Ini kisah seorang gadis cantik, Sheilla Abraham namanya. Seorang gadis nakal, pembuat onar yang akhirnya memutuskan untuk berubah.
Namun, ternyata keputusan Sheilla untuk berubah malah membuat nya menjadi bahan bullyan di sekolah baru nya.
Lalu, akankah Sheilla melawan? atau membiarkanmu dirinya menjadi bahan bullyan murid-murid di SMA Raharja?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lizkook lovers, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nine
Akhirnya setelah perjuangan panjang membujuk, nyogok hingga mengancam kepala sekolah SMA Raharja yang tak lain adalah ibunya sendiri, Love pun mendapatkan alamat rumah Sheilla.
Sejujurnya Love cukup terkejut ketika mengetahui bahwa gadis berkacamata itu memiliki rumah yang terletak di perumahan Elit. Padahal setahu Love, Sheilla itu selalu berangkat sekolah naik taxi.
Gak pernah tuh Love liat Sheilla berangkat sekolah di antar mobil pribadi, jadi pantas saja jika gadis cantik pemilik gummy smail itu terkejut.
"Gila, ini beneran rumahnya? Gede banget anjirr!!" Nana hampir menjerit histeris ketika melihat berapa besar dan mewahnya rumah yang didominasi warna gold itu.
Dari luar aja udah keliatan mewahnya, apalagi kalau udah di dalem, pasti jauh lebih mewah lagi.
Bukannya Nana norak atau apa, rumah keluarga nya juga besar kok, cuma GAK SEBESAR INI JUGA!!
Rumah keluarga Nana mah paling cuma setengahnya rumah keluarga Sheilla yang lebih terlihat seperti mansion.
"Nih rumah bikin insecure aja anjirr!" Nana masih tak bisa berhenti bernarasi tentang rumah besar itu.
"Mingkem! entar kemasukan lebah baru tau lo!" Love menutup mulut Nana dengan tangan supaya gak mangap terus.
"WOY! IDUNG GUE WOY!! GAK BISA NAFAS NIH!"
Ara hanya terkekeh dan menggeleng kan kepala melihat tingkah kedua sahabatnya.
Dengan inisiatifnya sendiri, Ara pun memencet bel rumah besar itu, berharap ada seseorang yang akan membukakan pintu untuk mereka.
Cklek...
Tak butuh waktu lama pintu utama keluarga Abraham pun terbuka, menampakkan seorang laki-laki dengan pakaian kasual dan rambut yang sedikit acak-acakan sebagai si pembuka pintu.
"Siapa?" Suara berat itu terdengar seperti suara khas orang yang baru saja bangun dari alam mimpi.
Nana dan Love yang sejak tadi sibuk cekcok pun sontak berhenti, tubuh kedua gadis itu mematung melihat ketampanan laki-laki yang memiliki mata biru persis seperti Sheilla itu.
Bahkan Nana sampai membuka mulut lebar dengan mata yang membulat sempurna. "Ini gue masih di bumi kan? belum di surga?" Pertanyaan konyol itu terlempar begitu saja dari mulut si*lannya.
"Ngigo ni anak."
Ara memasang senyum ramahnya, "Kami teman-teman sekolahnya Sheilla."
Laki-laki yang tak lain dan tak bukan adalah Nathan itu mengangkat satu alis, teman? Sheilla memiliki teman perempuan? Oh apakah dunia sedang baik-baik saja?
Melemparkan senyuman tipis yang mampu membuat ketiga nya terpesona, Nathan pun mempersilahkan ketiga gadis itu masuk.
Nana semakin tercengang melihat bagian dalam rumah mewah itu. Ternyata benar apa yang ia pikirkan, bagian dalam rumah itu jauh lebih mewah daripada bagian luarnya.
Dinding bercat putih dengan ukuran yang terbuat dari emas dan berlian asli, no kw-kw.
"Mau minum apa?" Tawar Nathan.
"Mau kamu," Jawab Nana spontan.
Love tersenyum canggung dan langsung memukul paha sahabatnya, "Jangan malu-maluin deh lo," Bisiknya geram pada Nana, sedangkan sang empu cuma nyengir-nyengir aja.
Nathan hanya tersenyum maklum, "Jadi mau minum apa?" Tanyanya lagi.
"Seadanya aja, kami gak pilih-pilih minuman kok," Jawab Ara mewakili.
"Baiklah, tunggu sebentar." Nathan pergi kedapur, untuk memanggil sang bibi tentu saja, gak mungkin Nathan buat minuman nya sendiri.
Setelah kepergian Nathan, Nana mulai membuka suara, "Gila, ini rumah gede amat njirr, jadi pengen pingsan deh."
"Alay lo," Sinis Love, walaupun sejujurnya ia juga kagum dengan rumah mewah itu. Namun ia tidak boleh bersikap norak tentu saja, bikin malu keluarga Alexander aja.
Tak lama berselang, seseorang berjerawat tinggi dengan rambut pendek berponi yang di belah tengah dan kulit putih bersih tiba-tiba menghambat mereka. Sosok itu mendudukkan diri di tempat yang tadi Nathan duduki.
"Kalian siapa?" Suaranya merdu, membuat ketiga gadis itu bingung. Sebenarnya sosok di hadapan mereka ini laki-laki atau perempuan?
"Kami teman sekolahnya Sheilla," Jawaban Ara membuat sosok itu mengangkat alis, reaksi yang sama ketika mereka mengatakan hal yang sama kepada Nathan.
Mendatarkan wajah, sosok itu kembali bertanya "Siapa nama kalian?"
"Aku Ara, ini Love dan ini..."
"Aku Nana!!" Potong gadis dengan rambut kuncir dia itu, pipinya bersemu membuat Love bergidik ngeri.
Sosok itu mengernyit melihat tingkah Nana, ia terlihat seperti gadis yang tersipu karena seorang Lela__
"Na."
"Ya?"
"Maaf, Alena, bukan Nana." Nathan tersenyum canggung, merasa tak enak.
Sedangkan Nana hanya bisa melongo. Alena siapa? perasaan di sini gak ada yang namanya Alena deh, orang adanya Nana, Ara, Love dan...
Siapa nama sosok di hadapan nya?
"Aku Alena, Alena Nadira." Akhirnya sosok itu pun memperkenalkan diri, sengaja tak menyebut marga karena ia cukup tahu tentang penyamaran sang kakak.
Ketiga gadis itu jelas tercengang, mereka kira sosok di hadapan mereka ini adalah seorang laki-laki, ternyata ia adalah perempuan.
•
Setelah berbincang beberapa saat dengan kakak dan adik dari Sheilla, ke-tiga gadis itu harus menerima kekecewaan bahwa mereka tidak bisa bertemu dengan sosok yang mereka cari.
Nathan mengatakan jika Sheilla sedang pergi ke rumah nenek mereka, walau yang sejujurnya ia juga terkejut ketika mengetahui bahwa Sheilla tidak berangkat sekolah hari ini. Ia pikir adiknya itu hanya menginap di markas ARMI saja, ternyata ia juga tak berangkat sekolah.
Setelah dirasa urusan nya di rumah mewah itu telah selesai, Love, Ara dan Nana pun memutuskan untuk berpamitan.
"Kami pulang dulu, maaf jika merepotkan." Ketiganya membungkukkan badan di pimpin oleh Ara yang berada di tengah.
"Tidak masalah, lain kali main lah kemari."
"Dengan senang hati kakak tampan." Oh, Nana tentu saja tidak akan menolak tawaran emas seperti ini.
Love melirik sinis sahabatnya satu itu, ada yang mau ngambil Nana gak sih? Love udah capek punya temen bentukan Nana ini.
"Udah, ayo balik, nyokap gue udah nungguin." Love menarik kerah Nana yang masih menatap kagum pada Alena untuk pergi, ia gak mau di buat makin malu sama oknum bernama Nana ini.
"DADAH TAMPAN-TAMPAN NYA NANA." Nana dan kegilaannya benar-benar membuat Love ingin sekali membunuh gadis itu.
"Gue masih betina anjirr." Gerutu Alena kesal sedangkan Nathan hanya terkekeh di buatnya.
•
•
•
Dua pasang kaki jenjang itu melangkah bersamaan semakin memasuki keramai beberapa laki-laki berjaket hitam dengan lambang senjata api.
Keduanya sama sekali tak gentar ketiga ribuan pasang mata menatap tajam mereka, menatap penampilan mereka atas bawah dengan tatapan yang beragam.
"Hey." Merasa di panggil, Vicky yang tadinya sedang bercanda dengan beberapa anggota ARMI pun menoleh.
Ia sedikit terkejut melihat siapa yang datang, namun tentu saja ia langsung memasang wajah cool. "Apa yang kalian lakukan di sini?"
"Dimana Sheilla?" Tanya laki-laki yang lebih tua.
"Apa urusan kalian nyariin princess kami?" Kembaran si empu yang tengah di bicarakan itu bersedekap tangan, terlihat angkuh.
"Kami ini saudara kandung nya jika kau lupa," Jawab gadis berambut pendek yang tak lain dan tak bukan adalah Alena.
"Oh, iya juga ya?" Gumam Vicky bingung seperti orang linglung.
Nathan hanya menatap jengah Vicky yang masih berbicara dengan diri sendiri seperti orang gila.
Tak sabar menunggu, laki-laki itupun langsung melangkah masuk menuju ruang tengah di ikuti oleh Alena.
"Woy! main masuk aja lo berdua!" Tersadar dari dunianya, Vicky segera mengejar kakak beradik itu.
Sesampainya di ruang tengah, Nathan langsung di sambut keadaan sepi yang tidak biasa. Semua orang seperti hilang entah kenapa, padahal di luar sana terlihat sangat ramai.
"Dimana mereka semua?"
"Di kamar Sheilla, soalny__" Belum juga Vicky menyelesaikan ucapan nya, Nathan sudah lebih dahulu pergi ke kamar Sheilla yang tentu saja bersama Alena yang selalu mengikuti nya.
Brak...
Arjun langsung menoleh ketika suara pintu yang terbuka dengan sedikit kasar.
Tatapan kedua laki-laki itu saling bertemu, menatap tajam satu sama lain seakan memiliki dendam yang terpendam. Tak begitu lama karena pandangan Nathan langsung tertuju pada seseorang yang terbaring tak sadarkan diri di atas kasur sana.
"Ada apa yang terjadi pada nya?" Raut kekhawatiran nampak jelas di wajah Nathan, begitu juga Alena yang sudah berlari mendekati kasur.
Arjun memilih menjauh, membiarkan keduanya melihat keadaan Sheilla. Sedangkan untuk pertanyaan Nathan, ia sama sekali tak berminat menjawabnya.
"Apa yang terjadi kepada kak Lala? kenapa dia bisa tak sadarkan diri seperti ini?!" Teriak Alena histeris, gadis itu panik.
Nathan memeluk adik bungsunya guna menenangkan, sedangkan Vicky hanya terdiam dan Arjun malah memalingkan muka.
"Ada sesuatu yang terjadi di SMA Raharja hingga membuat trauma Sheilla kambuh, dan jadilah seperti ini."
Mata Nathan seketika melotot, "APA?! BAGAIMANA BISA?! BUKANKAH KALIAN TELAH BERJANJI UNTUK MENJAGANYA?! KENAPA INI SAMPAI BISA TERJADI?"
Nathan marah, sangat marah hingga urat-urat lehernya terlihat menonjol. Wajahnya memerah padam.
Teriakan keras Nathan terdengar sampai luar hingga RM, Mahen, dan Aren yang baru saja datang langsung berlari cepat menuju sumber suara.
"Ada apa ini?"
Tatapan tajam dari Nathan langsung RM dapatkan ketika ia baru saja datang.
Tanpa banyak kata, laki-laki itu langsung menarik kerah baju RM dengan kasar. "MANA JANJI MU UNTUK MELINDUNGI ADIKKU HAH?!!"
RM yang tiba-tiba mendapat serangan seperti itu tentu saja bingung, bagaimana bisa Nathan ada di sini? seingat ia telah melarang siapapun untuk memberitahu kan keadaan Sheilla kepada keluarga Abraham termasuk Nathan.
"Lepaskan," Titah Mahen.
Nathan tak mendengarkan.
"Jangan membuat ku bertindak kasar, Nathaniel Abraham!!"
Mendengar nama aslinya si sebut, Nathan pun segera melepaskan RM, ia tak mau berkelahi apalagi dengan Mahen.
"Tenang kan dirimu, setelah itu temui kami di ruang tengah."
Mahen melirik seluruh anggota nya, memberika isyarat supaya mereka mengikuti dirinya.
•
•
Mereka semua berkumpul di ruang tengah setelah emosi Nathan sedikit mereda, di samping laki-laki itu ada Alena yang selalu setia mendampingi nya.
"Sayangg~ sini duduk sama aku aja." Oh, ini adalah sebuah kejadian langka. RM, seorang penasihat ARMI merengek? sungguh mengejutkan.
Memutar bola mata malas, Alena pun pindah tempat duduk ke samping RM yang langsung di sambut pelukan erat oleh sang empu.
"Woy, pasangan gay liat kondisi napa." Kesal Vicky tuh, kan dia jadi iri karena gak punya pasangan.
"Gue masih betina goblok!" Harus berapa kali sih Alena menegaskan bahwa ia ini masih seorang perempuan?
Penampilan doang yang lakik, tapikan batang ia gak punya. Jadi ia masih cewek dong.
"Betina apa yang bentukannya kayak lo? Singa betina aja masih anggun, lah lo?!" Vicky menggeleng-gelengkan kepala sambil berdecak tak habis pikir. "Kayaknya lo waria deh... Aww."
RM langsung menendang cukup kuat kaki Vicky, membuat sang empu meringis karnanya. "Enak aja lo bilang yang enggak-enggak tentang pacar gue."
Udah ah, tadi katanya mau diskusi, tapi kenapa mereka sibuk bergurau sendiri-sendiri dan mengabaikan Nathan.
Sebenarnya Nathan tak sepenuhnya diabaikan sih, karena ada Arjun yang sejak tadi memberinya tatapan permusuhan, entahlah, seingat Nathan ia tak memiliki masalah dengan laki-laki berambut gondrong itu. Tapi kenapa Arjun terlihat sangat tidak suka pada nya?
ikutan sedih,,,soal ny penjahat asli ny lom tahu ad dendam ap sma sma sheilla trus kn kayak sembunyi d balik layar gthu,,,,
ryan keren,dh kayak pangeran berkuda besi ajj,,,🤭🤭🤭