Hai gusy, harap maklum ya novel ini masih banyak typo, karena masih dalam tahap revisi, revisi lambat!
Seorang guru beladiri perempuan termuda yang masih berumur 19 tahun di kota X terpaksa dieksekusi hukum mati, karena dituduh sudah menjual informasi tentang perguruan mereka, dia adalah guru beladiri termuda sepanjang sejarah perguruan mereka, siapa sangka setelah dihukum mati perempuan itu memiliki kesempatan kedua untuk hidup, sayangnya dia bertransmigrai ke dalam tubuh seorang gadis SMA yang cupu dan kerap sekali dibully.
Saat sudah berada di dalam tubuh gadis cupu itu, gadis itu di hadapan dengan dua masalah di dua tempat yang berbeda.
Bersamaan dengan itu Laura bertemu dengan seorang guru muda yang mungkin bisa membantu dirinya keluar dari beberapa masalahnya.
Penasaran dengan kisah Laura? kuy kepoin hanya di Noveltoon!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilmara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9. LauLia Vs Jessica
Bismillahirohmanirohim.
"Pagi Ma, Pa."
"Pagi sayang."
Pagi ini jelas sekali senyum yang selalu mengembang di wajah Liana, kini tidak lagi berpenampilan cupu, karena Laura sudah merubah penampilan itu.
Senyum itu sama sekali tidak pudar di kedua sudut bibir Liana, Vano yang melihat itu hanya menatap datar Liana.
"Sayang kamu kelihatannya kayak lagi happy banget ada apa? Dari tadi senyum terus." ucap Wanti sang mama, dia pun memberikan senyum pada putrinya.
"Senyum itu ibadah loh ma katanya, biar bisa ngilangin sedikit dosa kita." jawab Laura sambil melirik Vano yang duduk di depannya.
"Kenapa lu liatin gue kayak gitu, kagak suka?" ketus Vano.
Banu hanya bisa membuang nafas kasar. "Sudah ini masih pagi, lanjut makan." tegur Banu.
Sebagai kepala keluarga tentu saja Banu harus bisa mendidik anak-anaknya menjadi orang yang baik dan memiliki sopan santun.
Hari ini bagaimana Laura tidak sangat senang, kemarin dia berhasil membuat Sinta kesal, Liana berhasil melakukan permintaan Sinta, Arip saja yang melawan Liana berhasil Laura kalahkan.
Ditambah lagi Filia dan beberapa ketua lainnya setuju jika Liana dapat mengembangkan ilmu bela dirinya di perguruan Kalam Kilat, tanpa dia harus menginpa, Liana akan menginap disaat hari libur sekolah saja.
"Vano pagi ini kamu berangkat dengan Liana, nanti pulang sekolah kamu harus antar Liana ke perguruan Kalam kilat, karena papa tidak bisa menjemput Liana, papa sudah tidak ada izin lagi di kantor."
"Tapi Pa."
"Tapi apa Vano?" tanya Wati memastikan, sementara Laura hanya acuh tak acuh saja, Vano mau mengantar dia syukur tidak juga tak masalah bagi Laura.
"Tapi kalau anter Liana ke perguruan Kalam kilat sepertinya tidak bisa, Vano ada ekskul nanti."
"Sejak kapan kak Vano ikut ekskul?" Laura terpaksa memanggil Vano dengan sebutan kakak di depan kedua orang tua Liana, jika tidak di depan orang tua Liana mana sudi Laura memanggil Vano dengan sebutan 'Kak'
"Lu lupa? Gue adalah salah satu siswa teraktif di sekolah dengan nilai-nilai yang selalu bagus, sedangkan Lu nilainya selalu jelek."
"Percumah baca buku terus tapi kagak pinter kagak pernah juara." sindir Vano.
"Kak Vano tentang saja, tahun ini aku akan menjadi juara umum di sekolah, tapi dengan syarat kak Vano harus jadi lulusan terbaik."
Laura memang sengaja menantang Vano. "Oke siapa takut! Tapi ingat awas aja kalau lu nggak sampai juara umum, orang kayak lo kemungkinan hanya 1% bisa juara umum."
"Kak Vano tak usah khawatir, sekarang yang harus kakak khawatirkan bagaimana caranya agar kakak menjadi lulusan terbaik."
"Lo ngeremehin gue?" Laura mengangkat bahu Liana acuh saat mendengar pertanyaan dari Vano.
"Sudah tidak usah ribut lagi sekarang kalian berdua berangkat sudah mau telat!" lerai Banu.
Wati hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat pertengkaran Vano dan Liana, sekarang lebih rumit lagi karena Liana sudah berani melawan Vano, sedangkan dulu Liana hanya selalu diam saja.
"Liana berangkat Ma, Pa." pamit Laura sambil menyalami Banu dan Wati secara bergantian hal serupa dilakukan oleh Vano.
Tak lama keduanya sudah berada di depan gerbang sekolah. "Lo kagak usah anterin gue nanti." ucap Lauar sambil turun dari mobil.
"Siapa juga yang mau nganterin lu!" dengus Vano sebal.
"Di depan mama, papa aja manggilnya kak, lah sekarang cuman manggil lo gue, emang nggak ada sopan santunnya samsek." oceh Vano sambil memarkirkan mobilnya.
Saat Laura sudah tidak di dalam kesal Liana dia langsung di hadapankan tatapan tajam dari Jessica dan Gina, lalu teriakan dari Zara.
"Liana!" teriak Zara sedikit nyaring bahkan seisi kelas hampir menutup kuping mereka dengan teriakan Zara.
"Berisik lo Zara!" ketus teman satu kelas Zara..
Tapi Zara tak peduli dengan semua itu, Laura cepat menghampiri kursinya yang satu meja dengan Zara.
"Teriak aja terus Ra, lo mengganggu mood pagi tahu nggak."
Lauar berkata sambil mendaratkan bokongnya di kursi miliknya. "Heheh, abisnya bosen Liana lo lama sih datangnya."
"Lo kayak nggak tahu aja Ra, kalau setiap hari aku selalu disuguhkan dengan drama pagi, sampai sekolah pun begitu." sungut Laura.
Sedangkan Jessica sedari tadi tatapan tajamnya sama sekali tak lepas dari Liana, tapi Laura hanya acuh saja.
"Gina gue mau abis pelajaran ini kita beri perhitungan dengan gadis cupu itu." bisik Jessica pada sahabatnya.
"Sip."
"Bisa-bisanya dia berangkat sekolah dengan dandanan seperti itu mau pamer cantik apa, dia kira sekolah ini miliki bapaknya sekolah dandan mau konser kali." ujar Jessica tak terima.
Jessica sebenarnya iri dengan Liana yang memiliki wajah lebih cantik dari pada dirinya. Zara tahu siapa yang sedang dibicarakan Jessica dan Gina bersuara untuk memanas-manasi dua orang itu.
"Liana lo cantik banget kalau kayak gini, bahkan lebih cantik lo dari pada princes sekolah." ucap Zara sedikit lantang.
"Cantik dari mana orang pake bedak medok kayak gitu kok cantik." Jessica langsung menanggapi ucapan Zara.
"Kepancing dia Li."
"Memangnya ikan Zara!"
"Gue senang kalau kayak gini, dari dulu aja lo mau bales itu si Jessica sama Gina. Li gue yakin orang pertama yang maju dukung lo." tutur Zara.
Dulu memang Liana selalu melarang Zara untuk membalas perbuatan Jessica dan Gina juga beberapa orang yang kerap merudungnya, karena Liana tidak memiliki kekuatan untuk melawan.
Merasa diabaikan oleh Liana dan Zara, Jessica menggebrak meja kedua orang itu.
Brak!
Zara terlonjak kaget tapi tidak dengan Laura. "Santi kali mbak." sahut Liana enteng.
"Lo mau sekolah apa ngelonte hah? Berani banget dandan berangkat sekolah." sentak Jessica.
Padahal hampir semua siswi di kesal itu menggunakan rias tapi tak tahu kenapa Jessica malam memarahi Liana, dia juga bukan ketua kelas padahal.
"Hello! Jessica yang terhormat anak orang nomor 1 di sekolah ini, anak dari pak kepsek lo buta atau bagaimana? Gue juga kurang tahu ya, tapi lo buka mata lo lebar-lebar setelah itu ngaca lo!"
"Di kelas ini bukan cuma gue siswi yang pake Rias! Lihat mereka semua menggunakan rias dan lo nggak ada hak buat atur-atur gue, satu lagi yang mau ngelonte itu lo apa gue, ngaca bedak lo udah kayak 1 ton aja di muka." sakras Laura dia sudah muak dengan Jessica.
"Jangan mau kalah Jes." ucap Gina.
"Temen kompor." sahut Zara ketus pada Gina.
Jessica yang sudah sangat kesal mengangkat satu tangannya hendak menampar Liana, tapi tangan itu tertahan di udara.
Kelas yang tadinya ricuh karena perdebatan Liana dan Jessica seketika hening.
"Pak Glen." ucap Liana saat tak sengaja bertatapan dengan guru muda itu.
Sementara Laura merasakan akan ada hal buruk yang menimpa dirinya sebentar lagi.