NovelToon NovelToon
LENTERA

LENTERA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam
Popularitas:144
Nilai: 5
Nama Author: Areka Leywin

Di Karang Wetan, hukum punya pintu belakang — dan orang-orang seperti Rangga tidak pernah diundang lewat situ. Setelah menjadi korban kejahatan yang pelakunya berlindung di balik kekuasaan, Rangga bersumpah tidak akan pernah lagi menunggu keadilan datang dari atas. Dari gang sempit dan bantaran kali, ia membangun Lentera — perkumpulan orang-orang tertindas yang saling melindungi ketika negara menutup mata. Namun setiap cahaya yang menyala akan menarik perhatian kegelapan yang lebih besar: Komisaris Yusuf Baskoro dan Bupati Hardian Wibowo, dua penguasa yang saling melindungi demi mempertahankan takhta mereka. Ini kisah tentang seorang anak miskin yang menjelma jadi pemimpin yang ditakuti — dan pertanyaan yang terus menghantuinya: apakah ia masih pelindung, atau sudah jadi seperti yang dulu ia lawan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Areka Leywin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bukti yang Diciptakan

Aku pertama kali tahu ada yang tidak beres waktu Pak Darto datang tergesa-gesa ke rumah, wajahnya pucat, napasnya masih terengah dari kayuhan sepeda motornya.

"Rangga, kamu harus dengar ini. Ada surat panggilan atas nama kamu, tersebar di kantor kelurahan. Tuduhannya... pencurian sama penganiayaan. Katanya kamu yang dalangi perampokan di rumah kontrakan Broto beberapa bulan lalu, sama penyerangan ke gudangnya minggu kemarin."

Aku merasa dunia di sekitarku melambat sesaat. Bukan karena tuduhan itu sepenuhnya salah—memang benar kami yang mengambil uang Broto waktu itu, dan benar kami yang menyerbu gudang untuk menyelamatkan Dedi. Tapi cara tuduhan itu muncul, secepat dan setepat ini, terasa seperti sesuatu yang jauh lebih terencana daripada sekadar laporan warga biasa.

"Siapa yang lapor?" tanyaku, mencoba menjaga suaraku tetap tenang.

"Katanya laporan langsung dari kantor Komisaris Baskoro sendiri," jawab Pak Darto. "Bukan Broto yang lapor. Baskoro."

---

Malam itu kami berkumpul mendadak—Yanto, Ujang, Salim, bahkan Sari yang buru-buru datang dari kampung nelayan begitu mendengar kabar itu. Suasana di gudang kosong dekat pasar terasa lebih tegang dari pertemuan mana pun sebelumnya.

"Ini jebakan," kata Yanto, mondar-mandir dengan gelisah. "Mereka nggak bisa buktiin langsung kamu yang nyuri uang atau nyerang gudang itu—kalau bisa, mereka pasti udah tangkep kamu dari dulu. Ini cara mereka maksa kamu keluar dari persembunyian, atau bikin kamu keliatan kayak penjahat di mata publik, biar semua yang udah kamu bangun sama Mira soal proyek itu jadi nggak dipercaya."

Sari mengangguk, wajahnya serius. "Kalau kamu ditangkap sekarang, dengan tuduhan kriminal beneran—bukan cuma tuduhan politis kayak kasusku dulu—orang-orang bakal lebih gampang percaya narasi kalau Lentera ini emang cuma kumpulan kriminal biasa. Itu bakal ngerusak semua yang udah kita bangun sama Mira."

Aku duduk diam, mencoba mencerna semuanya dengan kepala dingin meski jantungku berdebar kencang. "Berarti mereka nggak nembak aku langsung kayak nyerang Bapak dulu. Mereka mau hancurin nama aku dulu, biar waktu mereka akhirnya tangkep atau apain aku, nggak ada yang bela."

"Sama kayak kasus kamu dulu," kata Ujang pelan, "tapi dibalik. Dulu penjahatnya yang dilindungi hukum. Sekarang kamu yang mau dijadiin penjahat pakai hukum."

---

Kami menghabiskan malam itu menyusun langkah, meski pilihan yang ada semuanya terasa berisiko.

Menyerahkan diri berarti mempertaruhkan segalanya pada sistem hukum yang sudah terbukti berulang kali berat sebelah. Bersembunyi berarti membenarkan narasi bahwa aku memang buron yang bersalah, sekaligus meninggalkan Lentera tanpa pemimpin di saat paling genting. Melawan secara terbuka bisa memicu kekerasan yang lebih besar, yang justru bisa dipakai sebagai alasan sah untuk menumpas kami sepenuhnya.

"Kita butuh Mira," kataku akhirnya. "Kalau tuduhan ini keluar bareng waktu sama investigasi soal proyek Bupati, itu bukan kebetulan. Kita harus buktiin ke publik, ini bukan soal aku jadi penjahat. Ini soal mereka takut sama apa yang mulai kita bongkar."

Sari langsung menghubungi Mira lewat jalur aman yang biasa mereka pakai. Jawaban Mira datang cukup cepat, meski nadanya terdengar waspada: ia sudah dengar soal surat panggilan itu, bahkan sebelum kami mengabarinya, karena ternyata kabar itu sengaja disebar juga ke beberapa media lain—tanda bahwa ini memang dirancang untuk jadi berita besar, bukan sekadar proses hukum diam-diam.

"Ini permainan opini publik," tulis Mira. "Kalau saya buru-buru bela kamu tanpa bukti kuat, saya bisa dianggap nggak netral, dan itu malah bisa dipakai buat serang balik kredibilitas investigasi soal proyek Bupati. Saya perlu waktu nyusun ini hati-hati. Sementara itu, kamu harus mikirin keselamatan kamu sendiri dulu."

---

Malam semakin larut, dan aku masih duduk di gudang kosong itu, dikelilingi orang-orang yang sudah jadi lebih dari sekadar rekan seperjuangan—mereka sudah jadi semacam keluarga kedua bagiku, jauh dari rumah triplek tempat aku dibesarkan, tapi terasa sama pentingnya.

"Apa pun yang terjadi," kataku akhirnya, menatap satu per satu wajah di sekelilingku, "aku nggak mau Lentera berhenti cuma karena aku. Kalau aku harus sembunyi, atau bahkan ketangkep, kalian harus tetap jalan. Yanto pegang strategi, Salim pegang lapangan, Ujang pegang informasi, kayak biasa."

"Kamu ngomong kayak orang yang udah nyerah," kata Ujang, suaranya bergetar antara marah dan sedih.

"Bukan nyerah," jawabku. "Tapi aku harus siap sama kemungkinan terburuk. Karena kalau aku nggak siap, dan itu beneran terjadi, kalian yang bakal kebingungan harus ngapain."

Malam itu, untuk pertama kalinya sejak Lentera terbentuk, aku benar-benar merasakan beratnya jadi pemimpin dalam artian yang sesungguhnya—bukan cuma soal berani melawan, tapi soal menyiapkan orang-orang yang kupimpin untuk tetap berdiri, bahkan kalau aku sendiri yang harus jatuh lebih dulu.

---

*(Bersambung ke Bab 17)*

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!