siapa pun, termasuk Ibu."

Milly mengerjapkan matanya di balik punggung Arkan. Detak jantungnya yang tadi berpacu karena takut, kini mendadak berdesir aneh lagi. Pria sedingin es ini... baru saja membelanya di depan ibunya sendiri?

Nyonya Mahendra terbelalak, wajahnya memerah menahan geram. "Kau... kau berani menentang Ibu demi pelayan ceroboh ini?! Baik! Kita lihat seberapa lama dia bisa bertahan di lingkaran keluarga kita!" Wanita itu menghentakkan kakinya kesal, lalu berbalik pergi meninggalkan mansion dengan amarah yang meledak-ledak.

Setelah suasana kembali hening, Arkan membalikkan tubuhnya menghadap Milly. Tatapan matanya kembali berubah ketus dan perfeksionis seperti biasa.

"Jangan besar kepala. Aku hanya tidak suka ada orang lain yang mengganggu asetku," ucap Arkan dingin, seolah bisa membaca pikiran Milly yang mulai baper. "Dan karena kedatangan Ibuku membuat jadwal pertemuan bisnisku berantakan... aku tambahkan satu tahun lagi ke kontrakmu."

Milly melotot sempurna, rasa kagumnya langsung lenyap seketika. "Hah?! Sepuluh tahun?! Tuan Arkan, yang bikin berantakan itu Ibu Anda sendiri, kenapa saya yang kena getahnya?!"

Arkan tidak memedulikan protes itu dan melangkah pergi bersama Bara. Milly hanya bisa mengacak rambutnya frustrasi. Sepuluh tahun terjebak dengan Presdir kejam nan gila ini... sepertinya mansion mewah ini benar-benar sudah berubah menjadi sangkar emas jangka panjang untuknya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!