NovelToon NovelToon
RESEP RAHASIA MANTAN ISTRI

RESEP RAHASIA MANTAN ISTRI

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Single Mom / Dunia Masa Depan
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: gendiz

"Hana mengorbankan kariernya sebagai otak di balik kesuksesan 3 cabang Rumah Makan demi menjadi ibu rumah tangga seutuhnya. Namun, pengorbanannya dibalas dengan siksaan mental dari mertua cerewet dan perubahan sikap Adrian, suaminya yang perlahan kembali ke tabiat aslinya sebagai playboy.

​Semuanya menjadi makin runyam saat mereka membawa pulang seorang baby sitter muda nan cantik dari kampung halaman. Di depan Hana dia adalah pengasuh yang lugu, namun di depan Adrian, dia adalah penggoda yang siap merebut semua yang telah Hana bangun dengan tetesan keringat. Saat Hana sadar dia dikhianati di rumahnya sendiri, haruskah dia tetap bertahan, atau mengambil kembali 3 rumah makan yang merupakan haknya dan meninggalkan mereka dalam kemiskinan?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33: Eksekusi Pengusiran dan Tawa di Atas Air Mata

Bab 33: Eksekusi Pengusiran dan Tawa di Atas Air Mata

​Matahari siang itu bersinar terik tanpa belas kasihan. Panasnya udara Jakarta terasa membakar kulit, sekering tenggorokan Hana saat ia melangkah turun dari taksi tua yang mengantarnya kembali ke rumah mewah dua lantai itu. Langkah kakinya goyah, diseret dengan sisa-sisa tenaga yang nyaris habis setelah tiga jam penuh dihantam badai fitnah di ruang sidang.

​Hana hanya ingin mengambil pakaiannya, beberapa helai mukena, dan foto almarhum ayahnya yang masih tertinggal di kamar atas. Ia sudah menerima kekalahannya di atas kertas hukum yang curang. Ia hanya ingin pergi dengan sisa harga diri yang paling minimal.

​Namun, begitu taksi yang ditumpanginya berlalu, pemandangan di depan pagar besi hitam rumah mewah itu membuat jantung Hana berhenti berdetak sesaat.

​Gerbang rumah itu terbuka lebar. Di atas aspal jalanan yang panas dan berdebu, berserakan belasan potong pakaiannya. Daster-daster katun yang biasa ia kenakan, kerudung-kerudung lamanya, bahkan beberapa tumpuk buku resep tua peninggalan almarhum ayahnya tergeletak begitu saja bagai tumpukan sampah yang tak berharga. Beberapa lembar kertas resep yang ditulis tangan langsung oleh ayahnya tampak koyak, terinjak-injak oleh jejak tanah yang masih basah.

​"A-apa ini..." bisik Hana dengan suara parau yang bergetar hebat.

​Ia berlari kecil, menjatuhkan lututnya di atas aspal yang panas membara demi menyelamatkan buku resep ayahnya yang robek. Jemarinya yang gemetar mencoba membersihkan debu-debu jalanan dari kertas-kertas usang itu. Air matanya, yang ia pikir sudah habis di ruang sidang, kembali tumpah membasahi kertas yang robek tersebut.

​TAK. TAK. TAK.

​Suara langkah kaki yang angkuh terdengar mendekat dari arah teras rumah. Hana mendongak dengan pandangan mata yang kabur oleh air mata.

​Ibu Broto berdiri di sana dengan kedua tangan bersedekap di dada. Di sampingnya, Santi berdiri dengan anggun, mengenakan gaun malam berbahan sutra tipis berwarna merah marun—gaun mahal milik Hana yang belum pernah sempat Hana pakai karena kehamilannya kemarin. Di jari manis Santi, melingkar sebuah cincin emas bermata berlian kecil. Hana mengenali cincin itu. Itu adalah cincin pertunangannya dengan Adrian yang disimpan di dalam laci meja rias atas.

​"Ibu... Santi... kenapa barang-barang saya dibuang seperti ini?" tanya Hana, suaranya parau, serak oleh kepedihan yang teramat dalam.

​Ibu Broto mendengus kencang, menatap Hana dari atas ke bawah dengan pandangan yang teramat muak dan menghina.

​"Kenapa? Kamu masih tanya kenapa, Hana?!" seru Ibu Broto dengan suara melengking yang sengaja dikeraskan agar didengar oleh tetangga sekitar. "Rumah ini sudah resmi milik Adrian sepenuhnya! Pengadilan sudah memutuskan kamu tidak punya hak sepeser pun di sini! Kami tidak sudi membiarkan barang-barang milik perempuan pembawa sial, mandul, dan gila seperti kamu mengotori rumah anakku!"

​"Tapi ini pakaian saya... ini buku resep almarhum ayah saya... kalian tidak berhak memperlakukannya seperti sampah!" teriak Hana, mencoba berdiri tegak meski kedua lututnya terasa lemas luar biasa.

​Santi melangkah maju satu langkah ke depan teras, menyunggingkan senyuman tipis yang sangat menyebalkan. Ia mengelus gaun sutra yang dikenakannya dengan gerakan sensual yang disengaja.

​"Duh, Mbak Hana... jangan teriak-teriak begitu, malu dilihat tetangga," ucap Santi dengan nada suara yang dibuat-buat lembut namun teramat menyengat batin. "Mbak Hana harus tahu diri. Mas Adrian sekarang sudah punya istri baru yang bisa mengurusnya dengan baik. Gaun ini... Mas Adrian sendiri yang menyuruh saya memakainya. Katanya, gaun mahal ini mubazir kalau cuma disimpan di lemari perempuan yang tidak bisa menjaga rahimnya sendiri."

​DEG.

​Dada Hana terasa seperti dihantam oleh palu godam tak kasat mata. Rasa sakit dari luka batinnya yang belum kering pasca-keguguran kembali menganga lebar, mengeluarkan perih yang teramat menyiksa. Kata-kata Santi bukan sekadar hinaan, melainkan racun yang sengaja disuntikkan tepat pada titik terlemah di jiwanya.

​"Santi... kamu... kamu benar-benar iblis..." bisik Hana dengan bibir bergetar, matanya menatap tajam ke arah selingkuhan suaminya yang kini telah naik takhta.

​"Iblis?" Santi terkekeh manja, lalu membalikkan tubuhnya ke arah pintu utama. "Mas Adrian! Ini lho, mantan istrimu masih belum mau pergi juga. Masih betah mengemis di depan pagar kita!"

​Detik berikutnya, Adrian melangkah keluar dari dalam rumah. Pria itu mengenakan kemeja santai, wajahnya tampak segar bugar seolah-olah beban berat yang selama ini menghimpit pundaknya telah menguap seluruhnya setelah berhasil merampas ruko Hana. Ia menatap Hana yang berdiri di luar pagar dengan tatapan dingin, tanpa ada sedikit pun sisa rasa bersalah atau belas kasihan.

​"Hana, pergi dari sini," ucap Adrian dengan nada suara yang teramat datar dan kasar. "Semua urusan kita sudah selesai di pengadilan. Jangan membuat keributan lagi di depan rumahku. Aku tidak mau reputasiku sebagai pemilik baru ruko pusat kota tercoreng karena ulah mantan istriku yang tidak stabil."

​Hana menatap pria yang pernah ia layani dengan penuh cinta selama bertahun-tahun itu. Pria yang dulu berjanji di depan makam ayahnya untuk selalu menjaganya. Kini, pria itu berdiri di sana bersama ibu dan selingkuhannya, menatapnya seolah-olah ia adalah pengemis jalanan yang mengganggu pemandangan.

​"Adrian... demi Allah, aku yang menemani kamu dari bawah..." suara Hana melemah, bergetar di sela-sela tangisnya yang mulai pecah lagi. "Aku yang memberikan modal awal... aku yang meracik semua resep restoranmu... bagaimana bisa kamu tega merampas ruko peninggalan ayahku? Itu satu-satunya kenangan yang aku miliki dari almarhum!"

​Adrian mendengus dingin, membuang muka ke arah samping. "Ruko itu sudah digadaikan untuk membayar utang-utang operasional restoran yang hancur karena masakanmu yang tidak becus kemarin. Jadi, anggap saja itu sebagai bentuk pertanggungjawabanmu."

​"Kurang ajar! Masih berani kamu menuntut, Hana?!" sela Ibu Broto dengan galak. Wanita tua itu melangkah turun dari teras, mendekati gerbang dengan membawa sebuah ember plastik kecil berisi air bekas cucian piring yang keruh dan berminyak.

​"Ibu, jangan—" belum sempat Hana menyelesaikan kalimatnya.

​BYYUUURRR!

​Ibu Broto menyiramkan air cucian piring yang kotor dan berbau amis itu tepat ke arah tumpukan pakaian Hana dan buku resep ayahnya yang berserakan di aspal. Cipratan air kotor itu mengenai ujung gamis abu-abu Hana, meninggalkan noda hitam yang berbau busuk.

​"Pergi kamu! Pergi dari sini, perempuan pembawa sial!" raung Ibu Broto sembari melemparkan ember kosong itu ke arah kaki Hana, hingga menimbulkan suara kelentang yang keras di atas aspal. "Bawa semua sampah-sampahmu ini dan jangan pernah tunjukkan mukamu yang melas itu di depan rumah kami lagi!"

​Santi yang berdiri di teras tertawa cekikikan, menutup mulutnya dengan jemari yang dihiasi cincin pertunangan Hana. Adrian hanya diam berdiri di samping Santi, melingkarkan lengannya di pinggang ramping gadis itu, sama sekali tidak berniat menghentikan tindakan keji ibunya.

​Hana memejamkan matanya rapat-rapat. Air matanya mengalir deras bersama dengan air kotor yang menetes dari ujung pakaiannya. Di bawah terik matahari yang membakar, di depan rumah yang dulu ia hias dengan penuh cinta, Hana merasa jiwanya telah mati seutuhnya. Ia merasa kotor, terhina, dan kerdil di hadapan ketiganya.

​Dengan tubuh yang gemetar hebat karena menahan tangis dan amarah yang bergolak di dadanya, Hana perlahan berlutut. Satu per satu, ia mengumpulkan baju-bajunya yang sudah basah oleh air kotor, memasukkannya ke dalam sebuah tas kain lusuh berukuran besar yang ia bawa. Tangannya memegang erat sisa lembaran buku resep ayahnya yang kini telah basah dan ternoda minyak kotor.

​Hana berdiri dengan sisa-sisa kekuatannya. Ia memeluk tas kain lusuh itu erat-erat di dadanya, seolah-olah tas itu adalah satu-satunya pelindung bagi jiwanya yang telah hancur lebur.

​Sebelum ia membalikkan tubuh untuk pergi, Hana menatap tajam ke arah Adrian, Ibu Broto, dan Santi yang masih berdiri di teras dengan tawa kemenangan mereka yang menjijikkan.

​"Kalian boleh merampas rumah ini... kalian boleh merampas ruko ayahku... dan kalian boleh meremukkan tubuhku hari ini," ucap Hana dengan suara yang pelan, namun bergaung penuh dengan dinginnya dendam yang teramat pekat di tengah kebisingan jalanan.

​Sepasang mata Hana yang merah dan sembap kini memancarkan kilatan kegelapan yang belum pernah mereka lihat sebelumnya.

​"Tapi demi Allah yang memegang jiwaku... setiap air mata yang jatuh hari ini, setiap hinaan yang kalian lontarkan, dan setiap tetes air kotor yang kalian siramkan ke atas nama ayahku... akan aku pastikan dibayar kembali dengan kehancuran hidup kalian yang seisi-isinya. Aku tidak akan pernah memaafkan kalian. Tidak di dunia, dan tidak di akhirat."

​Santi sempat terkesiap mendengar nada suara Hana yang teramat dingin, namun ia segera menepis rasa takutnya dan mendengus remeh. "Halah, cuma gertakan perempuan mandul yang tidak punya modal! Pergi sana!"

​Hana membalikkan tubuhnya. Dengan langkah yang goyah namun dipaksakan untuk tetap tegak, ia berjalan meninggalkan halaman rumah mewah itu. Di belakangnya, suara tawa Ibu Broto dan Santi kembali meledak, mengiringi kepergiannya yang tragis di bawah siraman terik matahari siang yang membakar aspal kota Jakarta. Hana pergi tanpa membawa apa-apa lagi, melangkah menuju kegelapan takdir dengan hati yang telah membatu.

1
Heni Setiyaningsih
/Heart//Heart//Heart/
Anonim
HANA BALASKAN DENDAM MU... BUNUH SEMUA NYA... HABISI SEMUANYA TATAKAE TATAKAE
Anonim
lemah amat anjing 🖕
Anonim
BUNUB SEMUA NYA ANJING ... TUMBALKAN SEMUA NYA
THE GIRL COOL😑
good jop 👍👍👍👍 lanjut kan😍😍😍
gendiz: terimakasih 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!