BL/BxB. Don't Copy!!!!
Rayyan Steven Mahendra meninggal tepat. dihari Pertama masuk SMA Setelah Pulang dari MPLS akibat tertabrak truk. Seluruh keluarganya hancur.
Seluruh Sekolah berkabung. Bahkan musuh bebuyutannya, Revan Devano Sanjaya, yang terkenal sebagai Preman Sekolah dan anak konglomerat, tidak Pernah lagi tersenyum Sejak hari itu. Setelah dikremasi, Orang-orang menangis dan Revan langsung tak bisa berdiri dia Merasa Pusing. Namun tujuh hari Kemudian Rayyan melintasi waktu, bagaimana bisa dia sudah di depan Pintu rumahnya, dia masuk rumah dan Semua keluarga Ketakutan dan ada yang tak menyangka Kejadian itu. Kemudian Rayyan beraktivitas Seperti biasa, Nenek dan Ibu Paling Senang dan Revan mendengar Kabar Rayyan Sangat Senang dan tersenyum entah mengapa hal itu terjadi Padanya!.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyanza Rayyan Fahlevy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bangku yang Terisi Lagi
Pagi itu, langit di atas SMA Mahardika High School tampak begitu bersih, dihiasi warna biru muda yang cerah tanpa sekat awan. Namun, keindahan fajar sama sekali tidak berbanding lurus dengan atmosfer di dalam lingkungan sekolah. Hari Senin telah tiba. Setelah akhir pekan yang dipenuhi oleh perdebatan tanpa ujung, teori konspirasi yang liar, dan ketegangan yang merayap di berbagai platform media sosial, hari yang dinanti sekaligus ditakuti oleh seluruh penghuni sekolah akhirnya datang juga.
Sebuah mobil sedan hitam mewah berpelat nomor familier perlahan memasuki area lobi utama sekolah. Begitu roda mobil itu berhenti berputar di depan anak tangga, puluhan pasang mata yang semula berpura-pura sibuk dengan aktivitas pagi langsung terkunci ke satu arah yang sama.
Pintu penumpang bagian belakang perlahan terbuka.
Sepatu kets abu-abu yang bersih menapak terlebih dahulu ke atas semen lobi, disusul oleh sepasang kaki jenjang yang dibalut celana abu-abu seragam sekolah yang masih licin bekas setrikaan. Ketika tubuh itu menegak sepenuhnya di bawah siraman cahaya matahari pagi, napas kolektif dari belasan siswa yang berdiri di sekitar teras lobi seolah-olah tercekat di tenggorokan secara bersamaan.
Itu Rayyan.
Ia berdiri di sana, menyandang tas ransel abu-abunya di bahu kanan dengan santai. Seragam putihnya terpasang rapi, lengkap dengan dasi dan atribut logo SMA Mahardika yang tersemat sempurna di dadanya. Wajahnya yang sempat pucat kini telah kembali segar, menyisakan rona kehidupan yang sangat nyata. Ia menatap ke depan, bersiap menghadapi hari pertamanya kembali bersekolah setelah sebuah istirahat panjang yang tidak pernah ia rencanakan.
Begitu Rayyan melangkah melewati gerbang bagian dalam dan mulai berjalan menyusuri koridor utama lobi, seluruh siswa otomatis berhenti berjalan.
Langkah kaki yang tadinya tergesa-gesa memburu bel masuk kini membeku di tempatnya masing-masing. Siswa-siswi yang sedang mengobrol di depan loker mendadak mengatupkan mulut rapat-rapat. Suasana koridor yang biasanya selalu ramai, bising oleh gelak tawa, dan dipenuhi oleh derap langkah kaki ratusan remaja, dalam hitungan detik berubah menjadi sunyi senyap. Begitu sunyi, hingga suara gesekan tali tas ransel Rayyan pada bahu seragamnya terdengar sangat jelas di telinga orang-orang di sekitarnya.
Semua mata tertuju kepadanya.
Tatapan-tatapan itu tidak lagi dipenuhi oleh rasa penasaran biasa, melainkan oleh ketakutan murni, kebingungan yang teramat sangat, dan ketidakpercayaan yang mendalam. Mereka menatap Rayyan seolah-olah remaja itu adalah sesosok entitas asing yang baru saja turun dari langit.
Di dekat barisan loker kelas sebelas, beberapa siswa perempuan tampak merapatkan tubuh mereka ke dinding, seolah berusaha menjauhkan diri sejauh mungkin dari jalur yang akan dilewati Rayyan. Di sudut lain, seorang siswa laki-laki yang sedang membawa tumpukan buku paket tebal begitu terkejut hingga tangannya melemas.
Brak!
Tumpukan buku itu jatuh berantakan menghantam lantai marmer yang bersih, mengirimkan gema yang cukup nyaring di tengah keheningan yang mencekam itu. Namun, siswa yang menjatuhkannya bahkan tidak repot-repot membungkuk untuk memungutnya. Matanya tetap membelalak lebar, menatap lurus ke arah sosok Rayyan yang terus melangkah maju tanpa ragu.
Melihat reaksi ekstrem dari orang-orang di sekelilingnya, Rayyan menghentikan langkah kakinya sejenak di tengah koridor. Ia menghela napas pendek, merasa sangat risi dan tidak nyaman dengan atmosfer aneh yang diciptakan oleh kehadirannya pagi ini.
Dengan wajah bingung, ia mengangkat tangan kanannya dan menggaruk bagian belakang kepalanya yang tidak gatal.
"Kenapa pada ngeliatin gue?" tanya Rayyan dengan suara yang cukup lantang.
Suara itu terdengar sangat jernih, memecah keheningan koridor dengan begitu alami. Itu adalah suara manusia hidup bukan suara bisikan gaib yang dingin atau penuh dendam seperti yang ramai dirumorkan di aplikasi pesan singkat selama dua hari terakhir.
Namun, tidak ada satu pun orang yang menjawab pertanyaannya.
Semua orang tetap diam membeku, menatapnya dengan tatapan nanar yang sulit diartikan. Beberapa siswa bahkan perlahan mundur satu langkah saat Rayyan kembali mengayunkan kakinya untuk berjalan. Rayyan hanya bisa mendengus pelan, memutuskan untuk tidak memedulikan kegilaan kolektif ini dan terus berjalan menuju ruang kelasnya di lantai dua.
...****************...
Langkah kaki Rayyan akhirnya membawanya tiba di depan pintu kelas dua belas IPA 1. Pintu kayu bercat cokelat itu dalam keadaan terbuka setengah, membiarkan riuh rendah suara obrolan dari dalam terdengar samar. Namun, begitu bayangan tubuh Rayyan jatuh di ambang pintu, suara obrolan di dalam kelas itu seketika padam.
Rayyan melangkah masuk ke dalam kelas. Pandangan matanya langsung tertuju ke arah barisan bangku ketiga di dekat jendela tempat yang seharusnya menjadi meja belajarnya.
Langkah kakinya mendadak terhenti. Rayyan hanya bisa terdiam dengan dada yang mendadak berdesir aneh.
Meja dan kursi kayu miliknya tidak lagi kosong dan bersih seperti biasanya. Di atas permukaan meja tersebut, bertumpuk belasan buket bunga krisan putih dan kuning yang sebagian besar sudah mulai layu dan mengering. Di sela-sela batang bunga, berserakan puluhan lembar surat belasungkawa berhiaskan pita hitam, beberapa lilin aroma terapi yang belum sempat dinyalakan, serta sebuah bingkai foto kecil berukuran saku yang menampilkan foto dirinya sedang tersenyum manis dengan latar belakang lapangan basket sekolah.
Meja belajarnya telah berubah menjadi sebuah altar duka cita mini di dalam kelas.
Melihat tumpukan benda-benda duka itu, Rayyan merasa sebuah perasaan asing yang sangat dingin merayap naik ke ulu hatinya. Itu adalah bukti fisik yang paling nyata bahwa di mata teman-teman sekelasnya, dirinya telah benar-benar dianggap mati dan dilepaskan dari dunia ini. Rasanya sangat aneh sekaligus mengerikan melihat upeti kematian untuk diri sendiri dalam keadaan fisik yang masih utuh dan bernapas di depan meja tersebut.
"Den Rayyan, biar Bapak yang bereskan," sebuah suara lembut dari arah belakang memecah lamunan Rayyan.
Pak Arip, yang sejak tadi mengekor di belakang untuk memastikan kepulangan Rayyan ke sekolah berjalan lancar tanpa hambatan psikologis, melangkah maju melewati pundak Rayyan. Dengan gerakan yang teramat sangat pelan dan penuh penghormatan, Pak Arip mulai memindahkan buket-buket bunga yang layu itu satu per satu ke dalam sebuah kantong plastik besar yang dibawanya.
Surat-surat belasungkawa dikumpulkan dengan rapi, diletakkan di dalam laci meja terlebih dahulu agar tidak berserakan. Bingkai foto kecil milik Rayyan diambil oleh Pak Arip, diusap permukaannya yang sedikit berdebu dengan ujung jarinya, lalu dimasukkan ke dalam saku jas safari birunya dengan senyum tipis yang tulus.
Setelah permukaan meja kayu itu bersih kembali dari segala atribut kematian, Pak Arip mundur satu langkah. Ia menatap Rayyan dengan mata tua yang berbinar penuh rasa syukur yang luar biasa.
"Selamat datang kembali, Yan," ujar Pak Arip dengan suara yang sedikit bergetar karena emosi yang tertahan.
Ucapan Pak Arip seolah menjadi pemicu yang meruntuhkan dinding kecanggungan di dalam kelas tersebut. Chelsea, yang duduk di barisan depan, adalah orang pertama yang bergerak. Ia berdiri dari kursinya dengan mata yang mulai berkaca-kaca, lalu mulai menggerakkan kedua telapak tangannya, menciptakan suara tepukan yang nyaring di tengah keheningan.
Prok... prok... prok...
Tepukan tangan Chelsea segera diikuti oleh Naomi yang berdiri di sebelahnya, lalu merembet ke beberapa siswa lainnya di barisan tengah. Dalam hitungan detik, seluruh ruang kelas dua belas IPA 1 dipenuhi oleh suara tepuk tangan yang meriah. Beberapa siswa tampak tersenyum lega, sementara yang lain bertepuk tangan dengan wajah yang masih menyiratkan sisa-sisa kebingungan yang luar biasa. Bagaimanapun juga, melihat teman sekelas yang mereka kira telah tiada kini kembali berdiri nyata di depan mereka adalah sebuah kebahagiaan yang tidak mampu dijelaskan oleh logika apa pun.
"Makasih... makasih semuanya," gumam Rayyan, memberikan senyuman tipis yang canggung kepada teman-teman sekelasnya saat ia perlahan melangkah dan menduduki bangkunya yang kini telah terisi kembali.
...****************...
Namun, di tengah gemuruh tepuk tangan dan senyuman hangat yang memenuhi ruangan, tidak semua wajah di kelas itu memancarkan binar kebahagiaan yang sama.
Di barisan bangku paling belakang, dekat pintu masuk, Dion duduk bersandar pada kursi kayunya dengan kedua tangan terlipat rapat di depan dada. Matanya yang tajam dan sipit terus menyipit, mengunci setiap gerak-gerik Rayyan sejak pertama kali remaja itu melangkah masuk melewati ambang pintu kelas.
Tidak ada satu pun tepukan tangan yang keluar dari jemari Dion. Wajahnya tampak sangat dingin, datar, dan dipenuhi oleh kecurigaan yang teramat sangat mendalam.
Bagi Dion, seluruh kejadian ini terasa terlalu fiktif untuk bisa diterima oleh akal sehatnya. Sebagai orang yang selalu berpikir menggunakan logika dingin dan fakta empiris, ia menolak untuk mempercayai konsep keajaiban atau mukjizat yang sedang diagung-agungkan oleh teman-teman sekelasnya pagi ini. Ada sesuatu yang salah di sini. Ada sebuah potongan teka-teki yang sangat besar yang sedang disembunyikan dari mereka semua.
"Lu beneran percaya itu dia?" bisik Dion dengan nada suara yang sangat rendah, hampir menyerupai desisan ular, tanpa mengalihkan pandangannya dari punggung Rayyan.
Kevin, yang duduk di meja sebelahnya, menoleh dengan dahi berkerut. "Maksud lu apa, Yon? Ya lu liat sendiri kan itu mukanya sama persis. Suaranya juga sama. Masa iya ada orang lain yang mirip seratus persen kayak gitu?"
Dion mendengus pelan, sebuah senyuman sinis yang sangat tipis terukir di sudut bibirnya. "Kembaran identik yang selama ini dirahasiakan, operasi plastik rekonstruksi wajah tingkat tinggi yang dikerjakan oleh dokter luar negeri dalam waktu seminggu, atau mungkin... sebuah konspirasi keluarga kaya untuk menutupi sesuatu yang lebih besar. Ada banyak penjelasan yang lebih masuk akal dibanding percaya kalau abu kremasi bisa bernapas lagi, Vin."
"Tapi, Yon—"
"Gue bakal cari tahu sendiri siapa orang yang sebenarnya duduk di bangku itu," potong Dion dengan nada suara yang dingin dan tegas, mengakhiri perdebatan mereka.
Dion kembali menatap lurus ke depan, mengamati bagaimana Rayyan mulai merapikan buku-buku pelajarannya di atas meja. Rasa curiga yang membakar dadanya seolah menjadi bahan bakar baru yang menuntut jawaban. Di bawah kepungan tatapan curiga dari sudut belakang kelas dan misteri yang belum terpecahkan, Rayyan kini telah kembali menduduki takhtanya di sekolah, tanpa menyadari bahwa setiap langkah yang ia ambil di kehidupan keduanya ini akan terus diawasi oleh mata-mata yang tidak akan pernah berhenti mencari kebenaran di balik keajaibannya.