Kirana Aruni menjadi korban atas rencana busuk ibu tirinya setelah terjebak dalam
sebuah malam kelam bersama Edgar Ganendra, pewaris tunggal Ganendra Group,
yang kehilangan kendali akibat dibius musuhnya.
Dianggap membawa aib, Aruni diusir oleh ayahnya atas hasutan ibu tirinya.
Tujuh tahun kemudian, Aruni membesarkan
putra kembarnya seorang diri. Mengetahui perjuangan sang ibu, kedua bocah jenius
itu diam-diam meretas data untuk mencari ayah kandung mereka. Hasilnya mengarah pada satu nama besar, yakni Edgar Ganendra, Presiden Direktur Ganendra Group.
Di sisi lain, Edgar tak pernah berhenti mencari wanita dari malam itu. Ia ingin menebus kesalahannya sekaligus mengungkap kebenaran yang selama ini tersembunyi, bahwa ia bukanlah pria impoten.
Saat si kembar mulai menyusun rencana untuk mempertemukan kedua orang tua mereka, masa lalu yang penuh fitnah dan luka
kembali terbuka.
Mampukah mereka menyatukan kembali keluarga yang telah lama terpisah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 17
Dengan tubuh yang masih gemetar, Rayyan melangkah maju perlahan-lahan. Matanya menatap tajam ke arah bawah, memeriksa bagian kaki pria tua berambut putih yang duduk di kursi roda tersebut.
‘Kedua kakinya menyentuh pijakan dan tidak melayang... Itu artinya kakek-kakek ini adalah manusia!’ batin Rayyan menghembuskan napasnya lega.
Mencoba memberanikan diri, Rayyan menghentikan langkahnya beberapa meter di depan kursi roda tersebut. Lidahnya serasa kelu, namun ia tetap memaksakan diri untuk berbicara.
"Ma... maaf, Kek. Bisakah bola itu saya ambil?" tanya Rayyan gugup.
Tuan Fernando yang memegang bola tersebut mendongak. Begitu matanya menatap raut wajah bocah di hadapannya, dadanya berdesir hebat. Tatapan matanya terpaku mengamati garis wajah, alis, hingga bentuk hidungnya Rayyan.
‘Ya Tuhan... Kenapa bocah laki-laki ini mirip sekali dengan Edgar sewaktu kecil?’ batin Tuan Fernando terperanjat, matanya berbinar takjub.
Menyembunyikan keterkejutannya, Tuan Fernando menyunggingkan senyum hangat. "Kemarilah, Nak, jangan takut... Kalau boleh Kakek tahu, siapa namamu?"
Melihat garis wajah ramah serta nada bicara sang kakek yang begitu lembut, rasa takut Rayyan seketika menguap. Ia melangkah mendekat dan menyambut uluran tangan pria tua itu.
"Perkenalkan, Kek, nama saya Rayyan... Maaf ya, Kek, gara-gara bola ini Kakek jadi terganggu," ucap Rayyan polos, menunduk merasa bersalah.
Tuan Fernando lagi-lagi terkekeh pelan dan tersenyum lebar, merasa sangat nyaman dengan kesopanan bocah di hadapannya. "Tidak apa-apa, Nak, Kakek sama sekali tidak merasa terganggu. Ini, ambilah bola mu!" ujarnya lembut seraya menyerahkan bola sepak itu ke dalam pelukan Rayyan.
Namun, sebelum Rayyan sempat berbalik pergi, langkah tergesa-gesa seorang pria berjas hitam memecah keheningan pelataran vila. Pak Dani, pengawal pribadi Tuan Fernando, berlari mendekat dengan raut wajah cemas.
"Tuan Fernando! Anda tidak apa-apa? Maafkan saya Tuan, tadi saya baru saja menerima telepon dari Tuan Edgar!" ujar Pak Dani membungkuk hormat.
Deg!
Mendengar nama itu terucap dari bibir sang pengawal, jantungnya Rayyan serasa berhenti berdetak seketika. Bola di pelukannya diremas erat-erat, matanya membelalak menatap Pak Dani dan sang kakek secara bergantian.
‘T... Tuan Edgar?! Apakah mungkin... Tuan Edgar Ganendra? Pria yang ada di komputernya Paman Rama... Ayah kandungku?!’ jerit Rayyan dalam hati, dadanya bergemuruh hebat ditelan rasa terkejut yang luar biasa.
Zayyan yang diliputi rasa cemas akhirnya menyusul masuk ke dalam pekarangan vila. Sementara itu, Fikri memilih bertahan di luar pintu gerbang, gemetar ketakutan setengah mati.
"Kak... Kak Rayyan! Kau di mana?" teriak Zayyan setengah panik.
Rayyan yang hafal betul suara saudaranya langsung melambaikan tangan dari dekat air mancur. "Aku di sini, Zayyan!"
Zayyan melangkah cepat menghampiri sang kakak. Begitu Tuan Fernando melihat dua bocah laki-laki yang berdiri bersisian dengan wajah identik tersebut, matanya terbelalak lebar.
"Ehh... kalian berdua kembar?" tanya Tuan Fernando terperanjat.
"Iya, Kek. Ini adikku, Zayyan," jawab Rayyan singkat. Perasaan gelisah mendadak menguasai dadanya usai mendengar nama Edgar tersebut. "Baiklah Kek, kalau begitu kami permisi dulu!"
Rayyan menarik lengan Zayyan dan berjalan tergesa-gesa meninggalkan pekarangan vila.
"Kak, siapa kakek tua barusan?" bisik Zayyan heran sepanjang langkah mereka.
"Sudah, nanti aku jelaskan di rumah!" potong Rayyan penuh rahasia.
*
*
Setelah berhasil menumbangkan tim Mono di lapangan, si kembar bergegas pulang. Di rumah, Aruni, Larasati, dan Bik Sumi tengah sibuk meracik dan mengemas puluhan kotak kue bolen pisang pesanan Bu Camat.
Aruni menoleh saat mendengar pintu depan terbuka. "Rayyan, Zayyan! Langsung mandi kalian berdua, lihat baju kalian kotor sekali!" perintahnya tegas.
"Siap, Bunda!" sahut si kembar serempak lalu melesat masuk ke kamar mandi.
Sementara itu di vila mewah, Tuan Fernando duduk menyendiri di tepi kolam. Pikirannya melayang, terus terbayang-bayang pada garis wajah tegas milik si kembar.
‘Sebaiknya aku ceritakan kejadian ini pada Edgar begitu dia sampai di sini. Tapi... apakah mungkin kedua bocah tadi adalah cucuku? Aish... aku harus segera menyelidikinya!’ gumam Tuan Fernando penasaran setengah mati.
Di dalam kamar tidur mereka yang tenang, Rayyan dan Zayyan duduk bersila di atas kasur usai membersihkan diri. Rayyan menceritakan seluruh kejadian di vila tadi, termasuk saat pengawal pribadi melafalkan nama 'Edgar'.
Zayyan terbelalak kaget. "Tapi Kak, nama Edgar itu kan banyak! Siapa tahu yang dimaksud Edgar oleh pengawal tadi bukan Edgar Ayah kita?"
Rayyan menggeleng pelan, menatap lurus ke arah laptop pemberian Paman Rama yang tergeletak di atas meja belajar.
"Entahlah Zayyan, tapi aku masih penasaran. Malam ini aku akan mencoba meretas akun perusahaan Ganendra Group!" tegas Rayyan.
"Kakak yakin bisa?" tanya Zayyan ragu.
Rayyan tersenyum tipis lalu menunjuk ke arah kepalanya. "Aku yakin bisa. Setiap kali melihat Paman Rama bekerja di ruangannya, aku selalu memperhatikan cara Paman meretas akun para pelaku... Dan semua cara itu masih tersimpan rapat di sini!"
Suasana rumah Bik Sumi kian sunyi saat malam semakin larut. Jarum jam hampir menyentuh angka sebelas. Aruni melangkah pelan menuju kamar kedua putranya untuk memastikan mereka sudah tertidur lelap.
Di dalam kamar yang temaram, ia melihat Rayyan dan Zayyan sudah berbaring diam di balik selimut tebal. Aruni tersenyum tipis, merapikan letak selimut kedua anaknya, lalu mematikan lampu utama.
Sambil berjalan keluar, Aruni berkali-kali menguap lebar. Bahunya terasa pegal luar biasa setelah seharian bertarung di dapur menyelesaikan puluhan kotak pesanan kue bolen pisang milik Bu Camat. Ditambah lagi, besok pagi ia harus mengurus usaha barunya yakni jasa laundry di dekat area resort yang sejauh ini belum begitu ramai peminat.
"Harus tetap semangat... Bagaimanapun usahanya, esok pasti akan mulai berkembang," gumam Aruni memberi semangat pada dirinya sendiri sebelum akhirnya merebahkan diri di kamarnya dan tertidur lelap.
Begitu memastikan langkah kaki sang bunda menghilang dan situasi di seluruh penjuru rumah benar-benar hening, dua pasang mata di bawah selimut tebal itu mendadak terbuka lebar.
Dengan gerakan sangat pelan agar tidak menimbulkan suara sekecil apa pun, Rayyan dan Zayyan menarik selimut hingga menutupi seluruh kepala mereka, menciptakan sebuah ruang sembunyi yang gelap.
Klik!
Layar laptop pemberian Paman Rama menyala terang, memancarkan cahaya kebiruan yang menerangi wajah kedua bocah jenius tersebut. Papan ketik berkerlip halus saat jari-jemari kecil Rayyan mulai menari lincah di atas tombol-tombolnya.
"Kak... pelan-pelan ketiknya, nanti Bunda dengar!" bisik Zayyan cemas seraya memasang telinga ke arah luar selimut.
"Tenang saja, Zayyan. Bunda sudah tertidur pulas karena kelelahan," bisik Rayyan fokus penuh ke layar monitor.
Sesuai tekadnya, Rayyan mulai menjalankan aksinya. Berbekal ingatan tajam saat memperhatikan Paman Rama bekerja, bocah itu membuka halaman perintah khusus dan mulai memasukkan serangkaian perintah script sederhana untuk menerobos protokol keamanan situs resmi serta basis data publik Ganendra Group.
"Wah... Kakak beneran bisa?" takjub Zayyan saat melihat barisan kode-kode rumit berwarna hijau mulai berjalan cepat di layar.
"Sstt! Jangan berisik," pangkas Rayyan dengan mata berbinar penuh konsentrasi. "Kita harus cari dokumen pribadi atau artikel internal perusahaan ini... Kita harus pastikan apakah Tuan Edgar Ganendra itu benar-benar Ayah kita atau bukan!"
Cahaya dari layar laptop terus berpendar hangat di balik selimut tebal itu, mengiringi langkah berani si kembar menembus rahasia masa lalu yang selama ini tersimpan rapat.
Bersambung...
sebenarnya aruni jugaa udah tumbuh cinta tp dia masih takut n trauma..
semangat Edgar kamu harus extra meluluhkan hatinya n jangan lupa waspada n hati-hati sm paman mu..