Ye Ning, putri sah Menteri Sayap Kiri, hanya ingin membangun kerajaan bisnis, mengumpulkan kekayaan, dan membawa kemakmuran bagi keluarganya. Namun semua menjadi berantakan ketika Tuan Muda Bai datang dan mengacaukan rencananya. Di saat yang sama, Putra Mahkota Li Yan, pria yang dahulu menolak perjodohan dengannya, tiba-tiba berkata bahwa ia akan menceraikan istrinya.
Di antara ambisi, cinta, dan pengkhianatan, Ye Ning harus memilih: tetap menjadi wanita pebisnis yang bebas atau terjerat dalam permainan politik yang mengancam keselamatan keluarganya.
Mampukah Ye Ning melindungi orang-orang yang dicintainya ketika dua pria paling berpengaruh di kekaisaran mulai menginginkannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunga_Persik98, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21 : LAYAKNYA REUNI
Pagi-pagi sekali lima puluh peserta yang lolos telah berkumpul di aula terbuka. Kini jumlah yang tersisa setiap halaman adalah Halaman Timur dua puluh orang, Halaman Selatan Lima orang , Halaman Barat sepuluh orang dan Halaman Utara lima belas orang.
Ye Ning sedang asyik mengobrol dengan Lu Wan, Qing He tetap berdiri di depan tanpa banyak bicara dan Ming Zi sedang menemui temannya yang pulang pagi ini karena tidak bisa melanjutkan ke tahap selanjutnya. Ia ingin menitipkan surat untuk keluarganya, dan Jiu Lin tetap berdiri bersama kelompok lain. Saat semua asyik mengobrol, Ming Zi datang dengan wajah serius, mengajak Lu Wan dan Ye Ning untuk sedikit menepi dari kerumunan.
Ye Ning yang penasaran mengikuti dengan tanda tanya besar, setelah mereka cukup jauh dari barisan. Mereka saling menatap dan entah kenapa atmosfer sekitar kini berubah menjadi tegang. Ming Zi menarik napas sebentar sebelum mulai berbicara dengan volume kecil agar yang lain tidak heboh saat mendengarnya.
"Aku tadi tidak sengaja pendengar pembicaraan para dayang yang lewat. Mereka mengatakan bahwa ada desas-desus dari atas, kalau Putra Mahkota juga akan mengambil selir dari pemilihan ini"
Lu Wan menutup mulutnya, Ye Ning mendadak limbung dan mundur selangkah. Wajahnya menjadi tegang dan menatap Ming Zi seolah tidak percaya.
"Apakah benar bisa seperti itu?" Tanya Ming Zi kembali.
"Tentu saja bisa. Kita sudah di dalam istana, bahkan Kaisar juga bisa tertarik padamu" Qing He tiba-tiba datang, dan membuat Ming Zi terkejut hingga berteriak. Para peserta lainnya sempat melihat ke arah mereka namun akhirnya melanjutkan urusan mereka masing-masing.
Ye Ning tidak bisa fokus lagi, perkataan Putra Mahkota di Villa peristirahatannya waktu itu kembali terngiang-ngiang di telinganya. Ye Ning sebenarnya bukan tidak mengerti sama sekali tentang perubahan sikap putra mahkota kepadanya selama ini.
Li Yan sering memberinya hadiah bahkan mengirimkan surat. Hanya saja Ye Ning berpura-pura tidak melihatnya dan mengabaikannya. Ia hanya takut untuk memikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya.
Tang Momo datang dengan rombongannya, membuat Lu Wan menarik Ye Ning untuk kembali dalam barisan. Semua peserta tentu merasa gugup, karena ini adalah kali pertama mereka bertemu dewan istana. Bagaimana mungkin bisa bersikap santai ketika menghadapi pejabat cerdas dan juga memiliki wawasan yang luas mengenai kekaisaran. Tes kali ini pasti sangat sulit dibandingkan dengan sebelumnya.
"Hari ini kalian akan bertemu dewan istana dan pengawas seleksi. Kalian harus menjaga lisan dan sikap di hadapan mereka agar tidak merugikan diri sendiri. Kali ini aku hanya menemani kalian untuk bertemu mereka di Aula Pendidikan Istana"
Setelah mengatakan itu, Tang Momo memimpin para peserta untuk pergi menuju Aula Pendidikan Istana. Jarak Istana Harem dengan Aula tersebut lumayan jauh, kalau berjalan kaki butuh waktu sekitar lima belas menit untuk sampai.
Mereka harus melewati taman kekaisaran, menyusuri jalan utama hingga melewati gerbang Selatan dan masih harus berjalan sekitar lima ratus meter lagi sebelum tiba di Aula Pendidikan Istana.
Setelah tiba di Aula Pendidikan Istana, para peserta dipersilakan untuk beristirahat dan meminum teh dan kue yang telah disiapkan di Paviliun Agung. Ye Ning, Lu Wan, dan Ming Zi sangat kelelahan hingga napas sedikit terengah-engah.
Mereka adalah seorang gadis bangsawan yang tidak pernah berjalan sampai sejauh ini, karena biasanya mereka selalu memakai kereta kuda saat berpergian. Tetapi berbeda dengan Qing He, ia terlihat cukup santai dan terlihat sudah terbiasa menjalani hari-hari seperti ini.
Sekitar sepuluh menit mereka beristirahat dan memulihkan tenaga, Tang Momo memerintahkan seluruh peserta untuk masuk ke Balai Utama. Saat satu persatu peserta masuk, di panggung utama Dewan Penguji Istana telah duduk berjajar. Kanselir Agung yaitu Adipati Zhao duduk di kursi tengah, diapit oleh Sensor Kekaisaran dan Menteri Ritus. Serta dua orang guru dari Akademi Hanlin.
Dibalik tirai sutra Permasuri Wanhui dan Junwang Fei turut mengamati jalannya ujian. Namun ada satu orang yang menjadi pusat perhatian para peserta, yaitu seorang pemuda tampan yang berdiri paling pojok dengan tatapan dingin dan acuh tak acuhnya. Pemuda itu tak lain dan tak bukan adalah Bai Zhilan, sebagai Pengawas Sensor Yushitai sekaligus pegawai kesayangan Kepala Sensor Kekaisaran membuatnya dapat bertindak sebagai pengawas untuk pemilihan Shizi Fei dimulai tahap ini hingga tahap terakhir.
Banyak gadis berbisik dan memuji ketampanan Bai Zhilan membuat Ye Ning sedikit cemburu. Ming Zi yang berada di belakang Ye Ning mencolek bahunya, dan menanyakan apakah itu pria yang selama ini digosipkan dengan dirinya. Lu Wan yang mengangguk dengan bersemangat membuat Ye Ning menutupi wajahnya karena malu.
"Wajar saja kalau Ye Ning betah bersama pria itu. Melihat wajahnya saja sudah cukup membuat hati bahagia" Ujar Ming Zi sambil tertawa kecil.
Ye Ning yang mendengar itu menyuruh Ming Zi untuk diam, dan jangan mengatakan apapun lagi. Ia sangat malu bertemu Zhilan hari ini, masih ditambah dengan kelakuan teman sekamarnya. Ye Ning melirik sekilas ke arah Bai Zhilan berdiri, jantungnya masih berdegub kencang. Ini pertama kalinya mereka bertemu lagi setelah peristiwa di paviliunnya saat itu.
Kanselir Agung berdeham dan mulai angkat bicara,
"Selamat datang para peserta seleksi, kami juga mengucapkan selamat atas keberhasilannya hingga kalian mampu melewati berbagai tes dan sampai ke tahap ini. Hari ini adalah tes berikutnya yaitu ujian pengetahuan. Kami akan menilai seberapa paham kalian tentang Kekaisaran Barat dan juga seluruh aspek yang meliputinya"
Setelah itu ia memberikan isyarat mata kepada menteri ritus untuk menjelaskan tata cara ujian dan aturannya. Semua para peserta mendengarkan dengan hikmat meskipun sedikit gugup. Tidak ada yang berani mengeluarkan suara bahkan jika hanya helaan napas.
Ujian kali ini terdiri dari dua sesi. Sesi pertama adalah ujian tertulis, para peserta diminta untuk menulis essai tentang seberapa dalam pengetahuan mereka tentang Kekaisaran Barat. Baik dari mulai segi Sosial, Ekonomi, Politik, Militer, Budaya dan juga Pendidikan. Sesi kedua adalah ujian lisan, setiap kelompok yang berisikan lima orang akan diberikan studi kasus yang berbeda dan cara mereka menganalisis kasus, memberikan solusi serta menyanggah perdebatan akan menjadi penilaian penting.