NovelToon NovelToon
Ditinggal Menikah Dipinang Pewaris

Ditinggal Menikah Dipinang Pewaris

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO
Popularitas:484
Nilai: 5
Nama Author: Anjana

Ketika Zilia mengetahui kekasihnya menikah dengan wanita lain, hidupnya seketika berubah.
Belum sempat menyembuhkan luka, ia justru dijodohkan dengan Rafael, pewaris keluarga Darmawan yang nyaris tidak dikenalnya. Namun, siapa sangka jika Vio datang kembali dan bersumpah akan merebutnya, sementara Rafael terang-terangan bahwa Zilia sebagai calon istrinya.
Di antara cinta lama, perjodohan, kecemburuan, dan rahasia keluarga, Zilia tidak pernah menyangka, bahwa pria yang awalnya hanya dianggap sebagai pengganti, justru akan menjadi lelaki yang mengubah seluruh hidupnya.

Akankah Zilia mendapatkan kebahagiaan? Atau justru ujian hidupnya semakin berat.
Penasaran? yuk ikuti jalan cerita mereka

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 26

Tuan Adrian terdiam beberapa saat setelah mendengar keputusan putrinya.

Namun, ia belum sepenuhnya menyerah.

"Kalau begitu... Papa minta Rafael yang menemanimu pulang."

Zilia yang semula hendak berdiri kembali duduk.

"Pa..."

"Rafael itu calon suamimu. Papa akan lebih tenang kalau ada dia."

Zilia menggeleng pelan.

"Jangan, Pa."

"Kenapa?"

"Hubungan kami baru sebatas pertunangan. Aku juga belum terlalu mengenalnya. Kalau Papa menyuruhnya mengantar dan menemaniku, rasanya aku malah merepotkannya."

"Tapi dia pasti mau."

"Mungkin saja. Tapi aku tidak ingin semuanya terasa dipaksakan. Aku bisa pulang sendiri. Ada Bu Retno yang menungguku. Lagipula, aku hanya beberapa hari di sana. Setelah wisuda selesai, aku akan kembali."

Tuan Adrian menatap putrinya cukup lama. Ia memahami sifat Zilia. Sekali gadis itu mengambil keputusan, akan sulit diubah.

Baik karena keras kepala maupun karena tidak ingin merepotkan orang lain. Akhirnya, Tuan Adrian menghela napas pelan.

"Baik. Papa tidak akan memaksa."

Wajah Zilia sedikit lega.

"Terima kasih, Pa."

"Tapi..."

Ucapan Tuan Adrian membuat Zilia kembali menoleh.

"Papa tetap akan datang ke acara wisudamu. Kamu tidak perlu menjemput. Tidak perlu menyiapkan apa pun. Papa hanya ingin melihat putri Papa di hari kelulusannya."

Zilia terdiam.

Ia tahu, kali ini ayahnya tidak sedang meminta izin. Melainkan menyampaikan sebuah keputusan. Setelah beberapa saat, Zilia tersenyum tipis.

"Kalau itu yang Papa inginkan... silakan datang."

Tuan Adrian ikut tersenyum.

Namun di balik senyum itu, ada rasa penasaran yang mulai tumbuh. Ia ingin melihat sendiri lingkungan tempat Zilia dibesarkan.

Rumah sederhana yang selama ini menjadi tempat putrinya bertumbuh.

Perempuan bernama Retno yang selama bertahun-tahun menggantikan perannya sebagai orang tua.

Untuk pertama kalinya, Tuan Adrian ingin mengenal dunia yang selama ini jauh dari kehidupannya. Di tempat lain...

Vio duduk di ruang kerjanya.

Tatapannya tertuju pada layar ponsel.

Salah seorang kenalannya di kampus baru saja mengirimkan sebuah pesan.

"Wisuda Fakultas minggu ini. Nama Zilia juga masuk daftar peserta."

Di bawahnya tertera tanggal, waktu, dan lokasi acara.

Sudut bibir Vio perlahan terangkat.

"Akhirnya... Aku menemukan kesempatan."

Ia menyandarkan tubuhnya di kursi.

Selama beberapa hari terakhir, ia terus mencari cara untuk bertemu Zilia.

Namun setiap kali mendekat...

Selalu ada Rafael.

Kini berbeda.

Hari wisuda adalah momen yang tidak mungkin ia lewatkan.

"Aku akan datang. Aku harus bicara sekali lagi dengannya."

"Paling tidak... aku ingin mendengar jawabannya tanpa ada Rafael di sampingnya."

Tatapannya berubah semakin serius.

Ia sadar, kesempatan itu mungkin menjadi yang terakhir. Apa pun risikonya...Vio telah memutuskan. Ia akan menghadiri wisuda Zilia.

Bukan sebagai tamu undangan.

Melainkan sebagai seseorang yang masih ingin memperjuangkan perempuan yang telah memenuhi seluruh isi hatinya.

Tanpa disadari Vio...

Di tempat yang sama, Aleena berdiri di balik pintu ruang kerja.

Ia mendengar sebagian ucapan suaminya. Perlahan, kedua tangannya mengepal.

Sorot matanya berubah dingin.

"Jadi... kamu benar-benar belum menyerah, Mas Vio."

Senyum tipis terukir di bibir Aleena.

Namun senyum itu sama sekali tidak menunjukkan kebahagiaan.

Ia pun mulai memikirkan langkahnya sendiri.

Karena ia yakin...

Hari wisuda Zilia tidak akan berjalan setenang yang dibayangkan semua orang.

Keesokan harinya...

Sejak pagi, para pelayan sudah membantu menyiapkan koper milik Zilia.

Barang-barang yang diperlukan untuk wisuda sudah tersusun rapi.

Gaun wisuda. Map berisi berkas.

Beberapa pakaian ganti. Serta hadiah kecil yang sengaja dibelinya untuk Ibu Retno.

Zilia memeriksa kembali isi koper itu.

Di ruang kerja...

Tuan Adrian menerima laporan dari sekretarisnya.

"Tuan."

"Mobil sudah siap."

"Baik."

"Lalu..."

"Saya sudah menghubungi Tuan Rafael."

Tuan Adrian mengangkat kepalanya.

"Untuk apa?"

"Saya hanya memberi tahu bahwa Nona Zilia hari ini berangkat menuju rumah Ibu Retno."

Tuan Adrian mengangguk pelan.

"Tidak apa."

"Setidaknya Rafael tahu."

"Kalau dia ingin menyusul setelah pekerjaannya selesai, itu haknya."

Di kantor...

Rafael baru saja menyelesaikan rapat ketika ponselnya bergetar.

Ia membaca pesan dari sekretaris Tuan Adrian.

Nona Zilia berangkat hari ini menuju rumah Ibu Retno untuk persiapan wisuda.

Rafael menatap layar cukup lama.

Doni yang sedang membawa beberapa berkas memperhatikan atasannya.

"Bos."

"Ada apa?"

Rafael memasukkan kembali ponselnya ke saku.

"Tidak ada. Calon istriku hari ini pulang."

Doni langsung menyeringai.

"Bos mau nyusul?"

Rafael menggeleng.

"Tidak. Dia sudah jelas menolak ditemani."

"Kalau aku tetap datang... dia pasti merasa tidak nyaman."

"Jadi Bos nurut?"

Rafael tersenyum tipis.

"Menjaga seseorang... bukan berarti harus selalu berada di sampingnya. Kadang kita juga harus menghargai keputusan orang itu."

Doni mengangguk pelan.

"Bos sekarang beda."

Rafael mengernyit.

"Beda bagaimana?"

"Lebih sabar."

"Kalau dulu... Bos pasti sudah memaksa."

Rafael hanya tersenyum kecil.

"Dia bukan proyek perusahaan yang bisa dipaksa mengikuti keinginanku. Kalau ingin dia percaya... aku harus memberinya waktu."

Sementara itu...

Di sebuah kafe yang tidak jauh dari kampus tempat Zilia akan wisuda...

Vio duduk sambil menelepon yang bekerja di bagian administrasi kampus.

"Jadi benar?"

"Zilia akan datang besok?"

"Iya. Daftar peserta wisuda sudah final. Dia pasti hadir."

Vio mengembuskan napas lega.

"Terima kasih. Tapi jangan bilang siapa-siapa kalau informasi ini dari saya."

Vio mengangguk.

"Tenang."

Setelah pria, Vio menatap ke arah jendela.

Tatapannya dipenuhi tekad.

"Besok... apa pun yang terjadi... aku akan bertemu denganmu lagi, Zilia."

Namun ia tidak tahu...

Di waktu yang hampir bersamaan, beberapa orang lain juga memiliki tujuan yang sama.

Tuan Adrian ingin menghadiri wisuda putrinya.

Rafael diam-diam berencana menyempatkan diri setelah pekerjaannya selesai.

Dan takdir seolah sedang menyiapkan satu pertemuan besar... yang akan mempertemukan masa lalu, masa kini, dan masa depan Zilia di hari paling penting dalam hidupnya.

Pagi itu...

Sebuah mobil hitam perlahan meninggalkan gerbang megah kediaman keluarga Adrian.

Di dalam mobil, Zilia duduk di kursi belakang ditemani koper berukuran sedang.

Di kursi depan, orang kepercayaan Tuan Adrian yang bernama Pak Haris sesekali melihat ke arah kaca spion.

"Nona, kalau capek bilang saja. Kita bisa istirahat sebentar."

Zilia tersenyum ramah.

"Tidak usah, Pak Haris."

"Aku ingin cepat sampai."

"Baik, Nona."

Mobil terus melaju membelah jalan raya.

Kepadatan kendaraan membuat laju mobil beberapa kali melambat.

Zilia hanya memandang ke luar jendela.

Deretan pertokoan...

Lampu lalu lintas...

Pedagang kaki lima...

Semuanya terasa begitu akrab.

Sudah lama ia merindukan suasana sederhana seperti itu.

Tanpa disadari...

Beberapa mobil di belakang mereka, sebuah sedan berwarna abu-abu terus menjaga jarak.

Di balik kemudinya...

Vio menggenggam setir dengan erat.

Tatapannya tak pernah lepas dari mobil yang ditumpangi Zilia.

"Akhirnya... Aku tahu ke mana kamu pergi."

Ia sengaja menjaga jarak agar tidak menimbulkan kecurigaan.

Sesekali kendaraan lain menutupi pandangannya.

Namun Vio tetap memastikan mobil Zilia tidak hilang dari penglihatannya.

"Aku tidak akan mengganggumu. Aku hanya ingin memastikan kamu baik-baik saja."

Sementara itu, Zilia sama sekali tidak menyadari bahwa sejak keluar dari rumah ayahnya, ada seseorang yang diam-diam mengikuti setiap perjalanannya.

Hampir dua jam kemudian...

Mobil akhirnya memasuki sebuah lingkungan yang jauh lebih sederhana dibanding kawasan tempat tinggal keluarga Adrian.

Jalanan mulai menyempit.

Pepohonan rindang berjajar di pinggir jalan.

Beberapa anak kecil tampak bermain di halaman rumah.

Begitu mobil berhenti di depan sebuah rumah sederhana bercat krem...

Senyum Zilia langsung mengembang.

"Itu rumahku..."

Pak Haris turun lebih dulu dan membuka pintu.

"Silakan, Nona."

Baru saja kaki Zilia menginjak tanah...

Pintu rumah terbuka.

Seorang perempuan paruh baya keluar dengan langkah tergesa.

"Zilia!"

"Bu!"

Tanpa menunggu lebih lama...

Zilia berlari kecil menghampiri Ibu Retno.

Keduanya langsung berpelukan erat.

Ibu Retno mengusap punggung Zilia berkali-kali.

"Putriku..."

Zilia tertawa kecil di sela harunya.

"Bu."

Ibu Retno mengusap kedua pipi Zilia.

"Biarkan Ibu lihat."

"Kamu sehat."

Zilia mengangguk.

"Aku kangen sekali sama Ibu."

"Ibu juga. Kangen sekali."

Mata keduanya sama-sama berkaca-kaca.

Bagi Zilia...

Pelukan itu terasa jauh lebih menenangkan daripada kemewahan rumah yang selama ini ia tempati.

Pak Haris tersenyum melihat pemandangan tersebut.

Ia kemudian membantu menurunkan koper dari bagasi.

"Pak Haris, terima kasih sudah mengantar."

"Sama-sama, Nona."

"Saya pamit dulu."

"Sampaikan terima kasihku kepada Papa."

"Baik, Nona."

Mobil pun perlahan meninggalkan halaman rumah.

Dari kejauhan...

Vio menghentikan mobilnya di bawah rindangnya sebuah pohon.

Ia tidak berani mendekat.

Dari balik kaca mobil, ia melihat Zilia masih memeluk Ibu Retno dengan senyum yang selama ini jarang ia lihat.

"Lama sekali... baru kali ini aku melihat kamu lagi tersenyum setulus itu."

Vio memilih tetap berada di dalam mobil.

Ia tidak ingin merusak momen pertemuan mereka.

Di dalam rumah...

Aroma masakan rumahan langsung menyambut kedatangan Zilia.

"Aduh..."

"Masih sama seperti dulu."

"Harumnya bikin lapar."

Ibu Retno tertawa.

"Ibu memang sengaja masak makanan kesukaanmu."

"Makasih, Bu."

Setelah duduk di ruang tengah, Ibu Retno menggenggam tangan Zilia.

"Coba cerita. Bagaimana keadaanmu di sana?"

Zilia menghela napas panjang.

Banyak sekali hal yang ingin ia ceritakan.

Tentang ayah kandungnya.

Tentang rumah megah itu.

Tentang perjodohan dengan Rafael.

Tentang Vio yang ternyata sudah menikah.

Tentang Lora yang tidak pernah menyukainya.

Sedikit demi sedikit...

Zilia mulai menceritakan semuanya.

Ibu Retno mendengarkan tanpa memotong sedikit pun.

Sesekali ia mengusap tangan Zilia saat gadis itu menceritakan rasa kecewa dan sakit hatinya.

"Nak..."

Suara Ibu Retno terdengar lembut.

"Hidup memang tidak selalu berjalan sesuai keinginan."

"Tapi Ibu percaya."

"Allah tidak akan mempertemukanmu dengan semua ujian itu tanpa menyiapkan kebahagiaan yang lebih besar."

Zilia tersenyum tipis.

Ia lalu menyandarkan kepalanya di bahu Ibu Retno.

"Kalau boleh jujur..."

"Aku capek, Bu."

Ibu Retno memeluknya kembali.

"Kalau capek..."

"Beristirahatlah."

"Rumah ini akan selalu menjadi tempatmu pulang."

"Iya, Bu."

Zilia pun segera masuk ke kamarnya, sudah beberapa hari Zilia meninggalkan rumah. Sambil rebahan, Zilia istirahat agar badan lumayan berkurang rasa capeknya. Capek hati dan juga capek pikiran.

Keesokan paginya...

Udara masih terasa sejuk setelah semalam turun hujan.

Zilia berpamitan kepada Ibu Retno untuk membeli beberapa keperluan menjelang wisuda.

"Aku ke minimarket sebentar ya, Bu."

"Iya, Nak. Jangan lama-lama."

"Iya, Bu."

Zilia berjalan santai menyusuri jalan yang sudah begitu dikenalnya sejak kecil.

Sesekali ia menyapa para tetangga yang mengenalnya.

Tak butuh waktu lama, ia tiba di sebuah minimarket.

Selesai mengambil beberapa barang, Zilia berjalan menuju kasir.

Namun langkahnya terhenti saat mendengar suara yang begitu dikenalnya.

"Eh... itu Zilia, kan?"

Zilia menoleh.

Tiga orang teman kampusnya berdiri tidak jauh darinya. Salah satunya adalah Risa, mahasiswi yang sejak dulu memang tidak pernah akur dengannya.

"Wah... benar ternyata."

"Kamu pulang juga."

Zilia hanya menganggukkan kepala.

"Iya."

Risa menyilangkan kedua tangan di dada.

"Dengar-dengar kamu juga mau wisuda. Selamat ya."

"Terima kasih."

Bukannya berhenti, Risa justru tertawa kecil bersama kedua temannya.

"Eh, tapi kasihan juga sih. Aku dengar pacarmu nikah sama perempuan lain. Iya, kan?"

Zilia memilih diam.

"Ternyata benar ya. Ditikung sebelum wisuda. Hahaha...."

Teman-temannya ikut terkekeh.

"Padahal dulu mesra banget. Nggak tahunya ditinggal nikah."

Risa sengaja mendekat.

"Oh iya... Aku juga baru tahu. Katanya mantan pacarmu itu anak konglomerat. Hebat juga ya."

"Tapi sayang... Dia lebih milih perempuan lain daripada kamu."

Ucapan itu terasa seperti sengaja menusuk luka yang belum benar-benar sembuh.

Zilia mengepalkan jemarinya. Namun ia tetap berusaha tenang. Risa kembali berkata dengan nada meremehkan.

"Memang sih... Orang kaya pasti pilih yang selevel. Bukan perempuan yang asal-usulnya juga nggak jelas. Katanya dari kecil diasuh orang lain. Kasihan banget. Ayah ibunya saja entah di mana. Hidup numpang, dong. Mana mungkin keluarga konglomerat mau menerima perempuan seperti itu."

Teman-temannya kembali tertawa.

Zilia menatap Risa dengan tenang. Tidak ada kemarahan di wajahnya.

Tidak ada air mata. Justru ketenangan itu membuat Risa sedikit heran.

"Aku sudah selesai belanja. Permisi."

Zilia hendak melangkah pergi.

Namun Risa kembali menghadangnya.

"Kok diam saja? Biasanya kalau dihina orang langsung nangis. Apa jangan-jangan sekarang lagi nyari konglomerat baru?"

"Jangan jangan udah punya pacar baru lagi. Tapi jangan terlalu berharap. Bisa-bisa nanti ditinggal nikah lagi."

Ucapan itu membuat suasana minimarket mulai diperhatikan beberapa pengunjung.

Zilia menarik napas panjang. Kemudian menatap Risa lurus ke matanya.

"Aku memang tidak bisa memilih di keluarga mana aku dilahirkan. Itu bukan sesuatu yang bisa dibanggakan atau dipermalukan. Tapi satu hal yang pasti, aku tidak pernah merendahkan orang lain untuk merasa lebih tinggi."

Senyum tipis menghiasi wajah Zilia.

"Kalau memang kamu merasa lebih bahagia dengan menghina orang lain... semoga itu benar-benar membuat hidupmu bahagia."

Setelah mengucapkan kalimat itu, Zilia melangkah melewati Nisa tanpa sedikit pun menoleh ke belakang.

Sementara Risa mematung. Entah mengapa, ia justru merasa kalah. Bukan karena dibalas dengan kata-kata kasar.

Melainkan karena Zilia memilih menjaga harga dirinya.

Dari seberang jalan...

Seorang pria yang baru saja memarkir mobilnya menyaksikan seluruh kejadian itu. Tatapannya berubah tajam saat melihat Zilia dipermalukan di depan banyak orang.

Tanpa sadar, kedua tangannya mengepal kuat.

Pria itu adalah Vio. Dan untuk pertama kalinya... Ia melihat sendiri bagaimana perempuan yang dicintainya memilih menelan penghinaan seorang diri, tanpa membalas dengan kebencian.

1
Leisha
Lanjut thor...
awas y thor kalo gk update
suka ceritanya
Leisha
Ditunggu kelanjutannya kak❤
Anjana
Asiap.... gas pol nyampe end kak. Jangan lupa untuk selalu dukung biar authornya semangat nulisnya😍
Leisha
Semoga tidak gantung ceritanya
awas ya thor kalo gak nyampe end
tak jewer kamu thor😄
Leisha
Bagus ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!