**Demi menyelamatkan pernikahan mewah sang kakak, Kayla dijadikan tumbal keluarga sendiri.**
Diberi obat bius, dijebak masuk ke kamar hotel untuk dijadikan "simpanan" demi melahirkan ahli waris keluarga Chandra—begitulah rencana kakak dan calon iparnya. Tapi takdir salah alamat: nomor kamar tertukar, dan Kayla justru terdampar di suite **Kapten Adrian Gunawan**, pria berwajah dingin yang katanya paling anti disentuh perempuan.
Malam itu mengubah segalanya.
Untuk lepas dari jeratan keluarga yang ingin menjual harga dirinya, Kayla nekat menikah kilat—dan pria yang dijodohkan padanya, entah kebetulan atau takdir, ternyata Adrian yang itu juga.
*"Kalau kau berharap bisa menjebakku dan menuntut tanggung jawab, jangan harap."*
*"Kebetulan sekali. Aku juga tidak mau kau bertanggung jawab,"* balas Kayla dingin.
Semua orang mengira pernikahan ini cuma kontrak tiga tahun yang cepat atau lambat berakhir cerai. Semua orang mengira Kapten Adrian tidak mungkin mencintai dokter IGD berlatar keluarga toko sembako itu.
Sampai orang-orang mulai memergoki sang kapten dingin memapah istrinya dengan sebutan *"sayang"* di setiap kalimat…
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elara Aisyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 16
Bab 16
Surat Pemutusan Hubungan Keluarga
Adrian meletakkan dokumen itu di atas meja.
"Baca."
Herwan meraihnya lebih dulu. Kemarahan di wajahnya berubah menjadi tidak percaya ketika melihat judul di halaman pertama.
Pernyataan pengunduran diri dari seluruh jabatan keluarga dan pelepasan hak atas penunjukan sebagai penerus Gunawan.
Di bawahnya terdapat tanda tangan Adrian, cap kantor hukum Handoko, serta daftar saham dan posisi yang bersedia ia lepaskan melalui prosedur perusahaan.
"Apa ini?" bentak Herwan.
"Yang Papa minta."
"Aku menyuruhmu membatalkan pernikahan!"
"Saya memilih jalan yang satunya."
Ema Lanny merebut dokumen dari tangan putranya. Ia membalik halaman dengan cepat.
"Kamu mengancam keluarga dengan kertas ini?"
"Bukan ancaman. Pak Handoko menyusunnya dua tahun lalu ketika keluarga pertama kali memaksa saya meninggalkan kokpit. Hari ini saya hanya mengisi tanggal."
Kayla menatap Adrian.
Jadi dokumen itu tidak dibuat demi pertunjukan sore ini. Adrian telah lama menyiapkan jalan keluar, jauh sebelum mengenalnya.
Namun ia baru menandatanganinya setelah keluarga menyerang istrinya.
Kayla teringat isi perjanjian pranikah mereka. Adrian telah memisahkan aset, utang, dan pekerjaan dengan sangat rinci. Saat itu Kayla mengira laki-laki itu hanya terlalu terbiasa membuat daftar risiko.
Sekarang ia memahami alasan sebenarnya.
Adrian sudah tahu suatu hari keluarganya mungkin menggunakan kekayaan sebagai tali di lehernya. Ia memastikan tali itu bisa dipotong sebelum siapa pun menariknya.
"Kenapa kamu tidak pernah mengatakan surat ini ada?" tanya Kayla.
"Karena aku menikahimu, bukan merekrutmu ke dalam perang keluarga."
"Tapi sekarang namaku ada di tengah perang itu."
Adrian menatapnya. "Karena mereka menyeretnya ke sana. Bukan karena kamu memilih masuk."
Jawaban itu membuat Kayla tidak bisa berkata-kata. Seumur hidup, keluarga Halim menyuruhnya menanggung akibat dari keputusan orang lain. Adrian justru berdiri di depan akibat yang berasal dari keluarganya sendiri.
"Hubungan darah tidak bisa dihapus dengan surat," kata Om Hendra hati-hati.
"Saya tahu, Om. Surat itu mengatur jabatan, saham yang berada dalam kendali saya, dan komitmen pelepasan hak ketika proses hukumnya dibuka. Kalau Papa tidak mau mengakui saya sebagai anak, saya juga tidak akan memakai nama keluarga untuk mengambil keuntungan."
Om Hansen mengambil satu salinan yang tersisa. Matanya bergerak cepat membaca angka.
Tante Cindy mendekat ke bahunya. "Semua posisi di grup juga?"
"Semua," jawab Adrian.
"Termasuk hak nominasi untuk kursi direksi Argatama?" tanya Om Hansen.
"Termasuk itu."
"Dan saham yang pernah diberikan Engkong?"
"Saham yang sah atas nama saya tetap tunduk pada hukum dan anggaran dasar. Saya menawarkan pengalihan melalui mekanisme yang berlaku, bukan memindahkannya dengan ucapan. Pak Handoko sudah menyiapkan tahapannya."
Engkong Herman melirik halaman itu. Untuk pertama kalinya, perhatian lelaki tua tersebut terlihat benar-benar tajam.
"Kamu bahkan menyiapkan valuasi independen," katanya.
"Saya tidak ingin ada orang berkata saya mengambil satu rupiah yang bukan hak saya."
"Adrian," sela Om Hendra, "kamu bisa mundur dari jabatan. Tapi jangan serahkan saham dengan harga sembarangan hanya untuk membuktikan sesuatu."
"Saya tidak sedang menjual murah, Om. Semua melalui penilai dan akta."
Kevin memandang sepupunya dengan campuran kagum dan cemas. Ia baru sadar ini bukan gertakan seorang cucu yang sedang marah. Dokumen itu sudah memiliki jalur eksekusi.
Di ujung sofa, Tante Cindy mengetik sesuatu di ponselnya. Om Hansen cepat menekan tangannya agar berhenti.
"Jangan hubungi siapa pun dulu," bisiknya.
Belum lima menit surat itu terbuka, kabar tentang kursi penerus yang kosong sudah hampir dikirim ke luar rumah.
Sesuatu yang hampir menyerupai kegembiraan muncul di mata mereka sebelum cepat disembunyikan.
Melinda justru gagal menyembunyikan senyum. Jika cucu tertua mundur, jalan bagi Alwin menjadi lebih lebar.
Ia mengambil ponselnya, lalu menaruhnya kembali ketika Engkong Herman melirik. Namun jemarinya tetap menekan-nekan tepi tas, seolah sudah menyusun pesan untuk putranya.
Ci Michelle melihat gerakan itu dan mendecakkan lidah.
"Suratnya belum selesai dibaca, tapi beberapa orang sudah membagi ruangan kantor," katanya.
"Jaga ucapanmu," balas Melinda.
"Saya justru sedang menjaga agar kegembiraan Kakak tidak terlalu terlihat."
Om Hansen memalingkan wajah. Tante Cindy pura-pura membetulkan gelang. Semua orang yang tadi bicara tentang nama baik kini tampak sibuk menghitung keuntungan.
Kayla tidak perlu mengenal mereka bertahun-tahun untuk melihatnya.
Yang dipertahankan bukan keluarga. Yang diperebutkan adalah kendali.
"Jangan gegabah, Adrian," katanya dengan suara yang dibuat lembut. "Mungkin Papa hanya sedang emosi. Kamu tidak perlu menghancurkan masa depan karena satu perempuan."
Adrian menoleh kepadanya. "Istri saya bukan satu perempuan."
"Maksud Tante bukan begitu."
"Saya tahu persis maksud Tante."
Ci Michelle menyilangkan tangan. "Kalau Kak Melinda sangat peduli pada masa depan Adrian, tadi seharusnya Kakak menghentikan hinaan kepada istrinya."
"Michelle, ini urusan Herwan dan anaknya."
"Kalau begitu jangan ikut menghitung kursi yang kosong."
Kevin menunduk lagi, kali ini untuk menyembunyikan tawa. Om Hendra menepuk lutut putranya agar diam.
Herwan merobek satu halaman dari dokumen itu.
"Kamu pikir aku akan takut? Keluar dari rumah ini. Jangan kembali ketika hidupmu hancur karena perempuan itu."
Adrian tidak bergerak.
"Masih kurang?"
"Aku bilang batalkan pernikahanmu."
"Dan saya bilang tidak."
Ema Lanny berdiri. "Adrian, keluarga sudah menyiapkan perempuan yang pantas untukmu. Vanessa dibesarkan keluarga Wijaya. Pendidikan dan pergaulannya jelas. Kalau kamu masih punya akal, akhiri pernikahan kilat ini sebelum menjadi skandal lebih besar."
Kayla mendengar nama itu dan teringat wajah perempuan yang menumpahkan anggur di gala.
Adrian bahkan tidak berpikir sebelum menjawab.
"Vanessa bukan urusan saya."
"Dia tahu cara membawa nama keluarga."
"Yang saya lihat, dia tahu cara menghina orang di depan umum lalu menumpahkan minuman ke gaunnya sendiri."
Ci Michelle tertawa pendek. Tante Winnie menutup senyumnya dengan tangan.
Wajah Ema Lanny memerah. "Kamu mempermalukan kami demi perempuan dari toko sembako."
"Tidak." Adrian mengambil dokumen yang tersisa dan merapikannya. "Kalian mempermalukan diri sendiri ketika menolak teh dari dokter yang baru kemarin menyelamatkan penumpang di pesawat saya."
Herwan maju satu langkah. "Dia menjebakmu."
"Kayla tidak pernah meminta saya menikahinya. Saya yang mengajukan. Saya yang menyiapkan perjanjian. Saya yang mengumumkan pernikahan. Kalau ada orang yang ingin disalahkan, salahkan saya."
"Kamu dibutakan tubuhnya."
Gelas di tangan Ci Michelle berhenti bergerak. Tante Winnie menarik napas tajam.
Kayla hendak menjawab, tetapi Adrian lebih cepat berdiri di depan Herwan.
"Jangan bicara tentang istri saya seperti itu lagi."
Suara Adrian rendah. Tidak keras, tetapi seluruh ruangan terdiam.
"Kalau Papa mengulanginya, saya tidak akan datang lagi bahkan ketika rumah ini memanggil."
Herwan mengangkat tangan seolah hendak menamparnya.
Engkong Herman mengetukkan tongkat sekali ke lantai.
Gerakan Herwan berhenti.
"Jangan bertingkah seperti preman di rumahku," kata lelaki tua itu.
Itu kalimat pertama Engkong Herman sejak pertengkaran dimulai.
Herwan menurunkan tangan, tetapi tatapannya penuh kebencian. "Papa membelanya?"
"Aku sedang mencegahmu mempermalukan nama Gunawan lebih jauh."
Ema Lanny menoleh tajam kepada suaminya. "Jadi kamu membiarkan cucu kita pergi karena perempuan itu?"
Engkong Herman tidak menjawab. Matanya tetap pada Adrian.
"Dokumen itu dibuat Handoko?"
"Ya, Engkong."
"Kamu sadar tanda tangan tidak otomatis menghapus seluruh hak waris sebelum proses hukum dilakukan?"
"Saya sadar. Karena itu saya mencantumkan kewajiban menandatangani akta lanjutan ketika diperlukan. Saya tidak sedang bermain kata."
Engkong Herman bersandar. Tidak ada amarah di wajahnya. Justru ketenangan itu membuat semua orang semakin gelisah.
Adrian kembali ke sisi Kayla dan menggenggam tangannya.
"Kita pergi."
Kayla tidak langsung melangkah. "Kamu yakin?"
"Sejak sebelum kita datang."
Ia membawa Kayla menghadap altar sekali lagi. Keduanya memberi penghormatan singkat kepada leluhur, bukan kepada orang-orang yang baru saja mengusir mereka.
Tante Winnie berdiri. "Kayla, maaf. Seharusnya pertemuan pertama tidak seperti ini."
"Tante tidak perlu meminta maaf untuk perbuatan orang lain."
Om Hendra menepuk bahu Adrian. "Telepon aku kalau perlu sesuatu."
"Terima kasih, Om."
Kevin mengangkat kepalan tangan kecil ke arah sepupunya. Ci Michelle memeluk Kayla tanpa memedulikan tatapan Ema Lanny.
"Jangan takut," bisiknya. "Adrian tidak pernah menaruh semua telur di keranjang keluarga ini."
Kalimat itu membuat Kayla menatap suaminya, tetapi Adrian hanya mengangkat alis.
Saat mereka hampir mencapai pintu, Melinda berkata dengan manis, "Semoga kalian tidak menyesal ketika harus hidup tanpa fasilitas Gunawan."
Adrian berhenti.
Ia menoleh dan memandang seluruh ruangan.
"Kalian terus bertanya apakah keluarga Kayla pantas masuk ke sini. Seharusnya kalian bertanya apakah rumah ini pantas menerima istri saya."
Wajah Ema Lanny mengeras.
"Jawabannya tidak," lanjut Adrian. "Nama keluarga ini tidak cukup besar untuk membenarkan penghinaan kepada seorang tamu."
Ia membuka pintu untuk Kayla.
Di luar, Nico telah menunggu di samping mobil. Martin menerima tas kerja Adrian dan bertanya pelan, "Langsung pulang, Pak?"
"Ke Naga Emas."
Martin membuka pintu belakang. Kayla berhenti sebelum masuk dan menatap Adrian sekali lagi.
"Kamu tidak perlu melakukan semua itu hanya untuk membelaku."
"Aku tidak melakukannya hanya untukmu."
Kayla mengerutkan kening.
"Aku melakukannya untuk kita," kata Adrian. "Ada perbedaan."
Di belakang mereka, ruang tamu masih sunyi. Bahkan Herwan tidak langsung menemukan balasan.
Untuk pertama kalinya, Kayla merasa keputusan menikah itu bukan lagi kesepakatan untuk saling menyelamatkan diri.
Kayla baru menuruni satu anak tangga ketika suara Engkong Herman terdengar dari belakang.
"Adrian, tunggu."