Setelah lelah menjalani hidup yang penuh kegagalan, Arga memutuskan berhenti dari pekerjaannya. Namun, ironisnya ia tewas.
Saat membuka mata, ia kembali ke masa SMA, titik awal kehidupan buruknya. Bedanya, kini ia memperoleh Sistem Keuntungan Usaha yang membuat setiap bisnis yang berhasil memberinya hadiah melimpah.
Di kehidupan kedua ini, Arga bertekad mengubah nasib dan membangun kerajaan bisnisnya sejak masih berseragam sekolah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sistem One, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14: Tiara
Gadis remaja itu menunduk, wajahnya tampak sangat sedih.
Tiba-tiba terdengar derit suara rantai dari ayunan di sebelahnya.
Seorang pria duduk di sana sambil santai mengisap sebatang rokok.
"Kamu...?" Tiara mendongak, terkejut.
"Yoi, Cil. Aku guru lesmu. Baru dua pekan aku ngajar kamu, kok sore-sore malah bengong di sini? Tapi emang enak sih diam merenungkan nasib sambil lihat matahari terbenam, wkwk," sahut Arga santai.
Gadis bernama Tiara itu berusia 15 tahun dan masih duduk di bangku kelas 3 SMP.
Dia benar-benar heran. Walaupun pertemuan awal mereka dua pekan lalu tidak terlalu berkesan, seingat Tiara, Arga adalah sosok yang sopan, tampak lesu, dan sama sekali tidak merokok.
"Kamu bukan Kak Arga yang kemarin, ya? Kamu kakak kembarannya atau adiknya?" tanya Tiara curiga.
Arga terkekeh sambil menggelengkan kepala. "Bagus sih kalau punya saudara kembar. Tapi sayangnya aku gak punya kembaran."
'Bicaranya juga jadi aneh banget,' batin Tiara heran.
"Lagi ada masalah? Orang tuamu kecewa lagi? Atau gimana?" tanya Arga menebak langsung.
Tiara melotot. "Kok kamu bisa tahu?"
"Ya tahulah. Kan aku datang dari masa depan," gurau Arga sambil memainkan korek gasnya. "Coba cerita, siapa tahu aku bisa bantu."
"Masa depan? Kamu kebanyakan nonton film ya!" sahut Tiara, wajah sedihnya sedikit terhibur.
Arga ikut senang melihat senyum gadis itu. "Mau cerita gak nih? Atau mau langsung belajar? Nanti kalau nilai ujianmu jelek terus diomelin orang tuamu, tahu rasa kamu, Cil."
"Nyebelin banget jadi orang!" ketus Tiara.
"Ya bagus dong jadi orang, daripada jadi monyet, hahaha," Arga berdiri dari ayunan lalu menyodorkan sebungkus camilan yang tadi ia beli di minimarket. "Nih, makan. Katanya makanan manis bisa bikin suasana hati jadi happy."
"Buat aku?"
"Buat siapa lagi, Cil? Ayo balik. Biar aku yang hadapi orang tuamu itu. Kalau ada masalah, jangan malah lari kabur begini. Hadapi saja dengan santuy."
Tiara tertegun. "Bagaimana kamu bisa tahu kalau aku lari ke sini gara-gara orang tuaku?"
"Sudah kubilang, aku ini dari masa depan."
"Gak percaya! Mana ada hal kayak begitu," tukas Tiara sambil membuka bungkus jajanan lalu memakannya dengan lahap.
"Ya sudah kalau gak percaya."
Sesampainya mereka di depan sebuah rumah gedongan, satpam yang bertugas langsung membuka gerbang dengan wajah cemas.
Tampaknya dia sudah tahu kalau suasana di dalam rumah sedang sangat panas.
Begitu mereka berjalan masuk ke area teras, seseorang ternyata sudah menunggu dengan tidak sabar.
Seorang wanita paruh baya dengan riasan tipis, berwajah cantik, namun sedang bersedekap tangan dengan tatapan dingin.
"Dari mana saja kamu, Tiara?! Tidak sopan sekali, saat Ibu sedang menasihati kamu malah lari kabur! Dan kamu..." Wanita itu menunjuk Arga dengan tajam. "Kamu saya bayar mahal untuk mengajar, tapi malah datang telat!"
Arga menghela napas panjang. "Tenangkan dulu hati Anda, Nyonya. Saya tadi kebetulan ketemu Tiara di taman dekat sini. Dia kelihatan sedih banget. Anda terlalu keras mendidik anak ini. Dia masih SMP, masih masa puber, dan butuh hiburan juga."
Wanita itu makin geram mendengarnya. "Beraninya kamu ikut campur urusan keluarga kami! Memangnya ka—"
Sebelum kalimat makian itu selesai, dengan wajah tanpa dosa, Arga mengambil sepotong roti sisa jajanannya tadi dan langsung menjejalkannya ke mulut wanita tersebut untuk menyumpal suaranya.
"Ssttt! Tenang dong, Nyonya. Telinga saya bisa budek kalau Anda teriak-teriak terus. Gimana kalau kita taruhan saja?" ujar Arga santai.
Wanita itu langsung meludahkan rotinya dengan wajah merah padam karena sangat marah.
Sementara di belakangnya, Tiara berusaha keras menahan tawa melihat kenekatan guru lesnya yang luar biasa.
"Taruhan?! Kamu gila ya?!" bentak wanita itu.
"Dengarkan dulu. Saya tahu saya ini cuma suara rakyat kecil jelata dan Nyonya adalah penguasanya. Tapi tolong dengarkan proposal saya. Anda marah karena menganggap Tiara ini bodoh dan lambat belajar, kan?"
Tiara tersentak mendengar kata 'bodoh' disebut blak-blakan, tetapi ia memilih diam memperhatikan.
Arga melanjutkan, "Saya jamin saya bisa membuat anak ini jauh lebih pintar dan berprestasi di sekolah. Tapi syaratnya, Anda tidak boleh protes dengan metode mengajar saya. Bagaimana? Kalau gagal, Anda gak usah bayar saya sama sekali juga gak apa-apa."
Ibu Tiara menatap Arga dengan pandangan menimbang-nimbang. Pikirnya, tidak ada salahnya dicoba. "Baiklah. Tapi ingat, kalau kamu gagal dan Tiara masih mengecewakan saya dan ayahnya... saya akan tuntut kamu ke jalur hukum!"
"Keren juga mainannya tuntut-tuntutan. Oke, saya terima. Terus kalau saya berhasil, gimana?" tantang Arga.
Ibu Tiara tersenyum sinis. "Saya bayar kamu berkali-kali lipat dari tarif awal."
"Oke, sepakat. Menarik," sahut Arga puas.