Maretta anggraini, seorang wanita cantik yang berprofesi sebagai manager sebuah perusahaan garment. Dia bercerai dari suaminya lantaran suaminya ketahuan sudah menikah lagi.
Kemudian dia bertemu dengan seorang Dokter muda yang bernama Didi rangga dinata. Ternyata, Dokter itu langsung jatuh cinta sama Maretta.
Bagaimana perjalanan kisah cinta antara Maretta dan Didi.
Ikuti dalam novel yang berjudul KAU YANG SELALU ADA.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Evy erviyanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part : 9 (Jogjakarta)
★ JOGJAKARTA ★
Sore harinya, setibanya di Jogja Retta langsung memboking Hotel untuk tempat dia menginap selama seminggu. Dia turun dari taksi lalu masuk ke Hotel.
Setibanya tiba di lobby Hotel tiba-tiba dia ditabrak pleh seseorang yang tak dikenal.
"Bruuk.,!!"
Seketika Retta terjatuh dilantai, dan laki-laki yang menabraknya tadi terkejut lalu spontan membantu Retta bangun. Retta sedikit jengkel, kenapa sih jalan aja buru-buru seperti itu sampai nggak melihat kalau ada orang didepannya.
"Eh., maaf, Mbak. Saya tadi keburu-buru." ucap laki-laki itu sambil memandangi Retta.
"Iya, Mas. Nggak apa-apa." jawab Retta datar sambil membetulkan letak tasnya yang tadi juga ikut terjatuh.
"Oh, iya. Kenalkan Saya Satrio. Nanti kalau ada apa-apa. Misal kaki atau badan Mbak ada yang terkilir langsung hubungi resepsionis." ucap Satrio.
"Oh iya, saya Maretta. Nggak apa-apa, kok. Maaf, saya langsung masuk ke kamar dulu." jawab Retta.
"Baik, sekali lagi, maaf ya Mbak?" ucap Satrio.
Retta hanya mengangguk dan senyum. Kemudian dia melangkah meninggalkan Satrio sendiri yang masih berdiri memandangi Retta berlalu. Dia memperhatikan Retta tanpa kedip. Setelah itu dia juga keluar Hotel.
Setelah masuk dikamarnya, Retta menghempaskan tubuhnya diatas tempat tidur Hotel. Dia sejenak melepas lelah dan kepenatan dalam tubuhnya.
"Kenapa kamu nggak kasih kabar lagi, Di. Maaf, aku juga akan mencoba menjaga jarak sama kamu, karena aku nggak akan menjadi penghalang antara kamu sama wanita pilihan Mamamu" ucap Retta dalam hati.
Ketika hari mulai menjelang malam. Kemudian Retta membersihkan badannya dan dia hendak berjalan-jalan dulu menikmati malam di Malioboro. Setelah dirasa siap dia lalu keluar kamar dan berjalan keluar Hotel.
Malam ini dia ingin jalan kaki, karena Retta mau menikmati indahnya malam hari di Malioboro. Dia berjalan perlahan sambil memperhatikan suasana disekelilingnya. Penjual angkringan banyak berjajar disepanjang jalan.
Setibanya didekat satu angkringan yang lumayan rame pengunjung, dia menghentikan langkahnya dan memesan makan dan minum, kemudian dia memilih duduk dipojok untuk menunggu. Saat dia lagi duduk santai tiba-tiba dia terkejut sama salah satu pembeli yang marah dengan penjual angkringan itu.
"Ibu ini gimana, sih! tadi saya kan sudah bilang kalau saya pesan dua bungkus, kenapa malah dibikinkan tiga bungkus?" ucap pembeli itu.
"Iya, maaf, Mbak. Saya yang lupa. Tapi, nggak apa-apa biar yang satu taruh sini saja." jawab Ibu penjual itu.
"Iya, saya nggak maulah bayar, saya cuma pesan dua." jawab wanita pembeli itu sambil memberikan uang untuk membayar yang dua bungkus tadi.
Ibu penjual itu lalu menerima uang yang diberikan oleh pembeli itu. "Iya, makasih Mbak."
Kemudian pembeli itu meninggalkan tempat itu dan penjual itu kembali melayani pembeli yang lainnya. Hati Retta jadi iba dan terenyuh melihat Ibu penjual angkringan itu. Meskipun dia sudah tak muda lagi, tapi semangatnya untuk tetap bekerja dan menghasilkan uang sangatlah besar.
Kemudian Retta mendekati Ibu penjual itu, " Maaf, Bu. Yang satu bungkus tadi biar buat saya, aja. Sayang, kan nggak ke makan." ucap Retta.
"Tapi, Non. Itu menunya nggak sesuai dengan pesanan, Non." tanya Ibu penjual.
"Nggak apa-apa. Pesanan saya yang tadi tetap dibuatin, tapi dibungkus aja. Nggak jadi dimakan sini." jawab Retta.
"Oh gitu, ya Non. Makasih banyak ya, Non?" ucap Ibu penjual itu.
"Iya, Bu sama-sama.!" jawab Retta.
Kemudian Retta menikmati nasi yang dibungkusan tadi. Dia heran dengan wanita pembeli tadi. Penampilannya sih, oke. Tapi, cara ngomongnya nggak banget. Batin Retta.
Setelah selesai makan dan membayar semuanya, dia meninggalkan tempat itu sambil membawa bungkusan yang dia pesan tadi. Dia berjalan menyusuri dinginnya malam dilangit Jogjakarta.
Banyak musisi jalanan yang menunjukan karyanya dengan khasnya masing-masing.
Saat melintasi penjual jagung bakar yang penerangannya hanya dari pelita kecil, Retta langsung berhenti. Seorang bapak tua usianya sekitar enam puluhan duduk didepan lapaknya yang menyajikan jagung bakar. Retta jadi terharu karena tidak ada pengunjungnya sama sekali. Retta mendekati dan mencoba mengajak ngobrol.
"Maaf, Pak. Saya pesan jagung bakarnya lima biji, ya?" ucap Retta.
"Oh iya, Neng. Tunggu sebentar, ya?" jawab Bapak itu sembari membuatkan jagung bakarnya.
"Pak, saya boleh tanya, gak?" ucap Retta.
"Silahkan, Neng." jawabnya sambil terus tangannya sibuk mengerjakan pekerjaannya itu.
"Biasanya kalau jualan gini pulangnya jam berapa, Pak?" tanya Retta.
"Kalau rame, biasanya jam sepuluh sampai sebelas sudah pulang. Tapi kalau sepi saya pernah sampai dini hari, Neng." jawabnya.
"Oh gitu, ya Pak. Mudah-mudahan malam ini jualan Bapak laris manis." ucap Retta sambil tersenyum.
"Alhamdulilah, amin Ya Allah. Makasih, Neng." jawabnya sambil menakupkan kedua telapak tangannya.
"Oh iya, Bapak sudah makan, kah? Emm., ini ada sebungkus nasi, tadi saya beli disana, tapi sekarang saya pingin makan jagung bakarnya, Bapak aja." ucap Retta sambil memberikan sebungkus nasi itu.
Awalnya Bapak penjual itu menolak, karena takutnya Retta nanti malah yang lapar. Tapi, setelah Retta menjelaskan kalau dia sudah makan jagung ataupun yang lainnya, perutnya jadi kenyang. J
adi sayang kalau nasinya ini nggak kemakan. Akhirnya Bapak itu memerima pemerian Retta.
Tanpa Retta sadari kalau dari seberang jalan dia diamati seseorang yang dari tadi memeperhatikannya. Laki-laki itu kemudian tersenyum dan menghampiri Retta yang masih asyik mengamati Bapak itu membakar jagungnya.
"Saya juga pesan jagung bakarnya lima biji, ya Pak?" ucap laki-laki itu.
Seketika Retta menoleh ke sumber suara tersebut. Dan kemudian laki-laki itu tersenyum ke arahnya. Retta ingat kalau laki-laki itu kan yang menabraknya di lobby Hotel tadi sore.
"Masih ingat, saya kan?" tanya laki-laki itu.
"Oh iya, Mas. Tadi Anda yang nabrak saya dilobby Hotel, kan?" jawab Retta.
Ternyata laki-laki itu adalah Satrio, orang yang nggak sengaja menabrak Retta dilobby Hotel.
"Iya, betul. Maaf kalau boleh saya tahu, tadi nama Mbak nya siapa, ya. Saya lupa?" tanya Satrio.
"Oh iya, saya Maretta. Biasanya dipanggil Retta." jawab Retta.
"Oh iya. Mbak Retta." ucap Satrio sambil senyum.
"Panggil Retta aja. Biar nggak formal." jawab Retta.
Bapak penjual jagung itu akhirnya memberikan jagung bakarnya masing-masing lima biji kepada Retta dan Satrio. Kemudian mereka berjalan bareng ditrotoar menuju kearah taman kota.
Setibanya ditaman kota, Retta menuju sebuah kursi panjang yang ada dipinggir jalan. Banyak pengunjung yang berlalu-lalang melintasi jalan itu. Kini mereka berdua mulai ngobrol-ngobrol.
"Maaf, tadi Anda kok bisa ditempat penjual jagung bakar yang kebetulan ada saya disitu." tanya Retta memulai pembicaraan.
"Maaf sebelumnya. Tadi, sebenarnya saya sudah tahu saat Anda di angkringan Ibu penjual nasi. Lalu saya penasaran sama Anda, karena kok masih ada dikota besar ini orang yang peduli dengan sesama. Tadi saya lihat Anda membeli nasi yang nggak jadi dibeli Ibu tadi?" jelas Satrio.
"Oh iya, saya kasihan aja sama Ibu penjual nasi di angkringan tadi. Misal nggak ada yang beli, kan dia jadi rugi." jawab Retta.
"Anda baik banget, Mbak." ucap Satrio sambil memandangi Retta.
Seketika Retta salah tingkah saat Satrio memandanginya tanpa kedip. Dia jadi nggak enak. Satrio kemudian mengalihkan pandangannya ketika menyadari kalau Retta jadi salah tingkah dan kikuk.
Akhirnya mereka melanjutkan ngobrol-ngobrol tentang aktivitasnya masing-masing. Tak lama kemudian mereka sudah terlihat akrab. Sampai-sampai dia tukar nomor telpon. Tak terasa akhirnya hari sudah semakin malam dan merekapun kembali ke Hotel.
(***)
Hari ini Retta berkunjung ke salah satu outlet yang menjual produknya. Setelah dia menemui pimpinan tempat tersebut dan ngobrol-ngobrol tentang penjualan produknya. Pimpinan itu bilang kalau pruduk dari perusahaan Retta adalah salah satu prodyk andalan ditempat itu.
Pimpinan itupun juga memuji kinerja para SPG nya yang selalu solid dan maksimal. Produknya ini adalah salah satu keybrand ditempat itu. Retta sangat senang mendengar penjelasan dari pimpinan itu. Akhirnya Retta pun mohon pamit setelah dia lama berada ditempat itu.
Hari semakin beranjak siang menjelang sore. Dilihat jam sudah menunjukan pukul dua siang. Kini dia mau mencari makan siang. Dan kebetulan dia suka dengam gudeg. Akhirnya dia menuju rumah makan khas Jogja.
.
.
.
Ditempat lain, Satrio sedang duduk diruang kerjanya. Dia masih memikirkan tentang Retta. Kenapa wanita itu begitu menyita perhatiannya. Apakah dia sudah jatuh cinta pada pandangan pertama. Baru kali ini Satrio begini sejak dia terakhir menjalin hubungan wanita, dia tidak pernah merasakan seperti ini pada wanita.
Sampai Ibunya pun kawatir karena selama ini dia betah menjomblo. Umur dia sudah kepala tiga tapi belum menikah. Sekarang dia sibuk mengurus Hotel Ayahnya yang cabangnya ada di beberapa Kota besar di Indonesia.
Hotel dimana Retta menginap sekarang adalah Hotel yang dikelolah Ayahnya Satrio. Tapi, sementara ini dia ditugaskan Ayahnya untuk mengurus yang Jogja karena Ayahnya masih ngurusi yang di Surabaya.
Hari semakin siang, Satrio keluar ruangannya untuk mencari makan siang. Dia menuju parkiran dan mengambil mobilnya lalu menuju rumah makan biasa dia makan siang. Rumah makan itu menyajikan menu khas Jogja.
Dalam perjalanan menuju rumah makan itu dia sempat melihat seorang wanita yang sedang duduk dipinggir jalan sambil memegangi kakinya. Kelihatannya wanita itu habis ditabrak, karena banyak orang yang mengelilinginya.
Sejenak dia menghentikan mobilnya lalu keluar untuk melihat kejadian itu. Setelah dia sudah dekat ditempat itu, Satrio membelalakan matanya karena kaget siapa yang menjadi korban tabrakan itu.
---------Bersambung-----------
.retta
.