"Meja bundar.. apa itu??"
"Meja yang jadi mitos kelam warga sini. Katanya, kalau sampai ada pendatang yang masuk ke sini dan hilang, udah pasti nggak akan balik, mereka semua pasti mati."
"Siapa kakek sebenarnya??"
"Kakek bukan orang biasa, dia.."
Kara, seorang gadis berusia tujuh belas tahun, terpaksa meninggalkan tempat tinggalnya dan pindah ke desa terpencil bersama ayahnya. Desa itu sunyi, tertutup, dan dipenuhi tatapan curiga dari warga yang enggan berbicara tentang masa lalu. Di rumah peninggalan kakeknya, Kara menemukan sebuah meja bundar tua yang tergeletak di ruang bawah tanah berukuran pas untuk delapan orang, dengan ukiran aneh di setiap sisinya yang seolah menyimpan rahasia terpendam.
Bisakah Kara mengungkap apa sebenar nya meja bundar itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Jumillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPS. 19. Nurma adalah.
Kara kemudian menceritakan apa saja yang sudah terjadi dan dia alami di rumah itu, dia menceritakan kengerian yang dia alami setiap malam nya dan juga.. kedatangan perempuan yang selalu Kara pikir itu adalah kakak nya Putri, Nurma.
Mang Jupri yang mendengar cerita dari Kara tiba - tiba menangis.. sepanjang Kara menceritakan tentang pertemuan Kara dengan Nurma, mang Jupri menangis. Bukan hanya isakan kecil tapi mang Jupri meraung sampai sesenggukan sambil menepuk - nepuk dada nya, tangisan nya seperti orang yang sedang kehilangan sesuatu sampai putus asa.
"Huhuhuhu.. hiks! hiks! Hhhhaaa!!"
"Bapak udah atuh, bapak kenapa?" Tanya Putri, karena mang Jupri sampai kesulitan menarik nafas nya saking sesak nya dia.
Kara pun akhir nya memberi waktu untuk mang Jupri meluapkan kesedihan nya, dia tidak tahu kenapa dan apa kemungkinan yang terjadi pada mang Jupri sampai dia begitu.. tapi Kara duduk diam memberi mang Jupri waktu. Sampai akhir nya mang Jupri sudah lebih baik dan kemudian mengeluarkan sebuah foto dari dompet usang nya.
"Yang neng Kara temui beberapa hari ini, apa perempuan itu?" Tanya mang Jupri, sambil lalu memberikan foto kecil usang berukuran 2x3 cm pada Kara.
Kara mengambil foto nya, dia amati baik - baik wajah perempuan yang ada di dalam foto itu.. dan ya, itu adalah dia, Nurma. Kara pun manggut - manggut, meski dalam foto itu senyum nya lain dengan yang Kara lihat.. tapi Kara yakin 100% itu adalah Nurma yang selalu datang setiap sore hari ke rumah itu.
"Iya, ini teh Nurma, kan?." Ucap Kara, mang Jupri menahan tangis nya.
Jelas pengakuan Kara tidak bohong, Kara bahkan baru kali pertama itu datang ke rumah kakek nya sendiri dan juga Kara belum pernah berinteraksi sama sekali dengan keluarga mang Jupri terutama Nurma. Mang Jupri yakin, Nurma sudah mengalami hal yang tidak masuk di akal.
"Neng.. ini teh istri nya mamang.. namanya Nurmala Sari." Ucap mang Jupri pelan, Kara terdiam sambil merasa merinding sesaat.
'Jadi bener dia bukan manusia..' Batin Kara.
Kara sendiri juga merasa tervalidasi dengan semua kengerian nya setiap kali dia di tatap atau melihat senyum Nurma yang di mata nya itu terasa mengerikan, selama ini dia hanya merasa aneh.. ternyata dia lah yang berinteraksi dengan sesuatu yang salah.. Dan lagi, jika sekarang dia melihat mang Jupri bahkan sudah tua, sangat tidak lazim jika Nurma terlihat masih tampak seumuran dengan Putri.
"Dia sudah meninggal, tapi mamang tidak pernah memakamkan jasad nya. Dia hilang puluhan tahun, mamang bahkan nggak tau keberadaan nya teh dimana." Ucap mang Jupri, Kara mengernyit.
"Gimana bisa mamang bilang dia sudah meninggal kalo nggak nguburin jasad nya?" Tanya Kara.
"Karena kami sudah melakukan ritual, tapi mamang nggak pernah bisa ketemu sama dia. Makanya mamang teh kaget pas denger neng Kara malah ketemu dia di sini." Ucap mang Jupri, Kara diam.
"Di desa ini neng.. warga baru atau pendatang akan selalu mengalami nasib buruk jika sampai hilang, mereka yang hilang.. lebih sering nya teh nggak pernah kembali." Ucap mang Jupri, kara tertegun.
"Kenapa?" Tanya Kara sambil mengernyitkan kening nya, tapi jawanan dari mang Jupri hanyalah sebuah gelengan kepala.
"Bahkan sampai detik ini pun mamang teh masih belum mengerti kenapa bisa hilang..'' Ucap mang Jupri.
"Pasti ada sebab kalo ada akibat, kan?? Kalo pun memang ada sebab nya, temen - temen aku nggak ngelakuin kesalahan apapun." Ucap Kara, tapi.. sejenak kemudian Kara teringat dengan Nurma yang megur mereka untuk jangan berisik.
'Masa karena berisik?' Batin Kara.
Selain itu, Kara juga jadi teringat dengan ucapan Nurma yang menyuruh kedua teman nya itu segera pergi, dan juga berkata bahwa ada seseorang yang Nurma sebut sebagai "Dia" Yang menyukai teman nya. Lalu hanya dalam waktu satu malam saja, kedua teman Kara itu sudah hilang secara misterius.
Kara mencoba mengkoneksikan atau menyambung semua teka - teki dari semua kejadian, dan yang Kara bisa yakini semua itu merujuk ke bangunan yang ada di sebelah rumah nya, bangunan yang memiliki ruangan bawah tanah itu.
"Neng.. apa ayah nya neng teh nggak pernah cerita tentang desa ini?" Tanya mang Jupri, Kara menggeleng..
"Lalu apa ayah nya neng teh.. nggak pernah cerita juga tentang kakek nya neng Kara?" Tanya mang Jupri lagi, Kara kembali menggelengkan kepalanya.
"Nggak pernah. Ayah sama mama baru cerai, dan karena itu ayah bawa aku kesini.. supaya bisa mulai hidup baru. Aku juga baru tahu kalo aku punya kakek, dan disini rumah nya." Ucap Kara.. mang Jupri manggut - manggut.
"Mungkin niat ayah nya neng Kara teh baik, nggak mau neng Kara jadi takut. Tapi neng.. di desa ini, terkenal dengan sebutan desa jagal. Dulu.. mata pencaharian orang - orang di sini ya itu, menjagal sapi." Ucap mang Jupri, dia membuka cerita.
"Dan yang paling banyak memiliki ternak sapi juga terkenal dengan jagal sapi yang sukses, adalah kakek nya neng Kara, beliau tanah nya ada di mana - mana, sangat kaya raya sampai semua orang yang membutuhkan pertolongan larinya ke beliau." Ucap mang Jupri lagi..
Mang Jupri menceritakan masa kejayaan kakek nya Kara, di mana dulu kakek nya Kara adalah satu dari empat orang paling sukses si desa itu, desa yang di kenal dengan sebutan desa jagal dan kakek nya Kara adalah yang ke empat. Kakek nya Kara terkenal sebagai rentenir juga, dia tidak akan segan mengambil tanah milik orang yang memiliki hutang padanya sebagai ganti dari uang yang sudah di pinjamkan pada mereka.
Lambat laun pun akhir nya kakek Kara berhasil menyaingi urutan orang paling kaya nomor 3 dan nomor 2, tapi dia masih belum mampu menyaingi yang urutan nomor satu. Dan merasa terobsesi dengan pencapaian nya, kakek Kara lalu main gelap. Gelap yang di maksudkan adalah kakek Kara itu menganut sesuatu, atau memuja sesuatu.. membuat keyakinan baru berdasarkan bisikan yang di sampaikan kepadanya yang kemudian di ceritakan pada beberapa orang.
Ironisnya.. ada beberapa orang yang percaya dengan apa yang kakek nya Kara katakan, mereka bergabung dengan kakek nya Kara dengan ambisi ingin menjadi orang kaya yang sukses. Lalu kemudian mereka sering melakukan ritual, di rumah itu.
"Ada juga yang mengaitkan semua musibah sama meja bundar milik kakek." Ucap mang Jupri.
"Meja bundar.. apa itu?" Tanya Kara pada mang jupri setelah mendengarkan semua cerita mang Jupri.
"Meja yang menjadi tempat kakek melakukan ritual, ada beberapa anggota inti di dalamnya dan.. meja itu lalu jadi seperti mitos yang beredar di kampung ini, jika sampai ada pendatang yang hilang pasti idak akan kembali, mereka pasti mati." Ucap mang Jupri.
"Jadi apa hubungan nya sama meja bundar kakek?"
BERSAMBUNG!
di aku g ada notif lho kk