Freya Winata (25) adalah definisi sempurna dari wanita modern, cantik, ceria, manja, dan enerjik. hidupnya yang penuh warna mendadak berubah ketika kedua orang tuanya menjodohkannya dengan Adrian Valerick (30), seorang CEO dingin yang kaku, keras kepala dan hanya peduli dengan tumpukan berkas di kantornya.
Bagi Adrian, pernikahan adalah transaksi yang tidak logis. Namun, ancaman pencopotan jabatan dari sang ayah membuatnya terpaksa mengucapkan janji suci. Berbeda dengan Adrian yang murka, Freya justru melihat kejengkelan Adrian sebagai tantangan paling seru dalam hidupnya. Ia bertekad menjinakkan "Tuan Kaku".
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon puput11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Espresso dan Kartu
Sinar matahari pagi menerobos masuk melalui jendela besar ruang makan. Jam dinding berdentang enam kali. Di ujung meja marmer yang panjang, Adrian sudah duduk tegak dengan kemeja abu-abu tua yang tersetrika sempurna. Tangannya memegang tablet, membaca pergerakan bursa saham global yang bergerak dinamis.
Pak Hadi melangkah berhati-hati, menaruh secangkir espresso tanpa gula di sisi kanan Adrian. "Ini kopi Anda, Tuan Muda."
Adrian hanya mengangguk tanpa mengalihkan pandangan dari layar. Suasana hening, persis seperti ruang kerja pribadinya, sampai sebuah ketukan sepatu hak tinggi memecah keheningan dari arah tangga.
Tuk... Tuk... Tuk...
Freya muncul dengan penampilan yang membuat Pak Hadi dan Bi Darmi di ambang dapur tertegun. Gadis berponi itu mengenakan gaun terusan chic berwarna pastel dari desainer ternama, rambutnya dikuncir kuda menyisakan beberapa helai yang membingkai wajah cantiknya dengan sempurna. Aroma parfum mewah yang manis nan segar langsung menyapu ruang makan, mengusir aroma kopi yang pekat.
"Pagi, Hubby!" sapa Freya ceria.
Dia menarik kursi tepat di sebelah kanan Adrian, bukan di ujung meja yang jauh. Adrian menghentikan gerakan jemarinya di atas iPad. Alisnya bertaut. Kursi itu terlalu dekat, melanggar batas kenyamanan logisnya.
"Pagi, Nyonya Muda. Ini menu sarapan pagi ini," Bi Darmi buru-buru meletakkan semangkuk smoothie bowl penuh buah segar dan granola di depan Freya.
"Wah, thank you so much, Bi Darmi! Looks so aesthetic," Freya tersenyum manis, membuat Bi Darmi tersipu dan buru-buru mundur kembali ke dapur.
Adrian masih menatap Freya dengan ekspresi datar yang tidak terbaca. "Kenapa kamu duduk di sini? Kursimu di ujung sana."
Freya menyendok smoothie - nya, lalu menopang dagu dengan tangan kirinya, menatap Adrian dengan kedipan mata yang centil. "Kenapa? Terlalu dekat ya? Takut khilaf melihat kecantikan aku yang effortless ini, Mas Adrian?"
Adrian mendengus pelan, sebuah reaksi fisik spontan yang jarang dia tunjukkan. Ia meletakkan iPad-nya di meja dengan ketukan tegas. "Saya tidak punya waktu untuk lelucon kekanak-kanakan. Saya harus ke kantor lima belas menit lagi."
Adrian merogoh saku jasnya yang tersampir di sandaran kursi. Dengan gerakan formal, dia meluncurkan sebuah kartu kredit berwarna hitam mengkilap, sebuah Black Card dengan limit tanpa batas ke atas meja marmer, tepat di depan mangkuk Freya.
"Ini untuk semua kebutuhanmu. Belanja, pakaian, atau apa pun yang ingin kamu beli untuk bersenang-senang dengan teman-temanmu. Gunakan ini," ucap Adrian tegas.
Baginya, memberi fasilitas materi adalah kewajiban formal sebagai suami dalam transaksi bisnis ini.
Freya melirik kartu itu sekilas, lalu beralih menatap Adrian sambil tersenyum geli. Dia mendorong kartu itu kembali ke arah Adrian menggunakan ujung sendoknya.
"Simpan saja kartu hitamnya, Pak CEO. Uang dari papi aku sudah lebih dari cukup buat beli isi mal beserta gedungnya sekalian," jawab Freya santai, nadanya manja namun sarat akan kekuasaan.
Adrian mengernyitkan dahi. Rahangnya sedikit mengeras. "Ambil, Freya. Ini kewajiban formal saya. Jangan mendebat sistem yang sudah saya atur."
"Formalitas? Oh please, Mas Adrian," Freya tertawa renyah, memajukan wajahnya hingga berjarak hanya beberapa senti saja dari bahu tegapnya Adrian.
"Aku terima kartunya kalau Mas Adrian yang temani aku belanja harian. Bagaimana?"
Adrian langsung menarik tubuhnya mundur, berdiri dari kursi dengan gerakan kaku yang cepat. Ia membetulkan letak jam tangan mewahnya. "Saya sibuk. Dan satu hal lagi... jangan pernah ikut campur atau mendatangi area kerja saya. Urus urusanmu sendiri."
"Siap, Tuan Kaku! Tapi hati-hati ya, nanti kangen loh," goda Freya sambil melambaikan tangan dengan kuku manikur pink-nya yang berkilau.
Adrian tidak membalas. Dia mengambil jas dan berjalan cepat dengan langkah tegap menuju pintu depan, di mana Jaka sudah siap memanaskan mobil Rolls-Royce Phantom miliknya.
Begitu punggung Adrian menghilang, Freya tidak terlihat sedih sama sekali. Dia justru menyuap stroberi ke dalam mulutnya dan tersenyum penuh kemenangan. Menjinakkan pria itu ternyata jauh lebih seru daripada yang dia bayangkan.
Di sudut ruangan, Pak Hadi dan Bi Darmi hanya bisa saling berpandangan, takjub melihat bagaimana nyonya muda mereka sama sekali tidak goyah menghadapi dinginnya sang kaisar bisnis Valerick Group.