"Baguslah kamu ada di sini. Tolong urus makan malam mas Ardy juga ibu mertuaku! Aku mau belanja dan bersenang-senang pakai kartu kreditnya."
Selama tiga tahun pernikahan, Kirana dikenal sebagai istri yang penurut, pendiam dan selalu mengalah.
Bahkan ketika tahu suaminya, Ardy, memelihara wanita lain. Kirana hanya bisa menangis di pojok kamar, menerima semua makian dari mertua dan manipulasi dari keluarga suaminya sendiri.
Sampai sebuah kecelakaan tragis mengubah segalanya.
Saat Kirana membuka mata, ketakutan di jiwanya lenyap tanpa bekas.
Ardy mengira dia masih memegang kendali atas hidup Kirana, sampai akhirnya pria itu sadar, Kirana yang sekarang bukanlah Kirana yang dulu.
Dan saat Ardy mulai berlutut memohon cintanya kembali, Kirana sudah menutup pintu hatinya untuk pria itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 20 Mulai Cemburu?
Kirana baru saja melangkahkan kaki ke luar teras rumah ketika sebuah suara berat menghentikannya.
"Rana, tunggu!"
Ardy menyusul dengan langkah lebar. Dalam beberapa detik saja, pria itu sudah memblokir jalan dan berdiri tepat di hadapan Kirana. Tanpa sadar, tangannya bergerak cepat meraih pergelangan tangan istrinya itu.
"Mau kemana pagi-pagi rapi begini?" tanya Ardy datar. Sorot matanya yang memicing menyiratkan rasa penasaran yang tak bisa disembunyikan. "Biar aku yang antar. Naik mobilku saja."
Kirana menunduk sekilas, menatap jemari Ardy yang melingkar kuat di pergelangannya. Dulu, perlakuan protektif dan sentuhan kecil seperti ini sudah lebih dari cukup untuk membuat jantungnya berdebar bahagia seharian.
Namun kini? Hatinya berubah sedingin es. Tak ada lagi sisa debaran itu.
Dengan perlahan namun tegas, Kirana melepaskan cengkeraman tangan Ardy.
"Tidak usah repot-repot, Mas. Aku cuma mau menemui seseorang di luar kok," tolak Kirana tenang.
"Seseorang?" Dahi Ardy langsung mengernyit curiga. "Siapa? Temanmu? Atau siapa?"
Kirana tersenyum tipis, sebuah senyum yang meremehkan.
"Memangnya aku masih wajib melapor padamu setiap kali ingin keluar dari pagar rumah ini?"
"Tentu saja! Kalau orang yang mau kamu temui itu laki-laki, bagaimana?"
Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibir Ardy. Bahkan ia sendiri sedikit terkejut mendengar nada suaranya yang terdengar dipenuhi kecemburuan.
Kirana terkekeh pelan, menatap suaminya dengan pandangan geli. "Lho, memang kenapa kalau laki-laki? Apa ada aturan yang melarangnya?"
"Tentu saja ada! Kamu itu masih berstatus istriku, Rana! Ingat batasanmu!" balas Ardy cepat dengan rahang mengeras.
"Benarkah? Istri?" Kirana menatap manik mata pria itu lurus-lurus. "Sejak kapan seorang Mas Ardy tiba-tiba peduli kemana istrinya pergi? Bukankah selama ini kamu lebih peduli pada jadwal ke salon selingkuhanmu itu?"
Ardy terbungkam. Kata-katanya tertahan di tenggorokan.
Melihat suaminya mati kutu, Kirana melirik layar ponselnya yang menyala. "Taksi online-ku sudah datang."
Sebuah mobil silver berhenti tepat di depan pagar rumah. Kirana melangkah santai dan anggun menuju mobil itu. Tepat sebelum membuka pintu, ia menoleh ke belakang sambil melambaikan tangan kecil.
"Sampai ketemu nanti malam, Mas. Atau mungkin besok pagi. Siapa tahu urusanku ini memakan waktu lama."
Pintu mobil tertutup rapat. Kendaraan itu pun perlahan melaju meninggalkan halaman rumah, meninggalkan Ardy yang mematung dengan dada bergemuruh. Entah mengapa, melihat Kirana berdandan cantik lalu pergi dengan senyum memikat dan tanpa memberitahu tujuan, membuat dadanya terasa panas dan tidak nyaman.
"Sial!" umpatnya keras. Ardy mengacak rambutnya frustrasi.
"Kalau saja hari ini tidak ada rapat darurat dengan investor...,"
Tanpa berpikir panjang lagi, Ardy segera merogoh ponselnya dan mendial sebuah nomor.
"Halo, Riko? Kamu sedang di pos depan, kan?"
"Siap, iya Pak Ardy."
"Dengar instruksiku. Ada taksi silver yang baru saja keluar dari rumah. Ikuti mobil itu sekarang juga!"
"Siap, Pak. Targetnya Nyonya Kirana?"
"Ya. Jaga jarak aman, jangan sampai dia sadar sedang dibuntuti. Aku ingin tahu persis kemana dia pergi, dimana dia turun dan yang paling penting... dia bertemu dengan siapa."
"Baik. Ada tambahan, Pak?"
"Kalau dia bertemu laki-laki, foto wajah bajingan itu dari dekat. Laporkan semua kegiatan istriku hari ini secara real-time ke nomor ini!"
"Dimengerti, Pak Ardy."
Telepon diputus sepihak.
"Mas..." Suara mendayu yang teramat manja dari arah pintu membuyarkan lamunan Ardy. Siska berjalan mendekat, menggandeng erat lengan Ardy dengan wajah memelas yang biasa ia gunakan untuk memikat pria itu.
"Mas, hari ini kan jadwalku kontrol ke dokter. Kamu jadi mengantarku, kan?"
Ardy menghela napas panjang, menyingkirkan tangan Siska pelan. "Maaf, Siska. Aku benar-benar tidak bisa hari ini. Aku sangat sibuk."
Senyum manis Siska perlahan memudar, berganti dengan raut curiga.
"Sibuk meeting penting atau sibuk memata-matai mbak Kirana?"
Pertanyaan menohok itu membuat Ardy sontak menoleh.
"Apa maksudmu bicara begitu?"
"Jangan pura-pura bodoh, Mas! Aku tidak tuli! Aku dengar sendiri tadi kamu menyuruh seseorang untuk mengikuti pergerakan mbak Kirana!"
"Itu urusanku pribadiku. Bukan urusanmu."
"Bukan urusanku?!" Siska tertawa sinis dan keras. "Aku ini perempuan yang selalu kamu butuhkan, Mas! Aku kekasihmu! Tapi sekarang, yang ada di otakmu malah istrimu yang sudah gila itu!"
"Siska, hentikan. Aku harus pergi rapat sekarang."
"Halah! Omong kosong!" potong Siska penuh amarah. "Kalau memang rapat sialan itu yang paling penting, kenapa tadi kamu repot-repot menyewa orang untuk mengikuti mbak Kirana?! Kamu takut dia bertemu laki-laki lain?!"
Ardy memijat pelipisnya yang mendadak berdenyut nyeri.
"Siska, kumohon. Jangan memperbesar masalah yang tidak ada."
"Bukan aku yang memperbesar masalah, Mas. Kamu yang berubah. Dulu, kamu selalu mendahulukanku dalam segala hal. Tapi sekarang? Sedikit-sedikit mbak Kirana. Dia menghamburkan uang miliaran, kamu diam. Dia berani melawan tante Sarah, kamu diam. Dia mempermalukan Yati, kamu juga cuma diam menonton." Siska mulai kehabisan kesabaran.
"Dan puncaknya sekarang, kamu sampai menyuruh orang membuntutinya karena kamu cemburu!" Siska melangkah maju, menatap Ardy lekat-lekat. Sorot matanya dipenuhi kecemasan dan ketakutan yang nyata.
"Jawab aku, Mas! Jangan-jangan, kamu mulai jatuh cinta lagi pada mbak Kirana?"
Kalimat tajam itu membuat suasana teras mendadak sunyi senyap. Ardy tidak langsung membantah. Pikiran itu kembali terngiang, membombardir akal sehatnya.
Mencintai Kirana? Tidak. Itu mustahil. Bukankah selama tiga tahun ini ia hanya menganggap pernikahan mereka sebagai kewajiban? Lalu, kenapa belakangan ini matanya tak bisa lepas dari wanita itu? Kenapa ia kesal setengah mati saat Kirana pergi tanpa izin? Dan kenapa dadanya serasa dibakar api saat membayangkan Kirana tersenyum pada laki-laki lain?
Ardy mengembuskan napas panjang dan kasar. "Sudahlah. Kepalaku sakit, aku sedang banyak pikiran. Kita bicarakan hal ini nanti malam."
Tanpa menunggu persetujuan, Ardy berbalik dan berjalan cepat menuju mobil mewahnya.
"Mas Ardy! Aku belum selesai bicara!"
Siska memanggil berkali-kali, berteriak kencang, tetapi pria itu sama sekali tidak menoleh. Sedan hitam itu segera melaju kencang meninggalkan halaman.
Siska berdiri mematung sendirian. Tangannya mengepal begitu erat hingga kuku-kuku panjangnya menancap menyakiti telapak tangannya sendiri. Wajah manis yang selama bertahun-tahun selalu ia tunjukkan kini menguap tak bersisa, perlahan berubah dan dipenuhi kebencian.
"Benar dugaanku, mas Ardy perlahan mulai berubah. Kalau dibiarkan terus seperti ini, cepat atau lambat mas Ardy pasti akan kembali jatuh cinta dan bertekuk lutut pada Kirana."
Siska mendengus sebal.
"Tidak! Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Kalau perlu, aku akan menyingkirkan Kirana, sama seperti yang aku lakukan pada bayinya. Sebelum mas Ardy benar-benar kembali ke pelukannya!"
mau lihat gimana si siska setelah ardy bangkrut dan pasti itu bukan anaknya ardy