Berbekal ponsel hitam tanpa merek dengan AI yang sangat sarkastis, Reno mendadak menjadi peretas paling dicari oleh komplotan mafia teknologi. Di tengah pelarian yang menegangkan, Reno tidak hanya harus menghindari peluru, tetapi juga harus menahan malu karena asisten digital di ponselnya yang justru sering menjebaknya dalam situasi paling absurd
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khusus Game, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15: Ancaman dari Kegelapan
Layar ponsel misterius di tangan Reno terus berkedip menyajikan peringatan panggilan masuk bernada ancaman.
Jari telunjuk pemuda itu menari ragu di atas permukaan kaca, sama sekali tidak berani menekan tombol penolakan.
Setiap getaran yang dihasilkan oleh bodi logam perangkat itu terasa seolah sedang menghitung mundur sisa umur pengguna malangnya.
{Kalau aku memutus panggilan ini secara sepihak, komplotan mafia gila itu pasti akan langsung melacak koordinat rumah kontrakan Radit dalam hitungan detik.}
Namun, sistem operasi ponsel tersebut rupanya tidak membutuhkan persetujuan apa pun dari pihak penerima panggilan.
Sebuah bunyi dengingan pendek terdengar tajam, menandakan bahwa modul komunikasi telah menjebol paksa izin privasi kamera secara mandiri.
Panggilan video itu tersambung secara otomatis, memproyeksikan wajah panik Reno beserta latar belakang ruang tamu tua Radit ke jaringan luar.
Antarmuka layar seketika didominasi oleh tampilan visual dari seorang pria paruh baya yang duduk angkuh di atas sebuah kursi kulit berukuran besar.
Pria itu mengenakan setelan jas hitam elegan yang dijahit dengan sangat presisi, memancarkan aura kekuasaan yang jauh melampaui batas kewajaran orang biasa.
Suara bariton pria yang menamai dirinya Mr. X itu terdengar luar biasa berat, mengalir keluar dari pelantang suara ponsel dengan tingkat intimidasi maksimal.
Wajah pria paruh baya itu terlihat sangat tegas, menampilkan sorot mata setajam pisau bedah yang seolah mampu menembus langsung ke dasar nyawa Reno.
Reno menelan ludah kasarnya dalam satu tegukan yang luar biasa sulit, mencoba memundurkan punggungnya semakin dalam ke arah bantalan sofa yang melesak.
"Aku sama sekali bukan pencuri, benda berbahaya ini sengaja menjegal kakiku secara brutal di trotoar pejalan kaki pada sore kemarin."
Ia berusaha keras membela diri dengan suara yang bergetar hebat, menolak mentah-mentah tuduhan kriminal yang baru saja dilontarkan oleh sang bos mafia teknologi.
Kedua tangannya mencengkeram erat pinggiran ponsel, berharap alat komunikasi itu tidak mendadak meledak menghancurkan telapak tangannya.
Perintah mutlak itu bergema sangat jelas di dalam ruangan, memberikan sebuah tenggat waktu pasti yang terasa bagaikan hitung mundur menuju eksekusi pemenggalan kepala.
||||
Ancaman pembunuhan eksplisit tersebut sukses membuat seluruh bulu kuduk di sekitar tengkuk Reno meremang secara serentak.
Logika waras di dalam kepalanya langsung berteriak dengan sangat kencang, menyuruhnya untuk segera melempar ponsel hitam ini dan menyerahkan diri ke kantor kepolisian terdekat.
Menghadapi hukuman kurungan penjara atas tuduhan sabotase fasilitas lalu lintas jelas terdengar jauh lebih rasional daripada harus berurusan dengan sindikat pembunuh bayaran tingkat tinggi.
Namun, bayangan wajah cantik Luna yang tersenyum manis di bawah rintik hujan buatan kafe tiba-tiba berkelebat cepat melintasi ruang imajinasinya.
{Kalau aku mengembalikan mesin peretas canggih ini sekarang, aku tidak akan pernah punya alat rahasia apa pun untuk membuktikan diri sebagai pahlawan di depan Luna lagi.}
Fakta matematis mengenai tingkat ketertarikan Luna yang hanya mampu menyentuh angka tiga persen masih meninggalkan sebuah luka menganga di dasar hatinya.
Pemuda kurus itu sangat membutuhkan setiap fitur peretasan tak masuk akal ini untuk menghancurkan citra sempurna Dika, serta merancang skenario penyelamatan palsu secara terus-menerus.
Reno meremas pinggiran bodi ponsel itu dengan tangan yang dibanjiri keringat dingin, mencoba mengais sisa-sisa keberanian semu dari sudut jiwanya yang paling penakut.
"Benda aneh ini sudah melakukan sinkronisasi paksa dengan DNA-ku tanpa persetujuan, jadi aku menolak keras untuk mengembalikannya begitu saja."
Ia melontarkan sebuah alasan konyol yang terdengar sangat dipaksakan, berusaha menawar nyawanya sendiri di hadapan seorang kriminal berdarah dingin.
Pria paruh baya di dalam layar itu sedikit memiringkan kepalanya, seolah merasa sangat terhibur dengan tingkat kebodohan absolut dari pemuda berbaju kotak-kotak tersebut.
Sebuah kekehan pelan yang terdengar luar biasa menyeramkan keluar dari mulut Mr. X, menggema pelan namun sukses membuat dada Reno terasa sesak.
Reno seketika menyembunyikan ibu jari kanannya di balik telapak tangan kiri, merasa sangat ngilu membayangkan ancaman sadis yang terdengar luar biasa meyakinkan tersebut.
Namun, rasa egoisnya untuk memenangkan hati sang pujaan kampus ternyata masih jauh lebih mendominasi daripada ketakutan rasionalnya terhadap mutilasi fisik.
"Silakan saja coba rebut kembali telepon genggam ini kalau kalian memang mampu melewati semua sistem pertahanan buatanku!"
Ia menaikkan nada suaranya secara paksa, mencoba menggertak balik meskipun lututnya yang hanya tertutupi celana pendek motif stroberi itu terus bergetar tanpa henti.
||||
Pria tangguh bernama Mr. X itu terdiam selama beberapa detik yang terasa sangat panjang, mengamati raut wajah ketakutan Reno dari balik layar monitor pusat komandonya.
Senyum licik dan penuh perhitungan perlahan mulai mengembang di sudut bibir sang bos sindikat siber tersebut, menemukan sebuah titik kelemahan psikologis yang sangat rapuh.
Ia menyandarkan punggung tegapnya ke sandaran kursi, memutar-mutar sebuah pena besi tebal di antara sela-sela jari kanannya dengan gerakan yang luar biasa santai.
Tatapannya menajam tajam mengarah lurus menembus lensa kamera, memberikan tekanan mental yang membuat Reno kesulitan mengambil pasokan oksigen yang cukup.
Reno mengerutkan keningnya dengan sangat dalam, tidak memahami arah pembicaraan penuh teka-teki yang mendadak berubah haluan secara drastis ini.
Jantung Reno seakan berhenti berdetak sesaat mendengar nama gadis pujaannya diucapkan dengan pelafalan yang sangat fasih oleh sang penjahat kelas kakap tersebut.
{Bagaimana bisa dia mengetahui keterlibatan Luna dalam insiden sabotase air itu, ini berarti komplotan gila ini sudah membajak seluruh riwayat aktivitas harianku tanpa sisa.}
Seluruh keberanian fiktif yang baru saja ia kumpulkan langsung runtuh tak bersisa, digantikan oleh gelombang kepanikan baru yang menyangkut keselamatan orang lain.
"Jangan pernah berani menyeret orang yang sama sekali tidak bersalah ke dalam urusan gila kita berdua ini!"
Ia berteriak histeris ke arah layar ponsel, kepanikan barunya kini murni didasari oleh rasa takut kehilangan satu-satunya wanita yang ia cintai.
Mr. X tertawa pelan dengan nada yang jauh lebih merendahkan dari sebelumnya, menikmati kendali psikologis absolut yang kini sepenuhnya berada di dalam genggamannya.
Dari arah koridor belakang, Radit mendadak muncul berjalan gontai menuju ruang tamu sambil membawa segelas besar air putih dingin untuk meredakan kepanikan sahabatnya.
Langkah kaki Radit terhenti secara mendadak di ambang ruangan, terheran-heran melihat Reno sedang berteriak marah kepada layar ponsel yang digenggamnya erat.
Reno sama sekali tidak memedulikan kehadiran sahabat gempalnya tersebut, seluruh fokus matanya terkunci rapat pada senyum mematikan yang terpampang di layar.
Sang bos mafia mencondongkan tubuhnya ke depan, mendekatkan wajahnya ke arah lensa kamera untuk memberikan sebuah kalimat penutup yang luar biasa mematikan.
Sambungan panggilan video itu langsung terputus secara sepihak, menyisakan layar ponsel hitam pekat yang memantulkan raut keputusasaan dari wajah pucat pasi Reno.
semoga happy ending thor jangan bad ending im already tired for bad ending