Arga hanyalah pemuda biasa dengan bakat kultivasi terburuk di Kota Awan Biru. Demi menyelamatkan seorang gadis asing bernama Ling Yue, ia rela mempertaruhkan nyawanya.
Pertemuan singkat itu mengubah takdirnya. Sebuah liontin kuno membangunkan roh guru legendaris yang telah tertidur selama sepuluh ribu tahun, sementara pedang tua peninggalan ayahnya ternyata adalah pusaka yang diperebutkan seluruh dunia kultivasi.
Diburu sekte-sekte kuat, kehilangan rumah, dan dipisahkan dari gadis yang mulai mengisi hatinya, Arga memulai perjalanan panjang menuju puncak kultivasi.
Namun tujuannya bukan menjadi penguasa dunia.
Ia hanya ingin cukup kuat untuk menepati satu janji...
"Jangan mati sebelum kita bertemu lagi."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Pria bertopeng putih itu masih duduk dengan santai di atas dahan cemara tinggi. Busurnya telah ditarik penuh, dan anak panahnya sama sekali tidak pernah bergeser dari bidikan ke arah dada Arga.
Guru Tian berbisik pelan di dalam benak Arga, "Jangan bergerak sembarangan. Dia sedang menunggu."
"Menunggu apa, Senior?"
"Kesalahanmu."
Di bawah pohon, pertempuran sengit antara peserta ujian dan para pemburu bayaran masih terus berkecamuk. Dentang senjata bercampur dengan teriakan memenuhi udara. Namun, Arga sudah tidak lagi memedulikan kekacauan di sekitarnya. Nalurinya berbisik tajam bahwa begitu ia lengah seketika saja, anak panah maut itu akan melesat merenggut nyawa.
Pria bertopeng putih itu akhirnya membuka suara. "Menarik... Aku mengincar pemuda itu, tapi justru gadis pemanah di bawah sana yang lebih dulu menyadari keberadaanku."
Tatapannya beralih menatap tajam ke arah Nara. "Siapa gurumu, Gadis Kecil?"
Nara mengangkat busurnya tinggi-tinggi tanpa gentar. "Tidak penting."
Pria itu tertawa kecil meremehkan. "Kalau begitu... biar kulihat seberapa besar kemampuanmu."
Tanpa aba-aba tambahan—
Wus!
Sebuah anak panah hitam pekat melesat membelah udara. Targetnya bukanlah Arga, tapi Sora yang sedang asyik merawat seorang peserta lain yang terluka parah.
"Tidak!" teriak Nara spontan.
Ia langsung menarik tali busurnya dan melepaskan panah balasan. Dua anak panah itu beradu di udara dalam kecepatan tinggi!
Tang!
Panah Nara terpental jauh, namun hantaman itu berhasil mengubah arah panah hitam meskipun hanya beberapa jari.
Sret!
Panah hitam itu akhirnya hanya menyerempet dan menggores bahu Sora. Sora membelalak kaget, menyadari bahwa ia baru saja nyaris kehilangan nyawanya.
Pria bertopeng putih tersenyum tipis di balik topengnya. "Kau lumayan juga... Gadis cantik."
Wus!
Panah kedua kembali meluncur. Kali ini, lintasannya mengarah lurus ke arah Rivan.
Nara kembali membidik dan menembak cepat.
Tang!
Benturan kembali terjadi di udara. Panah hitam itu berhasil dibelokkan dari titik vitalnya, namun tetap saja merobek dan melukai lengan Rivan. Rivan mendesis menahan perih. "Panah sialan apa ini?!"
Guru Tian mendesah lirih di dalam benak Arga. "Dia tidak sedang berniat membunuh orang-orang itu, Arga. Dia sedang menguji mental dan kemampuan Nara."
Arga akhirnya mengerti. Pria bertopeng putih itu sengaja menyerang peserta lain untuk memaksa Nara memilih. Dan setiap kali Nara memilih untuk menyelamatkan nyawa orang lain, posisi pertahanan Arga menjadi kosong dan terbuka lebar.
Benar saja. Panah ketiga kini terpasang pada busur sang pemburu. Ujung runcingnya kembali mengarah lurus ke jantung Arga.
Nara membeku sesaat. Jika ia menunggu dan membidik lawannya, Arga yang akan menjadi korban. Namun, jika ia menembak untuk mengalihkan panah itu, ada risiko sasaran bergeser dan merenggut nyawa orang lain. Keringat dingin mulai bercucuran membasahi pelipisnya, jemarinya sedikit bergetar memegang busur.
Guru Tian memperhatikan dalam diam. "Inilah ujian sejati seorang pemanah, Nak... Bukan sekadar membidik sasaran dengan tepat, Tapi juga kemampuan mengambil keputusan mutlak dalam sekejap."
Pria bertopeng putih itu tertawa mengejek. "Memilih itu sulit, bukan? Kau tidak mungkin bisa menyelamatkan semua orang di saat bersamaan. Jadi... siapa yang akan kau pilih untuk mati?"
Untuk sesaat, kepala Nara dipenuhi kenangan akan petuah ayahnya dulu:
>"Pemanah terbaik bukanlah yang paling cepat melesatkan anak panahnya, Tapi dia yang mampu melihat seluruh medan pertempuran, bukan hanya pada satu sasaran saja."
Mata Nara perlahan menyapu sekeliling hutan—memperhatikan kobaran api unggun, arah embusan angin, hingga posisi tata letak batang-batang pohon di sekitarnya.
Lalu, sebuah senyuman tipis terukir di bibirnya.
"Aku tidak perlu memilih," gumam Nara pelan.
Pria bertopeng putih itu mengernyit heran. "Apa maksudmu?"
Alih-alih membidik sang pemburu, Nara justru menarik tiga anak panah sekaligus pada busurnya. Dan kini, ia tidak mengarahkannya pada musuh, ia membidik sebuah ranting pohon yang sangat besar tepat di atas kepala pria bertopeng putih itu.
Wus! Wus! Wus!
Tiga anak panah melesat berurutan dengan presisi tingkat tinggi. Dua anak panah pertama menancap kuat pada pangkal ranting, disusul panah ketiga yang menghantam tepat di titik yang sama!
Krak
Ranting besar itu patah seketika di bawah beban berat. Pria bertopeng putih terpaksa melompat turun untuk menghindar, membuat anak panah andalannya yang sudah ditarik melesat jauh ke angkasa malam.
Boom!
Sesaat setelah kaki pria itu menyentuh tanah, bayangan Arga sudah melesat cepat berdiri tepat di hadapannya. Pedang Penjaga Langit berkilau tajam memantulkan cahaya api unggun.
Pria bertopeng putih itu membelalak tak percaya. "Kalian... benar-benar bermain cukup bagus."
Arga tersenyum tipis, menatap lawannya tanpa rasa takut. "Kau tadi sempat bertanya siapa guru Nara. Aku sendiri tidak tahu pasti jawabannya."
"Lalu?"
"Tapi... aku tahu satu hal."
"Apa itu?" tanya pria bertopeng putih sinis.
"Selama ada dia di sisiku..." Arga melirik Nara sekilas, "aku bisa maju bertarung tanpa perlu repot-repot melihat ke belakang."
Mendengar kalimat tulus itu, pipi Nara seketika merona merah. Bukan karena malu mendapat pujian di tengah situasi genting, melainkan karena ia menyadari betapa besar kepercayaan yang Arga berikan kepadanya.
Nara menggenggam erat busurnya dengan keyakinan baru yang membara di dadanya. "Aku tidak akan pernah mengecewakan kepercayaan itu."
Malam di Hutan Seribu Cemara kini resmi memasuki babak penentuan. Sang pemburu bayaran dan mangsa yang diincarnya akhirnya berdiri saling berhadapan tanpa ada lagi ruang untuk melarikan diri.