NovelToon NovelToon
Cermin Retak

Cermin Retak

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Hantu
Popularitas:975
Nilai: 5
Nama Author: glaze dark

Namanya Anya Dia baru pindah ke rumah kontrakan lama di riau. Murah banget sewanya. Cuma ada 1 yang aneh: cermin gede di kamar.

Malam pertama, Anya iseng selfie depan cermin jam 12 malam. Pas diliat hasilnya... di foto dia senyum. Tapi di pantulan cermin, dia nunduk.

Dia kira cuma efek cahaya. Besoknya dia dandan buat kerja. Ngaca biasa.
Tiba-tiba lampu kedip. Pas nyala lagi, di cermin dia udah nunduk duluan. Padahal Sari masih natap cermin....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon glaze dark, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 23

Saat Anya tenggelam dalam kebingungan. pandangannya beralih pada sosok "Serra" di depannya. Temannya masih pegang cangkir kopi, menatapnya dengan raut datar. Terlalu datar. Perlahan wajah Serra tampak mengering, Seperti kertas terpanggang matahari.

"Nya? Kok bengong lagi?" tanya Serra. Suaranya Agak normal, tapi anehnya. Suara Serra seperti bergema dikepala Anya.

Anya mundur satu langkah. Kepalanya berdenyut hebat, seakan sekelilingnya terasa berputar. “Visual. Ini cuma distorsi visual. Otak gue kekurangan oksigen,” bisik Anya berulang kali, coba fokus apa yang dilihatnya.

Ilusi yang Membisu. Anya coba pejamkan mata. Keheningan mendadak pecah. Bukan oleh suara lingkungan kantor, melainkan suara bisikan yang kini bergema langsung di dalam kepalanya

“Temani... aku...”

Anya merasakan hawa dingin tepat di belakang tubuhnya. Di koridor sebelah kanannya, sebuah bayangan hitam pekat, bertubuh tinggi, rambut menjuntai panjang perlahan merayap naik. Bayangannya menempel di dinding, mengulurkan kedua tangannya yang kurus dengan jari-jari meruncing ke arah pundak Anya.

“Ini cuma proyeksi psikologis akibat trauma kosan kemarin! Nggak ada apa-apa di belakang ku!” teriak Anya dalam hati, Ia sekuat tenaga menolak visualisasi yang kian brutal memanipulasi pikirannya.

Karna tidak kuat tekanan psikologis, dan rasa panik yang menghantam kepalanya, membuat pertahanan Anya runtuh.

Bruk.

Anya ambruk di lantai karpet abu-abu. pingsan. Ia jatuh ke dalam kegelapan yang pekat dan sunyi. Sebuah pelarian instan dari labirin ilusi yang menyiksanya.

................

"Anya! Ya ampun, Anya! Bangun, Nya!"

Sebuah guncangan keras di bahunya. Membuat Kesadaran Anya merayap naik. Rasa pusing luar biasa langsung menghantam, saat ia membuka mata. Perlahan cahaya masuk ke matanya

Aroma tajam minyak kayu putih menusuk hidung. tak ada lagi bau anyir.

"Minum dulu, Nya. Pelan-pelan," Suara itu terdengar cemas.

Saat pandangannya mulai fokus, Anya mendapati dirinya sedang berbaring di atas sofa ruang pantry. Di sampingnya, Serra memegang botol minyak kayu putih. wajahnya panik. Kulit normal, ekspresi manusiawi penuh kekhawatiran. Beberapa rekan kerja divisi lain juga mengelilingi dengan raut muka cemas.

"Lo kenapa, Nya?" tanya Serra, menyodorkan segelas air hangat. "Tadi pas aku balik dari toilet, kau udah tergeletak pingsan di depan meja kerja. Papan ketik laptop kau juga sampai ke tindih tangan."

Anya menerima gelas dengan tangan gemetar. Ia meminumnya sedikit, merasakan kehangatan air nyata mengalir di tenggorokannya yang kering. Ia melirik jam dinding di pantry: 13.25.

Hanya sepuluh menit sejak Serra pamit ke toilet. Anya menatap telapak tangannya sendiri. Kering, bersih, tak ada lumut, atau cairan keruh. Pintu kaca lobi lift yang terlihat dari pintu pantry pun tampak bersih. Transparan seperti biasanya.

Semua horor yang ia lalui. terjadi di dalam kepalanya. Otaknya yang kelelahan, menciptakan ketakutan yang luar biasa. Tapi, meski ia tahu itu hanya halusinasi, rasa dingin yang sempat merayap di pundaknya, masih menyisakan sensasi nyata di tubuhnya.

Anya terdiam di sofa pantry, menatap air hangat dalam gelasnya. Bergetar. Seiring sisa-sisa trauma yang masih merayap di nadinya. Riuh rendah suara rekan-rekan kerjanya, menanyakan keadaannya terdengar samar, kontras dengan keheningan yang menjebaknya beberapa menit lalu.

"Nih, oleskan lagi di leher kau." ujar Serra. Ia berikan botol minyak kayu putih. Tangannya menyentuh punggung tangan Anya, memberi kehangatan untuk Anya. "Muka kau pucat banget, Nya. Kayak habis liat setan."

Anya tersenyum hambar. Lihat setan? Batinnya tertawa getir. Dia bahkan tidak tahu, benar-benar liat setan atau otaknya sendiri sudah mulai tidak waras.

"Aku... aku cuma kurang tidur, Ser," jawab Anya parau."Laporan kantor... bikin agak stres."

Rekan-rekan kerja mulai mengembuskan napas lega. Beberapa dari mereka menepuk pundak Anya pelan. Perlahan membubarkan diri kembali ke meja masing-masing, menyisakan Serra yang masih menatapnya dengan curiga.

Anya berulang kali menegaskan bahwa semua itu hanyalah proyeksi psikologis akibat kelelahan ekstrem, ada satu hal yang tidak bisa ia bohongi. Sensasi dingin di pundaknya saat bayangan hitam itu mendekat di dalam ilusi. Rasanya terlalu pekat untuk sekadar disebut "bunga tidur".

"kau pulang aja? Biar aku minta izin ke Pak Arif" tawar Serra tulus. "Rapat jam dua nanti biar aku yang handle drafnya."

Anya melirik lobi pantry, menatap ke arah koridor lantai 8. Kini kembali ramai. Semuanya tampak normal. Koridor korporat dengan karpet abu-abu usang, aroma kopi, dan laptopnya tergeletak pasrah di atas meja.

Ketakutan mulai tumbuh di dalam benaknya. Jika otaknya bisa menciptakan halusinasi seliar dan senyata itu dalam waktu sepuluh menit, apa yang akan terjadi jika ia kembali duduk di mejanya nanti? Apakah makhluk dari kosan itu benar-benar tertinggal di sana, atau justru trauma itu telah meresap ke dalam dirinya, siap meledak kembali kapan saja?

Anya meremas pelan gelas di tangannya. Pertanyaan Serra tentang izin pulang membuatnya bimbang. Pulang berarti kembali ke kosa. Pusat dari trauma yang memicu histerisnya. Di sisi lain, tetap berada di kantor dengan sisa-sisa halusinasi yang masih membekas, terasa seperti menyiksa diri sendiri.

"Nggak usah, Ser," jawab Anya akhirnya, menggeleng pelan. "Aku di sini aja Kalo pulang sekarang, tanggung."

Serra menghela napas panjang, ia tidak memaksa. "Ya udah, tapi kau jangan ke kesana dulu. Duduk di sini, sampai kau bener-bener tenang. Aku ambilin draf laporan ke meja, biar aku yang lanjutin di laptopku."

Anya mengangguk. Ia perhatikan punggung Serra keluar dari pantry menuju meja mereka. Lorong lantai 8 tampak sangat normal. Beberapa orang dari divisi sebelah sedang mengobrol di dekat dispenser, suara tawa mereka terdengar jelas di telinga Anya. Keheningan tadi benar-benar telah lenyap.

Anya menyandarkan kepalanya sofa pantry, mencoba meresapi kehangatan ruangan. Ia memejamkan mata sejenak, menikmati aroma kopi yang menguar dari mesin pembuat kopi di sudut ruangan.

“Semuanya nyata. Ini kantor. Ada Serra, ada anak-anak divisi lain. Aku aman,” bisik Anya,

1
Teh Euis Tea
makin penasaran
Teh Euis Tea
syukurlah mereka sampe jg ke rumah ustadz
Teh Euis Tea
hadeuhhh aku tegang bacanya tp penasaran
Teh Euis Tea
mungkin mahluk itu diamnya dipohon beringin
Teh Euis Tea
tegang aku bacanya, kasian loh Anya yg di incer trs sm setan
Teh Euis Tea
setannya kuat, apa lg Anya sering kosong pikirannya
Alissia
apa dulu itu hantunya kekasihnya tio 🤔🤔🤔🤔
Alissia
hai thor🤭🤭🤭
Sarah Bagan
mntap kak, lanjutkan
Teh Euis Tea
jujur aku baru kali ini baca novel horor, takut tp penasaran
Teh Euis Tea: sama2 tetap semangat berkarya thor
total 2 replies
Teh Euis Tea
Anya sepertinya mahkluk itu ga bakal berenti ganggu km, klu kmnya sering Ng gelamun, pikiranmu sering kosong jd setan gampang masuk
Teh Euis Tea
si Anya pikirannya selalu kosong jd gampang setan masuk ke badannya
Teh Euis Tea
Anya Serra kalian banyakin istiqfar biar hati tenang dan pikiran ga diganggu mahkluk halus lg
glaze dark
nanti akan terbongkar ya kak, masih panjang ko🤭🤭🤭
Teh Euis Tea: di tunggu
total 1 replies
Teh Euis Tea
aku ikutan tegang bacanya, dan penasaran kenapa si Minar terobsesi sm Anya, ada apa ya dgn Minar dulunya?
Teh Euis Tea
duhhh deg degan aku bacanya, mudah2 an Anya dan yg lainnya selamat
Teh Euis Tea
duhhh deg degan aku tkt Anya dan Bibah knapa napa
Teh Euis Tea
loh thor, bkn nya Anya kerja ya bkn kuliah?
atau Anya kerja sambil kuliah thor?
Teh Euis Tea
setan ko siang bolong msh gentayangan, lagian Bu kos udah tau kamar serem msh aj di sewain aturan rombak aj biar ganti suasana
Teh Euis Tea: betul ka
total 4 replies
Sarah Bagan
mungkin dibunuh kali, kita lihat aja endingnya. tamat atau Ndak, biasanya banyak novel ga tamat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!