"Aku tidak akan bersaing dengan masa lalumu. Sebelum kamu mendepakku, aku yang akan berjalan keluar."
Nayara tahu posisinya di kediaman Dewangga hanya sebatas hitam di atas putih. Melalui pernikahan kontrak dua tahun, ia menjadi tameng bagi Arkananta Dewangga untuk mempertahankan hak asuh anaknya, Kenzie, dari kejaran mantan istrinya, Saskia. Naya menjalani perannya dengan profesionalitas tinggi, sembari mengunci rapat hatinya di balik dinding es yang tebal.
Namun, situasi memanas saat Gisella—cinta pertama Arka—kembali dalam kondisi hancur. Dalih tanggung jawab membuat Arka kerap berpaling, memicu kelicikan Clarissa (saudara Saskia) untuk menjebak Arka hingga skandal kemesraannya dengan Gisella viral di media sosial. Foto viral ini menjadi senjata maut Saskia untuk merebut Kenzie kembali di sidang banding. Di depan mertua yang murka, Naya tampil anggun membela Arka demi menuntaskan tugas kontraknya.
Namun di balik layar, Naya menampar ego suaminya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22. Kejutan Kecil di Hari Minggu
Langit hari Minggu pagi begitu bersih, menampilkan semburat warna biru muda yang cerah tanpa sapuan awan mendung. Angin berembus cukup kencang, menggoyang pucuk-pucuk pohon palem dan gugusan bunga asoka di taman belakang kediaman Dewangga. Rumah mewah itu terasa jauh lebih tenang hari ini karena Arka sengaja meliburkan sebagian besar pelayan dalam, menyisakan ruang privat yang steril dari intrik dunia luar.
Naya melangkah keluar ke beranda belakang dengan membawa sebuah nampan anyaman berisi tiga gelas jus jeruk segar dan sepiring camilan pasar. Blus linen kasual sewarna madu dan celana denim longgar yang ia kenakan membuat penampilannya tampak sangat membumi, namun tidak mengurangi sedikit pun keanggunan alaminya.
Di tengah rerumputan hijau, Kenzie sedang berlari-lari kecil dengan riang. Di tangannya, bocah itu memegang sebuah mainan berbentuk burung dari pelepah pisang yang baru saja dibuatkan oleh Naya subuh tadi.
"Mama! Lihat, burung pelepah pisangnya bisa terbang kalau Kenzie lari kencang!" seru Kenzie, wajah polosnya memerah karena keringat, memancarkan keceriaan murni tanpa ada sisa-sisa ketakutan dari badai isu di sekolahnya tempo hari.
Naya meletakkan nampan di atas meja rotan, lalu tersenyum teduh. "Iya, Sayang. Tapi larinya jangan terlalu dekat dengan kolam ikan, ya. Nanti licin."
"Siap, Mama!" Kenzie memutar haluan, berlari menuju arah sebaliknya.
Dari arah pintu kaca beranda, Arka muncul. Pria itu menanggalkan seluruh atribut formalnya. Pagi ini ia hanya mengenakan kaus polo putih santai dan celana pendek selutut. Rambutnya tidak ditata dengan gel seperti biasanya, jatuh acak-acakan di dahi namun justru memancarkan kesan hangat yang belum pernah ia perlihatkan sebelumnya.
Arka berdiri di samping Naya, bersedekap sambil menatap putranya yang sedang asyik bermain. "Mainan apa yang kamu berikan padanya, Naya? Seingatku, aku tidak pernah membelikan mainan seperti itu."
Naya menoleh sedikit, memberikan tatapan tenang menghanyutkan miliknya. "Itu mainan tradisional dari pelepah pisang, Tuan Arka. Saya membuatnya dari sisa tebangan pohon pisang di dekat paviliun belakang tadi subuh. Kenzie bosan dengan mainan elektroniknya, jadi saya pikir mengenalkannya pada mainan sederhana akan baik untuk imajinasinya."
Arka mengambil satu gelas jus jeruk dari nampan, lalu menyesapnya perlahan. Matanya terpaku pada detail jalinan pelepah pisang yang dibawa Kenzie. "Ibuku dulu selalu membelikan mainan impor seharga belasan juta yang ujung-ujungnya hanya dipajang di lemari kaca karena takut Kenzie terluka. Tapi melihat dia berlari seperti itu dengan sepotong pelepah pisang ... rasanya sangat aneh."
"Aneh karena Anda melihat anak Anda bahagia dengan sesuatu yang tidak bisa dinilai dengan uang Anda?" sindir Naya halus, suaranya tetap datar tanpa intonasi tinggi yang menyinggung.
Arka terkekeh rendah—sebuah kekehan tulus yang terdengar begitu renyah di telinga Naya. "Kamu selalu tahu cara menyentil egoku, Naya."
Arka meletakkan gelasnya, lalu merogoh sesuatu dari balik punggungnya. Sebuah layangan kertas bermotif naga tradisional lengkap dengan segulung benang kenur berukuran besar.
Naya sedikit menaikkan sebelah alisnya, agak terkejut melihat benda yang dibawa oleh sang tuan muda. "Layangan? Anda membelinya?"
"Aku menyuruh Heri mencarinya di pasar tradisional kemarin malam setelah mendengar ceritamu tentang masa kecilmu di kampung," aku Arka, agak canggung menatap mata bulat Naya yang jernih. "Hari ini anginnya cukup bagus. Aku pikir ... tidak ada salahnya mencoba menjadi ayah yang 'membumi' seperti yang kamu katakan."
Naya tertegun selama dua detik. Ia tidak menyangka kalimat tegas yang ia lontarkan beberapa hari lalu di ruang kerja benar-benar direnungkan dan dipraktikkan oleh pria kaku ini. Rasa hormat yang samar mulai merayap di dada Naya melihat kesungguhan Arka untuk berubah demi anaknya.
"Papa! Itu apa?!" Kenzie mendadak berlari mendekat, matanya berbinar menatap layangan besar di tangan Arka.
"Ini layangan, Jagoan. Mau coba menerbangkannya bersama Papa?" tawar Arka, berlutut di depan anaknya.
"Mau! Mau banget, Papa!" Kenzie melompat kegirangan.
Arka bangkit, menatap Naya dengan pandangan mata yang melembut. "Ikutlah bersama kami, Naya. Angin di tengah taman lebih kencang."
Naya menggeleng pelan, mempertahankan jarak profesionalnya. "Tidak, terima kasih. Ini waktu Anda bersama Kenzie. Saya akan mengawasi dari sini saja."
"Ini perintah dari bosmu, Nayara," sela Arka cepat, menyisipkan gurauan tipis di balik ketegasannya. "Kenzie butuh mamanya untuk memegangi layangannya sebelum terbang. Ayo."
Mendengar argumen Arka, Naya akhirnya menghela napas pasrah dengan keanggunan mutlak. Ia melangkah turun ke rerumputan, mengikuti Arka dan Kenzie menuju tengah taman yang luas.
Proses menerbangkan layangan itu dipenuhi dengan kecanggungan yang manis di awal. Arka yang terbiasa memegang kendali perusahaan raksasa, ternyata sangat kaku saat harus mengulur benang layangan. Beberapa kali layangannya jatuh menukik ke rumput, membuat Kenzie tertawa terbahak-bahak melihat kegagalan papanya.
"Papa payah! Masa kalah sama angin!" ledek Kenzie polos.
Arka menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, wajah tegasnya memerah karena malu di depan Naya. "Anginnya mendadak berputar, Jagoan. Sini, coba sekali lagi."
Naya yang melihat kekakuan Arka akhirnya tidak bisa menahan diri. Sifat tenangnya meleleh menjadi sebuah kelembutan yang hangat. Ia berjalan mendekat, mengambil alih layangan dari tangan Kenzie, lalu berdiri beberapa meter di depan Arka.
"Tuan Arka, jangan ditarik terlalu keras saat layangannya belum naik," pandu Naya, suaranya mengalun stabil dan menenangkan di antara deru angin sore. "Ulur benangnya pelan-pelan mengikuti irama angin. Begitu saya lepaskan, baru Anda sentak sedikit. Paham?"
Arka menatap Naya yang berdiri tegak memegang ujung layangan. Cahaya matahari Minggu membuat aura wanita itu tampak berkilau dan begitu memikat. "Baik, aku siap."
"Satu ... dua ... lepas!"
Naya melemparkan layangan itu ke udara. Arka bergerak taktis, jemarinya mengulur benang kenur dengan ritme yang pas sesuai instruksi Naya. Layangan naga itu seketika melesat tinggi, membelah langit biru hari Minggu, terbang dengan gagah di atas megahnya atap rumah Dewangga.
"Horeee! Papa hebat! Layangannya terbang tinggi sekali!" Kenzie berteriak histeris, melompat-lompat gembira sambil memeluk pinggang Arka.
Arka tertawa lepas—sebuah tawa kebahagiaan murni yang belum pernah terdengar dari mulutnya selama bertahun-tahun ini. Ia mendongak menatap layangannya, lalu mengalihkan pandangannya pada Naya yang berdiri tidak jauh darinya.
Naya sedang tersenyum. Bukan senyuman formal untuk publik, melainkan senyuman manis yang murni, terbit dari lubuk hatinya yang ikut bahagia melihat keceriaan Kenzie. Angin hari Minggu menerbangkan rambut panjang Naya yang terurai, membingkai wajah cantiknya dengan begitu sempurna di mata Arka.
Dug. Dug. Dug.
Debaran jantung Arka kembali berpacu dengan liar, jauh lebih kencang daripada debaran-debaran sebelumnya. Rasa kagum, rasa butuh, dan rasa cinta yang selama ini ia sangkal di dalam kontrak, siang ini meledak tak terkendali di dalam dadanya. Pria sedingin es itu menyadari bahwa ia telah jatuh sedalam-dalamnya pada pesona kekuatan sunyi seorang Nayara.
Bersambung...