NovelToon NovelToon
Aku Yang Jatuh Cinta

Aku Yang Jatuh Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Crazy Rich/Konglomerat / Diam-Diam Cinta
Popularitas:204
Nilai: 5
Nama Author: citaaaa

Seorang gadis cantik bernama Arun yang memiliki kisah hidup rumit dan penuh lika-liku. Seorang anak tunggal yang dibesarkan oleh sang nenek yang sangat menyayanginya melebihi kasih sayang orang tuanya sendiri. Arun berpikir kehidupan pernikahan menjadi salah satu solusi untuk memperbaiki cerita hidupnya. Bio, laki-laki yang lebih tua empat tahun dari dirinya menjadi suami Arun atas dasar sebuah perjodohan. Mungkin harusnya Arun sadar diri sejak awal, mereka bukan ditakdirkan tapi dipaksakan meski mereka merasa tidak ada perasaan keterpaksaan dalam mmenjalaninya. Akankah ada keajaiban dari sebuah rasa yang terasa dipaksakan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon citaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DUA

Satu per satu kursi dan meja sudah tertata. Tidak seperti biasanya, hari ini semua karyawan cafe diharapkan datang karena ada pemberitahuan bahwa pemilik cafe akan datang berkunjung. Jadi mereka harus mempersiapkan semuanya lebih awal.

"Mas? Ngapain ya pak Broto kesini?" tanya Erik sambil merapihkan toples yang berisi berbagai biji kopi tersebut.

"Kalo lo mau manggil nama gue singkat, panggil aja Dim gak usah Mas. Lo kira gue mas-mas!" sahut Dimas kesal.

"Iya sorry Dim".

Nama panggilan yang singkat kadang membuat beberapa orang tidak percaya diri. Terkadang mereka lebih memilih untuk menggunakan nama panggilan yang berbeda dengan nama asli mereka supaya nyaman dalam pengucapannya.

"Cafe inikan dia yang punya suka-suka dia lah" jawab Dimas atas pertanyaan Erik tadi.

Erik hanya menganggukkan kepala, benar apa kata Dimas. Kenapa dia mempertanyakan alasan bos nya datang ke cafe.

"Maaf bang? Mau tanya, ada yang liat Arun gak ya?" tanya Akbar setelah keluar dari bagian belakang cafe.

"Eh Bar, gue gak liat tuh" balas Erik.

Dimas mengangkat kepalanya sambil melihat ke arah Akbar, "Paling bentar lagi dateng, gak mungkin dia gak dateng. Soalnya dia bales tadi di grup" ujar Dimas.

Akbar hanya mengangguk sambil melihat ke arah pintu masuk Cafe. Namun Akbar langsung mengambil tugasnya untuk mempersiapkan cafe agar siap di buka.

Tiba-tiba suara langkah, bukan lebih tepat nya suara lari seseorang terdengar, "Ehh!! Sorry-sorry gue telat!" ucap Arun sambil memegang lutut dan mengatur napasnya.

"Nah, panjang umur" ucap Erik saat melihat Arun.

Arun berjalan ke tempat laci penyimpanan apronnya dan langsung menggunakannya.

"Tumben kamu telat?" tanya Akbar.

Arun menoleh saat melihat Akbar yang tepat disamping kirinya, "Tadi keasikan ngerjain tugas" balas Arun.

Akbar ikut merapihkan beberapa pot bunga sedangkan Arun masih terus mengelap meja dan kursi.

"Tugas kuliah kamu lagi banyak ya?" tanya Akbar.

"Ehmm, lumayan sih. Sebenernya tugas yang ini udah selesai gue kerjain tapi waktu tadi di cek sama dosennya ternyata masih ada yang salah. Gue ngulang lagi"

"Tinggal revisi aja itu mah, gak perlu ngulang atuh"

"Harusnya sih gitu. Cuman tu dosen emang kurang kerjaan! Dia malah coret-coret semua. Ihh! Sumpah ngeselin banget!!" ujar Arun kembali terbakar emosi.

"Sabar, jangan emosi"

"Bar, lo mah enak ngomong sabar. Gue nih nanti harus begadang ngerjain tu tugas!. Biar aja gue doain nanti anak dia ngerasin apa yang gue rasain!"

Akbar menyentil dahi Arun pelan, "Awwwh, Bar. Sakit tau!" protes Arun sambil mengelus-elus dahinya.

"Doain itu yang baik-baik, jangan kayak gitu. Nanti kalo doa itu teh balik ke kamu gimana? Mau?"

"Gak lah!"

Akbar hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum. "Eh, kayaknya itu deh mobil bos. Plat Jakarta soalnya" ucap Erik sambil mendekat ke arah Akbar dan Arun.

"Mobilnya beda, bukan yang biasanya" ujar Arun yang sedang menatap mobil berwarna hitam tersebut.

"Orang kaya bebas, kan banyak mobilnya" ujar Dimas yang berada disamping Arun.

"Kapan ya gue kaya?" ujar Arun lagi.

"Emang lo miskin?" tanya Erik sambil melihat ke arah Arun.

Arun menatap dengan ekspresi datar pada Erik, "Lo kira gue kerja gini karna apa? Mengisi waktu luang?" ucap Arun.

Erik menggaruk tengkuknya yang tak gatal sambil cengengesan.

Saat pintu mobil sebelah kiri terbuka, keluarkan seorang laki-laki dengan syle orang kantoran, menggunakan jas berwarna abu tersebut, Ilham.

Memang bukan pertama kali Ilham datang kesini, meskipun Ilham tidak mencari pengalaman disini namun setiap berlibur Ilham selalu menyempatkan untuk pergi ke cafe sang ayah. Kadang sang ayah meminta bantuannya untuk mengurus cafe sedangkan baang Adit fokus di kantor.

Dibalik kemudi, seseorang keluar dengan berpakaian hitam, kulitnya yang putih menambah kesan elegan meski hanya mengenakan pakaian dengan gaya kasual.

"Itu kan mas Ilham ya, tapi yang itu siapa ya?" tanya Erik pada teman-temannya.

"Gak tau, yang gue tau juga cuma mas Ilham" sahut Dimas.

Erik dan Dimas merupakan karyawan senior, bisa dibilang orang yang pertama menjadi saksi berdirinya cafe tersebut. Pasang surut keadaan cafe tidak membuat Dimas dan Erik berpaling dari pekerjaan mereka, karena pak Broto merupakan bos yang paling baik yang pernah mereka temui selama menjalani kehidupan di dunia pekerjaan.

"Kok gue gak kenal mereka ya. Bukannya pak Broto, pemilik cafe ini?" tanya Arun yang terlihat bingung dengan ke hadiran dua orang itu.

"Arun, emang pak Broto ada tampang masih lajang?" tanya Erik.

Arun menggeleng, Sedangkan Erik hanya menggelengkan kepala. "Itu yang pake jas anak pak Broto yang kedua, namanya mas Ilham" ujar Akbar.

"Satu nya?"

"Aku juga gak tau, soalnya yang aku tau cuma mas Ilham dan mas Adit, anak pertamanya. Kalo ini aku juga baru liat".

Meskipun tidak selama Erik dan Dimas, Akbar termasuk karyawan yang sudah lama jikan dibanding dengan Arun.

Dua orang yang mereka ributkan pun, masuk ke dalam cafe. "Selamat datang Mas" ucap Dimas.

Sedangkan yang lain hanya tersenyum ramah sambil sedikit membungkukkan badan.

Ilham tersenyum sambil menundukkan kepalanya, "Apa kabar kalian?" tanya Ilham.

"Baik mas" ucap mereka semua.

"Gimana cafe?" tanya Ilham sambil berjalan melihat kondisi cafe saat ini.

"Gak ada kendala sih mas, aman. Cafe ada peningkatan mas, efek dari kita gencar lakuin promosi beberapa hari lalu" ucap Dimas.

"Iya mas, pelanggan banyak wajah baru" ucap Erik.

Ilham menganggukkan kepala, satu tangannya dia masukan dalam saku celananya. "Oh iya, gue kesini mau ngenalin CEO baru cafe ini. Tapi, dia juga masih baru. Dia baru lulus kuliah dan masih sedikit pengalaman jadi nanti kalian bantu dia, gimana?" ucap Ilham.

"Oke siap mas, tenang aja aman kok" balas Dimas dengan senyum ramah.

"Baku banget lo bang, kayak di kantor aja!" ucap Bio saat berada disamping Ilham.

"Sekarang ini emang kantor lo" bisik Ilham, "Oke, kenalin ini namanya Bio. Dia ini anak pak Broto yang terakhir alis Bio ini adek gue. Dan dia yang bakal gantiin pegang cafe ini, tapi tetap dalam pantauan gue sama papah".

Bio mencoba tersenyum ramah, agar bisa memberikan image yang baik saat pertama bertemu.

"Fake banget senyumnya" gumam Arun.

"Kenapa?" tanya Akbar yang mendengar samar suara Arun.

"Hah?!! Gak. Tenggorokan kering" ujar Arun sambil memegangi tenggorokannya.

"Mas Bio, ini perkenalkan saya Dimas" ujar Dimas memperkenalkan diri.

"Kalo nama saya Erik"

"Saya Akbar mas, saya masih kuliah semester lima. Disini saya kerja paruh waktu"

"Gue ... Maksudnya saya Arun, saya sama kayak Akbar. Pekerja paruh waktu juga disini"

Bio memandang Arun sedikit berbeda dengan yang lain. "Oh, kamu karyawan baru?" tanya Ilham pada Arun.

"Enggak pak, saya udah mau hampir dua tahunan lebih" jawab Arun.

"Tapi saya gak pernah liat kamu ya"

"Iya pak, saya juga baru kali ini ketemu sama bapak" ujar Arun dengan cengirannya.

"Panggil mas aja, kan saya bukan pak Broto" ucap Ilham sedangkan Arun hanya menganggukkan kepala.

"Karyawannya ada lagi gak?" tanya Bio.

"Enggak mas, kami cuma berempat" balas Dimas.

Bio hanya mengangguk sambil mulutnya membentuk huruf o. "Bi, lo bisa mulai dari sekarang. Gue mau istirahat dulu di villa, besok pagi-pagi baru gue balik Jakarta" ucap Ilham.

"Lah, kenapa gak langsung balik. Lagian tadi yang nyetir gue bukan lo" ujar Bio.

"Ya tapi gue juga capek kali. Mana kunci mobil?" ujar Ilham sambil menyodorkan tangannya

"Gue laporin papah, lo bolos kantor. Kalo lo bawa mobilnya gue pulang nanti gimana?" ucap Bio sambil memberikan kunci mobil pada Ilham.

"Lo kabarin aja nanti gue jemput. Udah lo jangan banyak omong! Sekarang mending lo masuk ke ruangan kerja lo, gue balik dulu" ujar Ilham, "Dim, gue titip Bio" ucapnya lagi kemudian pergi keluar dari cafe.

Dimas hanya mengacungkan jempol tangannya ke udara tanda menyetujui, "Mas Bio, mari saya anter ke ruangannya mas" ucap Dimas.

Bio hanya mengikuti gerak langkah kaki Dimas, saat sampai di depan pintu berwarna coklat tersebut. Dimas langsung membukanya, "Ini mas ruangannya, kalo mas Bio butuh apa-apa mas bisa hubungi saya atau menggunakan telpon yang ada di meja. Itu tersambung dengan telpon di depan mas" jelas Dimas.

"Oke, makasih ya Dim. Eh mas?"

"Dimas, disambung aja mas"

"Oh oke"

"Kalo gitu saya permisi ke depan dulu mas, masih ada yang harus saya kerjakan"

"Bentar, bisa gak lo ngomongnya gak usah formal-formal, nyantai aja gitu?" ucap Bio mulai lelah.

"Maksudnya mas?"

"Ya, cara ngomong lo kayak ke partner aja gitu. Jangan kayak ke majikan sama pembantu, geli gue dengernya"

"Oh, siap mas"

"Kalo gitu lo udah boleh pergi"

Dimas pergi meninggalkan ruangan tersebut, sedangkan Bio masih menatap perlahan isi ruangan tersebut. Ternyata tidak seburuk bayangan Bio, tempat ini cukup membuatnya sedikit merasa tenang. Lebih baik daripada kebisingan Jakarta.

Saat memandang keluar melalui jendela, terlintas sesuatu dalam kepalanya. "Itu cewek, gak mungkin kalo gak ngenalin gue. Padahal siang tadi kita ketemu, jangan-jangan dia pura-pura lupa!" monolog Bio.

Dengan cepat Bio memegang gagang telpon lalu menempelkannya ditelinga.

"Arun, keruangan saya sekarang"

Mampus!

Tbc.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!