NovelToon NovelToon
Story Of Love

Story Of Love

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Romansa Fantasi
Popularitas:303
Nilai: 5
Nama Author: Bunda Nastiti

Restu orang tua memang satu hal yang sangat penting dalam sebuah hubungan, namun apa kita harus menerima begitu saja jodoh pilihan orang tua kita sementara hati kita sudah terpaut pada yang lain. Bisakah kita menjalani kehidupan jika bersama orang yang tidak kita inginkan. Namun, apa sudah jadi jaminan. Kita akan bahagia jika hidup bersama orang yang kita pilih?

layaknya permen nona-nona, ada pait.. asam.. manis... begitu pula hidup. Tinggal kita saja, mana yang kita pilih... itulah yang akan kita jalani.

Begitu pula jalan hidup dari seorang perempuan bernama Rani yang lengkap dengan lika liku hidup, up and down. Penasaran??? yuuuk ikuti kisah nya....


Selamat menikmati 😊semoga cocok di hati

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda Nastiti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12

Mas Rengga, saya tinggal dulu ya. Mau ngantar nyonya dulu ke Surabaya. Nengok anak bujang di sana." pamit Pak Wandi.

"Iya, Pak. Monggo, hati-hati di jalan. Saya ijin PeDeKaTe tipis-tipis sambil minta orderan sama Rani ya, Pak!"

"Boleh-boleh, pokok ingat tadi tips dari saya ya..!"

Aku sampai terperangah mendengar apa yang mereka bicarakan. Apalagi rencana lelaki di depanku ini. Sumpah, aku malu.

"Pak Rengga apaan sih, nggak jelas banget!"

"Aku bukan bapakmu, Dek!" ucap lelaki itu. "Kan tadi udah di bilang kalau panggil abang aja." imbuhnya.

"Kan tadi ngomongnya kalau di luar jam kantor dan lagi berdua aja." jawabku.

"Yes! Jadi ini mau nih.... Berduaan... Pergi kemana gitu?" tanya lelaki itu sambil tersenyum manis dan mata berbinar macam gambar komik manga.

"Pak, bisa mundur nggak?" tanyaku.

"Jangan dong, Dek. Minta yang lain aja, ya.... Nonton kek, Jalan-jalan kemana gitu, jangan minta abang mundur." jawabnya cepat.

"Hem, abang bisa mundur nggak? Gantengnya kelewatan soalnya kalau kayak gitu!" ucapku pelan sambil memajukan sedikit tubuhku agar lelaki itu bisa mendengar apa yang aku katakan. Karena posisi duduk kami yang terhalang meja kerja ku.

"Aih, meleyot hati abang. Jago ngegombal juga ternyata." ucapnya sambil terkekeh.

"Ekheeemmm.... Berasa jadi obat nyamuk bakar nih.. " celoteh Nita.

Lalu kami semua tertawa sambil melanjutkan pekerjaan kami. Agak lama lelaki itu duduk di depanku meski orderan sudah kuberikan.

Rupanya dia sedikit santai karena hari ini kunjungan terakhir untuk hari ini.

"Dek," panggilnya.

"Hemmmm.... " aku hanya berdehem saja.

"Minggu besok mau nggak ikut touring bareng temen-temen ku?"

"Ekhem...... Ada yang ngajakin ngedate Mbak boon.... Iya ini aja deh... Kasihan.... Udah nungguin dari tadi itu... " goda Nita.

Aku tersenyum sambil menggelengkan kepala. "Emang mau kemana?" tanyaku pada Pak Rengga.

"Ke gunung Banyak. Temen-temen mau sekalian main paralayang di sana."

"Lihat ntar aja ya, Pak."

"Siap Bu Rani, nanti di kabari saja. Aku balik sekarang ya. Kamu pulang jam berapa, Dek?"

"Belum tahu, kayaknya lembur bentar. Siapin tagihan besok pagi."

"Ya udah, jangan pulang malam-malam. Hati-hati ya nanti kalau pulang. Abang balik dulu." pamit nya.

"Acciiyyyyeeee.... Udah abang adek aja niih..... Besok kalau ke sini lagi bawa upeti ya.... Buat perayaan jadian."

"Eehh, sembarangan. Siapa yang jadian! Udah ah, Pak Rengga pulang deh. Nggak enak sama yang lain." ucapku.

Lelaki itu mengangguk lalu bangkit dari kursi tempatnya duduk. "Balik dulu ya, semangat kerjanya!"

Aku hanya mengacungkan jempol lalu kembali fokus dengan pekerjaan ku. Begitu juga dengan Nita. Tapi saat di ambang pintu lelaki itu berhenti, dan membuat kami melongo dengan ucapannya.

"Dek, cari nafkah terus nggak capek emang? Nggak pengen gitu gantian di kasih nafkah?"

"Bhahahaha.... " Nita tertawa dengan keras, dia tidak bisa lagi menahan tawanya mendengar kalimat random Pak Rengga.

"Ntar ya, abis ijab kabul baru kasih nafkah!" jawabku asal.

"Ngapain mesti nunggu habis ijab, sekarang aja abang nggak keberatan ngasih kamu nafkah!" ucapnya sambil terkekeh pelan.

"Abang balik sekarang, apa kita nggak jadi jalan minggu besok!" ancam ku.

"Yes!!! Akhirnya, mau juga dia Mbak Bon aku ajak jalan!" ucapnya bangga pada Nita.

"Kepaksa ya, Bang! Biar Abang cepet pulang. Biar cepet beres kerjaan aku. Biar cepet pulang."

"Oke.... Oke... Balik dulu ya... Ntar aku kabari jam nya."

"Hem.... Sudah sana."

Setelah lelaki itu tak terlihat lagi, aku kembali fokus menyiapkan tagihan untuk besok pagi. Rasanya ingin cepat pulang, badan sudah lelah beberapa hari ini harus doble bahkan triple job dan pulang juga lambat terus.

****

Di tempat lain, terlihat seorang pria sedang berbicara dengan seseorang di seberang sana lewat sambungan telepon.

"Kamu habis ketemuan sama Rani?"

"Iya, Mas. Maaf, kalau aku nggak ijin dulu sama kamu."

"Buat apa kamu ketemu sama Rani? Mau bikin cerita kayak di sinetron?"

"Maaf, Mas. aku cuma ingin kenal dia lebih jauh lagi kok. Setelah ketemu dan ngobrol sama dia tadi, aku tahu dia cewek yang baik. Pantas saja kamu bisa cinta sama dia."

"Sudah tahu kan? Terus mau apa lagi sekarang? Kenapa sih, dari dulu kamu selalu saja bikin kacau hidup aku?"

"Mas, harusnya aku yang tanya. Kenapa kamu tidak bisa menerima keadaan. Apa kurangku, kamu tinggal ngomong Mas, selagi aku bisa aku bakal wujudkan keinginan kamu!"

"Termasuk keluar dari kisah hidupku?" tanya Yunus pada Bia. "Pantas Rani jadi makin jauh dari aku. Pasti kamu yang suruh dia buat jauhin aku kan?"

"Mas, aku nggak kayak gitu ya! Apa salah kalau aku mencoba memperjuangkan cinta kamu? Meski berawal dari perjodohan, tapi seiring berjalannya waktu, setelah aku berdamai dan berusaha menerima semuanya, perlahan aku cinta sama kamu Mas."

"Omong kosong!" jawab Yunus lalu memutus panggilan secara sepihak.

"Dari dulu selalu saja bikin rusuh!" gerutu Yunus.

*****

Tidak terasa sudah hari Sabtu. Hari ini kantor tetap buka meski setengah hari saja. Hari yang tidak terlalu padat. Bisa agak santai meski sebentar.

Ddrrtt....

Ddrerttt...

Suara getaran ponsel ku di atas meja. Kulihat notif pesan di sana. Dari Mas Yunus. Aku hanya membacanya dari jendela pop up nya saja.

[Ran, pulang kerja nanti bisa kita bicara sebentar sambil makan siang bareng?]

"Apalagi sih cowok satu ini, kenapa gitu harus ngeyel! Nggak kasihan apa sama calon istrinya yang udah mati-matian berjuang!" gumamku lirih.

Aku memang sedikit menjaga jarak setelah bertemu dengan Mbak Bia beberapa hari lalu.  Bukan aku membenci Mas Yunus. Hanya saja ada hati yang harus aku jaga, selain itu aku juga harus menjaga otak ku agar tetap waras.

Tidak lama kemudian, ponselku kembali bergetar. Kali ini panggilan dari Pak Rengga.

"Assalamu'alaikum, Pak!" ucapku setelah mengusap icon warna hijau di layar pipih yang ada dalam genggaman tanganku.

"Waalaikum salam. Iih.... Masih aja panggil Pak."

"Ada apa Bang?"

"Gitu dong! Pulang jam berapa?"

"Jam dua belasan lah... Kan hari Sabtu."

"Ya udah, nanti Abang jemput?"

"Aku bawa motor lho, Bang!" jawabku pada lelaki yang sebenarnya sudah lama ku kenal, tapi baru beberapa waktu belakangan ini dia berani menunjukkan perasaannya.

"Kan semalam Abang udah ngomong lho, nggak usah bawa motor, pulangnya Abang jemput. Tapi paginya kamu pake ojol aja."

"Emang iya? Kok aku nggak ngerasa ya, Bang!"

"Eh, kamu malah bilang iya lho semalam."

"Ya maaf, kali aja aku lagi lima watt pas abang ngomong. Jadi mulut bilang iya tapi otak udah kemana gitu..."

"Ngeles aja. Bilang aja nggak mau, Abang nggak papa lho... Ngak bakal marah juga misal kamu nggak mau."

"Iya, pas Abang telpon kemarin aku tuh udah ngantuk banget Bang. Jadinya nggak seberapa loading."

" Ya udah, nggak papa. Bisa temenin Abang nggak ke kondangan teman nanti sore?"

"Hem, Abang kondangan sendiri aja ya. Nggak enak sama temen-temen Abang."

"Nggak papa, besok kan juga bakal ketemu juga sama mereka pas touring."

"Ya udah deh,"jawabku.

" Kok kayak terpaksa gitu,?"

"Nggak Bang, nggak terpaksa kok. Ada dress code nya nggak?"

"Nggak ada, pakai senyaman kamu aja. Nanti Abang jemput jam tiga sore ya. Kamu sharelock."

"Iya,, Bang."

"Ya udah, ntar pulangnya hati-hati, Assalamu'alaikum."

"Wa'alaikumsalam."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!