"Tandatangani ini dan pergilah dari rumahku! Anak haram di rahimmu itu bukan darah dagingku!"Devan Mahendra, CEO dingin penguasa bisnis kota, melempar surat cerai tepat di wajah Anya. Terhasut oleh fitnah kejam, Devan mengusir Anya yang sedang hamil tua di tengah badai malam. Anya pergi membawa luka sedalam lautan dan dianggap tewas dalam kecelakaan tragis
Lima tahun berlalu. Devan hidup dalam penyesalan setelah kebenaran terungkap. Namun, dalam sebuah perjamuan bisnis kelas atas, sosok wanita yang sangat mirip dengan mendiang istrinya muncul. Dia bukan lagi Anya yang miskin dan penurut, melainkan Anastasia Wijaya, putri tunggal pewaris takhta keluarga terkaya nomor satu, didampingi sepasang anak kembar yang berwajah sangat mirip dengan Devan
Saat Devan berlutut memohon ampun, Anya hanya tersenyum dingin, "Maaf, Tuan Mahendra. Anda salah orang."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Finus Ina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 9
Happy reading guys
------------------------------
Bab 9: Sabotase di Malam Badai
Iring-iringan mobil sedan hitam milik Devan Mahendra berhenti mendadak tepat di depan lobi utama Hotel Wijaya Internasional.
Devan melangkah keluar dari pintu kemudi tanpa memedulikan tatapan heran dari petugas valet hotel.
Penampilannya malam itu sangat jauh dari citra seorang CEO yang perfeksionis.
Kemejanya tampak kusut, rambutnya berantakan, dan sepasang netra elangnya yang memerah menyiratkan keputusasaan yang teramat mendalam.
Langkah kaki tegap Devan baru saja hendak menapaki lantai marmer lobi, ketika empat orang pria tegap dengan setelan jas hitam formal dan pin komando Wijaya Corps langsung bergerak cepat membuat barikade kokoh di hadapannya.
"Mohon maaf, Tuan Mahendra. Langkah Anda harus terhenti di sini,"
ucap kepala pengawal hotel dengan nada suara yang datar namun sarat akan penekanan yang tidak menerima bantahan.
"Kami telah menerima instruksi langsung dari Sekretaris Hendra bahwa Anda adalah orang asing yang dilarang keras untuk memasuki area properti ini."
Devan mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat, mencoba menahan gemuruh emosi yang nyaris meruntuhkan akal sehatnya.
"Saya tidak datang untuk membuat keributan. Saya hanya ingin menemui Anastasia Wijaya. Hanya lima menit... saya mohon,"
suara bariton Devan yang biasanya terdengar angkuh kini bergetar parau, merendah hingga ke titik terendah demi sebuah kesempatan.
Pimpinan pengawal itu tetap bergeming, tatapannya sedingin es.
"Nona Anastasia tidak sudi menemui Anda, Tuan. Jika Anda tidak segera membalikkan badan dan meninggalkan tempat ini, kami akan menggunakan jalur kekerasan untuk menyeret Anda keluar."
Rian yang berdiri di belakang Devan segera memegang pundak atasannya dengan cemas.
"Tuan Besar, mari kita kembali dulu. Mengurangi ego di depan pengawal mereka tidak akan membuahkan hasil malam ini. Kita bisa mencari cara lain besok pagi."
Namun, Devan mengibaskan tangan Rian dengan kasar.
Pria itu justru melangkah maju satu langkah, menatap tepat ke dalam netra kepala pengawal tersebut.
"Saya tidak akan pergi dari sini sebelum saya bisa melihat wajahnya dan anak-anakku! Pukul saya, seret saya, lakukan apa saja yang kalian mau! Tapi saya tetap tidak akan beranjak satu senti pun dari lobi ini!"
raung Devan penuh frustrasi yang mengiris hati siapa pun yang mendengarnya.
------------------------------
Sementara itu, jauh di balik kemegahan arsitektur hotel, di dalam ruang panel listrik bawah tanah yang terisolasi, bahaya yang sesungguhnya tengah mengintai dari kegelapan.
Dua orang pria bertopeng hitam yang merupakan anggota tim bayaran Siska berhasil melumpuhkan petugas jaga malam dengan menggunakan alat kejut listrik tanpa menimbulkan suara sedikit pun.
Jemari salah satu pelaku bergerak lincah membuka kotak sekring utama yang mengatur aliran daya khusus menuju lantai Penthouse teratas hotel.
Sebuah alat pengacau sinyal elektronik juga dipasang tepat di atas pemancar darurat.
"Semua pengawal di atas menggunakan lift khusus dan sistem komunikasi interkom digital," bisik pria bertopeng itu kepada rekannya melalui perangkat nirkabel kecil.
"Begitu sakelar ini kuturunkan, seluruh lantai teratas akan mengalami kebutaan total selama tiga menit sebelum generator cadangan aktif. Gunakan waktu itu untuk menyusup lewat tangga darurat dan bawa anak kembar yang mengenakan jam tangan pintar merah."
"Dimengerti. Eksekusi sekarang."
Klik.
Dalam satu hentikan tuas besi, seluruh pasokan daya listrik menuju tiga lantai teratas Hotel Wijaya Internasional seketika terputus total.
------------------------------
Di dalam kamar presidensial lantai Penthouse yang tenang, Anastasia Wijaya sedang menyelimuti tubuh mungil Arka yang sudah tertidur lelap setelah kelelahan bermain.
Di sofa sudut ruangan, Alta masih terjaga, matanya yang tajam fokus menatap layar gawai untuk membaca ringkasan artikel sains kesukaannya.
jebbb!
Kegelapan yang pekat mendadak menelan seluruh ruangan tersebut.
Lampu utama, pendingin ruangan, hingga lampu dekorasi dinding mati secara serentak.
Atmosfer kamar yang semula hangat berubah menjadi dingin dan mencekam dalam hitungan detik.
"Mami...?"
suara Alta terdengar sedikit meninggi, memecah kesunyian kegelapan.
Bocah berusia empat tahun itu segera bangkit berdiri, meraba-raba udara di depannya untuk mencari posisi ibunya.
"Alta, tetap di tempatmu, Sayang! Jangan bergerak!" perintah Anastasia,
suaranya terdengar panik namun ia mencoba sekuat tenaga untuk menekan rasa takutnya demi menjaga kewarasan anak-anaknya.
Anastasia segera meraba nakas di samping ranjang, mencari ponselnya untuk menyalakan senter darurat.
Namun sebelum Anastasia berhasil menyalakan cahaya, suara alarm sistem keamanan internal hotel mendadak berdering dengan nada pendek yang terputus-putus.
Suara itu disusul oleh derap langkah kaki yang terburu-buru dari arah koridor luar kamar.
Brak!
Pintu depan kamar didorong terbuka secara manual.
Cahaya senter dari luar menyorot masuk, menampilkan sosok Sekretaris Hendra yang melangkah masuk dengan raut wajah yang dipenuhi kepanikan yang luar biasa.
Di belakangnya, empat pengawal bersenjata langsung memasang formasi melingkar di depan ranjang Anastasia.
"Nona Anastasia! Ini bukan pemadaman listrik biasa!" teror Hendra dengan napas yang membur .
"Seseorang telah menyabotase ruang panel utama bawah tanah dan memotong jalur komunikasi darurat kita! Seluruh sistem interkom mati, dan lift VIP terkunci otomatis! Ini adalah serangan terencana!"
Darah Anastasia seolah berhenti mengalir seketika mendengar laporan tersebut.
Kilasan trauma malam penculikan lima tahun lalu yang hampir merenggut nyawanya mendadak berputar kembali di kepalanya, membuat dadanya terasa sesak luar biasa.
Namun, sebagai seorang ibu dan pimpinan tertinggi Wijaya Corps, ia tahu ia tidak boleh melemah sekarang.
"Amankan anak-anak sekarang juga! Bawa mereka ke ruang perlindungan internal di balik lemari pakaian!"
titah Anastasia dengan suara yang bergetar namun sarat akan ketegasan yang mutlak.
"Alta! Arka! Ayo ikut Paman Hendra!"
Hendra segera bergerak maju untuk menggendong Arka yang mulai terbangun dan menangis ketakutan akibat kegaduhan tersebut.
Sementara itu, salah satu pengawal tegap langsung meraih tubuh Alta.
Namun, di tengah kegelapan dan kepanikan yang berantakan itu, suara benturan keras terdengar dari arah pintu kaca balkon kamar yang menghubungkan langsung ke area tangga darurat luar gedung.
Dua siluet tubuh pria bertopeng hitam merangsek masuk setelah memecahkan kaca dengan palu besi.
"Pengawal! Tembak mereka!"
raung Anastasia histeris, melompat dari ranjang untuk melindungi putra-putranya dengan tubuhnya sendiri.
Suara desingan senjata peredam suara seketika memecah kesunyian malam di dalam kamar mewah tersebut.
Para pengawal Wijaya Corps langsung terlibat baku tembak jarak dekat yang sangat sengit di tengah kegelapan total.
Kilatan cahaya dari moncong senjata menjadi satu-satunya penerang temporer yang mengerikan, menampilkan bayangan-bayangan tubuh yang saling hantam.
Anastasia mencoba menggapai tangan Alta di tengah kekacauan, namun sebuah ledakan bom asap kecil yang dilemparkan oleh penyusup seketika memenuhi ruangan dengan asap putih yang pekat dan menyesakkan dada.
Anastasia terbatuk-batuk hebat, pandangannya buram, dan pegangan tangannya pada udara kosong terlepas begitu saja.
"Mami! Tolong!"
Suara jeritan Alta yang melengking dari balik kepulan asap seketika merobek pertahanan mental Anastasia.
Wanita itu merangkak di atas lantai marmer dengan air mata yang bercampur dengan debu asap, mengabaikan keselamatan dirinya sendiri demi mencari asal suara putranya.
"ALTA! ARKA!"
jerit Anastasia dengan suara parau yang sarat akan keputusasaan yang teramat pekat.
Di lantai bawah, Devan yang masih tertahan di lobi mendadak melihat seluruh lampu indikator lift VIP mati total, diikuti oleh kepanikan para staf resepsionis yang menerima laporan sabotase.
Jantung Devan berdegup kencang, firasat buruk langsung mencengkeram ulu hatinya.
Tanpa memedulikan barikade pengawal hotel yang sedang kebingungan, Devan langsung menerobos masuk menuju pintu tangga darurat dengan kecepatan penuh.
Insting seorang ayah membisikkan bahwa dunianya yang baru saja ia temukan kembali... kini sedang berada dalam bahaya maut yang mematikan.
Namun, tepat saat ia tiba di bordes lantai tiga, pintu keluar menuju area parkir semi-terbuka mendadak terbuka dengan hantaman keras dari arah atas.
Dua orang pria bertopeng hitam merangsek turun dengan terburu-buru.
Salah satu dari mereka tampak mendekap erat seorang anak kecil yang terus meronta dan memukul punggung sang penculik dengan tangan mungilnya.
Jam tangan pintar berwarna merah di pergelangan tangan anak itu memantulkan sedikit cahaya lampu darurat yang remang.
Devan tersentak sempurna.
Wajah anak itu... itu Alta. Putra sulungnya yang beberapa jam lalu menatapnya penuh keangkuhan di koridor kantor.
"Kurang ajar! Lepaskan anak itu!" raung Devan penuh amarah yang meledak-ledak.
Tanpa memedulikan keselamatan dirinya, Devan langsung menerjang maju, melayangkan pukulan keras yang menghantam telak rahang pria bertopeng yang berada di posisi depan hingga pria itu terhuyung mundur menabrak dinding semen.
Pria bertopeng kedua yang menggendong Alta terkejut melihat hadangan Devan.
Ia melepaskan satu tendangan sudut yang keras menuju dada Devan, membuat sang CEO terdorong mundur dan menghantam pagar besi tangga.
Rasa nyeri yang amat sangat menjalar di tulang rusuk Devan, namun ia mengabaikannya.
Pria itu kembali bangkit, jemarinya bergerak cepat mencengkeram jaket kulit sang penculik, mencoba menarik tubuh Alta ke dalam dekapannya sendiri.
"Paman jahat! Lepaskan aku!"
Alta berteriak, gigi kecilnya langsung menggigit kuat pundak pria bertopeng yang menggendongnya.
"Sialan! Anak ini menggigitku!" umpat pria bertopeng itu kasar.
Melihat Devan yang terus merangsek maju dengan membabi buta demi merebut Alta, pria bertopeng pertama yang tadi sempat terjatuh kini bangkit kembali.
Ia mengeluarkan sebilah pisau lipat taktis dari balik sakunya dan langsung mengayunkannya dengan gerakan kilat ke arah perut Devan.
Jleb!
Rasa dingin yang menusuk disusul oleh sensasi panas yang membakar seketika menjalar di bagian perut kiri Devan.
Pria itu melenguh parau, cengkeraman tangannya pada jaket penculik Alta mendadak melemas.
Darah segar berwarna merah pekat mulai merembes keluar, membasahi kemeja putihnya yang kusut dalam hitungan detik.
"Tuan Besar!"
Suara teriakan Rian yang baru saja menyusul masuk ke area tangga darurat menggema keras.
Melihat ada orang lain yang datang, kedua penculik itu tidak ingin membuang waktu lebih lama lagi.
Pria bertopeng itu mendorong tubuh Devan yang mulai limbung hingga jatuh terduduk di anak tangga.
"Cepat pergi! Mobil sudah siap di bawah!"
teriak pria bertopeng pertama sembari menarik rekannya yang menggendong Alta untuk berlari cepat menuruni sisa anak tangga menuju area parkir bawah tanah yang gelap.
"Mami... Paman...!"
Suara jeritan Alta kian menjauh dan perlahan menghilang bersama deru suara mesin mobil yang digas dengan kasar dari arah lantai dasar.
Devan mencengkeram perutnya yang terus mengalirkan darah hangat, mencoba memaksakan kakinya untuk kembali berdiri demi mengejar mobil tersebut, namun tubuhnya menolak untuk patuh.
Pandangan mata elangnya mulai mengabur, menyisakan bayangan Rian yang berlari panik ke arahnya dengan gawai di tangan.
Di lantai atas, sayup-sayup terdengar suara sirine alarm hotel yang berpadu dengan jeritan histeris Anastasia yang meratapi hilangnya sang putra.
Malam itu, di tengah kegelapan badai sabotase, Alta telah berhasil dibawa pergi ke dalam kegelapan kota oleh jaringan kelam Siska.
Devan terkapar di lantai tangga darurat dalam kondisi kritis, sementara Anastasia harus menghadapi mimpi buruk terbesar dalam hidupnya sebagai seorang ibu.
Benang takdir mereka kini benar-benar tergantung di ujung tanduk yang mematikan, menyisakan misteri besar tentang ke mana Alta akan dibawa pergi.
------------------------------
Bersambung