Keisha harus putus dengan seorang yang sangat ia cintai, hanya karena sebuah kebodohan.
Setelah ucapan yang membuatnya menyesal itu, Keisha harus terjebak dalam sebuah pernikahan yang sama sekali tidak terbayangkan.
Sebuah pernikahan kontrak yang membuatnya tidak bisa menolak, karena nyawa orangtuanya selalu dijadikan senjata sebagai ancaman.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shanum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Pagi hari, Keisha sudah bersiap dengan pakaian rapi. Dia harus berangkat bekerja, setelah lulus memang Kei membantu di perusahaan milik Ayahnya. Setelan blazer dengan rok ketat sampai lutut berwarna coklat, sudah membalut cantik pada tubuh ramping Keisha.
Gadis dengan ikat rambut ekor kuda itu sudah keluar kamar dan berjalan melalui samping rumah, tanpa ingin lebih dulu masuk ke dalam rumah besar milik suaminya. Tas sudah menggelayut indah pada pundaknya, dengan sepatu heels warna hitam Kei terus berjalan untuk menghampiri taxi online telah di pesan lebih dulu.
"Mama..." seru Nabila berteriak dan berlari keluar saat melihat Keisha melintasi teras rumah.
Gadis cantik dengan make up tipis tersebut menoleh ke dalam rumah, dan melebarkan senyum pada bocah kecil terus berlari mendekat. Keisha meraih tubuh bocah tersebut sembari berjongkok di depan Nabila. Boca kecil itu memeluk erat Kei, tak mau lagi untuk melepaskan.
"Mama kerja dulu ya sayang, nanti sore mama temani kamu main" lembut Kei mengusap rambut bocah tetap memeluknya, dan menjawab gelengan kepala.
"Tidak mau" manja bocah dengan rok berwarna pink tersebut semakin mengeratkan pelukan.
Keluar seorang laki laki tinggi dengan kemeja hitam, dasi hitam dan celana hitam berdiri di teras rumah. Keisha pun menatapnya sinis, lalu melepas perlahan pelukan putri tirinya. Keisha mencium pipi Nabila lalu tersenyum meletakkan tangan di atas kepala bocah menatapnya itu.
"Mama berangkat dulu ya, udah di tunggu sama taxi" lembut Kei mengacak lirih rambut pada ujung kepala Nabila.
Tidak lagi memperdulikan tatapan lelaki telah menamparnya dua kali semalam, Keisha berjalan ke arah luar meninggalkan Nabila tetap memperhatikan dengan wajah memelas. Reynand menatap putrinya tidak tega, ia mengisyaratkan memanggil pelayan dengan satu jari telunjuk berayun. Laki laki berwajah segar itu kembali menggunakan isyarat mata memerintahkan pelayan untuk membawa Nabila masuk.
Bergegas Rey melangkah mengejar gadis sama sekali tidak pernah menoleh, dan terus berjalan. Lengannya kuat di tarik Reynand, sampai tubuh ramping tersebut memutar menghadap lelaki bersorot mata tajam di depannya. Kei melepas paksa genggaman laki laki semakin menguatkan untuk mencengkeram lengan Keisha.
"Siapa mengijinkanmu keluar rumah?!" tegas Rey dengan mata tajam.
"Aku tidak memerlukan ijin siappun untuk melakukan apapun!" tegas Kei mengangkat wajah menatap dalam mata lelaki tengah menunduk menatapnya.
"*****! masuk!" tegas Reynand menyeret lengan Keisha kuat, hingga kaki Kei terpelintir karena sepatu heel yang di kenakan.
Sudah dua kali Rey memanggil Keisha seo
perti itu. Kata kata itu sangat menyakitkan batin Keisha yang tak pernah mendengar orang menyebutkan sehina itu. Rey terus menarik kuat lengan Keisha, meski Kei sudah berjalan pincang. Ia membuka pintu tinggi kamar tamu dan melempar tubuh Keisha keras ke atas ranjang.
"Berani kamu keluar tanpa ijinku, maka ku hancurkan kepalamu!" ancam lelaki tengah berdiri gagah di dekat ranjang tersebut menunjuk.
"Sakit jiwa! aku tidak membutuhkan ijinmu!" tegas Keisha mencoba bangun.
"Bahkan aku akan lebih memilih mati daripada mengenal manusia sepertimu!" tambah kembali Keisha, membulatkan tajam mata Rey.
Keisha sudah berhasil turun dari ranjang dan merapikan blazernya, mencoba melewati tubuh laki laki tengah meliriknya sinis. Lengan itu kembali ditahan Rey dan menghempaskan kembali tubuhnya. Kini Rey sudah mengapit kedua paha Keisha dengan kedua kakinya. Tangan tangan kuat lelaki berada di atas tubuh menyisakan jarak tersebut, menahan pergelangan tangan Keisha di samping wajah gadis menatapnya sinis dan penuh kebencian.
"Jangan memaksaku lebih kasar lagi padamu!" tekan Rey menatap tajam mata gadis di bawahnya.
"Mau pukul? pukul saja! menembak? silahkan! aku tidak perduli lagi, asal bisa terbebas dari psikopat sepertimu!" lawan gadis dengan rasa takut dalam dirinya, namun tidak menunjukkan pada ekspresi wajahnya.
Reynand menyengir, terlihat sangat sinis dalam senyuman juga sorot matanya. Rey membuka blazer dan kemeja Kei paksa, sampai semua kancing terlepas. Tangan Keisha mencoba menahan, namun tenaga Rey terlalu kuat untuk dilawan. Sepasang mata itu mengawasi tubuh putih sudah terbuka dibawahnya, lagi lagi senyumnya sinis.
"Lepas! bukankah kita sudah berjanji tidak ada hubungan tubuh?!"membulat mata Kei berteriak untuk mengingatkan isi perjanjian.
"Itu kamu, bukan aku. Aku bisa menyentuhmu kapanpun aku mau" santai Reynand.
Mulai mendekatkan wajah pada wajah Kei, menikmati bibir bervolume dengan rakus dan turun menikmati hingga leher dan terus turun ke bawah. Tubuh Keisha menegang, memberontak namun tidak sanggup karena tangan kuat di tahan oleh laki laki yang terus menikmatinya.
Kaki pun masih di apit kedua lutut Rey kuat, sampai tak ada sedikitpun ruang gerak bagi Keisha tersedia. Ia terus meronta, menangis, namun tak diperdulikan sama sekali. Keisha merasa sangat jijik akan apa yang dilakuakan laki laki bringas itu saat ini. Parasnya memang tampan, tapi tidak fengan kelakuan seperti hewan buas.
Melihat tubuh gadis di bawahnya surah lemas karena terus berusaha melawan, hanya air mata dan umpatan lirih yang ada pada Keisha. Rambutnya berantakan, tenaganya telah hilang. Kini ia lebih terlihat sebagai boneka tak bernyawa.
"Tetaplah melawanku, maka aku bisa melakukan lebih gila dari itu" ucap Rey sinis.
Rey beranjak dari tubuh Keisa dan merapikan sejenak pakaian juga rambutnya. Menatap ke arah Keisha dengan senyum sinis juga kemenangan. Rey sama sekali tidak berniat untuk menyentuh Keisha sedikitpun, Ia hanya ingin memberikan pelajaran pada Keisha. Bahkan rok Keisha pun tak terjamah sama sekali oleh tangan Rey.
Suara pintu terbuka dan tertutup kembali, Keisha masih berada di atas tempat tidur. Mulai memiringkan tubuh dan menangis tersedu sedu. Ia benar benar jijik pada Rey juga tubuhnya saat ini. Tubuh telah ternoda oleh setiap sentuhan tidak pernah diinginkan. Terlebih itu adalah manusia tidak berperasaan seperti laki laki yang telah menjeratnya pada hubungan pernikahan gila.
"Ayah, Bunda Kei mau pulang. Tolong Kei disini yah, Kei tidak sanggup lagi" tangis Kei meletakkan telapak tangan di depan mulut.
"Bagaimana aku harus bertanggung jawab pada Reza jika seperti ini? mengapa semua harus terjadi saat aku kembali bisa bersama laki laki yang aku cintai?" tambah Keisha lirih tetap dalam air mata terus mengalir deras.
Di luar, Reynand menikmati sarapan bersama putri tercintanya. Nabila memang tidak sempat melihat mamanya masuk tadi, hingga dia mengira jika mamanya tengah bekerja. Padahal kini Keisha tengah terkunci dari luar oleh Reynand. Ia sengaja mengunci gadis tengah coba di beri efek jera itu, agar tidak lagi menjadi seorang pembangkang.
Rey sangat tidak menyukai sebuah perlawanan atas setiap perintahnya. Ia berharap dengan pelajaran kali ini, Keisha bisa berhenti untuk melawan dan cukup menjadi pengasuh putrinya hingga enam bulan kedepan.