Gagal total merantau di kota, Arga terpaksa pulang kampung dengan dompet kosong dan niat setengah hati untuk bertani di lahan tua peninggalan kakeknya. Namun, nasib sialnya mendadak berbalik 180 derajat ketika sebuah layar biru hologram muncul di pagi buta, mengaktifkan "Sistem Check-in Harian" yang terus memberinya hadiah gila-gilaan setiap hari, mulai dari saldo puluhan juta rupiah, benih super ajaib, hingga barang-barang mustahil lainnya. Kini, dengan cangkul di tangan dan sistem overpower di sisinya, Arga bersiap menampar mulut julid para tetangga, menendang tengkulak serakah, dan membangun kerajaan bisnis pertaniannya sendiri untuk menjadi petani paling sultan yang pernah ada.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35
Krek krek krek.
Suara gergaji kayu bergesekan dengan balok penyangga terdengar memecah keheningan malam di ujung desa.
Kardi sedang menggergaji tiang utama jembatan kayu yang menjadi satu-satunya akses keluar masuk kendaraan roda empat.
Di atas jembatan itu Pak Bowo berdiri sambil menyorotkan senter kecil ke arah Kardi yang mandi keringat di bawah sana.
"Cepat sedikit Kardi, jangan sampai ada warga yang lewat dan memergoki kita di sini." Pak Bowo berbisik dengan nada mendesak.
"Ini kayunya keras sekali Bos Bowo, lagian gergaji ini sudah karatan susah buat memotong." Kardi mengeluh sambil terus menggerakkan tangannya yang mulai pegal.
"Potong saja sampai setengahnya, biarkan beban truk raksasa itu yang menghancurkan sisa kayunya besok pagi." Pak Bowo tersenyum sangat licik membayangkan kehancuran lawannya.
"Kalau jembatan ini putus, si Arga tidak akan bisa menjual sayurnya keluar desa dan sayurnya akan membusuk di rumah." Pak Bowo bergumam jahat.
Pak Bowo tertawa tertahan sambil membayangkan wajah frustrasi Arga besok pagi yang akan menangis darah.
Kukuruyuk.
Ayam jantan kembali berkokok menyambut datangnya sinar matahari pagi yang mulai menghangatkan desa.
Arga membuka matanya dan meregangkan otot-ototnya yang terasa sangat segar setelah tidur nyenyak.
Ting.
Suara sistem langsung menyapa gendang telinganya tepat saat dia duduk di tepi kasur kapuknya.
[Waktu Check-in Harian di pagi hari telah tiba.]
[Apakah Anda ingin melakukan Check-in Hari Kesembilan? Ya / Tidak]
"Ya sistem, berikan aku kejutan yang bagus hari ini untuk menemani cuaca yang cerah ini." Arga bergumam pelan sambil menekan layar virtual.
[Check-in Hari Kesembilan Berhasil!]
[Selamat! Anda mendapatkan Hadiah Harian: 1000 Koin Sistem dan 1 Kapsul Jembatan Baja Lipat Tingkat A.]
"Kapsul jembatan baja lipat, untuk apa aku butuh jembatan baja di tengah kebun sayuranku." Arga mengerutkan keningnya keheranan membaca nama hadiah tersebut.
[Kapsul Jembatan Baja Lipat Tingkat A: Dapat diaktifkan untuk membentuk jembatan baja permanen sepanjang dua puluh meter.]
[Baja ini mampu menahan beban hingga lima puluh ton dan anti karat seumur hidup dengan desain otomatis menyesuaikan medan.]
"Barang yang sangat aneh tapi ya sudahlah simpan saja dulu di inventaris, siapa tahu nanti berguna buat pajangan." Arga memasukkan kapsul kecil seukuran telapak tangan itu ke saku celana jeansnya.
Arga sedang menikmati sarapan nasi uduknya di dapur saat ponsel bututnya tiba-tiba berdering sangat keras.
Kring kring kring.
Layar retak itu menampilkan nama Nona Siska sebagai penelepon yang memanggilnya pagi-pagi begini.
"Halo selamat pagi Nona Siska, apakah truknya sudah dalam perjalanan masuk ke desa." Arga menjawab telepon itu dengan nada santai sambil mengunyah tempe.
"Mas Arga tolong gawat sekali, jembatan kayu di pintu masuk desa Anda tiba-tiba runtuh saat kami lewat." Suara Siska terdengar sangat panik dan gemetar dari seberang telepon.
"Truk pendingin saya terjebak di tengah jembatan yang ambles dan ban belakangnya sudah menggantung di atas sungai." Siska menjelaskan dengan napas memburu.
Mendengar laporan itu Arga langsung melompat dari kursi kayunya hingga sisa nasi uduknya hampir tumpah ke lantai.
"Apakah ada yang terluka Nona, sopir dan kenek Anda selamat semua kan." Arga bertanya dengan nada cemas mengkhawatirkan keselamatan mereka.
"Semua selamat Mas, kami berhasil keluar dari truk sebelum kayunya benar-benar patah dan ambrol semua." Siska menghela napas panjang sedikit lega.
"Tapi truknya tidak bisa maju atau mundur Mas, dan kalau kayunya patah lagi truk itu akan jatuh ke dasar sungai."
"Tenang Nona Siska tunggu saya di sana sekarang juga, saya akan segera membereskan masalah ini." Arga memberikan kepastian dengan suara tegas.
Tut.
Arga mematikan telepon dan wajahnya langsung berubah menjadi sangat dingin dan dipenuhi amarah yang meluap-luap.
"Jembatan kayu itu usianya memang sudah tua, tapi tidak mungkin tiba-tiba patah kalau tidak ada yang merusaknya dengan sengaja." Arga membatin dengan kepalan tangan mengeras.
Otak cerdas Arga langsung menyimpulkan satu nama dalang di balik kejadian kotor ini yaitu Pak Bowo si tengkulak licik.
Arga segera menyambar kunci motornya dan berlari ke luar rumah tanpa mengunci pintu lagi.
Brum brum brum.
Suara mesin KLX itu mengaum marah membelah jalanan desa menuju perbatasan dengan kecepatan penuh.
Sesampainya di jembatan desa suasana sudah sangat ramai oleh kerumunan puluhan warga yang panik dan berteriak-teriak.
Truk boks pendingin milik Siska terlihat miring dengan ban belakang yang terperosok ke dalam lubang patahan kayu penyangga yang menganga.
Di pinggir jembatan Pak Bowo dan Kardi sedang berdiri dengan raut wajah yang pura-pura panik namun jelas menyembunyikan senyum licik kemenangan.
"Waduh kasihan sekali,mobil kota ini bisa nyungsep begini, makanya jangan sembarangan masuk ke desa orang kalau tidak tahu jalan." Pak Bowo berbicara keras memprovokasi suasana di depan warga.
Arga memarkirkan motornya secara asal dan langsung berlari menghampiri Siska yang sedang berdiri pucat pasi di pinggir jalan tanah.
"Nona Siska tidak apa-apa kan, syukurlah Anda tidak sedang berada di dalam truk itu saat kejadian." Arga memastikan kondisi rekan bisnisnya itu aman tanpa luka gores sedikit pun.
"Saya tidak apa-apa Mas Arga, tapi bagaimana dengan bisnis kita kalau truknya tersangkut dan tidak bisa masuk begini." Siska memijat pelipisnya yang pusing memikirkan kerugian waktu.
Pak Bowo berjalan santai mendekati Arga dengan gaya sok pahlawan yang sangat menjijikkan untuk dilihat.
"Wah Arga sepertinya panen sayurmu hari ini gagal diangkut ya, jalan satu-satunya putus dan truk ini butuh alat berat derek dari kota buat ditarik." Pak Bowo mengejek dengan senyum miring yang menyebalkan.
"Diam kau lintah darat tua, aku tahu ini semua pasti ulah kotor tangan preman suruhanmu itu semalaman." Arga menatap tajam ke arah Kardi yang langsung memalingkan wajah karena terkejut dan gugup.
"Sembarangan kamu menuduh orang sembarangan, ini murni musibah karena jembatannya sudah lapuk dimakan usia." Pak Bowo membalas dengan suara nyaring mencoba mencari pembelaan dan dukungan dari warga sekitar.
Arga tidak mempedulikan ocehan sampah Pak Bowo dan langsung merogoh saku celananya dengan cepat.
Dia menggenggam Kapsul Jembatan Baja Lipat yang diberikan oleh kebaikan sistem pagi ini tepat pada waktunya.
"Sistem, aku ingin mengaktifkan kapsul ini tepat di bawah truk dan menggantikan jembatan kayu lapuk ini sekarang juga tanpa sisa." Arga berbisik pelan sangat pelan hingga tidak ada satu manusia pun yang mendengarnya.
[Konfirmasi diterima, aktivasi Kapsul Jembatan Baja Lipat dimulai secara instan.]
Wush.
Arga melemparkan kapsul kecil itu ke arah sungai tepat di bawah badan jembatan yang runtuh tersebut.
Tidak ada satu pun warga yang menyadari lemparan kecil itu karena semua mata tertuju pada badan truk yang miring dan perdebatan mereka berdua.
Klang klang klang.
Tiba-tiba terdengar suara dentingan logam yang sangat nyaring dan memekakkan telinga dari arah dasar sungai.
Bumi di sekitar tebing sungai itu bergetar hebat membuat warga yang berkerumun langsung menjerit panik dan berlarian mundur saling tabrak.
Sring.
Sebuah cahaya putih perak yang sangat menyilaukan meledak dari bawah truk menyelimuti seluruh area jembatan kayu reyot tersebut.
Cahaya itu sangat terang dan magis hingga semua orang terpaksa menutup mata mereka rapat-rapat sambil menutupi wajah dengan tangan.
Kreek brak klang.
Suara patahan sisa kayu digantikan oleh rentetan suara lempengan baja tebal yang saling mengunci satu sama lain dengan kecepatan kilat.
Hanya dalam waktu kurang dari sepuluh detik getaran bumi itu berhenti dan cahaya putih perak itu perlahan memudar menghilang ke udara.
Warga desa mulai membuka mata mereka secara perlahan dengan hati-hati dan seketika mulut mereka menganga lebar seperti orang bodoh.
Siska sampai menjatuhkan tas kulit mahalnya ke tanah saking terkejutnya melihat pemandangan tidak masuk akal di depannya saat ini.
Jembatan kayu reyot yang tadi hampir runtuh menelan truk itu kini telah lenyap menghilang tanpa sisa serbuk kayu sedikit pun.
Sebagai gantinya sebuah jembatan baja kokoh berwarna perak mengkilap berdiri sangat megah membentang kokoh di atas sungai desa.
Truk pendingin milik Siska yang tadinya tersangkut parah kini berdiri tegak dan sangat aman di atas aspal baja yang sangat rata dan kuat.
"M-mukjizat, ini mukjizat dari Tuhan yang turun ke desa kita, jembatannya tiba-tiba berubah jadi besi baja mahal." Teriak salah satu warga yang langsung sujud syukur di pinggir jalan sambil menangis terharu.
Pak Bowo dan Kardi membeku kaku di tempat dengan mata yang melotot hampir keluar dari kelopaknya melihat kemustahilan ini.
Lutut Pak Bowo bergetar sangat hebat hingga akhirnya dia jatuh terduduk lemas di atas tanah berdebu tanpa tulang penyangga.
"B-bagaimana mungkin, sihir gila macam apa lagi yang dipakai anak gembel ini sekarang." Pak Bowo bergumam dengan bibir yang pucat pasi melihat rencana licik terhebatnya kembali hancur berkeping-keping.
Arga melangkah maju ke tengah bentangan jembatan baja itu dan menepuk bodi truk Siska dengan santai seolah tidak terjadi hal yang aneh.
"Nah Nona Siska jembatannya sudah saya perbaiki sedikit barusan, sekarang truknya sudah bisa lewat dengan sangat lancar dan aman." Arga tersenyum manis menatap Siska yang masih syok mematung memegangi dadanya.
Siska menelan ludahnya dengan susah payah dan menatap Arga seperti sedang melihat seorang penyihir agung dari buku dunia dongeng kuno.
"M-mas Arga, A-anda benar-benar pria yang penuh dengan misteri sihir dan kejutan yang tidak bisa dijelaskan dengan logika manusia." Siska akhirnya bisa bersuara meski masih terdengar gagap dan bergetar hebat.
Arga hanya tertawa pelan lalu berbalik arah dan menatap tajam ke arah Pak Bowo yang masih terduduk lemas di tanah kotor.
"Dengar baik-baik Pak Bowo, kalau kamu mau main-main mencoba menghancurkan bisnisku, cari cara yang lebih pintar dan berkelas sedikit." Arga menyindir dengan nada yang sangat dingin dan menusuk tulang.
"Karena apa pun fasilitas yang kamu hancurkan di desa ini, aku bisa membangunnya kembali seratus kali lipat lebih kuat dan lebih megah dari sebelumnya."
Warga desa yang mendengar ucapan lantang Arga langsung menatap pemuda itu dengan pandangan penuh rasa segan ketakutan dan hormat yang luar biasa tinggi.
Hari ini seluruh penduduk desa tahu dan sadar penuh bahwa Arga bukanlah pemuda sembarangan yang bisa diganggu oleh tengkulak kelas teri seperti Pak Bowo.