NovelToon NovelToon
Kaisar, Kesempatan Kedua Ini, Aku Mencintaimu

Kaisar, Kesempatan Kedua Ini, Aku Mencintaimu

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Tiri / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:143.3k
Nilai: 5
Nama Author: Yulianti Azis

Mo Yuuran, seorang permaisuri yang dikenal bengis dan kejam, pernah melakukan kesalahan terbesar dalam hidupnya, menjatuhkan Kaisar Zi Xuan dari tahtanya demi cinta butanya kepada Bo Wen. Ia rela mengorbankan segalanya, bahkan mengkhianati pria yang mencintainya dengan sepenuh jiwa.

Tapi kenyataan yang terungkap di akhir hidupnya jauh lebih kejam dari apa pun yang pernah ia lakukan.

Bo Wen, pria yang ia cintai mati-matian, ternyata bersekongkol dengan keluarganya sendiri, kakak dan orang tuanya untuk membunuhnya. Selama ini, Mo Yuuran hanyalah alat. Sebuah pion yang dimanfaatkan untuk menyingkirkan Kaisar Zi Xuan, satu-satunya pria yang benar-benar mencintainya, bahkan terobsesi.

Saat napas terakhirnya terenggut dalam pengkhianatan, penyesalan memenuhi hatinya. Tapi, takdir memberinya kesempatan kedua.

Mo Yuuran terbangun kembali di masa lalu sebelum semuanya hancur. Dengan ingatan akan kematian tragisnya, ia bersumpah untuk mengubah segalanya. Termasuk menjadi ibu tiri yang baik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yulianti Azis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kembali ke Jalanmu

Brak!

Suara hantaman meja kembali menggema di paviliun Ibu Suri Daiyu. Wajahnya memerah karena amarah yang terus dipendam sejak pagi.

“Beraninya dia,” gumamnya tajam. “Aku memanggilnya sejak pagi, tapi sampai sekarang dia belum juga datang.”

Rong yang duduk di samping langsung mencondongkan tubuhnya. “Permaisuri benar-benar meremehkan Anda, Yang Mulia,” ujarnya pelan namun menusuk.

Dao Ling ikut menambahkan dengan nada halus. “Sepertinya beliau sudah merasa terlalu berkuasa hingga melupakan tata krama.”

Ucapan mereka seperti menyiram minyak ke dalam api. Ibu Suri Daiyu menggenggam erat tangannya di balik lengan hanfu.

“Cukup!” bentaknya. “Prajurit!”

Seorang prajurit segera maju dan berlutut. “Perintah, Yang Mulia.”

“Seret Permaisuri Mo Yuuran ke sini,” perintahnya dingin. “Jika perlu, paksa dia datang.”

“Baik, Yang Mulia Ibu Suri,” jawab prajurit itu tegas.

Baru saja ia hendak berbalik, pintu paviliun tiba-tiba terbuka. Cahaya dari luar masuk bersama sosok wanita yang berdiri tegak di ambang pintu.

“Siapa yang ingin Anda seret, Ibu Suri?” suara datar itu terdengar jelas.

Semua kepala langsung menoleh. Mo Yuuran berdiri dengan tenang dengan mengangkat dagunya, hanfu merahnya berkibar ringan, sementara dua tusuk konde berbentuk bulan sabit menyilang indah di rambutnya.

Di belakangnya, Xia Lu menunduk dalam, tak berani mengangkat kepala. Sementara Mo Yuuran melangkah masuk tanpa ragu, seolah tempat itu miliknya.

Wajah Ibu Suri Daiyu langsung mengeras. “Akhirnya kau datang juga,” ucapnya dingin. “Beraninya kau mengabaikan panggilanku, Permaisuri Mo Yuuran.”

Mo Yuuran berhenti beberapa langkah dari depan, tatapannya tenang namun tajam. “Siapa yang mengabaikan?” balasnya santai. “Aku hanya datang saat sudah selesai dengan urusanku.”

Ia melirik sekilas ke arah Dao Ling dan Rong. “Lagipula, aku sibuk melayani suamiku agar tidak ada jalang yang mencoba mendekatinya.”

Wajah Dao Ling dan Rong langsung memerah, antara malu dan marah. “Kau—” Rong hampir berdiri.

“Cukup!” bentak Ibu Suri Daiyu, meski amarahnya sendiri semakin memuncak. “Beraninya kau berbicara seperti itu di hadapanku—”

“Tidak perlu bertele-tele,” potong Mo Yuuran dingin. “Katakan saja tujuanmu memanggilku.”

Ruangan itu seketika hening. Tatapan semua orang tertuju pada dua wanita yang kini saling berhadapan tanpa mau mengalah.

Tangan Ibu Suri Daiyu mengepal kuat di balik lengan hanfunya. “Baik,” katanya perlahan, suaranya penuh tekanan. “Kalau begitu aku akan langsung ke intinya.”

Ia menatap tajam ke arah Mo Yuuran. “Mengapa kau membunuh Kepala Pelayan Si hanya karena masalah sepele? Kau tahu dia itu adalah orangku!”

Wajah Mo Yuuran langsung berubah, dingin dan tak terbaca. Tatapannya menajam, seolah kata “sepele” barusan benar-benar menyentuh batas kesabarannya.

“Sepele?” ulang Mo Yuuran perlahan. “Menghina, mengutuk, bahkan memperlakukan tiga pangeran kekaisaran dengan tidak layak itu Anda sebut sepele?”

Ruangan itu semakin sunyu. Bahkan para pelayan tak berani mengangkat kepala.

Mo Yuuran melangkah satu langkah maju, suaranya tetap tenang namun setiap katanya terasa berat. “Dia mengambil seluruh jatah bulanan mereka. Membiarkan mereka kelaparan, hidup dalam kekurangan dan itu terjadi bertahun-tahun.”

Xia Lu di belakangnya menunduk semakin dalam, tangannya gemetar. Sementara Dao Ling dan Rong saling bertukar pandang.

“Tidak hanya itu,” lanjut Mo Yuuran, matanya kini menatap lurus ke arah Ibu Suri. “Dia juga menyiksa mereka. Secara terang-terangan, tanpa takut siapa pun.”

Ia berhenti sejenak, lalu tersenyum tipis tanpa kehangatan. “Dan ketika aku menegurnya dia bahkan berani menghinaku.”

Alis Ibu Suri Daiyu sedikit terangkat, namun bukan karena terkejut. Melainkan karena tidak peduli.

“Memangnya apa yang salah dengan itu?” balasnya santai.

Ucapan itu membuat beberapa orang di ruangan menahan napas.

Ibu Suri Daiyu menyandarkan tubuhnya dengan angkuh. “Lagipula, ketiga pangeran itu memang tidak penting.”

Dao Ling menunduk, menyembunyikan senyum tipisnya. Rong juga tampak puas mendengar itu.

“Dan Kepala Pelayan Si sudah melakukan semua itu selama bertahun-tahun,” lanjut Ibu Suri tanpa beban. “Mengapa baru sekarang kau mempermasalahkannya, Permaisuri?”

Hening kembali menyelimuti ruangan. Namun kali ini, hawa di dalamnya terasa jauh lebih dingin.

Mo Yuuran tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Ibu Suri Daiyu dengan tatapan datar yang perlahan berubah semakin tajam.

Aura di sekelilingnya berubah, membuat bahkan para prajurit pun tanpa sadar menegang.

“Jadi, dalam pandangan Anda penderitaan tiga pangeran kekaisaran tidak berarti apa-apa?”

“Tentu saja!” balas Ibu Suri Daiyu tanpa ragu. “Kau harus tahu, Kepala Pelayan Si jauh lebih berharga dibandingkan dengan ketiga anak haram itu.”

Ucapan itu jatuh seperti palu. Wajah Mo Yuuran semakin dingin, matanya perlahan kehilangan sisa kehangatan.

Ia belum sempat berbicara, Dao Ling sudah lebih dulu menyela. “Benar sekali, Yang Mulia Ibu Suri,” ujarnya dengan nada merendahkan. “Tiga pangeran itu sejak awal memang tidak memiliki nilai apa pun.”

Rong tersenyum tipis, ikut menambahkan. “Hanya beban istana saja. Wajar jika Kepala Pelayan Si memperlakukan mereka seperti itu. Bahkan kami berharap ketiga anak haram itu mati mengenaskan lalu tubuhnya dicabik-cabik oleh binatang buas, pasti Kaisar pun tak akan peduli pada mereka.”

Darah Mo Yuuran langsung mendidih. Udara di sekelilingnya seakan menegang dalam sekejap.

Ia melangkah maju perlahan, langkahnya tenang namun penuh tekanan. “Ulangi,” katanya pelan.

Ketiga wanita itu sedikit terkejut. “Apa maksudmu—” Dao Ling mulai membuka suara.

“Aku bilang, ulangi perkataan kalian,” potong Mo Yuuran, kali ini lebih dingin.

Rong mendengus pelan, tampak tidak gentar. “Kami hanya mengatakan kebenaran—”

Jleb!

“Akkhhhh!”

Jeritan tajam langsung memecah ruangan. Dao Ling dan Rong berteriak bersamaan, wajah mereka pucat seketika.

Semua orang membeku. Sebuah tusuk konde berbentuk bulan sabit kini tertancap di tangan mereka, darah mulai merembes perlahan.

Mo Yuuran berdiri tegak, tangannya masih menekan tusuk konde itu. Tatapannya dingin menusuk.

“Berani kalian menghina ketiga putraku,” ucapnya pelan, namun setiap kata terasa mematikan. “Aku bisa menghabisi kalian seperti aku membunuh Kepala Pelayan Si.”

Dao Ling menggigit bibir, menahan sakit, sementara Rong gemetar tak terkendali. Tak ada lagi kesombongan di wajah mereka.

“Ini hanya peringatan untuk tidak menghina putra-putraku dan juga jangan mendekati suamiku lagi,” lanjut Mo Yuuran.

Ia mengalihkan pandangannya ke arah Ibu Suri Daiyu. Tatapannya tajam, tanpa rasa hormat sedikit pun.

Ruangan kembali hening. Untuk pertama kalinya, Ibu Suri Daiyu terlihat sedikit gemetar.

Mo Yuuran mencabut kedua tusuk kondenya dari tangan Dao Ling dan Rong dengan gerakan tanpa ragu. Jeritan keduanya menggema, tubuh mereka gemetar menahan sakit, namun Mo Yuuran tetap tenang seolah tidak terjadi apa-apa.

Ia mengibaskan ujung kondenya, lalu berbalik hendak pergi.

“Berhenti!” teriak Ibu Suri Daiyu sambil berdiri, wajahnya penuh amarah. “Kau tidak perlu sok suci, Permaisuri!”

Mo Yuuran berhenti di ambang pintu. Bahunya tegak, namun ia tidak langsung menoleh.

“Kita ini sama saja,” lanjut Ibu Suri dengan suara dingin menusuk. “Sama-sama menginginkan agar ketiga anak itu mati. Bukankah itu tujuanmu?”

Keheningan menyelimuti ruangan.

“Jadi berhenti berpura-pura peduli,” tambahnya lagi, “dan tetaplah berada di jalanmu.”

1
🌸🍾⃝ sᴀͩᴋᷞᴜͧʀᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ⍣⃝🦉
akhirnya thor, update beberapa bab, aq kasih ☕ buat author, supaya semangat terus🫶
Tiara Bella
makasih Thor 3 babnya sehat selalu....
ismi
Aku...apa kak thor digantung sampai 2 hari lagi kita ketemu🤭🤭👃👃
💟노르 아스마💟
aahhhh...Mo Yuran🥹🥹🥹
ismi
semngat kak lekas sembuh 💪💪💪💪
Atik Kiswati
next....
Eka Haslinda
semoga Permaisuri Mo segera hamil... aaammmiiinnn
ismi
lanjut kak masak cuma satu bab,,nunggu up nya 2 hari 2alam
Sekar
lanjut thor💪💪😍😍😋
Atik Kiswati
mantap......👍👍👍
💟노르 아스마💟
yakkkkk...gantung!!!!🤣🤣🤣🤣
DC
Kok di tinggalin, yg satu ga di apa2in
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
maaf Thor kok skrng upnya gak setiap hari ya ...trus kl up jg gak bnyk, kan bikin saya geregetan nunggunya 🙏😅😉
✍️⃞⃟𝑹𝑨 Yulianti Azis: Kurang sehat, kak. Kesehatan lagi terganggu. Mohon doanya ya 🫶🙏
total 1 replies
Choirul Ipanani
up nya jangan banget thur
Eka Haslinda
takut aku thooorrr.. permaisuri versi new seram sekali 👍👍👍
Maydian li Maydian
Lanjut thorrr,lebih banyakkkk🥺
Allfa Rizky
mantaaaaap,, keren abis bantai tanpa banyak bacot
ryuka
yeeeyyy akhir nya up lagi... 😍😍😍😍😍
ryuka
baguussz yuuraan.. 🔥🔥🔥👍👍👍👍
Evi 060989
up
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!