Haga seorang ketua kriminal gang Ono Sitefuyu menghadiri pesta pernikahan yang dalam sekejap berubah menjadi aksi pembantaian massal. Haga menjadi salah satu korbannya, ditemukan mati bersimbah darah di suatu ruangan.
Keajaiban terjadi, ia diberi kesempatan untuk hidup kembali. Tetapi dalam wujud orang lain, Haga mulai menjalani kehidupan sebagai sorang polisi.
Banyak fakta-fakta menarik yang ditemukannya semenjak jadi seorang detektif. Hendrikus ternyata bukan orang suci dan menyimpan banyak sisi kelam. Ia ternyata bergabung dalam kelompok mafia Song of Songs, sehingga membuat Haga ikut terseret dalam aktivitas para mafia itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lombu Willem, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Buntu
Seekor laba-laba bergantung pada jaring halus, berayun menjauh keatas, menggapai langit-langit kamar. Tidak biasanya ia mendapati tamu seramai ini. Sekarang seorang pria yang lain datang mengusik wilayah kekuasaannya, mengganggu ketentramannya.
"Stefanie.. Stefanie.. Wake up," Bertus menepuk-nepuk pipi halus gadis itu dengan lembut. Kepala Stefanie dibaringkannya pada kedua pahanya. Tetapi tak ada respon dari gadis bule itu.
Bagaimana bisa ia terbaring pingsan di tempat seperti ini? Dimana Haga? Bukankah ia juga tadi naik melewati tangga? Harusnya ia sudah berada disini. Bersama dengan Stefanie.
Tidak ingin berlama-lama dalam ketidakpastian,
Bertus menyelipkan satu tangannya dibawah punggung dan satu lagi dibawah paha perempuan itu, mengangkatnya dan membopongnya keluar dari ruangan itu.
Sebelum beranjak pergi, ia diam sesaat. Melihat mumi seorang gadis yang terbaring diatas ranjang, memanjatkan doa dan meminta maaf karena telah mengusiknya. Lalu berbalik badan melangkah keluar dari pintu kamar.
Satu-satunya jalan keluar yang ia ketahui adalah mengambil jalan ke kiri, kembali ke tangga. Namun itu bukan pilihan tepat untuk diambil olehnya saat ini. Bertus belum mengetahui situasi dan perkembangan kondisi di lantai satu, ballroom tempat terselenggaranya pesta.
Sejauh yang ia tahu, suara tembakan masih terdengar ditelingannya. Tak ada pilihan lain, mereka harus menyusuri lantai ini, mencari jalan lain- menyelamatkan diri.
"Sinting! Bagaimana bisa ada mayat disini?" mengingat kembali mayat yang baru saja dilihatnya. Dia masih belum menyadari bila hampir keseluruhan pintu-pintu di setiap lorong yang dilaluinya diisi oleh satu mayat. Para wanita.
Sambil melangkahkan kaki, Bertus yang menggendong Stefanie didadanya kembali tertuju pada luka jerat dilehernya. Saat di kamar ia hanya melihat sekilas bekas merah dileher Stefanie. Namun dengan jarak pandang sedekat ini, dileher itu jelas terlihat beberapa bagian kulit yang terkelupas, mengikuti pola seperti sebuah tali. Tepatnya kalung. "Apa yang terjadi denganmu?" beralih melihat rambut gadis itu yang telah acak-acakan.
Pria itu mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Ia terhenti, kebingungan memilih arah arah yang harus dilalui. Lurus? Kanan? atau Kiri? Bertus menundukkan kepala mencoba berpikir. Akhirnya ia mengambil keputusan untuk lewat di jalur kanan.
Berjalan sekitar lima menit lebih, napas Bertus mulai tersengal-sengal, tangannya terasa kebas dan semakin lama langkah kaki semakin teras berat. Bertus menghentikan langkah mendadak. Menurunkan Stefanie dengan menyandarkan tubuhnya di dinding koridor. Bertus berdiri di depan sebuah pintu, mencoba membuka gagangnya, namun terkunci. Bertus berniat meninggalkannya.
Bertus mengambil langkah mundur, menatap lekat-lekat pintu didepannya lalu melompat menerjang pintu itu dengan bahunya. Gagal.
Masuk pada percobaan kedua, mundur sedikit lebih jauh, lalu berlari sedikit lebih kuat mendorong pintu itu dengan bahunya sekali lagi. Tetapi hasilnya tidak berubah. Untuk ketiga kalinya dengan cara yang sama, tetap jauh dari harapan.
Terpaksa ia meninggalkan tubuh Stefanie untuk sementara disitu. Sejatinya lebih aman bila gadis itu didalam kamar. Walau ia jijik melihat pemandangan mayat yang dimumifikasi, setidaknya orang mati tidak akan menyakiti Stefanie. Tidak ada jaminan Stefanie aman berada diluar. Bertus hanya berharap tidak ada orang lain yang lewat dan mendapati Stefanie yang sedang pingsan.
"Aku akan kembali Stefanie," menyelipkan sehelai rambut gadis itu dibelakang daun telinganya yang lebar. Kemudian berdiri untuk melihat jalan didepan mereka.
Setidaknya langkahnya jadi sedikit lebih cepat tanpa Stefanie. Lelahnya pun perlahan menghilang. Sebab tangannya tak lagi memikul beban berat. Namun apa yang ditemukannya di ujung lorong hanyalah jalan buntu.
Jendela besar berjeruji yang menjorok kedalam bangunan. Pemandangan yang pertama langsung dilihatnya adalah sesuatu yang tidak asing dimata, air mancur. Jendela itu menghubungkan dengan pemandangan taman diluar bangunan itu.
Orang itu juga masih berada disana dan belum beranjak pergi setelah sekian lama. Dari kejauhan pria bertubuh tambun itu terlihat santai sembari menghisap sebatang rokok dan mengepulkan asapnya tinggi-tinggi ke udara. "Bisa-bisanya ia terlihat santai," dan alam bawah sadar Bertus menyadarkannya bila dalang dari semua kekacauan ini adalah Rozi.
Bukan itu yang membuat mulut Bertus menganga tercengang, ketika mengetahui Rozi yang mengacaukan pesta ini. Melainkan Hamid yang entah datang darimana mendekati pancuran itu. Entah apa yang mereka bicarakan, tetapi Bertus memperhatikan gerak gerik keduanya mempertontonkan mereka sedang beradu argumen, memperdebatkan sesuatu.
Sejurus kemudian satu pukulan diarahkan ke perut Hamid. Sesudahnya tamparan dipipi. "Bangsat, hajar dia Hamid," Bertus berteriak mencekram jeruji- jeruji besi. Tetapi percuma saja, jarak yang terlalu jauh tidak akan membuat Hamid mendengar teriakannya.
Bertus bertanya-tanya tentang hubungan keduanya. Apakah mereka bekerjasama merencanakan ini semua. Dia berencana akan mengonfrontasi Hamid secara langsung. Walau demikian ia cukup lega sahabatnya itu baik-baik saja. Kini ia hanya perlu mencari Haga dan Gideon.
Kembali ke lorong tempat ia meninggalkan Stefanie, gadis itu baik-baik saja. Ia belum juga sadarkan diri.
Bertus menunduk, menarik napas panjang dan menghitung "1..2..3" mengangkat Stefanie kembali kedalam dekapannya. Ia merasa bersalah dan berjanji tidak akan lagi meninggalkan Stefanie seorang diri.
Persimpangan itu lagi. Sejauh yang bertus pahami,
bila mereka mengambil jalan kiri, diujung lorong mereka akan mendapati satu tangga yang menghubungkan dengan suatu ruangan dibawahnya. Tetapi bukan itu tempat yang dituju. Setindak kemudian, Bertus terus berjalan lurus.
Tetapi yang didapatinya kemudian hanyalah jalan buntu. Hampir mirip dengan sebelumnya, jeruji besi itu menampilkan pemandangan luar bangunan. Tetapi kali ini yang terlihat jejeran kendaraan dalam jumlah banyak. Tempat parkir. Mau tidak mau ia harus berbalik arah, kembali ke persimpangan.
Kali ini kepalanya berdenyut. Ia merasa kesal dan tak tahu bagaimana cara meluapkannya. Tanganya sudah sedari tadi kebas. Kini kakinya yang bergetar hebat dalam melangkah, tenaganya habis terkuras. Untuk ketiga kalinya mereka berdiri kembali di persimpangan.
Kini satu yang pasti, bila Bertus mengambil arah kekanan, ia akan mendapati satu tangga diujung koridor. Namun bukan itu tujuannya, sehingga ia memilih berbelok ke kiri.
"Anjing!" lagi-lagi ia mendapati kenyataan pahit. Tidak ada pintu keluar. Semua jalan yang dilalui hanyalah jalan buntu. Tetapi kali ini berbeda, tidak ada jendela besar diselimuti besi. Selain itu pemandangan yang membuatnya bergidik ngeri adalah ketika ia harus melewati satu mayat.
Bertu tidak mengenalnya, tetapi ia mengetahui siapa pemilik jasad itu. Si pemusik. Pria yang tanpa sengaja memperlihatkan senjata api Colt 1911 miliknya saat ia sedang memperbaiki celananya yang kedodoran. Satu tertembak dibawah dan satunya lagi tergeletak tak bernyawa dilantai dua.
Tersisa satu pemusik lagi. "Tetapi dimana dia?"
Pintu berderit, terbuka sedikit. Bertus bisa merasakan ada orang lain yang sedang mengawasinya. Ia melangkah maju dengan cepat, lebih dekat dengan dinding. Menempelkan punggungnya pada dinding sambil membopong Stefanie. Berjaga-jaga seandainya ia diserang, bukan dari belakang punggung.
Disisi kiri dan kanannya juga masih ada pintu, seandainya musuh pun muncul dari sana, ia akan mengetahuinya dengan segera. Dipintu ketiga dari ujung tempat ia berada, pada sisi sebelah kanan, satu tangan menongol keluar dari balik pintu. Menyusul kepala dan keseluruhan badan. Dia adalah si pemusik yang ketiga.
Pria itu berjalan sempoyongan sambil memegangi perutnya. Melangkah pelan mendekati Bertus dan Stefani yang telah tersudut oleh tembok dinding. "Tolong, tolong saya," dan darah menetes dari tubuhnya meninggalkan jejak-jejak di ubin lantai.
Pemusik itu tumbang. Ia tertembak dan kemudian mati pada hembusan napas terakhir.
Dari kejauhan ia melihat sorot lampu. Bergerak kesana-kemari, dari atas ke bawah dan dari kiri ke kanan, bergerak dengan tidak beraturan. Jumlahnya ada empat sorot lampu. Bersamaan dengan datangnya pencahayaan itu, terdengar juga derap langkah kaki yang semakin dekat semakin terdengar jelas.
"Jangan bergerak!" moncong senjata menghadap lurus kedepan. Enam polisi berseragam lengkap dengan rompi anti peluru berdiri dihadapan Bertus.
Apa mereka kawan? Dimana Haga? dan kemana juga Gideon? Bertus mendekap Stefanie semakin erat. Berandai-andai polisi didepannya adalah orang-orang jahat, ia akan melindungi Stefanie sampai titik darah penghabisan dan tidak akan pernah melepaskannya.
Tetap Semangat 💪
Salam dari ( Ayah dari calon anak sambungku )
aku udh mampir
mampir jg kekisah cinta cucu manja oma